Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Anak yang aneh


__ADS_3

.


.


"Ini Danielle, panggil aja Elle, dia sepupuku, anak dari adiknya ayahku," ucap Aslan.


Elle hanya menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. Memang Elle suka memeluk atau mengejutkan Aslan saat bertemu, lalu dia pikir Zeno itu Aslan, karena sangat mirip.


Sekarang Elle merasa malu telah melakukan hal yang bodoh.


Tapi mana dia tahu jika ada orang yang sangat mirip dengan sepupunya.


"Elle, cepat minta maaf!" pinta Xeon.


"A-aku minta maaf ya... aku tidak tahu jika kamu bukan Aslan, habisnya kalian mirip sekali..." ucap Elle sambil masih menundukkan kepalanya.


Zeno tersenyum canggung, bukan salah Elle juga sih, meski sebenarnya Zeno masih tidak percaya dia semirip itu dengan Aslan, karena dia pikir mereka itu berbeda. Dulu saat masih di panti asuhan, Zeno sering sekali dibilang mirip artis ini, atau si itu, jadi dia tidak terlalu banyak berpikir saat dikatakan mirip dengan Aslan, dia sudah terbiasa.


"Tidak apa, aku bisa mengerti itu," ucap Zeno.


"Kita lupakan itu, ayo kita memesan sesuatu! pelayan, kami akan memesan," ucap Aslan.


Seorang pelayan yang sudah menunggu di dekat sana pun menghampiri mereka lalu memberikan buku menu.


Zeno membuka buku menu dengan semangat, Elle melirik padanya, masih heran kenapa ada orang asing mirip dengan sepupunya, sudah seperti kembar identik yang tak bisa dibedakan.


Aneh sekali.


"Woah, ada banyak menu, pengen nyobain semuanya!" seru Zeno, dia bersemangat jika itu makanan, apalagi yang belum pernah dia cicipi.


"Cobain beberapa aja, kita cuma ada lima orang, perut kita tidak muat jika memesan semua makanan” ucap Aslan.


Zeno tersenyum canggung, “lagipula pasti mahal sekali jika memesan semuanya, aku tidak enak padamu yang mentraktir kita.”


“Jangan khawatir dengan harga, ini kan restoran keluarga kami” sahut Xeon.


“Kalau begitu, aku memesan ini, ini dan ini! Minumannya ini!” pelayan mencatat pesanan Zeno dengan teliti.


Setelah semuanya selesai memesan, pelayan pun pergi meninggalkan mereka. Namun, datang pelayan baru untuk menyuguhkan air lemon dingin dan juga makanan pembuka, yang kata Aslan itu gratis.


Mereka makan dengan tenang, ada sedikit pembicaraan juga, kemudian Elle harus pergi karena kakaknya sudah menjemput.


Selesai makan malam, Xeon mengantarkan Raihan, sedangkan Aslan mengantarkan Zeno menaiki mobil pribadi yang menjemput mereka, karena arah rumah Zeno dan Raihan juga berbeda.


“Ini rumahmu?” tanya Aslan setelah mereka sampai di depan rumah Kevin.


“Bukan, ini rumah orang yang baik padaku, aku dibantu olehnya, jadi aku tinggal disini... aku kan masih dibawah umur, jadi dia tidak mau membiarkanku sendirian” ucap Zeno.


Aslan mengangguk, lalu dia keluar dari mobil, Zeno pun ikut keluar dari mobil, tapi karena dia bingung cara membuka pintu mobilnya, akhirnya Aslan membantu membukakan pintu.


Zeno tidak terbiasa menaiki mobil mewah.


“Ini kan rumah kak Kevin, kok kamu gak bilang sih?” protes Aslan.


Zeno mengernyitkan dahinya, “kamu kenal kak Kevin?”


Aslan mengangguk, “Kak Kevin itu berasal dari keluarga yang masih berteman dengan keluargaku, lalu dia juga teman kecil kakak-kakak kembar ku, oh iya, kamu pasti sudah kenal kak Travis kan?”


Zeno mengangguk mengiyakan, “iya, kenapa? Ayo sambil jalan, kamu masuk dulu!”


“Kak Travis itu kakak ipar ku” ucap Aslan.


“Eh? Dia sudah menikah? Kayaknya kak Travis masih muda deh.”


“Biasa lah, nikah muda, biar gak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku bahkan udah punya keponakan yang lucu.”


Setelah masuk rumah, entah kenapa, rumah terasa sepi dan kosong.


“Sepi banget, kak Kevin gak ada?” tanya Aslan.

__ADS_1


“Kak Kevin pernah bilang mau jemput mamanya, tapi gak tau lagi, dia gak bilang apa-apa, cuma bilang sibuk gitu...”


“Ya udah, aku pulang ya? Takut dimarahin mama, soalnya mama ku serem banget kalo marah, kamu gak apa-apa sendirian?”


Zeno tertawa sebentar, “gak masalah, aku udah biasa sendirian.”


“Kapan-kapan aku nginep ya, sampai ketemu lagi!”


Setelah Aslan pergi, rumah menjadi benar-benar sepi.


Zeno sudah merasa mengantuk dan lelah, jadi dia langsung pergi ke kamarnya. Sampai kamar, dia membersihkan dirinya, memakai lotion dan krim wajah, tidak lupa meminum ramuan tanpa mimpi karena saat itu pikirannya sedang penuh, dia takut tidak nyenyak tidurnya jika tidak minum ramuan. Lalu jika tidur tidak nyenyak dan mimpi aneh, jika bangun nanti tubuhnya akan terasa sakit.


Sebelum tidur, dia memeriksa ponselnya dulu, mengirim pesanan yang datang, lalu melihat chat dari Raihan.


Raihan mengirim sebuah gambar kotak warna pink yang lucu dengan gembok hello kitty.


‘Zeno, ada beberapa orang di insta yang menanyakan apakah kita menjual uphone yang berkolaborasi dengan hello kitty, ini edisi spesial. Jika kita menjualnya, ada lima orang yang mau membeli’ begitu pesan dari Raihan.


Zeno menggaruk kepalanya bingung, kemudian memeriksa toko sistem untuk mencari barang yang Raihan maksud.


Ternyata ada, itu edisi terbatas, harga aslinya sekitar 15 jutaan.


Selain mendapat koper yang bisa digunakan sebagai tempat make up, juga mendapat aksesoris hello kitty yang lucu, tas hello kitty, casing hello kitty dan lain-lain. Ponselnya sendiri juga serba hello kitty.


Menurut Zeno, ponsel itu pasti target konsumennya perempuan atau remaja. Zeno masih tidak berpikir anak-anak boleh memiliki ponsel sendiri.


Karena sudah ada pesanan, jadi Zeno menambahkan barang itu ke toko online, kemudian mengabari Raihan jika dia akan menjualnya.


“Aku jadi penasaran, menjual barang orang lain begitu, apakah butuh ijin?” tanya Zeno.


(Tentu saja butuh, tapi Zeno tidak perlu khawatir, karena semua ijin penjualan ditanggung oleh sistem)


(Jadi, jika misalnya Zeno dituduh tidak memiliki ijin penjualan, kita memiliki buktinya)


“Ah, begitu? Syukurlah... aku jadi lega! Lalu, jika aku menjual barang di toko ajaib, itu artinya produk itu akan menjadi brand ku sendiri kan?”


(Tentu saja, tapi sebelumnya, Zeno harus membeli ijin dan kepemilikan di sistem)


Zeno mengangguk mengerti, “oke, aku paham sekarang, terimakasih sistem.”


(Sama-sama)


Akan tetapi, belum juga Zeno membaca ‘sama-sama’ dari sistem, dia sudah tertidur lelap.


***


Pagi hari Zeno terbangun karena dia merasa mendengar suara Kevin datang.


Masih jam enam pagi, jadi Zeno turun masih mengenakan piyama.


Kevin sudah tergeletak di kamarnya, ada Arthur yang membantu Kevin.


“Kak, kak Kevin kenapa?” tanya Zeno.


Arthur merenggangkan ototnya yang kelelahan setelah membopong Kevin, kemudian dia menoleh pada Zeno.


“Oh, Zeno... gini, Kevin ada masalah dengan keluarganya, ibunya tidak jadi datang kemari, ku harap kamu tidak terlalu kecewa ya? Lalu, Kevin sakit” ucap Arthur.


Zeno panik seketika, kemudian dia dia mendekati Kevin, memeriksa keningnya.


Panas.


“Kak Kevin...” gumam Zeno.


“Jangan terlalu khawatir, Kevin biasanya akan segera sembuh, aku akan merawatnya disini” ucap Arthur.


Zeno menggeleng pelan, lalu mendongak menatap Arthur.


“Kak Arthur pasti sibuk kan? biar aku yang merawat kak Kevin, aku akan ijin sekolah.”

__ADS_1


“Tapi, Zen...”


“Biar aku yang merawatnya!”


Arthur tidak bisa menolak Zeno yang menatapnya penuh tekad, Zeno sangat serius dan ingin dipercaya, jadi Arthur terpaksa mengiyakan. Lalu, memang Arthur memiliki beberapa pekerjaan yang harus dia segera selesaikan.


“Aku janji akan menyelesaikan pekerjaanku lalu kembali kemari” ucap Arthur.


“Kak Arthur juga jangan sakit, jaga diri ya kak!”


“Oke, aku pergi dulu, Zeno...”


Arthur pun pergi, dan Zeno juga pergi ke dapur.


Memang Zeno memiliki obat penyembuh, tapi tetap saja Kevin harus makan dulu dan istirahat cukup.


“Oke... apa yang harus kita buat?”


(Sistem sarankan memakai ginseng korea)


“Kenapa?”


(Kevin dari Korea kan?)


“Logika macam apa itu? Tapi boleh juga, ginseng bisa menghangatkan tubuh, aku akan membuat bubur ayam!”


Zeno pun membuat bubur ayam dengan ginseng, mengikuti resep yang dia temukan di internet. Setelah jadi, tidak lupa dia cicipi dulu.


Satu sendok, dua sendok...


“Kok enak ya? Haduh, gak boleh ku habisin, ini buat kak Kevin!”


Zeno segera menuangkan bubur ke dalam mangkuk lalu membawanya ke kamar Kevin.


Ternyata Kevin sudah bangun.


“Zeno? Kamu bawa apa?”


“Bubur ayam kak, kakak lagi sakit, jadi aku buatin ini, makan ya? Aku akan bawakan obat, sebentar!”


Zeno memberikan mangkuk pada Kevin.


“Kelihatannya enak” gumam Kevin, dia terdengar sangat lemah.


Dilihat dari keadaannya, Kevin sepertinya hanya demam biasa dan juga stress.


“Kak Kevin makan ya? Aku akan ke kamar sebentar!”


Kevin hanya tersenyum melihat Zeno yang berusaha keras untuk merawatnya. Percakapan Zeno dan Arthur juga Kevin mendengar semuanya, dia menutup mata karena merasa pusing.


Pusing itu mulai menghilang setelah Zeno pergi membuat bubur, itulah kenapa Kevin sudah bangun saat Zeno kembali.


“Ginseng? Dapat darimana Zeno ginseng korea?” gumam Kevin bingung.


Sebenarnya, Kevin juga bingung darimana Zeno mendapatkan barang-barang yang dia jual, dia bahkan mendengar Zeno membantu toko buah memasok buah impor. Itu aneh, tapi karena Kevin tidak ingin ikut campur, dia cukup bangga juga karena ternyata Zeno cukup cerdas.


Tidak banyak anak seumuran Zeno yang bisa berpikir seperti itu, untuk berbisnis dengan serius.


Remaja aneh yang seperti itu Kevin pernah temui satu kali, yaitu Travis, Kevin tidak menyangka akan menemui yang seperti Travis lagi.


“Kak! Kok belum dimakan?”


“Masih panas, mau suapi aku?”


“Boleh! ini aku bawain obat juga...”


“Makasih ya.”


.

__ADS_1


.


__ADS_2