Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Main ke apartemen baru


__ADS_3

.


.


Entah bagaimana ceritanya, Zeno sudah akrab dengan Aslan dan Xeon, mereka bahkan mau ikut Zeno ke apartemen barunya. Zeno mensyukuri hal itu, karena dia akan merasa canggung di apartemen baru. Disana pasti ada banyak orang yang tidak Zeno kenal, dan rata-rata pasti orang kaya.


Paling tidak, jika ada temannya, Zeno akan merasa aman.


“Ternyata apartemen ini memang bagus ya? Teman ayahku yang punya gedung apartemen ini, katanya unit 10 miliar dan 15 miliar laris terjual, tapi itu harga promo, ku rasa sekarang harganya menjadi 15 sampai 20 miliar, aku ragu-ragu untuk membelinya” ucap Aslan setelah mereka akhirnya sampai di dalam apartemen.


Zeno sendiri hanya mendengarkan ocehan Aslan sambil melihat-lihat apartemen barunya tersebut. Dia sangat bahagia, baru kali ini dia memiliki properti atas namanya sendiri, dan itu luar biasa! Yah, walaupun Zeno membeli dengan diskon yang sangat besar.


Siapa juga yang akan percaya jika apartemen itu Zeno beli dengan harga 100 juta saja, ya kan? bisa-bisa Zeno dikira gila.


Eh, tunggu!


Zeno menoleh pada Aslan yang sudah duduk nyaman di sofa.


Apartemen itu tidak satu paket dengan furnitur, tapi sofa, ranjang, meja, meja makan, dapur, semuanya diberikan gratis. Meski begitu, apartemen masih terlihat kosong, tidak masalah, Zeno bisa mengisi apartemen dengan barang-barang dari sistem, lebih murah.


“Kamu kan sudah punya rumah, kenapa beli apartemen lagi?” tanya Zeno pada Aslan.


Kini ganti Aslan yang menatap Zeno aneh, “lalu kenapa kamu membeli apartemen ini? Emang kamu gak punya rumah?” tanya Aslan balik.


Zeno menggeleng, “tidak, aku menumpang dengan waliku yang sekarang, dan ini adalah properti pertama yang aku beli sendiri dengan usahaku!” ucap Zeno.


“Maaf untuk bertanya seperti ini, tapi apa aku boleh tahu usahamu apa?” tanya Xeon, dia ikut duduk di sofa dan nimbrung.


“Aku? Aku jualan online, membuka toko online di marketplace! Meski masih baru... jadi aku senang karena kalian akan membuat marketplace baru, itu artinya, aku bisa jualan disana kan?” ucap Zeno, lengkap dengan wajah gembiranya.


Aslan dan Xeon bisa melihat, Zeno memang sedang bahagia, ya maklum saja sih, mereka juga tahu bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang dibeli dengan hasil jerih payah diri sendiri.


“Kamu jualan online? Apa yang kamu jual?” tanya Aslan penasaran, dia sebenarnya sangat penasaran dengan pemuda yang mirip dengannya tersebut, dia juga kagum karena ada seseorang yang begitu mirip dengannya, yang beda hanya Zeno lebih pendek beberapa centi meter saja.


“Aku bisa menjual apa saja, tapi yang toko online itu smart phone, aku juga menjual buah-buah mahal tapi untuk dipasok di toko buah kenalanku, aku tidak bisa menjalankan toko sendirian, aku juga bisa menjual apa saja yang mungkin kalian butuhkan, seperti lotion untuk merawat kulit... obat mata untuk mengatasi masalah mata seperti minus, silinder, katarak dan lain-lain, ada juga ramuan tanpa mimpi agar tidur bisa lebih nyenyak dan berkualitas” ucap Zeno, biasalah, mencari pelanggan dalam kesempitan.


“Oh, yang obat tanpa mimpi tadi terdengar sangat berguna, ayahku kurang tidur karena banyak kerjaan, ku rasa akan sangat membutuhkannya” ucap Xeon.


“Kau sendiri sering begadang, Xeon! Minum itu juga biar sehat, lihat kulitmu yang pucat ini!” sahut Aslan.


“Kulitku memang begini, putih pucat, kayak kulitmu gak gini aja!” balas Xeon tidak terima.


“Aku juga mau beli yang itu dong, berapaan harganya?” tanya Aslan.


“It-itu... karena itu adalah ramuan yang sangat manjur, tidak ada efek samping dan sangat aman, jadi harganya agak mahal, satu botol kecil dengan isi 50 ml dihargai satu juta rupiah, tapi jika kalian membeli beberapa botol aku akan memberi diskon” ucap Zeno.


“Jangan khawatir, aku banyak uang! Sementara beli lima dulu, cara pakainya gimana?” tanya Aslan.


“Satu botol untuk sekitar lima kali pemakaian, sebelum tidur minum paling tidak satu sendok teh, memang aman saja untuk minum banyak-banyak, tapi satu sendok teh sudah manjur kok, sekuat apapun insomnianya” ucap Zeno.


Aslan dan Xeon terlihat berbinar-binar.

__ADS_1


Zeno maklum sih, mereka terlihat seperti pemuda yang genius, sudah pasti suka melakukan pekerjaan saat malam, begadang, jadi insomnia kadang tidak bisa dihindari, Zeno tahu mereka akan membutuhkannya.


Dan akhirnya, Zeno berhasil menjual sepuluh botol ramuan tanpa mimpi, karena diberi diskon, jadinya Zeno hanya mendapat delapan juta. Tapi tidak masalah, karena kedua orang ini membuat Zeno mendapatkan saldo paling banyak yang pernah dia dapat, yaitu seratus juta.


Karena Zeno sangat senang, Zeno bahkan memberikan satu barang ajaib secara gratis pada mereka, yaitu ramuan penyembuh.


Dengan bantuan dua orang yang baru Zeno kenal tersebut, Zeno menata apartemennya, membeli meja tambahan, televisi besar, meja kerja, kursi kerja yang empuk, kulkas, beberapa alat dapur seperti oven, airfryer, microwave sampai mesin pembuat kopi.


Aslan dan Xeon heran karena kurir terus berdatangan, tapi mereka senang-senang saja membantu Zeno, tidak mengeluh sama sekali.


Dua orang ini anak orang kaya yang tidak biasa, sepertinya mereka dididik orangtuanya dengan sangat baik. Bahkan setelah Zeno mengakui jika dia datang dari panti asuhan di luar kota, mereka tidak meremehkannya sama sekali.


Setelah tahu Zeno gaptek juga mereka dengan sabar mengajari Zeno.


Ternyata orang yang seperti Kevin ada lagi di dunia ini.


Malam itu mereka menginap disana, Zeno memesankan pizza juga untuk mereka dan mereka menonton anime sampai tamat.


Aslan dan Xeon tidak percaya jika Zeno hanya tahu doraemon dan shinchan saja anime Jepang, bahkan naruto saja Zeno tidak tahu. Itulah kenapa mereka ngajak Zeno menonton film anime yang menurut mereka akan seru bagi Zeno, yang ceritanya ringan tapi sangat bagus.


Mereka menonton bersama di ruang tengah yang sudah digelarkan karpet bulu tebal yang hangat, sampai ketiduran disana juga. Zeno yang terakhir tidur, dia membawakan bantal-bantal dan selimut, mematikan televisi, lalu ikut tidur di ruang tengah tersebut.


Orang yang bangun pertama kali adalah Xeon, dia sempat linglung karena terbangun di tempat asing, tapi beberapa detik setelahnya, dia baru ingat jika dia ada di tempat Zeno.


“Pfftt!” Xeon buru-buru menahan tawanya dengan menutup mulut saat melihat ke samping ada Aslan yang memeluk Zeno seperti guling.


Jika disandingkan seperti itu, terlihat lebih jelas jika Zeno mirip sekali dengan Aslan.


Tapi mereka percaya itu hanya kebetulan semata, orang bisa saja mirip meski tidak ada hubungan darah, itu sering terjadi.


Hasil foto yang bagus.


Setelah puas memfoto, dia pun bangun dan mencuci muka, setelahnya kembali lagi ke ruang tengah, duduk di sofa dan memesan menu sarapan.


“Pesan tiga sandwich daging ayam, satu paket ayam goreng bumbu pedas manis, pedasnya medium dan juga tiga kopi, oh iya, kalau bisa pesan tiga botol air mineral juga, terimakasih...” Xeon pun menutup telfonnya, kemudian menoleh pada Zeno yang baru terbangun.


Zeno juga terlihat linglung, kelihatannya dia masih ngantuk berat.


“Kamu siapa?” tanya Zeno sambil menatap Xeon.


“Buka dulu mata mu Zeno, cuci muka, lalu bertanya” ucap Xeon.


“Oh Xeon, jam berapa ini?” tanya Zeno.


“Jam enam lebih dua puluh menit, kenapa?”


Mata Zeno langsung terbuka sepenuhnya, “APA? Aku harus sekolah!”


Xeon tertawa melihat Zeno yang panik.


“Hmmm berisik!” gumam Aslan.

__ADS_1


“Jangan tertawa, gimana ini?”


“Apa kamu masih sekolah jika tanggal merah?”


Zeno kembali menoleh pada Xeon, “tanggal merah?”


“Iya, tanggal merah!”


“Hehe, aku lupa...”


Tidak lama kemudian, makanan yang Xeon pesan pun datang.


“Hari ini kita akan membahas masa depan bisnis kita!” ucap Aslan.


“Apa kalian membuat aplikasinya sendiri?” tanya Zeno.


“Apa maksudmu? Tentu saja kami sendiri yang buat, kami berdua, kamu kan pemilik beberapa persen saham, jadi kalau bisa, kamu yang membiayai beberapa hal ya? Kita bertiga akan menjadi pemilik moline!” kata Aslan dengan bersemangat, sambil memakan sandwichnya.


“Moline? Apa itu?” tanya Zeno bingung.


“Mall online, dia bersikeras dengan nama itu, Aslan keras kepala, katakan padanya itu nama yang aneh” sahut Xeon.


“Eh? Menurutku itu lucu kok....”


Xeon menepuk dahinya, ternyata selain wajah, selera keduanya juga sama, sama-sama anehnya.


“Tuh kan! Zeno aja bilang lucu! Kau kalah suara, jadi nama marketplace kita moline mulai sekarang!” ucap Aslan gembira.


“Terserah kalian lah... awas saja jika nama itu tidak menjual ya?”


“Xeon tenang saja... orang-orang lebih menyukai sesuatu yang cenderung aneh, itu akan membuat mereka penasaran, oh iya, Zeno punya akun medsos?” tanya Aslan.


“Oh? Ada kok, tapi masih baru...”


“Bagus, kita harus memanfaatkan wajah tampan kita untuk menarik banyak peminat, kamu kan juga jualan online, nanti aku bantu-bantu deh gimana caranya bisa langsung terkenal...”


“Sebenarnya, aku memiliki satu pegawai, masih temanku sih, dia yang akan membantuku mengelola toko ku” ucap Zeno.


“Oh ya? Kenalkan dia pada kami, jika dia menjanjikan, dia bisa bekerja di aplikasi kita juga” sahut Xeon.


“Sebenarnya aku masih bingung, bagaimana cara kalian membuat aplikasi?” tanya Zeno.


Aslan menepuk bahu Zeno, “Zeno, ini terlalu tinggi bagimu, untuk sekarang, kamu harus belajar gadget dulu, aku akan menjadi gurumu, karena kamu mirip denganku, aku tidak mau kembaran ku ini gaptek, kamu harus sama-sama pintar sepertiku, syukurlah kita bertemu ya? Hahaha!”


“Zeno, biasakan diri dengan Aslan yang aneh –”


“Xeon, aku bisa mendengar mu!”


“Iyalah, kau punya telinga!”


Zeno hanya tersenyum melihat kedua sepupu tersebut, mereka lucu juga.

__ADS_1


.


.


__ADS_2