
.
.
Bella hanya pergi sebentar ke toko untuk membeli buah, rencananya dia ingin membeli leci dan anggur di toko milik ayahnya selya. Bella pergi naik sepeda warna biru mudanya karena memang tidak terlalu jauh.
Dia pikir semua akan aman, makanya orangtuanya juga tidak masalah, padahal sepupu Bella yang sedang berkunjung berniat untuk mengantarnya dengan mobil. Bella pikir semua baik-baik saja, sampai kemudian sesuatu terjadi padanya.
Awalnya Bella hanya menghindari kubangan air hujan di jalan, jadi dia berhenti sejenak. Kemudian sebuah mobil hitam datang di depannya, dua pria berbadan besar keluar dari mobil dan memaksanya masuk mobil.
Bella yang shock hanya bisa berteriak, sayangnya tidak ada orang yang melihat atau mendengarnya. Apalagi, dua pria itu membius Bella dengan sapu tangan. Akhirnya Bella tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja saat dia sudah mulai sadar dan membuka mata, dia sudah terikat di kursi.
Gadis itu mengelilingkan pandangannya, sepertinya dia berada di tempat yang tidak terurus. Sangat kotor, berantakan, dan banyak hewan-hewan seperti tikus dan keco berlarian di lantai kotor.
Meski Bella seumur hidup berada di keluarga berada, untungnya dia tidak terlalu takut dengan keadaan seperti itu, jadi dia tidak terkejut. Hanya saja, dia bingung, siapa pula yang menculiknya? Apa untungnya juga menculik Bella?
Sambil berpikir untuk kabur, Bella pun berusaha melepaskan ikatan pada tangannya, rupanya yang menculik dia tidak terlalu profesional, karena ikatannya cukup longgar. Setelah tangannya bebas, Bella pun berusaha mencari bantuan.
Entah kenapa, satu-satunya orang yang terlintas dalam benaknya adalah Zeno, tanpa pikir panjang Bella pun menghubunginya.
Namun baru saja berbicara sebentar, ada orang datang merebut ponselnya, juga membekap mulunya.
Betapa terkejutnya Bella melihat siapa yang merampas ponselnya.
“Kau pikir dia akan datang menemuimu? Memangnya kau spesial baginya, ya?” ucap si penculik itu, yang tak lain adalah mantan kekasih Zeno.
Tasya yang menculik Bella.
Bella tidak mengerti, kenapa dia malah menculiknya?
“Apa maumu?” tanya Bella setelah mulutnya sudah di bebaskan.
“Aku hanya kesal karena Zeno memutuskanku, aku yakin kau yang membujuknya, iya kan?”
“Aku bahkan baru tahu kalian putus, jadi itu tidak ada hubungannya denganku sama sekali!” bantah Bella.
Tangan Tasya pun melayang untuk menampar pipi Bella, tangan Bella sendiri sudah diikat lagi oleh orang-orangnya Tasya, jadi Bella tidak bisa berkutik.
“Jangan berbohong! Aku tahu kamu selama ini menggodanya kan? jika tidak, Zeno tidak akan berpaling dariku!”
Bella berdecak malas, dia lelah jika harus berdebat dengan orang keras kepala dan tidak mau mendengar pendapat orang seperti Tasya.
Padahal Bella tidak tahu apapun, Zeno sendiri tidak bisa ditebak maunya apa. Makin lama, Zeno makin pendiam, seolah dia memiliki banyak pikiran. Bella tidak mau mendekati Zeno dulu, takutnya Zeno hanya akan menganggapnya pengganggu, padahal Bella sendiri sudah merindukan Zeno.
__ADS_1
“Ya sudah jika tidak percaya, sekarang apa yang mau kau lakukan denganku?” tanya Bella.
“Tentu saja melenyapkanmu secepatnya, dengan begitu aku bisa memiliki Zeno lagi.”
“Bukankah kamu yang bilang sendiri? Aku tidak spesial bagi Zeno, jadi apa kau yakin keputusanmu itu benar? Bagaimana jika Zeno memang tidak peduli denganku?”
Tasya hanya tersenyum kecil, “jangan khawatir, aku akan pura-pura diculik denganmu setelah kamu tewas, aku juga akan pura-pura bisa lolos, dengan begitu, Zeno akan bersimpati denganku, iya kan?”
Bella memutar bola matanya malas, dia tidak percaya nyawanya bisa hilang ditangan perempuan bermuka dua seperti Tasya.
Bella pikir, Tasya itu baik, cantik dan sempurna, makanya Bella tidak bisa mengatakan apapun lagi jika memang Zeno berkencan dengannya. Setelah tahu Tasya seperti ini, Bella jadi menyesal tidak berusaha keras membujuk Zeno untuk memikirkan keputusannya berkencan dengan Tasya.
Tapi penyesalan selalu datang belakangan.
Entah Zeno sudah tahu tentang Tasya atau tidak, mungkin saja Zeno tahu setelah Tasya melenyapkan Bella.
Bella menyesal juga karena dia sangat lemah, jika tahu begini mungkin dia akan belajar bela diri, atau paling tidak cara memukul pria berbadan besar, agar bisa kabur dengan mudah.
Setelah itu, Tasya dan orang-orangnya pun kembali keluar ruangan menjijikkan tersebut, meninggalkan Bella sendiri.
Tapi, jangan harap Bella akan diam saja sampai diselamatkan, meski dia lemah, tapi masih harus berusaha kabur. Kali ini, Bella tidak akan ribut dan berusaha tetap tenang hingga mereka mengira Bella sudah menyerah.
Ikatan kali ini lebih kencang, untunglah Bella pernah belajar caranya melepaskan ikatan, jadi tidak sulit baginya.
Tapi...
Kabur lewat mana ya?
Terdengar suara ribut-ribut di luar, Bella semakin panik mencari jalan keluar, dia pun mendekati jendela kotor dan banyak sarang laba-labanya.
Akan tetapi, Tasya kembali masuk ke ruangan.
“Hei kau mau kabur kemana?” Tasya buru-buru mendekati Bella lalu menyerahkan sebuah belati pada Bella.
Bella yang bingung hanya memandangi Tasya dan belati bergantian.
BRAK!
Saat itu, Bella tanpa sadar tersenyum melihat Zeno datang.
Penampilan Zeno terlihat sedikit berantakan, ada noda darah juga memercik di kemejanya, tapi kelihatannya dia sudah berhasil memukul semua preman suruhan Tasya.
Namun, baru dua detik, Tasya sudah berlari ke pelukan Zeno.
__ADS_1
“Zeno! Kamu kemari untuk menyelamatkan aku kan? sebenarnya dia yang menculikku, dia pura-pura menelfonmu agar kamu percaya dia bukan pelakunya, dia melakukan ini karena dia iri denganku yang menjadi pacarmu!” ucap Tasya.
Zeno menghela nafas lelah, “tidak perlu berakting, Tasya, kamu gak lagi main sinetron kok, aku tahu kamu yang menculik Bella, sudahlah, aku lelah denganmu, akan ku beri satu kesempatan lagi, jangan menggangguku dan teman-teman, aku selalu memiliki buktinya, jangan mempermainkan aku, atau aku bisa membuatmu menerima ganjarannya. Bella, ayo kita pulang.”
Bella hanya diam karena kebingungan, dia hanya tidak menyangka jika Zeno akan sangat dingin pada Tasya.
Pada akhirnya, Zeno hanya menarik lengan Bella tanpa mengatakan apapun, Bella juga tidak berani berkata apapun.
Bahkan sampai mereka naik taxi, tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka berdua.
“Zeno, aku –”
“Maaf aku terlambat, maaf juga kamu mengalami itu karena aku” ucap Zeno dengan cepat, tanpa menatap Bella.
“Tapi –”
“Apa kau ingin aku menyerahkan Tasya ke polisi?”
Bella menggeleng pelan, kali ini Zeno menoleh padanya.
“Aku tidak masalah jika kamu masih belum bisa memaafkanku” ucap Zeno lagi.
“Tapi itu bukan salah Zeno! Aku saja yang lemah dan bisa-bisanya diculik seperti itu, lalu – aku senang kamu sudah putus dengan dia” balas Bella.
“Kenapa kamu senang?”
Bella menggeleng, “aku tidak bisa mengatakannya.”
Zeno mengernyitkan dahinya melihat rona wajah Bella berubah memerah.
Zeno bersyukur Tasya belum melakukan apapun yang berbahaya. Meski Zeno bilang akan memberi kesempatan dan melepaskan Tasya, tapi Zeno sebenarnya sudah mengirim beberapa orang untuk mengawasinya.
Zeno pikir Tasya tidak perlu diawasi, ternyata dia salah.
“Bella, sebagai permintaan maaf, aku akan memasakkan sesuatu yang enak untukmu” ucap Zeno.
“Ah, gak perlu, oh iya, tadi aku keluar buat beli buah, jadi turunkan aku di toko buah saja.”
Zeno menggeleng pelan, “tidak, biar aku belikan, kamu mau beli buah apa? Nanti aku turunkan kamu di depan rumahmu saja ya?”
Bella hanya mengangguk pelan, “terimakasih, Zeno.”
.
__ADS_1
.