
"Sialan!" Jason berdecak sembari berkacak pinggang ketika ia telah tiba di depan mobil.
Verhaag yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Salah sendiri, punya istri cantik, seperti Latina, tetapi disia-siakan.
Selama tiga tahun, Latina mengemis cinta pada Jason. Namun, apa yang didapat? Tidak ada. Hanya pengkhianatan, rasa sakit yang wanita itu terima.
Sudah terlambat untuk kembali. Latina telah memiliki seorang suami yang lebih baik dari sebelumnya, dan Jason harus menerima kenyataan itu.
"Ayo, pulang. Tidak perlu kau menyesali semua yang telah terjadi. Jika kau kembali bersama Latina, aku tidak yakin jika kau akan benar-benar mencintainya."
"Kenapa Daddy menjadikan kami saudara?" Jason kesal mendengarnya.
"Sejak awal, Latina sudah kuanggap sebagai anak sendiri. Karena aku sayang padamu, Jason. Aku menikahkanmu dengan Latina. Tapi apa, kau buta. Menyia-yiakan dia demi wanita lain. Sekarang, terima akibatnya dan jangan lagi menyesal serta mengusik kebahagian putriku!" Verhaag langsung masuk mobil setelah mengatakan itu.
"Sialan!" Jason mengembuskan napas kasar. Sekarang, ia memang tidak bisa melakukan apa-apa karena Latina telah menjadi istri dari Dean Cornor. Jika menyinggung keluarga Cornor, tahu sendiri akibatnya.
Klakson berbunyi dan itu membuat Jason kaget. Dengan kesal yang masih berkecamuk dalam hati, Jason masuk ke mobil. Kemudian, berlalu dari gedung rumah sakit.
Sementara di ruang rawat inap, Latina menatap Dean lekat. Sepertinya ia tahu apa yang terjadi dan pernikahan mendadak ini tentunya.
"Kau menyerang balik dengan pernikahan kita?"
"Apa?" Dean mengedikan bahu. "Aku adalah pria baik yang membebaskan dia dari hukuman, kan?"
"Ya, sangat baik, tetapi kau menyakiti hatinya."
__ADS_1
"Persetan dengan hatinya."
Latina tertawa kecil. "Kau terlalu kejam."
"Dia yang kejam."
"Tidak! Kau lebih dari itu." Latina mendekat, lalu mengecup bibir Dean. "Bersiaplah, kita segera pulang."
Sore harinya, Dean dan Latina telah tiba di rumah. Kejutan untuk keduanya karena kedua keluarga telah hadir.
"Selamat datang, Dad, Mom." Rael memeluk ayah, lalu ibunya.
"Mom sangat merindukanmu." Latina mengendong, lalu mengecup pipi Rael tanpa henti hingga anak itu berteriak saking risihnya.
"Mom, aku bukan anak kecil lagi."
"Sepertinya, kita harus membuatkan adik lagi untuk Rael," bisik Dean.
"Berikan aku pesta pernikahan yang mewah. Setelah itu, kau mendapatkan keinginanmu."
"Kau akan mendapatkannya."
Hari itu juga, keluarga mulai menyusun rencana untuk pesta pernikahan. Dari gaun, makanan hingga gedung yang sesuai dengan keinginan kedua mempelai tentunya. Termasuk bulan madu yang diinginkan oleh Dean.
"Jadi, kalian ingin bulan madu dulu?" tanya Cornor.
__ADS_1
"Ya, sebelum Latina hamil tentunya."
"Astaga! Dia bahkan memakan putriku lebih dulu," sahut Eliza.
Dolty tertawa. "Kurasa karena mereka saling merindukan."
"Itu sebabnya, aku ingin berlibur."
"Tapi kau masih terluka, Dean." Latina ikut menimpali.
"Kita rencanakan sekarang selagi menunggu proses perlengkapan dokumen. Ketika berangkat, luka di kepalaku akan sembuh."
"Ide bagus. Masih banyak waktu." Cornor pun ikut menambahkan.
Rencana itu harus diselesaikan secepat mungkin karena Dean ingin segera menikmati pasir pantai yang indah bersama istri tercintanya.
"Sayang, aku mau ke toilet sebentar."
Latina mengangguk. "Perlu kutemani."
"Boleh saja. Tapi, aku ragu kalau kau akan keluar cepat."
"Dasar!" Latina mencubit lengan suaminya ini. "Cepat pergi."
Dean tertawa mendengarnya. Ia lekas menuju toilet, tetapi bukan untuk buang air, melainkan menelepon seseorang.
__ADS_1
"Aku punya tugas untuk kalian."
TBC