
Mendengar ucapan Latina, semakin membuat amarah Fiona memuncak. Ia yang telah menemani Dean selama ini. Mengisi hari-harinya dengan suka dan duka. Lalu, Latina datang dan mengambil semua. Ini sungguh tidak adil.
"Kau juga perempuan. Kau juga pernah merasakan bagaimana sakitnya bila kekasihmu diambil oleh wanita lain."
"Fiona, kita tidak mesti seperti ini." Latina menginginkan pembahasan ini sampai di sini saja. Ia paham akan perasaan wanita di depannya. Tapi, jika cinta sepihak dipaksakan, tidaklah baik.
"Apa? Selama lima tahun ini, aku yang selalu ada di sisinya. Kau ke mana saja, hah? Kenapa kau kembali? Harusnya kau menetap di tempat yang jauh atau bila perlu kau mati saja!"
Satu tamparan melayang di pipi Fiona. Wanita itu terdiam beberapa saat, lalu memegang pipinya yang terasa panas.
"Kau ...."
"Menemani dalam arti apa maksudmu? Apa Dean itu miskin, kurang sayang, atau apa, Fiona?" kata terakhir ditekankan oleh Latina agar wanita ini mendengar. "Kau membandingkan diriku dan dirimu. Sebutkan apa yang kau berikan pada Dean? Sementara diriku, mengandung anaknya. Membesarkan darah dagingnya. Perlu kau ketahui, Fiona. Aku tidak merebut suami wanita lain. Dean berhak memilih dengan siapa ia ingin hidup."
Setelah mengatakan itu, Latina langsung melangkah pergi. Maxon meletakan beberapa lembar uang di meja, lalu menyusul rekan kerjanya itu.
"Latina, tunggu aku!" Maxon berseru, ia berlari kecil, kemudian menghadang teman satu kantornya. "Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Buruk."
"Kau pulang saja. Biar aku izinkan pada kepala kantor. Itu taksi." Maxon melambaikan tangan agar mobil warna kuning berhenti.
"Terima kasih, Maxon." Latina tersenyum. Ia langsung masuk mobil, lalu melambaikan tangan. Hari sial memang tidak ada di kalender. Latina tidak percaya kalau ia bisa dipermalukan di depan umum.
Eliza heran putrinya kembali ke rumah di jam kerja. Ia ingin bertanya, tetapi melihat wajah Latina yang tidak mengenakan, ia urung.
Suara mobil terdengar dari luar rumah. Eliza langsung keluar untuk menyambut cucunya sepulang sekolah.
"Sayang, ikut sama Grandmom dulu, oke!" Eliza sudah tahu kalau cucu semata wayangnya ini akan dijemput oleh Dean.
"Rael sudah makan." Anak kecil itu mengira neneknya akan memberi makan lagi.
"Ya, ganti baju kalau begitu." Eliza beralih pada calon menantunya. "Kau temui Latina. Dia sudah pulang dari kantor, tetapi penampilannya kacau."
"Apa terjadi sesuatu?"
__ADS_1
"Lebih baik kau temui saja."
Dean mengangguk, bergegas masuk ke rumah. Ia memanggil Latina, tetapi wanita itu tidak menjawab. Dean melangkah ke kamar tidur, ia langsung masuk dan mendapati Latina yang baru saja keluar dari bilik mandi.
"Maaf, aku langsung masuk saja." Dean berjalan mendekat, ia menghadap Latina, menatap wajah cantik yang tengah kehilangan rona ceria. "Kau bisa cerita padaku."
"Aku baik-baik saja. Hanya ada insiden kecil."
Dean menangkup kedua pipi itu, ia mendaratkan kecupan kecil di bibir, lalu menatap mata indah yang sayu. "Tidak masalah. Aku bisa mencari tahu apa yang terjadi hari ini. Aku bisa bertanya pada semua teman-temanmu."
Latina menghela, ia berkata, "Fiona menemuiku. Ya, memang ada hal yang tidak mengenakan."
Lalu, Latina menceritakan semua yang terjadi siang ini. Semua ini karena Dean. Jika pria ini tidak memutuskan hubungannya secara sepihak, maka Fiona tidak akan bertingkah seperti sekarang.
"Aku akan bicara padanya nanti."
Latina menggeleng. "Tidak usah."
__ADS_1
"Harus! Aku dan dia harus selesai."
TBC