
Untuk saat ini, Latina cukup atas apa yang menimpa Nelis. Bagaimana rasanya diusir oleh pria yang dicintai? Latina pun juga merasakan hal sama, bahkan lebih dari itu.
"Aku merindukanmu." Jason langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Kau boleh memelukku sepuasmu, Sayang. Tapi ini, hanya sebuah pelukan saja yang bisa kau dapatkan." Latina lagi-lagi mengingatkan.
"Aku tahu. Sebentar lagi, kau akan bebas dan kita bisa bersama."
Latina mengangguk. Itu memang benar. Mereka akan bebas sebentar lagi. Tinggal menghitung hari saja, maka semuanya akan berakhir.
Sayangnya kebersamaan ini hanya sebentar karena Dean memanggil. Berat hati Jason menyerahkan istrinya pada pria itu. Ia tersiksa, tetapi ini adalah sebuah hukuman.
"Aku harus masuk." Bagaimanapun, Latina tetap merasa tidak enak hati pada Jason. Seorang istri meminta izin kepada suaminya untuk melayani lelaki lain.
"Mau aku antar sampai ke dalam?" Jason memang mengantar Latina sampai ke apartemen Dean.
Latina menggeleng. "Aku tidak sanggup bila kau mengantar. Biar aku sendiri saja."
"Andai aku punya kekuatan sedikit saja, aku akan membawamu pergi."
Mendengar ucapan sang suami, Latina tersenyum. "Jangan lagi bicara hal ini. Aku akan sedih."
__ADS_1
"Maafkan aku."
Untuk meredakan sedikit kekecewaan suaminya, Latina memberi satu kecupan di pipi. Ia juga memeluk Jason sebagai tanda bahwa hanya dia seorang lelaki di hatinya, dan Jason menyakini itu.
"Aku akan pulang pagi-pagi sekali. Kita bisa sarapan bersama besok." Latina mengatakan itu seraya membuka pintu mobil, lalu keluar.
Jason mengangguk. "Aku akan menunggu."
Lambaian tangan sebagai perpisahan. Latina baru masuk gedung apartemen setelah Jason tidak lagi tampak dari pandangannya.
Ternyata Dean sudah ada di apartemen. Tidak seperti biasanya pria itu pulang awal. Apa Dean ingin makan malam bersamanya? Padahal Latina malas sekali untuk memasak lantaran kondisinya saat ini.
"Kemarilah." Dean menepuk tempat duduk di sebelahnya.
"Sepertinya ada hal serius." Pandangan Latina beralih ke sebuah surat undangan di meja. Oh, ia tahu apa yang terjadi. Latina duduk di samping Dean. "Ini kartu undangan pernikahan atau pertunangan?"
"Pertunangan resmi. Beberapa bulan setelah itu, aku akan menikah."
"Wah! Selamat untukmu. Apa ini undangan untukku?" Latina meraih undangan berwarna merah muda tersebut. Ia membukannya, lalu membaca nama yang tertera di sana. Atas nama Dean dan Berlin. Mereka sungguh pasangan serasi. Sama-sama berasal dari kalangan terpandang.
"Kau tidak sedih?" Dean menatap lekat simpanannya ini.
__ADS_1
"Memangnya aku harus sedih?" Latina jadi bingung dibuatnya. Apa ia harus sedih? Alasannya apa?
"Aku mau tunangan."
"Ya, tunangan saja. Kau tidak mau tunangan bersama Berlin? Kau mencintainya, kan?"
"Tidak ada cinta dalam hidupku." Dean mengembuskan napas panjang. Sebenarnya ia tidak ingin menikah. Umurnya masih muda, dan belum puas bersenang-senang. Pernikahan itu hanya alat yang mengekangnya.
"Jadi, kau tidak mencintai Berlin? Kalau kau tidak cinta, kau tidak mungkin menuruti semua keinginannya. Kau menyayanginya, itu sebab, Berlin masih bersamamu sampai saat ini."
"Ini semua karena orang tuaku. Kau sendiri tahu bagaimana pernikahan konglomerat itu."
Yang dikatakan Dean benar. Bahkan, Latina merasakan itu. Kasus mereka sama awalnya. Pernikahan yang dijodohkan.
"Dean, cintai Berlin. Jangan sampai dia bernasib sama seperti diriku."
"Aku lebih menyukaimu." Dean meraih dagu Latina, lalu mengecup bibir merekah itu. "Kau harus datang nanti. Aku ingin terus melihatmu di sisiku."
Kecupan itu berlanjut sampai Dean dan Latina sama-sama melepas pakaian mereka. Keduanya hanyut dalam buaian hasrat panas dan berakhir dalam keringat serta pelukan.
TBC
__ADS_1