
Latina tidak habis pikir kenapa sampai Dean menyusul. Lebih kesal lagi pria ini seakan telah mempergokinya berselingkuh.
"Kenapa kau bisa sampai kemari?" Latina menatapnya lekat.
"Aku punya mobil. Untuk sampai ke sini, itu sangat mudah."
"Kau tahu maksudku. Di mana Fiona? Kau bersamanya tadi. Apa kau meninggalkannya di kelab malam?"
Dean tertawa kecil. "Aku ini pria yang bertanggung jawab. Aku mengajak wanita pergi, dan aku juga mengantarnya pulang. Ya, setelah kau dan kekasih barumu itu memutuskan mengakhiri pesta."
Keduanya terdiam sesaat dan saling memandang. Dongkol sudah sangat jelas Latina rasakan terhadap Dean. Terlebih tidak ada alasan mengapa pria ini sampai menemuinya.
"Apa masalahmu, Dean?"
"Kau tanya aku?" Dean menunjuk wajahnya sendiri.
"Jika tidak ada yang mau kau bicarakan, lebih baik aku masuk dan kau, pulang ke rumahmu."
"Oh, kau tidak sabar ingin menelepon kekasih barumu itu?"
"Dia bukan kekasihku."
__ADS_1
Dean bertepuk tangan. "Wow! Menarik, Latina. Kau dan si rambut keriting itu tidak pacaran, tetapi kalian berdua bermesraan di depan umum. Kau tahu, tadi itu benar-benar panas."
"Kau menghakimiku?" Latina berdecak. "Dengar, Dean. Umurku tidak lagi muda. Aku tahu atas apa yang telah kulakukan. Apa masalahmu?"
"Bersama si rambut keriting itu?" Dean tertawa seolah Latina ini lucu telah bersama Maxon. "Kau tidak menarik lagi, ya, sampai menurunkan standarmu. Mantan suamimu tampan, meski pengkhianat. Sekarang, kau bersama Maxon yang bukan apa-apa itu? Kau sudah buta, ya?"
"Itu urusannku!" Latina dibuat emosi. "Terserah kalau aku ingin berhubungan dengan siapa saja. Ini hidupku dan kau tidak perlu ikut campur."
"Sebagai teman, aku ini ingin kau mendapat pendamping yang baik. Jika kau menginginkan seorang pria, cari yang selevel denganku. Ya, itu jika kau bisa mendapatkannya."
Ini sama saja dengan meremehkan Latina secara langsung. Bicara soal kekayaan, Maxon jelas kalah. Tapi, pria itu baik dan Latina suka akan sikap ramahnya.
"Memangnya bisa?"
Latina melipat tangan di perut. Ia tersenyum. "Tentu saja. Bagaimana kalau kau membawaku ke sebuah pesta dan memperkenalkanku kepada teman-temanmu? Mereka sudah pasti selevel denganmu, kan?"
"Kau ingin aku mencarikanmu pasangan?" Dean tidak menduga ini.
Anggukan kepala mengisyaratkan itu. "Jika kau yang memilih pria untuk bersamaku, kau pasti tidak akan marah. Kau juga ingin yang terbaik untukku, kan?"
Ini bukan hal yang Dean inginkan. Ia ingin Latina berhenti bermain-main dengan Maxon. Tetap pada kesendiriannya saja itu malah bagus. Tapi ini, Latina justru menyeretnya ke dalam permainan yang ia buat.
__ADS_1
"Bagaimana? Hitung-hitung kau juga mencarikan ayah sambung untuk Rael," kata Latina.
"Apa kau bilang? Aku tidak mau Rael punya ayah lain."
"Jangan egois. Aku mengizinkan Fiona menjadi ibu sambung Rael. Lalu kenapa kau malah menolak ayah sambung untuk putramu sendiri? Hidup ini terus berlanjut, Dean. Umurku belum cukup tua untuk kembali membina rumah tangga. Aku ingin bahagia bersama pasanganku."
Latina berbalik, tetapi Dean menarik tangannya. Ia mendaratkan kecupan di bibir seolah pemuda ini tengah menghapus jejak yang Maxon tinggalkan.
"Sudah cukup!" Latina mendorong Dean, lalu menamparnya. "Kau keterlaluan."
"Jika kau butuh kehangatan, aku bisa memberikannya!"
"Sebenarnya kau menganggapku apa, hah?" teriak Latina.
"Kau ibu anakku." Dean menggeleng. "Kau milikku!"
"Pergi dari sini sebelum aku lapor polisi. Kau telah mengangguku!"
"Oke, aku akan pergi. Aku tidak akan menganggumu lagi. Terserah bila kau ingin tidur bersama si rambut keriting itu." Setelah mengatakan itu, Dean masuk mobil, lalu pergi.
TBC
__ADS_1