
.
.
Zeno tidak terlalu dekat dengan anak-anak basket, tapi kadang dia dikira sebagai anak basket karena tinggi tubuhnya. Zeno pernah ikut latihan dengan anak-anak itu, pernah ikut bertanding juga, tapi setelahnya malas sekali untuk ikut.
Xeon dan Aslan suka basket, kadang mereka jika gabut main di depan rumah Travis, karena ada lapangan serbagunanya, bisa dijadikan lapangan basket, ataupun lapangan sepak bola, atau main tenis.
Sebenarnya Zeno ingin menolak ajakan anak-anak basket, tapi dia merasa tidak enak jika menolak. Pada akhirnya Zeno pasrah saja untuk ikutan tanding persahabatan.
Tau-tau lapangan basket sudah ramai saja.
SMA Nusantara memiliki lapangan basket besar dengan beberapa kursi penonton, mereka juga memiliki lapangan sepak bola besar, kolam renang besar, gedung sendiri untuk klub bela diri dan lain-lain.
Lapangan basketnya juga biasanya digunakan untuk olah raga.
Saat Zeno sudah sampai lapangan, dia terkejut karena penonton sudah duduk rapi, meneriakkan nama beberapa pemain. Zeno juga bisa melihat Bella, Sellya, Raihan dan Yoshi duduk di kursi yang dekat dengan lapangan, mereka sangat bersemangat saat melihat Zeno datang.
“Zeno, ayo semangat!” salah satu anggota basket sekolah Zeno menepuk bahu Zeno dari belakang.
Mereka bahkan tanding masih mengenakan seragam sekolah, untungnya Zeno mengenakan kaos dibawah seragamnya.
Kemudian Zeno menepi, untuk membuka kemejanya, sontak teriakan para gadis terdengar menggelegar, sampai Zeno terkejut sendiri.
‘Mereka itu kenapa sih?’ tanya Zeno dalam hati.
Penonton bukan hanya dari sekolah Zeno saja, tapi dari sekolah musuh mereka juga.
Kelihatannya beberapa dari mereka saling tidak menyukai, seperti ada semacam saingan.
Zeno tidak mengerti, itu hanya pertandingan, kenapa mereka sampai segitunya.
“Yo, bro!” Xeon datang menyapa Zeno, setelah dekat dia langsung merangkul bahu Zeno.
“Apaan sih, jangan sok akrab” sahut Zeno.
Xeon pun menjitak kepala Zeno, “sok akrab kepalamu! Katanya kamu gak mau ikut basket lagi, ini apa?”
Zeno menyeringai, “kenapa emang? Takut kalah ya?”
Xeon terbahak mendengar ucapan Zeno, “kenapa guru harus takut kalah dari muridnya?” tanya Xeon sambil menyeringai, dia terlihat sangat menyebalkan.
“Bisa aja kan murid lebih hebat dari gurunya!” memang Xeon dan Aslan yang mengajari Zeno main basket, lebih banyak Xeon sih, kadang Arvin juga mengajari.
Jadi ya bisa dibilang Xeon adalah guru basketnya Zeno.
“Kalau pun guru kalah dari muridnya itu artinya muridnya sudah sukses kan? aku berarti hebat sekali saat mengajarimu, bukankah begitu?”
Zeno berdecih malas, si Xeon bisa aja ngelesnya.
“Terserahmu lah, yang pasti kita harus bersaing secara sehat” ucap Zeno.
“Oke, aku mau ke temen-temenku dulu, mereka kayaknya gak suka aku deket-deket kamu.”
“Jelaslah, di mata mereka aku ini saingan, kan?”
Xeon pun pergi pada teman-temannya, sementara teman-teman basket Zeno juga sudah datang, ketuanya mengarahkan beberapa hal.
Meski itu pertandingan persahabatan, rupanya karena SMA Harnus dan SMA Nusantara memiliki semacam persaingan, itu menjadi cukup serius.
Zeno agak ragu dengan kemampuannya sendiri, karena dia kan tidak lebih bagus dari Xeon.
‘Sistem, adalah skill yang bisa dibeli gitu? Seperti kemampuan bahasa Inggris kemarin?’ Zeno berusaha memberi telepati pada sistemnya.
(Ada sih sebenarnya, kamu harus membeli aplikasi fit-ness)
(Disana kamu bisa memilih berbagai macam jenis olah raga yang ingin kamu kuasai)
__ADS_1
(Harga aplikasi hanya 5 juta rupiah, di dalamnya masih terdapat pembayaran lagi)
Sepertinya meski sistem memberi banyak uang, sistem lebih suka lagi jika Zeno menghamburkan uang tersebut.
Pada akhirnya, karena masih ada waktu persiapan selama sepuluh menit, Zeno pun menepi untuk membeli aplikasi fit-ness.
Mata Zeno langsung tertuju pada basketball.
(Kemampuan basket Zeno 3/10)
(Untuk membeli sisa 7 tingkat lain membutuhkan uang 7 juta rupiah)
Jari jari Zeno bergerak sendiri menyetujui semuanya.
Sampai kemudian dia sadar, yang dia beli adalah kemampuan basket pemula.
Ada beberapa tingkatan kemampuan, jelas Zeno masih pemula, jika dia nekat membeli yang pro, bisa-bisa Zeno disuruh mengikuti NBA.
“Zeno, semangat!”
Zeno mendongak ke arah penonton, kemudian tersenyum pada Bella dan yang lainnya, Bella yang tadi meneriakkan kata semangat.
Kemudian Zeno melambai pada teman-temannya, kemudian berlari ke lapangan karena permainan telah di mulai.
Beda dengan sebelumnya, kini Zeno sudah menyadari posisinya dan apa yang harus dia lakukan. Matanya bergerak lebih jeli dari sebelumnya, tubuhnya bergerak sendiri untuk merebut bola dari lawan, kemudian pergi menuju ring untuk memasukkan bola.
Tapi seperti yang Zeno duga, Xeon dengan cepat menyelinap dan merebutnya dari Zeno.
Tidak seperti sebelumnya, dia terlihat lebih senang.
Xeon pun berhasil memasukkan bola pertama, Zeno yang tidak mau kalah akhirnya memasukkan bola juga.
Sepanjang pertandingan tersebut hanya menjadi Zeno lawan Xeon, sorakan penonton juga menjadi semakin berisik.
Pertandingan itu kemudian berakhir dengan seri.
“Kamu sendiri juga jadi serius...”
“Itu karena kemampuanmu meningkat, aku merasa tidak salah mengajarimu, nanti kita main lagi ya di rumah kak Travis.”
“Beres!”
Pertandingan itu memang menjadi persahabatan bagi Xeon dan Zeno, namun tidak dengan yang lainnya.
Banyak yang tidak suka karena hasilnya seri.
“Zeno!”
Bella berjalan dengan cepat mendekati Zeno, kemudian memberikan handuk kecil dan juga botol air mineral. Zeno tersenyum lalu mengusap kepala Bella perlahan, kemudian meminum airnya.
Sellya juga datang membawakan untuk Xeon, agar tidak ngambek.
“Makasih ya, aku pikir bakal jadi obat nyamuk... makasih Lia!” ucap Xeon, sambil tersenyum menggoda pada Sellya.
“Iya sama-sama, aku ngerti rasanya jadi jomblo, jadi ya kita bisa saling bantu lah.”
“Hei, kamu!”
Salah satu pemain basket temannya Xeon datang mendekat, tapi tujuannya bukan Xeon, Zeno apalagi Sellya, dia langsung mendekati Bella dengan pedenya.
“Kamu cantik banget, minta nomornya dong... kamu cuma temenan sama sepupunya Xeon ini kan? dia kan pacarnya si artis itu.”
Kata-kata itu menusuk hati Bella, dia jadi sadar jika dia memang pengganggu hubungan Zeno dan Tasya. Bella pun mendorong bahu lelaki itu, kemudian berlari pergi begitu saja.
“Bella!” Zeno pun mengejar Bella, sebelumnya melirik kesal pada temannya Xeon tersebut.
“Apa aku ada salah ya?” tanya cowok yang kebingungan tersebut.
__ADS_1
Xeon hanya mengedikkan bahunya lalu meminum minumannya sendiri.
***
“Aku sudah memikirkan ini!”
Aslan melirik Zeno yang mengoceh sendiri di sampingnya.
Zeno sedang mengerjakan PR-nya, dan Aslan mengerjakan beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan aplikasi.
Renovasi gedung yang Zeno beli sedang berlangsung, karena tidak banyak yang diubah, jadi kantornya Aslan cepat bisa dipindahkan segera, lalu selanjutnya yang dikerjakan adalah tokonya.
Lantai satu sampai tiga adalah toko, Zeno mengatakan dia akan menjual banyak hal dan membutuhkan banyak karyawan.
Untuk karyawan, Zeno sudah menyerahkannya pada Arvin, kakak sulungnya itu dengan senang hati membantu Zeno.
Diantara kesibukan mengerjakan PR dan aplikasi, tiba-tiba Zeno menyeletuk seperti itu.
Awalnya Aslan membiarkannya dan kembali melanjutkan pekerjaan. Tapi kemudian Zeno kembali bicara.
“Aku harus segera menjatuhkan Harjuno seperti rencana awal” tambah Zeno, kemudian dia menoleh pada Aslan yang sedang meliriknya, “iya kan?”
“Hah? Mana aku tahu! Memangnya rencanamu gimana?”
“Mencari bukti-bukti kuat jika Harjuno memang memiliki bisnis ilegal penjualan anak.”
“Oke, caranya?”
Zeno melipat tangan di dadanya, “ku tidak tahu, itulah kenapa aku ingin minta pendapatmu.”
Aslan berdecak malas, “gimana kalo nyari buktinya di rumah Harjuno, udah pernah kesana kan? coba kesana lagi dan cari” ucap Aslan.
(Aslan benar, kau bisa menggunakan map genius untuk mencari bukti)
Setelah map genius upgrade ke tingkat selanjutnya, sekarang Zeno bisa mencari sesuatu yang mustahil.
Misalnya bola basketnya Aslan hilang, sekarang bisa dicari di pencarian dalam aplikasi, tinggal ketik ‘letak bolanya Aslan.’
Kemudian setelah itu aplikasi akan menunjukkan letaknya secara akurat.
Masalahnya sekarang, alasan apa yang akan Zeno gunakan untuk pergi ke rumah Tasya? Bagaimana jika Tasya tidak bisa diajak kerjasama?
“Bener juga, tapi alasan apa aku pergi ke sana coba?”
Aslan mengedikkan bahunya, “entah, kamu kan pacarnya, itu sangat normal untuk pergi ke rumah pacar kok, meski tanpa alasan – oh, kamu bisa memberinya makanan atau apa sebagai alasan.”
Zeno mengangguk-angguk mengerti, kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk menanyai Tasya.
‘Kak Tasya lagi mau makan apa?’
Kemudian Tasya membalas, ‘Memangnya Zeno akan buatkan?’
‘Boleh! katakan saja, nanti ku buatkan dan ku antar ke rumah kak Tasya.’
‘Zeno buat disini aja, aku mau martabak manis! Sudah ada wajan untuk membuatnya, tinggal bahannya saja.’
Hmm, memasak disana boleh juga, dengan begitu lebih banyak waktu yang diperlukan.
‘Oke, aku akan kesana dan memasakkannya untuk kak Tasya.’
‘Aku tunggu ya, kapan mau kemari?’
Zeno tersenyum lega, ternyata sagat mudah mencari alasan pergi ke rumah itu.
.
.
__ADS_1