
.
.
Keluarga baru sama sekali tidak buruk, mereka bisa menerima Zeno dengan baik, Zeno juga bisa menerima mereka dengan baik... yah, walaupun Zeno belum bisa menghafalkan nama mereka dengan baik.
“Zeno istirahat aja kalo emang gak enak badan” ucap Elle, dia memaksa Zeno yang baru selesai sarapan dengan bubur ayam buatan Arvin untuk kembali tidur setelah Zeno mengatakan kenapa dia sering mengantuk dan apa yang terjadi padanya.
Mau bagaimana lagi, dia sarapan dengan keluarga besar masih mengenakan piyama. Zeno bahkan tidak bisa mencuci muka karena si baby yang ternyata bernama Aila, atau keponakannya, tidak mau lepas sama sekali. Zeno takut jika membawa baby Aila ke kamar mandi.
Baby Aila bahkan tidak mau dan merengek saat Aslan ingin mengambil alih.
Baby Aila benar-benar menyukai Zeno, si baby mau lepas pada akhirnya saat mama nya ingin memberikan makan dan asi.
Zeno mengatakan apa adanya pada keluarganya tentang kondisi tubuhnya, dia kelelahan karena sejak pergi ke Jakarta, dia memaksa diri untuk berpikir keras. Semua yang terjadi padanya membuat tubuhnya kaget dan sekarang sedang beradaptasi.
Mereka bilang, Zeno hanya kelelahan, itulah kenapa Elle menyeretnya kembali ke kamarnya dan memaksa Zeno untuk istirahat.
Elle adalah anak dari adiknya Jaden, dia memiliki kakak bernama Jason, tapi keluarga Elle sibuk semua, jadi hanya gadis itu yang datang ke sana untuk berkunjung.
“Aku baik-baik aja kok, Elle! Aku udah mendingan sekarang, semalam kan udah tidur panjang juga...” ucap Zeno.
“Tapi kalo kamu capek lagi gimana?”
Zeno tersenyum mendengarnya, “Elle perhatian sekali ya, terimakasih.”
Wajah gadis itupun bersemu merah, malu-malu dengan pujian sederhana tersebut.
“Ap-apaan sih! Ini kan udah biasa... ya udah, kalo udah gak capek Zeno mandi aja dulu, aku tunggu di luar... aku buatin teh ya?”
“Gak perlu Elle, aku gak begitu suka teh!”
“Kalo gitu kopi, kamu mandi dulu!”
Elle pun pergi begitu saja, tidak menghiraukan ucapan Zeno yang memintanya untuk tidak perlu membuatkan kopi.
Tapi kemudian Zeno tersenyum, “dia gadis yang baik...”
Sebelum mandi, Zeno kembali memeriksa ponselnya, ternyata ada pesanan baru, yaitu pesanan seseorang yang membeli ponsel dan juga tab. Toko online Zeno kini menambah barang lain seperti tab, airpod, powerbank, dan lain-lain. Intinya, toko itu sudah berubah menjadi toko teknologi atau elektronik.
Karena toko itu memiliki akun di sosmed, ada pula beberapa pelanggan yang menanyakan tentang televisi.
Jelas Zeno terkejut, kenapa orang ingin membeli televisi secara online? Itu adalah barang yang besar dan rawan. Meski jika membeli pada Zeno pengirimannya akan aman sentosa, tapi kan tetap saja.
Zeno sudah berunding dengan Raihan lewat chat, dan memutuskan untuk sementara tidak menambah televisi di dalamnya, karena Zeno masih khawatir untuk menjual barang-barang berat.
(Zeno berhasil naik level 8!)
“Eh? Tumben di umumkan begini?” tanya Zeno, karena biasanya naik level tidak ada notifikasi, tiba-tiba saja naik.
(Karena kami ingin saja, coba lihat hadiah kenaikan levelnya!)
“Oke... hmm, kayaknya hadiahnya banyak ya? Apa ini? Undian?”
Zeno melihat beberapa hadiahnya, ada satu hadiah yang harus diundi lagi.
(Itu adalah gacha, jadi kamu tinggal klik dan memutarnya, nanti kamu akan mendapat hadiah sesuai keberuntungan mu)
“Ah, ini kayak game ya? Oke deh, aku coba.”
__ADS_1
Zeno pun memutar gacha, ada dua tiket saja.
Hadiah pertama membuat Zeno sangat bahagia, karena itu adalah kupon diskon barang elektronik sebesar 90%, jadi termasuk smartphone dan lain-lain, meski hanya untuk sepuluh tahun saja, tapi itu waktu yang cukup lama.
“Akhirnya dapat diskon ini juga... oke selanjutnya!”
Pemutaran kedua, Zeno mendapatkan motor sport senilai satu miliar rupiah.
Senyuman Zeno luntur seketika, “aku belum punya SIM untuk mengendarainya” gumam Zeno, selain itu, dia juga belum bisa menggunakan motor, hanya bisa sepeda saja.
Hadiah kenaikan level lainnya adalah kotak keberuntungan, seperti game lagi, jadi ada tiga kotak. Warna emas, merah dan biru, kemudian Zeno harus memilih salah satunya.
Ngomong-ngomong keberuntungan, warna merah merupakan keberuntungan menurut orang China, jadi Zeno memilih kotak merah.
Setelah itu terbukalah hadiah ketiga kotak.
Yang emas, adalah hadiah apartemen senilai 20 miliar.
Kotak merah adalah saldo senilai 20 miliar.
Lalu yang biru adalah toko di pinggir jalan strategis senilai 20 miliar.
Karena Zeno memilih yang merah, jadi dia hanya mendapatkan saldo.
Entah kenapa, Zeno menyesal, dia ingin hadiah kotak emas, juga ingin yang biru. Meski nilainya sama-sama 20 milar, tapi jelas properti nilainya bisa naik setelah beberapa tahun ke depan.
Tapi tidak masalah.
Uang juga bagus, kebetulan, Zeno sudah berkata akan membeli saham Royal group kan? jadi dia membeli saham pada sistem senilai 10 miliar, jadi yang 10 miliar lain dia simpan saja.
Zeno tidak sadar, jika apapun yang dia beli di sistem sudah di diskon sebanyak 70% kecuali produk buah, daging dan elektronik yang mendapat diskon 90%.
Sementara Jaden yang sedang mengobrol dengan ayah dan pamannya tentang perusahaan, tiba-tiba mendapatkan kabar mengejutkan dari Arvin.
“Papa! Ada seseorang yang membeli saham Royal group sebesar 10%” ucap Arvin.
“Kenapa kamu terkejut begitu? Bukankah memang sebagian saham sedang dijual?” tanya Chris, kakeknya Arvin, atau ayahnya Jaden.
“Masalahnya kek, orang itu adalah Zeno!”
Jaden pun tersedak kopinya sendiri, “Arvin, jangan bercanda? Dapat darimana Zeno uang sebanyak itu?”
“Zeno itu ajaib Pa, jangan terkejut dong” sahut Aslan yang kebetulan lewat, dan kebetulan mendengar. Bocah itu baru bangun setelah semalam begadang lagi.
“Aslan, sarapan dulu sana!” ucap Arvin.
Aslan menguap sebentar lalu mengangguk, “oke!”
***
“Udah, jangan dipikirin... kamu gak salah kok, mereka kaget aja” ucap Xeon.
Zeno, Aslan, Xeon, Elle, Dania dan Bella sedang pergi dari rumah. Mereka tidak kabur, tapi main ke pantai agar tidak suntuk.
Zeno habis di wawancarai habis-habisan oleh keluarganya dan dia sudah merasa seluruh energinya tersedot habis.
Tentu saja Zeno tidak membocorkan tentang sistem, tapi dia hanya mengatakan tentang bisnis toko onlinenya yang cukup sukses, Zeno juga menyetok buah-buahan untuk toko buah besar milik ayahnya Sellya, Zeno juga menjual yang lain-lain. Untungnya mereka percaya, tapi tetap saja Zeno merasa bersalah telah membohongi ayah dan kakeknya.
Dia beruntung karena Aslan, Xeon dan Elle datang tepat waktu untuk membela Zeno dan membawa Zeno kabur.
__ADS_1
“Zeno hebat bisa beli saham!” ucap Bella, dia diantar supirnya ke tempat itu setelah tahu Zeno ada disana. Bella kan juga kesepian sejak orangtuanya pergi keluar kota, jadi Zeno mengajaknya.
“Aku membelinya karena aku sudah janji pada Papa, tapi kemudian Papa malah kaget” gumam Zeno.
“Lupakan aja, kita mancing yuk!” ajak Aslan.
“Aku denger orang-orang ribut karena ada ikan salmon besar ditemukan di sekitar sini, tapi belum ada yang berhasil memancingnya” ucap Xeon, ayahnya Xeon, Lino, itu maniak memancing, jadi informasi seperti itu sudah biasa dia dengar dari ayahnya sendiri.
“Kalo kita berhasil gimana?” tanya Aslan.
“Emangnya kalian bisa mancing?” pertanyaan sederhana Dania itu berhasil membawa mereka pada kenyataan pahit.
Zeno hanya terkekeh melihat Aslan dan Xeon langsung lesu, memang mereka berdua tidak terlihat seperti seseorang yang bisa memancing sih, Zeno mengerti itu.
“Jangan langsung di-ulti dong, skill satu dulu” sahut Elle.
“Bacot ah!” Aslan pun kesal.
“Tenang aja, aku bisa mancing kok, beberapa kali mancing di laut juga, jadi ayo kita mancing... apa kita akan naik perahu?” tanya Zeno.
“Serius? Zeno bisa?” tanya Bella.
Zeno mengangguk, “iya, meski panti ku dulu jauh dari laut, tapi beberapa bulan sekali, kami diajak tetangga yang gemar memancing untuk pergi ke danau atau laut untuk memancing, hasil pancingan akan dimakan bersama-sama, tapi kadang dijual, dan uangnya dibelikan sayuran” ucap Zeno.
Mereka semua terdiam karena kagum, ternyata anak desa tidak buruk juga, mereka memiliki beberapa keahlian.
Tanpa banyak bicara, Xeon dan Elle langsung pergi memesankan kapal pesiar untuk mereka, sementara Zeno dan Bella pergi membeli alat pancing untuk mereka, kebetulan, karena itu tempat yang umum untuk memancing di laut untuk orang-orang berduit, jadi ada toko alat pancing yang juga menyewakan alat.
“Apa sebaiknya kita menyewa saja alatnya? Hanya membeli umpan?” tanya Bella.
Zeno berpikir sejenak, “bener juga, kalo beli, kita kan hanya sekali-kali memancing, kecuali jika sering – eh, Damian?”
Zeno dan Bella melongo melihat Damian berada di toko alat pancing.
“Apa lihat-lihat!” sahut Damian jengkel, tapi kemudian seseorang datang untuk menjitak kepala Damian.
“Anak bego! Jangan kasar-kasar sama pelanggan! Aduh, maafkan adik saya ya, dia memang etikanya minus, ada yang bisa saya bantu?”
Ternyata toko itu milik keluarga Damian.
“Kami ingin menyewa alat pancing untuk memancing ikan salmon” ucap Zeno.
“Oh! Aku dengar orang-orang juga pergi untuk mencari salmon besar, kalian juga ya?” tanya kakak perempuan Damian.
“Iya kak! Zeno bilang bisa memancing, jadi kita mencobanya” sahut Bella, tidak lupa dia menggandeng lengan Zeno untuk membuat Damian makin kesal.
“Halah! Aku ga percaya dia bisa mancing, gimana kalo kita bersaing? Siapapun yang bisa membawa ikan salmon besar diantara kita akan menang?” ucap Damian.
“Eh? Aku gak keberatan, tapi kalo kamu kalah gimana?”
Damian berdecak malas mendengar ucapan Zeno barusan.
“Siapapun yang kalah harus berhenti mendekati Bella, yang menang akan menjadi pacar Bella” ucap Damian.
“Kok jadi aku sih?” sahut Bella tidak terima.
“Oke, aku terima!” Zeno tersenyum kecil, seolah tidak memiliki beban, membuat Damian makin kesal.
.
__ADS_1
.