
Untungnya dengan alasan sakit, Latina berhasil membuat Dean bermain satu ronde saja tadi malam. Pelan, dengan hati-hati, dan itu membuat Dean tidak puas.
Seperti saat ini, Dean terus saja menggoda agar Latina kembali melakukannya, meski ini sudah pagi.
Bukannya Latina tidak mau, tetapi ia dalam kondisi mengandung. Kehamilan pertama sangat rentan keguguran. Memang Latina sempat mengonsumsi pil penguat kandungan, tetapi tetap saja ia harus berjaga-jaga. Latina sangat mengharapkan bayi ini untuk menemaninya kelak.
"Kau harus bekerja, Sayang." Latina merasa geli saat Dean mengecupi tengkuk lehernya.
"Aku mau lagi."
"Perutku sakit jika bermain terlalu sering."
"Kau pergi ke rumah sakit mana? Aku punya kenalan dokter bagus. Dia pasti bisa menyembuhkanmu."
"Bukan begitu, Sayang." Latina harus mencari alasan yang masuk akal. "Aku tidak menikmatinya."
"Kau bosan denganku?"
Latina berbalik menatap Dean. "Tidak begitu. Aku dalam kondisi yang buruk akhir-akhir ini. Kau tahu kalau aku sedang melancarkan balas dendam pada Jason, kan?"
Dean mengembuskan napas panjang. "Dia lagi. Kapan kau akan berpisah darinya?"
"Sabar, aku pasti berpisah darinya."
"Setelah itu kau harus bersamaku. Kau tidak boleh ke mana-mana. Kau milikku!"
__ADS_1
Latina tertawa. "Jadi, kau menyukai wanita tua ini?"
"Siapa bilang tua? Kau dewasa dan aku sangat menyukainya." Dean meraih dagu itu, lalu mengecupnya.
"Aku belum gosok gigi." Latina menghindar dari hujan kecupan yang Dean berikan.
"Aku tidak peduli." Kembali Dean mengecup bibir, pipi dan bagian bawah dagu simpanannya. Latina tertawa karena ia merasa geli.
"Hentikan, Dean."
"Mandi bersama?"
"Hanya mandi saja, oke?" kata Latina.
"Aku tidak janji."
Dean terkekeh. "Baiklah, hanya mandi saja."
Keduanya turun dari tempat tidur, kemudian berjalan ke bilik mandi. Tiba di dalam, Dean langsung menghidupkan keran shower, lalu Latina menuangkan sabun cair di telapak tangannya.
"Sayang," bisik Dean.
"Ya?"
"Kumohon. Sentuh dia dengan bibirmu."
__ADS_1
Jika belum dapat, maka Dean tidak akan berhenti. Latina mengangguk, ia akan membuat Dean puas sekali lagi.
Keran air dimatikan. Latina duduk berlutut, lalu meraih bagian yang telah tegang sedari tadi. Ia mengusap sebentar, barulah mencucupnya.
Dean mendongak. Jelas sekali apa yang tengah ia rasakan saat ini. Kenikmatan luar biasa.
Berbeda dari pria yang tengah merintih pada kepuasan, Latina harus menahan diri dari pekerjaan ini. Perutnya merasakan mual, tetapi harus di tahan.
"Lebih dalam lagi, Sayang." Dean menekan kepala wanitanya agar semakin masuk.
Latina tidak tahan, mendorong Dean sekuat tenaga hingga tubuh pria itu terbentur ke dinding. Yang lebih mengejutkan lagi, Latina mengeluarkan cairan dari dalam perutnya.
Dean melotot. Latina muntah, padahal sebelumnya tidak pernah. Dalam arti, Latina tidak pernah mual setelah mencucup benda bernadi itu. "Kau sakit?" Dean sampai terbata-bata bicara.
Latina melambaikan tangannya. "Kau keluar dulu." Mualnya semakin menjadi dan cairan menjijikan sampai terciprat mengenai kaki Dean. "Pergilah!"
"Aku di sini saja. Kau pasti masuk angin. Aku harus panggil dokter."
"Jangan!" Latina sampai berteriak.
"Kau sakit!"
"Hanya masuk angin. Tadi malam, makanku kurang. Kau sudah lebih dulu membawaku ke kamar."
Dean mengusap wajahnya. Ini salahnya yang membiarkan Latina tidak makan dengan kenyang. Membuatnya tidak memakai pakaian sepanjang malam, lalu sekarang malah menyuruh Latina sarapan dengan menu yang tidak semetisnya.
__ADS_1
"Bersihkan mulutmu dulu. Biar aku yang siram." Dean menarik keran shower, lalu menyiram cairan yang Latina keluarkan tadi.
TBC