
.
.
Tempat untuk pertemuan adalah sebuah taman bermain yang di dalamnya memiliki berbagai stand permainan, carrousel, bianglala, dan lain-lain. Semacam pasar malam tapi lebih bagus lagi.
Zeno membayar tiket untuknya sendiri, dia juga masuk sendirian. Tapi bukan berarti Arvin tidak ada, Arvin sedang mengikutinya di belakang sambil memakan burgernya sendiri. Zeno juga sudah membawa burgernya, sudah dia makan setengah karena dia tergoda dengan arma burger.
Setelah masuk, Zeno malah teralihkan dengan beberapa permainan. Dia berhenti di stand menembak yang jika kena lima kali, boleh memilih hadiah yang diinginkan. Hadiahnya rata-rata boneka, Zeno tidak main boneka, tapi dia memiliki keponakan perempuan yang lucu.
Rencananya, Zeno menginginkan boneka yang berbentuk pomeranian putih, kelihatannya sangat lucu dan lembut.
Zeno membeli tiket kemudian menembakkan kelima target.
Penjaga stand melongo saat Zeno berhasil dalam sekali percobaan.
“Aku mau –”
“Boneka kucing yang itu! Makasih ya, sayang!”
Zeno merinding rasanya, tiba-tiba Tasya datang seperti hantu, padahal Zeno yakin tadi di belakangnya kosong.
“Ka-kamu datang darimana sih? Bikin kaget aja!” protes Zeno.
“Hehe, kan kejutan, sayang!” Tasya menggandeng lengan Zeno, kemudian menerima boneka kucing putih yang dia inginkan. Zeno membiarkannya saja, karena dia tidak mau membuat Tasya marah, dia sudah memiliki tujuan yang telah dia sepakati dengan Arvin.
“Apa maksudnya pesan yang tadi? Siapa yang ingin bertemu denganku?” tanya Zeno.
“Papa yang mau bertemu” jawab Tasya.
Zeno kembali merasa merinding dan berdebar-debar, itu artinya dia akan bertemu dengan Harjuno.
Kok Zeno jadi takut ya?
Ayolah Zeno, Harjuno manusia biasa! Kau bahkan berteman dengan mafia dan biasa saja!
Mungkin kalian lupa, tapi salah satu teman Kevin, yaitu David, tergabung dalam mafia, Zeno juga yakin Travis, kakak iparnya pun tergabung. Karena vibes Travis itu sangat mafia.
Lalu, ternyata kakek Zeno juga keturunan mafia, Om Lino atau ayahnya Xeon juga.
Setelah mencoba menenangkan hatinya beberapa kali, Zeno pun merasa cukup tenang.
Tasya terus membawanya ke tempat yang semakin sepi.
Tempat yang gelap, jauh dari kerumunan, bahkan Zeno tidak melihat siapapun selain dia dan Tasya.
“Dimana ayahmu?” tanya Zeno.
“Tunggu dulu, Zeno sungguhan mau menjadi pacarku kan? karena jika tidak kami akan membunuh Zeno, aku tidak mau itu terjadi, aku mencintaimu!”
Jadi inilah alasan Zeno merinding terus, dia mau dilenyapkan jika tidak mau menjadi pacar Tasya.
“Ak-aku se-serius... hehe.”
“Zeno tidak terdengar serius! Aku hanya umur 21 tahun kok, masih cocok sama Zeno!”
“Kau bilang kemarin 25 kan?”
“Aku pikir Zeno suka wanita dewasa... lagipula identitasku sengaja dituakan empat tahun, jika mencari di internet, umurku 25 tahunan... dulu dibuat begitu agar aku bisa bebas memakai baju seksi.”
“APA?”
Tasya membekap mulut Zeno dengan tangan lentiknya, “ssshh, Zeno jangan berisik! Papa ku yang memintanya, katanya jika aku berpenampilan seksi, aku akan lebih menggoda, dan lagipula casting pertamaku kan aku mengincar peran wanita dewasa, tapi ternyata setelah menjalani dan menjadi aktris, aku ternyata lebih cocok peran polos dan imut-imut, image ku kembali diubah, tapi umur terlanjur empat tahun lebih tua” ucap Tasya.
Zeno mengangguk mengerti, lalu melepaskan bekapan tangan Tasya dari mulutnya, “oke, aku paham, memangnya kak Tasya kapan memulai karir akting?”
“Lima tahun lalu, waktu itu umurku 16 tahun, tapi harus diubah menjadi 20 tahunan.”
__ADS_1
Tiba-tiba Zeno kasihan pada Tasya, dia sudah dieksploitasi ayahnya sejak umur 16 tahun. Tidak heran Tasya agak-agak bodoh, bisa jadi sekolahnya tidak tuntas demi mengejar karir.
“Tapi kak Tasya beneran anaknya – eum, pemilik HR Group?”
Tasya mengangguk semangat, “iya! Itu perusahaan papa ku!”
“Tapi, kok disembunyikan?”
“Oh...” ekspresi Tasya berubah sendu, “sebenarnya, aku anak diluar nikah, sama aktris luar negri, papa bilang, dia ingin menikahi ibuku setelah melahirkan, tapi mama meninggal duluan.”
Zeno mengusap bahu Tasya untuk menenangkannya, sepertinya meski menjadi anak satu-satunya Harjuno, Tasya tetap tidak bahagia. Mamanya meninggal sejak dia lahir, hanya memiliki papa, tapi papanya malah mengeksploitasi dia.
Tiba-tiba Zeno merasa iba dengan Tasya.
Tasya meraih tangan Zeno, “ayo kita menemui papa!”
Ternyata ada tempat tersembunyi tidak jauh dari sana, Harjuno dan anak buahnya duduk di kursi, menunggu Tasya dan Zeno datang.
“Kalian lama sekali!” sambar pria yang terlihat menyeramkan, dia cukup tampan, berotot, tinggi, dan kelihatannya memiliki beberapa tatoo.
“Maaf, pa, aku mau ini dulu! Dari sebuah permainan” ucap Tasnya, menunjukkan boneka kucingnya.
Zeno bisa membelikan yang lain untuk keponakannya.
Harjuno menatap Zeno dengan tatapan mengintimidasi, membuat Zeno merasa tidak nyaman. Zeno berusaha keras untuk tidak terlihat takut dan pengecut di depan Harjuno, agar tidak diremehkan.
Setakut apapun, Zeno tidak boleh menunjukkannya.
“Hoo, jadi ini putra bungsu Raynold? Seleramu boleh juga, Tasya... tapi dia kelihatannya lembek. Yah, meski begitu, untuk sementara tidak masalah. Bocah, kau harus pura-pura menjadi pacar Tasya, dengan begitu media akan bungkam dengan masalah penculikan. Katakan saja Tasya disana ikut diculik karena berkencan denganmu, aku ingin nama putriku bersih, meski tidak ada yang tahu dia putriku, selain kau.”
Harjuno pikir, Zeno akan ketakutan, gemetar dan mengiyakan semua ucapannya.
Zeno tidak akan melakukannya, dia memiliki tujuan sendiri.
“Maaf, aku tidak mau.”
“Hei, kau tahu aku siapa? Kau hanya bocah yang baru ditemukan, keluargamu tidak akan melindungimu, masih ada satunya lagi kan? yang mirip denganmu” ucap Harjuno, jelas dia meremehkan keluarga Raynold.
“Keluarga saya bukan seperti anda yang menganggap putri anda sendiri adalah alat dan barang, hanya karena aku memiliki kembaran, bukan berarti aku tidak berarti, mereka menyayangiku dengan tulus, pria yang tidak pernah tahu apa itu cinta, tidak akan mengerti ucapanku, saya tidak takut dengan ancaman anda, saya tidak mau diperalat oleh anda, tapi jika anda menginginkan kesepakatan, saya bisa melakukan apapun yang anda inginkan.”
Harjuno tertawa kencang, membuat Zeno semakin merinding, tapi dia tidak akan goyah.
“Kamu sangat menarik, baiklah, kesepakatan apa yang kau inginkan?” tanya Harjuno.
Tasya mengeratkan pegangannya pada lengan Zeno, entah apa maksudnya, mungkin dia takut ayahnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
“ Jika menyelamatkan karir Tasya adalah hal yang sangat anda inginkan, maka aku harus mendapatkan hal yang sebanding dengan itu, karena itu aku meminta 15% saham HR Group” ucap Zeno.
“Kurang ajar! Kamu meremehkan boss kami!” ucap anak buah Harjuno yang tidak kalah besar dan menyeramkannya.
Namun, Harjuno mengisyaratkan pada mereka dengan mengangkat tangannya, agar mereka tidak ikut campur. Beda dengan ekspresi tidak terima anak buahnya, Harjuno malah terlihat bersemangat.
“Baiklah, itu memang sebanding, akan tetapi tidak hanya mengaku-ngaku pacar, kamu harus menjadi pacar sungguhan, memberikan hadiah, memeluk, mencium, mengajak kencan dan lain-lain, termasuk memperlihatkan jika kalian memang berkencan, aku akan mengumumkan umur Tasya sebenarnya, agar Tasya tidak terlalu tua untukmu” ucap Harjuno.
“Jadi, anda akan memberikan 15% saham itu?” tanya Zeno.
Harjuno mengangguk, kemudian dia menelfon anak buahnya yang lain untuk menyiapkan kontraknya pada Zeno.
Saat itu Zeno sangat lega karena rencananya berhasil, sampai kemudian Harjuno selesai menelfon dan mengucapkan hal yang membuat Zeno tidak habis pikir.
“Kalau begitu, sekarang kau cium putriku, di bibirnya, di hadapanku, agar aku tahu kesungguhanmu.”
Zeno tidak masalah untuk ciuman itu, tapi – di hadapan mereka?
Apa mereka sudah gila?
Belum apa-apa Zeno kena mental duluan.
__ADS_1
“Papa! Aku malu melakukannya disini, ayo kita pergi saja Zeno, aku mau naik bianglala!”
Syukurlah Tasya menarik Zeno duluan.
“Boss, apa tidak apa memberi saham pada bocah itu?” tanya anak buah Harjuno.
Harjuno hanya tersenyum miring, “aku hanya memiliki satu anak, umurku juga tidak akan panjang, aku hanya ingin Tasya menemukan seseorang yang setimpal. Bocah itu masih kecil, tapi pemikirannya bagus, dia juga kelihatannya tidak goyah menghadapiku, aku pikir awalnya dia hanya bocah tampan yang biasa saja, tapi ternyata aku salah.”
“Haruskah saya mencari informasi lebih lanjut?”
Harjuno mengangguk, “iya, aku butuh banyak informasi.”
“Tunggu boss, tapi dia kan putra Raynold” ucap anak buah yang lain.
Harjuno malah tertawa kencang, “justru karena dia putra Raynold, jika bukan Raynold, maka tidak setimpal.”
Mereka tidak tahu, jika Arvin diam-diam mendengar semua perbincangan mereka.
‘Apa maksud dari Harjuno sebenarnya?’ tanya Arvin dalam hati.
Sementara itu, Zeno dan Tasya sudah naik wahana bianglala, mereka masuk salah satu bilik, kemudian roda besar itu berputar, membawa mereka semakin ke atas.
“Zeno” panggil Tasya.
“Iya?”
“Kamu... itu – apa terpaksa berkencan denganku?” tanya Tasya.
Zeno mengedikkan bahunya, “aku tidak tahu, tapi ku rasa aku tidak terpaksa, aku yang mengusulkan ini lebih dulu kan?”
“Maksudmu, kau akan menikahiku?”
Tiba-tiba Zeno merasa canggung mendengarnya, padahal dia yang mengatakan itu duluan.
“Tidak, maksudku – ini masih terlalu dini, umurku masih 16 tahhun...”
“Jadi, status kita pacaran?” tanya Tasya.
Zeno menatap mata Tasya, dia terlihat sangat polos, menyerempet bodoh mungkin, sangat cocok dengan imagenya di dalam dunia entertain. Syukurlah dia tidak pura-pura.
Tapi, Tasya ini sangat cantik, sungguh gambaran aktris papan atas. Dia memiliki wajah oval, kulit putih bersih, bibirnya merah alami, tubuhnya langsing dan tinggi, dadanya bes – astaga! Kenapa Zeno sampai pada dadanya segala? Zeno sekarag malu sendiri.
Sementara Zeno malu-malu dengan pikiran kotornya, Tasya sedang sibuk menatap ke luar.
Bilik mereka sudah berada diatas, jadi mereka bisa melihat ke bawah.
“Zeno! Cium aku sekarang!”
“HAH?”
“Katanya jika pasangan berciuman jika biliknya sampai di atas, cintanya akan abadi!”
Zeno mengernyitkan dahinya, mitos macam apa itu? Zeno tidak menyangka Tasya mempercayai mitos murahan begitu, lagipula, dia tahu dari mana?
“Aku – ”
Zeno membelalakkan matanya, belum juga dia sempat menolak mitos konyol itu, Tasya lebih dahulu meraih pipi Zeno dan menyatukan bibir mereka.
Oh tidak!
(Zeno membuat Tasya bahagia untuk pertama kali dalam hidupnya, tambahan saldo satu miliar akan dikirimkan!)
Tangan Zeno meraih pinggang Tasya untuk memperdalam ciuman mereka.
Masa bodoh meski ciuman itu amatir, yang penting bahagia dan dapat saldo.
Katakan saja Zeno gila uang, tapi dia memang seperti itu.
__ADS_1
.
.