Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Dari Awal Sendiri


__ADS_3

Dean tidak punya rencana untuk bebas malam ini. Ia harus mendengar ocehan Berlin mengenai kartu undangan pertunangan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.


Sebenarnya mereka sudah tiga kali bertunangan. Dua kali tidak resmi, yaitu ketika Dean memberikan cincin saat hari jadi yang pertama, lalu kemarin saat liburan. Tapi yang ketiga ini adalah resmi karena melibatkan keluarga dan kerabat lain. Ajang untuk memberitahu jika putra serta putri keluarga terpandang bersatu.


Pesan yang dikirim Dean pada Latina sama sekali tidak dijawab. Jangankan membalasnya, bahkan pesan itu tidak dibaca. Dean jadi kesal.


Namun, ia mendapat beberapa potret mengenai Latina dan Jason. Ketika ia melihatnya, Dean mengepalkan tangan dengan kuat.


"Sialan!"


Berlin kaget mendengarnya. "Kau kenapa?"


Dean tersadar atas reaksinya. "Maaf, Sayang. Aku baru saja mendengar berita bola. Tim kesayanganku kalah."


"Lepaskan dulu ponselmu. Lihat undangan ini, kau mau yang mana?" Berlin menunjukkan kartu warna merah muda dan putih.


"Yang putih saja," kata Dean.


"Tapi aku suka warna merah muda."

__ADS_1


"Kalau begitu, pilih yang kau suka saja."


Berlin tampak senang. "Aku pilih warna merah muda."


Dalam hati Dean mengumpat kesal. Jika ujung-ujungnya warna kesukaan kekasihnya yang dipilih, mengapa harus bertanya padanya lagi? Ia sudah kesal melihat potret sepasang suami istri ini. Ditambah Berlin lagi. Latina dan Jason telah melanggar aturan perjanjian yang dibuat. Apa jangan-jangan Latina dan Jason tidur bersama ketika ia pergi ke luar negeri dan sekarang? Dean semakin meradang membayangkannya.


"Sayang ...." Berlin mengerutkan kening. Kekasihnya ini malah melamun. "Dean!"


"Apa?" Dean mengusap wajahnya. Ia tidak sengaja menyahuti Berlin dengan nada sedikit tinggi.


"Kau ini kenapa, sih?"


"Oh, ya, aku masih penasaran. Kau tampak royal sekali dengan istri rekan bisnismu. Kau memberikan dia tas mahal."


"Kau pikir tas itu mahal bagiku? Aku memberikannya karena aku ingin. Sudahlah. Jangan lagi membahas ini atau kau mau aku pergi."


"Lupakan. Kau benar, lebih baik kita tidur saja."


Lebih baik mengalah karena Dean akan sulit dibujuk ketika pria itu marah. Berlin juga tidak ingin kekasihnya pergi.

__ADS_1


Sementara di kamar lain, Jason merasakan ketenangan berada di samping Latina. Inilah namanya penyesalan karena adanya di belakang dan selalu terlambat. Meski tidak bisa menyentuh istrinya karena perjanjian itu, tetapi dapat memeluk dan mengecup wajah Latina saja, Jason sudah senang.


Tengah ingin memejam mata, Jason mendapat sebuah telepon. Tidak ingin Latina terbangun, ia keluar dan mengangkat panggilan itu.


"Kenapa kau masih menghubungiku? Hubungan kita sudah berakhir, Nelis!"


"Jason, tolong aku." Dari seberang telepon sana, Nelis terisak.


"Ada apa denganmu?"


"Kumohon padamu, Jason. Temui aku."


"Baik, aku akan segera ke sana." Jason mengumpat, tanpa berganti pakaian lagi, ia meraih jaket di gantungan kayu dekat pintu dan kunci mobil. Bagaimanapun Nelis tengah mengandung benihnya, dan Jason tidak ingin terjadi apa-apa pada calon anaknya.


Tanpa Jason sadari kalau Latina mengintip dari kamar. Meski Jason bilang dia ingin menjauh dari Nelis, tetapi faktanya itu tidak akan bisa. Ada makhluk kecil yang akan menyatukan mereka. Dari awal, Latina merasa kalau ia memang ditakdirkan untuk sendiri.


"Lebih baik aku tidur saja." Latina kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia meraih ponselnya, lalu membaca pesan baru yang belum dibuka. "Sepertinya besok adalah hari buruk."


TBC

__ADS_1


__ADS_2