
"Ini ulahmu?" Latina memandang lekat Dean.
"Apa?" Dean mengedikan bahu, ia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh istrinya ini.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku mendengar Jason dikeroyok dan kepalanya dipukul dengan botol kaca."
Di pagi hari, Latina mendengar kabar itu dari Verhaag yang mengatakan jika putranya masuk rumah sakit.
Tidak perlu Latina ragukan karena insiden pemukulan botol, seperti kasus yang menimpa Dean. Ya, Latina cukup heran saat suaminya ini hanya membalas Jason dengan pernikahan saja. Sekarang, ia yakin sekali jika inilah pembalasan Dean yang sesungguhnya.
Mata dibalas mata. Pemukulan dengan vas bunga, dibalas dengan botol kaca. Ini jelas bukan kebetulan karena pelaku yang telah ditangkap hanya diam tanpa perlawanan. Mereka senang-senang saja masuk penjara. Begitu kabar yang Latina dengar.
"Kau berpikir suamimu ini yang melakukannya? Kau membela mantanmu."
Latina mengembuskan napas panjang. "Bagaimana jika dia mati?"
"Dia tidak akan mati."
Dari jawaban suaminya, Latina tahu jika Dean yang melakukannya. "Ganti pakaianmu, kita berkunjung ke rumah sakit."
"Buat apa?"
"Ayolah, Sayang. Kau sudah menjadi seorang suami dan ayah. Aku ingin kita bahagia tanpa ada dendam atau sakit hati terhadap satu sama lain."
Dean mengangguk. "Baiklah, kita ke rumah sakit."
Keduanya langsung menuju ruang rawat inap Jason, ketika tiba di rumah sakit. Di sana sudah ada Verhaag yang menunggui putranya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Latina saat melihat kondisi Jason dengan kepala diperban serta wajahnya yang lebam.
"Kau masih bertanya setelah melihat keadaanku?" pandangan Jason beralih pada Dean. "Untungnya aku tidak mati."
"Ya, harusnya kau bersyukur." Dean menyahut.
Jason juga curiga, bahkan ia merasakan sangat yakin jika Dean dibalik semua ini. Sebab, tidak ada barang berharga miliknya atau Grace yang diambil. Setelah memukul kepalanya, pelaku langsung pergi.
"Jason, kami datang kemari karena mengkhawatirkan dirimu." Latina menyela obrolan yang memunculkan rasa panas di hati.
"Terima kasih karena memperhatikanku. Apa tidak apa-apa? Kutakut jika malam ini, aku bakal tinggal nama."
"Yang penting kau tidak mati atau lupa ingatan. Kita impas," kata Dean.
__ADS_1
"Dean ...." Latina memelas, menatap suaminya dengan lekat.
"Oke, aku minta maaf. Kuharap, ini untuk yang terakhir kalinya kita berurusan. Aku juga tidak mau menodai pernikahanku dengan dendam seperti ini."
"Kau sudah melakukannya." Jason masih tidak terima.
"Kau pikir, aku menerima perbuatanmu?" Dean pun tidak mau kalah.
"Ayolah, kalian bermain-main dengan nyawa. Sudahi sampai di sini. Ini bukan permainan. Jangan bertingkah konyol! Kau, Jason. Aku sudah memilih Dean sebagai pendampingku, dan kau, suamiku, Jason adalah mantan. Jangan cemburu dan jangan curiga padaku."
Latina mengatakan itu dengan tegas agar keduanya dapat menerima keputusan dari hubungan ini. Dean dan Jason diam saja karena mereka sadar tindakan yang dilakukan tidak baik.
"Kau marah padaku?" Dean berkata begitu ketika mereka telah keluar dari gedung rumah sakit dan berada dalam mobil.
"Kau sudah dewasa, buat apa aku marah."
"Maafkan aku."
Latina menggenggam tangan Jason. "Sudahlah, Sayang. Aku tidak marah padamu. Sekarang, fokus saja pada kehidupan kita."
Dean mendekat, lalu mengecup kening Latina. "Ya, tentu saja."
Beberapa hari berlalu, Latina merasa perutnya tidak enak. Ia juga merasa lemah, dan ingin terus berada di tempat tidur. Sementara Dean, sudah pergi ke perusahaan, Rael ke sekolah serta ibunya tinggal di rumah. Latina sendiri, ditemani oleh pelayan.
"Nyonya, sebaiknya kita hubungi Tuan Dean saja. Saya khawatir." Pelayan seusia Latina ini, begitu perhatian.
"Aku akan telepon." Latina menuruti saran dari asisten rumah tangganya ini. Ia tidak dapat makan gara-gara kondisi tubuhnya. Latina mengingat sesuatu. "Tolong belikan aku test kehamilan."
"Nyonya hamil?" pelayan ini terlihat senang.
"Aku harus memastikannya. Beli beberapa merek."
"Kalau begitu, saya akan lekas kembali."
Pelayan wanita itu lekas pergi, dan Latina segera menghubungi Dean agar suaminya itu pulang. Latina tidak yakin, tetapi apa salahnya mencoba sebab bulan ini, ia juga belum kedatangan tamu bulanan.
Satu jam berlalu, Dean tiba di rumah. Tentu saja ia khawatir pada Latina yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Aku sudah bilang tadi pagi agar kita ke rumah sakit." Dean juga sudah khawatir karena di pagi hari, Latina langsung muntah-muntah. "Kita langsung ke rumah sakit saja bagaimana?"
"Nanti dulu, tunggu barangku datang. Aku ingin tes."
__ADS_1
"Tes?"
Latina mengangguk. "Kau akan tahu nanti."
Bertepatan dengan itu, pelayan yang Latina suruh membeli test pack, telah kembali membawa barang yang ia minta.
"Apa ini?" tanya Dean.
"Tes kehamilan, Tuan." Pelayan itu menjawab.
Dean langsung memandang Latina. "Sayang ...."
"Aku harus tes dulu."
"Iya, ayo, kubantu." Dean beralih pada pelayan rumahnya. "Kau boleh pergi. Terima kasih."
Pelayan itu lekas pergi, lalu Dean segera membantu Latina bangun, dan membawanya ke kamar mandi.
"Kau keluar dulu," kata Latina.
"Aku juga mau lihat. Kau terbiasa tanpa pakaian di depanku. Tidak perlu malu."
Tidak ingin mendebat, Latina membiarkannya saja. Ia mulai melakukan tes, lalu menunggunya beberapa saat.
Jantung Dean berdegup kencang, begitu juga Latina. Keduanya sama-sama menginginkan malaikat kecil hadir di tengah keluarga.
"Oh, Sayang." Dean langsung memeluk istrinya. "Kau hamil, kan?" ia berkata begitu karena melihat dua garis merah.
"Tapi, kita harus memastikannya lagi."
"Tunggu apalagi, kita langsung ke rumah sakit."
Bergegas Dean dan Latina mengunjungi rumah sakit, mereka rela mengantri untuk memastikan jika ada janin yang tengah berkembang. Setelah mendapat giliran, dan melakukan pemeriksaan, sudah dipastikan jika ada kehidupan baru di rahim Latina.
"Bagaimana dengan liburannya?" tanya Latina.
"Ditunda karena aku tidak mau terjadi apa-apa pada kau dan bayi kita."
"Sebentar lagi kita akan berangkat."
"Sebagai gantinya, pesta pernikahan." Dean mengecup kening Latina. "Aku mencintaimu."
__ADS_1
TAMAT