
Latina acungi jempol untuk sekretaris Dean yang telah memilihkannya pakaian. Sebuah dress selutut bermotif floral berlengan pendek dan berleher rendah. Ia tampak cantik dalam balutan busana warna kuning mustrad. Sangat cocok digunakan di musim panas.
Satu kecupan mendarat di bawah pipinya. Latina merasa geli, tetapi ia membiarkan Dean memeluk dan mengecupinya. Lama-lama ia bisa terbuai dengan pemuda satu ini. Ya, Dean tampan dan mapan, siapa pun pasti tertarik pada dirinya. Latina juga tidak memungkiri jika ia terpesona. Tapi hanya sebatas suka, tidak lebih.
"Jangan sampai kau tidak menepati janjimu."
"Kita pasti pergi keluar. Biarkan aku seperti ini dulu. Kenapa kau begitu menggemaskan?" Dean memeluknya dari belakang, ia mengusap perut rata Latina, lalu mencengkeramnya.
Latina lekas melepas pelukan itu. Kemudian berputar menghadap Dean. Ia melingkarkan lengannya di atas leher sang pria, lalu mengecup bibir berisi yang memesona.
"Aku belum puas." Dean menahan kepala Latina ketika wanita simpanannya hendak menarik diri.
"Cukup, Dean. Kita bisa lakukan nanti." Latina mendorong pemuda itu, lalu berbalik untuk memperbaiki riasannya.
Terdengar embusan napas panjang dari pria itu. Tengah berhasrat, Latina menghentikan aksinya. Apa boleh buat, ia juga sudah berjanji dan itu harus ditepati.
Keduanya keluar dari apartemen dengan Dean memegang pinggang simpanannya. Menurut Dean, ia lebih cocok bersama Latina ketimbang Berlin. Ya, kekasihnya memang cantik, tetapi Latina lebih memesona.
"Ini untuk pertama kalinya kita pergi bersama," ucap Dean sembari membuka pintu mobil untuk wanitanya.
__ADS_1
"Terima kasih." Sebagai bayarannya, kecupan di pipi sebagai hadiah sebelum Latina masuk mobil.
Dean mengumpat. "Dia selalu menggodaku. Dia berubah menjadi gadis liar. Aku suka ini."
Setelah keduanya masuk mobil, perjalanan dilanjutkan. Dean membawa Latina ke pusat perbelanjaan terbesar di New York.
Pandangan Latina jatuh ke jari kelingking sebelah kiri Dean yang setengah. Jari itu seperti terpotong.
"Kau pernah kecelakaan?" Latina berharap pertanyaannya ini tidak membuat Dean sedih atau tersinggung.
"Oh, jari ini. Ayahku melarang memelihara hewan, dan aku masih ingin memeliharanya. Anjing itu belum sepenuh jinak. Dia menggigit tanganku sampai hancur dan dokter harus melakukan amputasi."
"Ini sudah di operasi. Kejadiannya sudah lama, dan itu sebabnya jadi begini."
"Aku dengar gosip, kalau jari itu hilang karena hukuman dari Ayahmu."
"Jangan dengarkan gosip murahan seperti itu. Kita sudah sampai. Ayo, turun. Hari ini, kau boleh belanja apa yang kau suka."
"Kalau begitu, aku tidak akan segan menghabiskan uangmu."
__ADS_1
Bagi Latina, ia tidak mau pakaian atau sepatu. Tujuannya jelas adalah perhiasan yang suatu saat bisa di jual. Selain itu, Latina juga meminta Dean membelikannya tas bermerek.
"Aku akan memamerkan gelang berlian ini pada Jason." Latina memang langsung memakai gelang yang Dean beli untuknya.
"Aku ini terbaik untukmu, Sayang. Lebih baik kau cerai saja dan hidup bersamaku. Kau akan mendapat semuanya."
"Hidup bersamamu?" Latina menatap pemuda itu lekat.
"Baru kali ini aku merasa tidak bosan pada wanita. Biasanya dalam tiga bulan, maka aku akan mengganti mainanku. Kau istimewa, Sayang. Jadilah milikku untuk selamanya. Menjadi simpananku."
Latina tersenyum mendengarnya. "Bagaimana dengan kekasihmu? Kalian akan menjadi pasangan suami istri."
"Kau masih mengkhawatirkan itu? Tentu saja tanpa sepengetahuan Berlin dan keluargaku. Tapi aku janji padamu, jika terjadi sesuatu padamu, maka aku akan melindungi dirimu."
"Aku akan menjadi milikmu, asal kau mematuhi perintahku."
"Dean!"
Keduanya kaget ketika ada yang memanggil.
__ADS_1
TBC