
Kehidupan terus berlanjut dan Latina harus bekerja demi menghidupi keluarganya. Ia tidak bisa bersantai karena tidak ada lagi seorang suami yang membiayai kebutuhan harian, dan Latina sudah terbiasa selama lima tahun hidup mandiri.
Libur juga sudah berlalu dan Latina siap untuk mengantar Rael ke sekolah. Hari pertama dan sang anak tampak sangat antusias. Apalagi yang lebih menyenangkan dari bertemu teman sebaya, malah Rael bangun lebih pagi hari ini.
Latina juga harus mencari bus sekolah untuk putranya. Nanti ia akan mendaftar ke pihak sekolah untuk itu. Pagi-pagi jelas akan repot dan ia tidak punya kendaraan pribadi. Menumpang taksi memerlukan biaya yang cukup mahal, dan bila mengunakan kereta bawah tanah, rasanya kurang cocok untuk Rael. Latina tidak mungkin membuat putranya berdesakan dengan penumpang lain.
Ketika sampai di depan sekolah, Latina mengalihkan pandangannya pada gedung di seberang sana. Di sana gedung sekolah khusus anak sekolah dasar lanjutan, dan ia pernah melihat Fiona keluar dari tempat itu.
"Apa mungkin kekasih Dean itu guru?"
"Mom, kenapa?"
Latina tersentak. "Tidak apa-apa, Sayang. Ayo, biar Mom antar sampai ke depan kelas."
"Biar Rael sendiri saja."
__ADS_1
Latina menunduk. "Pulang sekolah nanti, Rael tunggu Mommy. Jangan ke mana-mana, oke! Jangan percaya pada orang tidak dikenal. Jangan ambil barang dari orang lain."
"Rael mengerti." Kata-kata yang sedari tadi pagi selalu Latina ucapkan.
Latina mengecup puncak kepala putranya. "Anak pintar. Mom akan usahakan menjemputmu tepat waktu."
"Mom akan pergi bekerja?"
"Baru memulai, Sayang. Sekarang, masuklah. Jangan bertengkar dengan temanmu, oke!"
Ketika Latina membalik tubuhnya, ia kaget lantaran di seberang jalan sana sudah ada Dean yang berdiri menatapnya. Latina juga melihat gadis berambut panjang yang berjalan masuk ke gedung sekolah.
"Sepertinya aku salah memasukkan Rael ke sekolah ini. Kenapa harus ada sekolah lain di seberang jalan itu?"
Tanpa menyapa lagi, Latina bergegas meninggalkan sekolah. Ia yakin Dean tidak akan mengejar karena jalan yang berbeda arah. Dean harus memutar untuk dapat menghampirinya.
__ADS_1
Dean berdecak. "Umurnya sudah kepala empat, tapi tingkahnya masih sama seperti lima tahun lalu. Tubuh dan wajahnya juga tidak berubah. Dia selalu menarik di depan mataku."
Hari ini, Dean tidak akan menganggu. Ia akan membiarkan Latina sampai perjanjian itu terlaksana. Kerinduan ini harus ditunda, terlebih Dean nanti bisa melihat Rael. Sepertinya ia harus jadi sopir Fiona demi bisa melihat putranya sendiri.
Mencari pekerjaan memang sulit. Masih belum ada kabar dari surel yang dikirimkan. Padahal Latina mengirim itu saat ia masih berada di Palma. Berharap ada perusahaan yang ingin memperkerjakan dirinya. Sekarang ia membeli surat kabar. Mungkin di halaman tepi ini juga ada satu lowongan bagus untuknya.
"Tidak ada pekerjaan yang sesuai denganku." Berjalan lebih dari dua jam sama sekali tidak membuahkan hasil. Latina duduk di bangku jalan sembari menikmati segelas capuccino dingin. Sebentar lagi, ia harus menjemput Rael.
"Latina! Kau Latina, kan?"
Merasa ada yang memanggil, Latina menoleh ke samping dan melihat orang tersebut. Ia kaget, lalu bangkit dari duduknya.
"Sasa!"
TBC
__ADS_1