
Pukul lima pagi, barulah Jason pulang ke rumah, dan saat itu Latina sudah bangun dan sibuk menyiapkan sarapan. Ia tahu Jason pulang, tetapi tidak mau untuk menyambutnya.
Jason mendekat. Ia memeluk Latina dari belakang. "Kau pasti marah karena aku tidak pulang."
"Aku sudah terbiasa kau pulang pagi." Memang benar Latina berkata begitu. Bertahun-tahun Jason memang tidak tidur dengannya.
"Nelis hanya membual. Dia pura-pura sedih dan beralasan kalau janin yang ia kandung menginginkan aku di dekatnya."
"Mungkin saja benar. Dia seorang dokter. Jadi ... Nelis tahu apa yang bayinya inginkan."
Jason melepas pelukannya. "Justru dia seorang dokter. Harusnya dia bisa menanganinya. Dia terlalu mengada-ada."
"Lalu, kenapa kau tidak langsung pulang saja?"
"Kau cemburu?" Jason senang jika Latina mengaku.
"Apa harus aku mengatakannya? Tidak ada seorang istri yang menginginkan suaminya menemui wanita lain."
Harusnya Jason tidak berkata demikian. Ia tidak mau Latina mengungkit masalah ini lagi karena dirinya sudah sangat menyesal.
"Aku harus mandi, dan pergi menemui Tuan Dean."
__ADS_1
Mendengar itu, Latina melepaskan spatula dari tangannya. Ia melingkarkan lengan di leher Jason.
"Kau harus menerimanya, Sayang."
"Apa hadiahnya?"
Latina mengecup bibir suaminya. Sudah diberi peluang begini, Jason pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Cukup lama keduanya saling menyatukan bibir, tetapi permainan ini harus segera dihentikan.
"Pergilah mandi. Aku harus siapkan makanan."
"Kita sarapan bersama."
Latina tersenyum. "Tentu, Sayang."
Hanya senyum manis yang Latina berikan sebagai balasan. Setelah Jason menghilang dari pandangannya, Latina segera mengirim pesan pada Dean. Ia mengabaikan pesan marah yang pemuda itu kirimkan. Urusan bersama Dean bisa ia selesaikan nanti malam.
Setelah sarapan bersama dan mengantar kepergian Jason sampai pintu depan, Latina pun bersiap untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Terdengar suara bel yang membuat Latina bergegas keluar kamar.
"Apa Jason kembali lagi? Mungkin ada yang lupa." Latina membuka kunci, lalu menarik gagang pintu. Bukan Jason, tetapi pria yang tengah marah datang ke rumahnya. "Dean!" Latina sudah yakin jika ini sesuatu yang buruk.
Dean mendorong Latina agar ia bisa masuk. Pintu ditutup, lalu dikunci olehnya. "Berani sekali kau melanggar aturan perjanjian."
__ADS_1
"Maafkan aku, Dean. Malam nanti aku akan datang ke tempatmu. Sekarang kau pulanglah dulu. Jason ingin menemui nanti."
"Ini bukan tentang Jason! Tapi kau yang telah melanggar perjanjian."
"Melanggar bagaimana?" Latina sungguh tidak mengerti.
"Kau membuatku marah, Latina!" Dean langsung menarik tangan wanitanya, lalu membawanya ke kamar. Tentu saja Latina tahu apa yang ingin pemuda ini lakukan.
"Berhenti, Dean!" Latina menarik tangannya dengan kuat, tetapi cengkeraman Dean tidak mudah dilepaskan begitu saja. "Aku salah apa?"
Dean tidak menjawab, tetapi ia mendorong Latina hingga jatuh ke tempat tidur. "Aku tidak suka dikhianati dan aku sudah bilang kalau Jason pun tidak berhak menyentuhmu! Tapi kau malah bermesraan dengannya. Aku ingin lihat apa dia sudah menidurimu."
Tanpa diduga sama sekali, Latina melayangkan tangannya. Dean terdiam dengan menatap simpanannya. Rasa panas menjalar ke pipi yang terkena cap lima jari.
"Aku tidak tidur dengannya. Untuk lainnya, hanya sebagai bujukan agar Jason menerima tawaran pinjaman darimu." Latina berkata dengan keadaan tenang agar Dean tidak lagi terpancing emosi.
Namun, Dean malah membuka bajunya. "Layani aku sekarang."
"Aku tidak mau di sini."
"Kalau begitu, ikut aku." Dean kembali menarik tangan Latina. "Kita lakukan di dalam mobil saja."
__ADS_1
TBC