
Sudah lima tahun terakhir, Latina belum mendengar kabar teman baiknya ini. Marahkah? Karena ia tahu kalau Sasa adalah calon kakak ipar Berlin yang merupakan mantan tunangan Dean.
"Boleh aku duduk?"
Latina mengangguk. "Silakan."
Suasananya menjadi canggung. Latina mengerti kalau seandainya Sasa marah lantaran gagalnya pertunangan antara Dean dan Berlin.
"Ke mana saja kau selama ini?" Sasa menoleh ke samping untuk dapat memandang Latina.
"Aku berada di Palma selama ini dan baru beberapa hari pulang."
"Kenapa kau tidak bilang padaku? Sebenarnya, apa yang terjadi?" Sasa mengalihkan pandangan ke jalan raya. Ia bersandar sembari mengembuskan napas perlahan.
"Awalnya aku tidak tahu kalau Dean itu kekasih Berlin dan akan menikah. Aku minta maaf. Sungguh! Aku sama sekali tidak berniat untuk membuat pertunangan itu batal."
"Aku hanya penasaran. Kenapa kau tiba-tiba pergi?"
Latina memandangnya lekat. "Masalah ini pasti berdampak pada hubunganmu."
"Aku sudah menikah dan tetap menjadi kakak ipar Berlin."
Latina tersenyum. "Aku turut senang mendengarnya."
"Aku penasaran, kenapa harus Dean? Ya, ini memang bukan urusanku. Tapi, ada apa denganmu? Aku sempat tidak ingin mempercayainya. Kau, Jason, dan Dean."
__ADS_1
"Ini kehidupan, Sasa." Latina tertawa kecil. "Aku tidak seberuntung itu."
Sasa terdiam. Ia mengerti jika Latina tidak ingin bicara. Tidak semua hal harus diketahui, dan ia tidak boleh memaksa.
"Tapi, aku senang kau kembali." Meski Sasa sedikit kecewa karena Latina tidak memberitahu masalah yang ia alami secara keseluruhan. Sasa hanya tahu kalau sahabatnya ini merupakan simpanan Dean dari cerita Berlin.
Latina tersenyum. Ia bangun dari duduknya. "Masih banyak hal yang harus aku urus."
Sasa mengerti. "Baiklah, aku juga harus pulang." Sasa bangun dari duduknya. "Tapi, Latina. Kuharap hubungan kita sama seperti dulu."
Setelah itu, Sasa berjalan lebih dulu, sedangkan Latina hanya melihatnya. Semakin jauh Sasa, barulah ia melangkah pergi.
Sejak kapan ada wanita itu di sana? Tidak heran karena jarak sekolah Rael dan tempat mengajar Fiona hanya dipisahkan oleh jalan besar. Tapi, mengapa? Dean sudah pasti telah memberitahu jika Rael adalah anaknya pada sang kekasih. Ah, Latina jengkel jadinya.
"Mom!" Rael berlari menghampiri dan langsung memeluk Latina.
"Fiona." Wanita itu tersenyum. "Kekasih Dean."
Latina mengangguk. "Ya, aku tahu. Ada apa?"
Fiona tersenyum. "Tanpa sengaja aku melihat Rael bermain di depan taman sekolah dan aku menghampirinya. Lagi pula bel pulang telah bunyi."
"Kupikir, aku belum telat. Lihat saja, masih banyak anak yang belum dijemput."
"Maaf, kau mungkin berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak bermaksud begitu. Putramu sangat lucu dan dia menggemaskan. Ini juga jam istirahat, kekasihku akan datang menjemput."
__ADS_1
Bisakah kata 'kekasih' itu tidak disebutkan? Latina muak mendengarnya. Tanpa dijelaskan panjang lebar juga ia tahu maksud dari Fiona.
"Dia juga anak dari ...."
"Aku tahu maksudmu." Latina memotong kalimat Fiona. "Jangan menyebutnya di depan Rael."
"Maafkan aku. Bukan begitu maksudku. Aku ... aku hanya ingin dekat dengan Rael."
Sudah Latina duga. "Kami harus pulang. Permisi. Ayo, Rael."
Rael melambaikan tangan kepada Fiona. "Sampai bertemu lagi, Bibi."
Latina meraih Rael dalam gendongan, berjalan menjauh seraya menghentikan taksi yang melintas. Ia lekas masuk bersama Rael ke dalam mobil angkutan itu.
"Rael, kau tidak lupa pesan Mommy, kan?"
"Jangan dekat dengan orang asing?"
"Lalu, kenapa Rael terlihat akrab bersama Bibi itu?"
"Kata Mom, aku juga tidak boleh bersikap cuek. Rael tidak mengambil permen yang Bibi itu berikan."
Haruskah Latina melakukan ini? Ia tidak bermaksud membuat Rael jadi pribadi yang buruk. Tapi, ketakutan itu ada. Ia tidak mau miliknya diambil.
TBC
__ADS_1