Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Pesta besar


__ADS_3

.


.


“Wah... pestanya meriah banget ya!” Zeno menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela, dari sana dia bisa melihat pesta yang ada di bawah.


Kemudian, dia menoleh pada Aslan, “kenapa kita tidak pergi ke sana?” tanya Zeno pada Aslan yang duduk dengan tenang di atas sofa tunggal. Aslan sibuk dengan ponselnya sendiri, tidak membiarkan Zeno keluar menuju pesta.


Pesta tersebut ada di mansion besar keluarga Raynold, sementara Zeno ada di kamar tamu bersama Aslan.


“Aslan?” tanya Zeno lagi, dia tidak menyerah untuk bertanya, namun, melihat Aslan yang tidak bergeming, Zeno pun mendekati Aslan lalu duduk di sampingnya.


“Aslan, kamu ngapain sih?” tanya Zeno.


Aslan meletakkan ponselnya di meja di samping sofa, kemudian menoleh pada Zeno.


“Seharusnya aku yang bertanya, aku akan menginterogasi mu saat ini, yang pertama... apa kamu ada masalah dengan preman-preman di sekolahmu?”


Zeno berdecak malas, pasti Andi yang bercerita karena dia tidak mungkin tidak membocorkannya di depan Kevin, Aslan dan Travis.


“Jawab yang jujur, Zeno!” tambah Aslan.


“Baiklah, aku ceritakan. Aku berteman dengan anak tetanggaku, maksudnya – tetangga kak Kevin, namanya Bella. Dia di dekati oleh lelaki brengsek, pura-pura menyukai Bella, namun setelah dia mendapat motor sport yang dia inginkan, dia mencampakkan Bella kemudian mengatakan jika dia hanya taruhan, dia juga menghina fisik Bella. Bella yang tidak terima memintaku merekam semua kejadian itu, memviralkannya.


Si brengsek Damian itu datang ke rumah Bella dan ingin melaporkan Bella, aku datang untuk merekam kejadian itu lagi dan memviralkannya. Oke, aku memang ceroboh melakukan itu, tapi aku tidak takut dengan dia sama sekali. Kemudian... Bella berubah lebih langsing dan lebih cantik, lalu Damian itu datang ingin kembali pada Bella, kebetulan aku juga ada disana, jadi yah... begitulah, jelas dia membenciku, tapi tenang saja, aku sudah menghajar mereka.”


“Zeno, kau tahu mereka pasti kembali kan?”


Zeno mengedikkan bahunya, “iya tahu, tapi mau gimana lagi kan?”


Aslan berdecak kesal, “seharusnya kau katakan itu setidaknya pada kak Kevin! Aku tahu kau bisa melawannya, tapi ada sebab, ada akibat, orang yang ingin balas dendam bisa kembali jauh lebih kuat, kamu harus berhati-hati, baiklah itu sudah tidak masalah karena kamu sudah mengatakannya padaku, lalu yang kedua... orang-orang akan mulai menanyaimu, karena kau mirip denganku, ada banyak orang di pesta, termasuk keluarga besar Raynold, kau – eum... mungkin akan dikira kembaranku. Aku –” Aslan tidak meneruskan ucapannya saat Zeno menepuk bahunya, kemudian tersenyum kecil.


“Mereka akan menanyaiku macam-macam kan? jadi, karena itu kau masih menahanku disini? Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. lalu, tentang produk baruku, bagaimana?”


“Ah, seperti yang kita bahas sebelumnya...” Aslan meraih ponselnya kembali, lalu terlihat seperti sedang mengubungi seseorang.


“Wanita adalah pasar yang tepat, jadi produk pertama yang harus dipromosikan adalah lotion atau krim wajah, karena itu, kita membutuhkan bantuan perempuan, ah, sudah tersambung! Halo, iya, kalian kemarilah, oke, aku tunggu.”


Aslan mematikan telfonnya, kemudian tersenyum pada Zeno, jenis senyum licik yang terlihat mengerikan, seperti orang yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.


Atau, mungkin Zeno saja yang berlebihan.


“Siapa yang akan kemari?” tanya Zeno.


“Oh, kita tunggu disini saja, sekarang siapkan semua barangnya” ucap Aslan.


Kemudian Zeno berdiri lagi, mengambil tas ransel yang dia bawa, kemudian mengeluarkan barang-barang dari toko ajaib yang mungkin akan laku terjual dan mungkin saja disukai wanita.


Awalnya Zeno berpikir satu produk itu tidak akan berguna, tapi setelah dia telusuri di internet, ternyata sunscreen adalah barang wajib bagi wanita untuk melindungi kulit dari sinar UV. Yah, harusnya lelaki juga mengaplikasikannya, tapi jika mereka tidak masalah memiliki kulit wajah terbakar dan tidak sehat sih, tidak perlu.


Jadi, Zeno juga akan menjual sunscreen gel yang dingin, selain membantu menjaga kulit dari paparan sinar matahari, sunscreen juga sangat sejuk jika dipakai di wajah atau kulit mereka.sama seperti krim wajah, sunscreen dibungkus dengan wadah cantik 300 gr.


Untuk berjaga-jaga, Zeno juga menjual permen mint khusus untuk menjaga gigi tetap segar, sehat dan juga memutihkan gigi secara alami. Ada juga masker mata yang dapat membuat tidur nyenyak serta menghilangkan kantung mata, sebenarnya itu versi light dari ramuan tanpa mimpi.


Zeno juga sengaja memilih produk yang tidak terlalu terlihat ajaib.


Kemudian, ada pula air lemon dan air peach, itu versi minuman dari ramuan penurun berat badan, yang aman dikonsumsi sehari-hari karena tingkat keefektifan ramuan jauh lebih rendah, jadi membutuhkan sekitar tiga minggu sampai satu bulan pemakaian rutin.


Dan karena itu versi rendahnya, jadi jelas harganya juga lebih murah.


“Ini masker di oleskan dibawah mata dan bisa membantu tidur nyenyak? Wah, aku mau beli ini juga deh ya?” ucap Aslan, sambil mengangkat masker mata.


Zeno menoleh kesal padanya, “kau berencana ingin begadang?”


“Hehe, aku suka nonton atau main game saat malam.”


“Jangan lakukan itu terlalu sering, Aslan!”

__ADS_1


“Aku juga kadang bekerja di malam hari!”


“Tetap saja...”


Krieekkk!


Mereka berhenti berdebat, lalu menoleh pada pintu masuk, terlihat dua gadis cantik memasuki ruangan.


Mereka adalah Elle, sepupunya Aslan, dan juga Dania, pacarnya Aslan.


Zeno sangat terkejut saat mengetahui Aslan punya pacar, apalagi saat Aslan mengatakan dia dipaksa Dania untuk menerimanya, Aslan yang masih berumur sebelas tahun kala itu mengiyakan saja. Tapi jika awet sampai sekarang, mungkin Aslan mulai menyukainya.


Yah, Zeno tidak mau tahu tentang kehidupan percintaan Aslan yang absurd. Lagian, Zeno sampai umur 14 tahun masih sibuk main layangan atau kelereng, atau mencari keong di sawah, mana mengerti cinta-cintaan dia.


Tapi jelas, anak kota berbeda pastinya.


“Ini semua barangnya, Zeno, jelaskan harganya dan spesifikasinya” ucap Aslan.


“Bukankah lebih baik kalian juga ikutan?” protes Dania.


“Nia, aku mau mengenalkan Zeno pada yang lainnya” sahut Aslan.


Pada akhirnya, Zeno menjelaskan satu persatu barang itu, kedua gadis cantik itu malah tertarik untuk membeli sendiri. Zeno berkata jika mereka bisa mempromosikan barangnya, dia akan mengabulkan keinginan mereka. Misalnya mereka meminta dua atau tiga barang, dia akan memberikannya.


“Oke, kalo gitu, aku dan Dania akan berkeliling mempromosikannya pada teman-teman kami!”


Setelah kedua gadis cantik itu pergi, Aslan pun mengajak Zeno untuk bertemu keluarganya.


Selama perjalanan, Zeno melihat orang-orang di pesta menatap mereka berdua seakan mereka adalah hal yang aneh dan langka.


“Apa mereka kembar?”


“Bukankah kembaran Aslan dulu meninggal?”


“Jangan-jangan keluarga Raynold sengaja menyembunyikan kembaran Aslan.”


“Itu tidak mungkin, untuk apa coba?”


Bisik-bisik yang dapat Zeno dengar dengan baik pun terus saja terdengar, membuat Zeno tidak nyaman.


GREP


Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk Zeno dari samping, seorang wanita yang sangat cantik dan terlihat seperti boneka.


“Ka-ka-kamu... kamu yang namanya Zeno? Kamu mirip banget sama adikku!” ujar wanita itu, yang kemudian ditarik agar lepas dari Aslan, oleh Travis. Sepertinya wanita itu kakaknya Aslan, Aileen.


Dia cantik sekali.


Zeno tersenyum sopan pada Aileen.


“Dia adik yang ku inginkan! Versi sopan dan manis dari Aslan! Aslan, kamu ditukar sama dia ya?” ucap Aileen.


“Enak aja!” ujar Aslan tidak terima.


Wanita lain datang, kali ini mirip dengan Aileen, tapi terlihat lebih dewasa.


Zeno mengenalinya, dia ibunya Aslan, Luna.


Wanita itu mendekat, lalu menangkup wajah Zeno dengan kedua telapak tangan lentiknya.


Melihat kedua mata wanita itu, membuat Zeno merasakan hal yang aneh.


Bukan berarti Zeno tidak sadar, dia hanya membohongi diri sendiri dan pura-pura tidak tahu. Kemungkinan Zeno adalah kembaran Aslan sudah mencapai 100% tapi Zeno terus menghindarinya seperti orang bodoh.


Membuktikan dia bisa berdiri sendiri?


Itu hanyalah alasan.

__ADS_1


Sebenarnya, dia takut hal seperti ini akan terjadi, dia menjadi emosional dan berakhir terlihat lemah dihadapan orang lain.


“Anak ku...” gumam Luna.


Apa ini? Kenapa pandangan Zeno menjadi buram? Mendadak dia menahan diri untuk berkedip.


(Menangis saja)


Tidak! Zeno tidak akan menangis.


Begitu pikirnya, meski yang terjadi malah sebaliknya.


Sret!


Zeno mundur satu langkah lalu mengusak air matanya dengan lengan kemeja biru mudanya.


“Ma-maaf, saya harus pergi sebentar!”


Zeno pun segera berlari dari tempat itu, lari kemana saja, tempat yang tidak banyak orang.


Tanpa Zeno sadari, dia sudah berada di luar mansion. Kemudian dia mendongak melihat rumah pohon besar yang bersinar terang karena cahaya lampu.


Entah ada dorongan dari mana, dia pun menaiki tangga rumah pohon, kemudian duduk disana, sambil menatapi mansion dari atas rumah pohon.


“Apa yang aku lakukan sih? Kenapa aku pergi?” gumam Zeno.


Beberapa menit selanjutnya, Zeno hanya diam melamun, sama sekali tidak tergerak untuk kembali. Mungkin Aslan sedang mencarinya saat ini.


“Aku memang bodoh.”


“Tidak juga.”


“HUWAAAA!! Mpp –”


Zeno yang terkejut ada orang lain bersamanya, refleks berteriak, dia mulai tenang setelah melihat Elle yang ternyata ada di sampingnya.


Elle pun melepaskan bekapan tangannya setelah Zeno mulai tenang.


“Jangan berteriak jika tidak mau ketahuan” bisik Elle.


“Ma-maaf...”


“Aku melihat semuanya dari kejauhan, sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu ya? Apa kamu memanglah kembaran Aslan?” tanya Elle.


Zeno menunduk, kembali menatap mansion.


“Apakah menurutmu aku pantas menjadi bagian dari keluarga itu?”


“Pantas, kok.”


Zeno menoleh pada Elle, “kenapa kau berkata seperti itu? Aku tidak sehebat mereka.”


“Zeno, sejak kapan menjadi bagian keluarga tertentu harus hebat dulu? Harus memiliki kemampuan yang sama? Tidak bukan? Kau hanya dilahirkan disana, ditakdirkan disana, bagaimanapun dirimu, kau akan selalu diterima.”


Tiba-tiba Elle menarik Zeno agar menyandarkan kepalanya di bahu Elle.


Elle cukup tinggi, tapi Zeno masih harus menggeser tubuhnya agar merasa nyaman bersandar di bahu gadis itu.


Zeno sendiri tidak tahu kenapa dia menerima bahu Elle begitu saja, apalagi Elle juga memeluknya, dan dia tidak keberatan.


“Tidak perlu berpikir terlalu jauh, tidak perlu berpikir kamu lebih rendah, apa kamu tidak melihat wajah Aslan saat bersamamu? Dia sangat bahagia, aku tidak pernah melihat bocah itu segembira dan sesemangat itu sebelumnya, dia bahkan tidak betah dengan anak-anak seusianya kecuali aku dan Xeon, jadi dia loncat kelas untuk menghindari itu. Jika saja kamu ada lebih awal, mungkin Aslan tidak akan loncat kelas dan sekolah bersama denganmu, iya kan?”


“Entahlah, Elle.”


“Sudahlah, jangan pikirkan itu, tenangkan dirimu dulu.”


“Terimakasih, Elle.”

__ADS_1


.


.


__ADS_2