
.
.
Zeno memandangi uang koin emas yang ada di depan mejanya. Dia dan Aslan sudah pulang ke rumah, setelah masak daging burung yang enak itu, mereka memutuskan untuk menjualnya bersama karena sonu mengtakan takut untuk menjualnya sendiri.
Semua bahan-bahan yang sudah dipotong Sonu serta daging sisa dijual. Awalnya agak susah karena mereka tidak ada satupun yang terdaftar di guild petualang maupun guild pedagang, kecuali Sonu yang memiliki tingkatan rendah.
Jadinya mereka terpaksa mendaftar.
Mereka disuruh menyentuh bola kristal yang akan mengukur tingkat kemampuan mereka. Untungnya Zeno dan Aslan mendapat petualang tingkat A, mereka bisa menjual semua yang mereka tangkap.
Zeno memutuskan untuk menjualnya, karena Sonu bilang dia tidak bisa menjualnya meski dia mau, karena petualang tingkat rendah sepertinya tidak bisa menjual buruan yang memiliki tingkat tinggi, kalau tidak mau dicurigai.
Semua buruan itu diberi harga 30.000 koin emas, Zeno sangat terkejut sebenarnya, dia tidak tahu akan semahal itu. Jadinya, dia merasa bersyukur mendaftar ke guild. Mencari koin emas bisa membuatnya kaya.
Tapi, Zeno tidak mau menukarkan uang emasnya dengan uang rupiah, dia berencana untuk mengumpulkannya saja.
Oh iya, uang koin emas 30.000 itu dibagi tiga. Sonu terus menangis karena mendapat uang sebanyak itu, dia bilang, dia akan membeli rumah yang lebih layak dan makanan enak.
Sepertinya uang koin emas harganya sangat tinggi sampai bisa membeli rumah segala, pasti prosedurnya tidak seribet membeli rumah di Indonesia. Meski Zeno dan Aslan bisa membeli banyak buah dengan satu koin emas, mereka tidak menyangka uang emang setinggi itu nilainya.
BRAK!
Zeno terkejut saat tiba-tiba saja Aslan membuka pintu kamarnya dengan tidak sabaran, bocah itu masih mengenakan bathrobe putih. Sambil menyeringai menyebalkan dia mendekat pada Zeno.
“Zeno, kapan kita bisa pergi ke dunia lain lagi?” tanya Aslan.
Zeno berdecak malas, “nanti kalau aku tidak sibuk, kau dan aku kan sangat sibuk, kita cari waktu luang saja. memangnya kenapa?”
Aslan berjalan mendekat lalu duduk di samping Zeno, dia meraih satu koin emas lalu menatapnya sambil menyeringai, “aku ingin membeli rumah dan hidup nyaman disana, sepertinya menyenangkan, tidak ada polusi, tidak berisik juga, aku juga suka bertarung melawan monster!”
TAK!
Zeno menyentil dahi Aslan, karena Aslan sangat bersemangat, membuatnya jengkel tanpa alasan.
“Tidak semudah itu, kita tidak tahu apapun tentang tempat itu, lagipula sepertinya ada tingkatan kasta disana, pasti ada semacam kerajaan dan bangsawan, lalu biasanya ada raja iblisnya juga, aku akan cari tahu dulu, tidak perlu terburu-buru,” ucap Zeno.
Benar, sistemnya menyuruh untuk pergi kesana, pasti ada sesuatu, Zeno tidak boleh gegabah atau terlena. Lalu, tentang Raja iblis yang harus dikalahkan juga, pasti itu tidak mudah, walaupun Zeno sungguh tidak mau melakukannya, tapi mau bagaimana lagi jika itu permintaan sistem.
“Tsk! Baiklah, aku akan sabar, katakan jika kau mau kesana, aku akan mengerjakan pekerjaanku dulu.”
Aslan sudah siap untuk pergi, tapi Zeno menahan lengannya hingga dia kembali duduk.
“Apa?” tanya Aslan.
“Kamu bilang akan kuliah?”
“Oh, aku belum memutuskan itu, aku kan sudah bilang, akan kuliah menunggu kau dan Xeon, aku tidak mau kuliah sendirian.”
Zeno mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti kenapa Aslan menyia-nyiakan kejeniusannya, harusnya dia banyak-banyak kuliah untuk menambah pengetahuan. Tapi melihat sifat Aslan yang bebas, Zeno tidak kaget juga.
__ADS_1
“Baiklah, kalau kuliah, kau memilih jurusan apa?” tanya Zeno lagi.
Aslan terlihat berpikir sejenak, “sepertinya managemen bisnis.”
“Itu sangat membosankan, ku pikir kau akan memilih seperti IT.”
Aslan menggeleng pelan, “Aku sudah mengusai hal semacam itu, jadi aku memilih hal lain, lagipula ku rasa aku membutuhkan managemen bisnis.”
“Baiklah, terserah kau saja, kau bisa pergi, dan kembalikan koinku!”
“Cih, pelit!” Aslan pun meletakkan koin emas milik Zeno, lalu beranjak pergi, tidak lupa dia menutup pintu keras-keras.
Zeno menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, kenapa Aslan sekasar itu dengan pintu kamarnya.
(Bagimana zeno? Aku tahu kamu suka berpetulang)
Zeno melirik layar sistemnya, lalu berdecak malas, “aku lebih suka berbisnis dari pada berpetualang, tapi Aslan sangat menyukainya, apa kau meminta Aslan ikut karena tahu hal ini?”
(Huh, padahal kamu itu sangat kuat lho, aku yakin kamu bisa mengalahkan Raja iblis, jika tidak, kebersamaan kita tidak bisa berlangsung lama)
Zeno melotot karena penjelasan sistem “APA? Tapi kenapa?”
(Haha, kau tidak mau berpisah denganku ya?)
Dahi Zeno berkeru kesal, “cepat jelaskan saja!”
(Baiklah, nanti saat kami – maksudku sistem menghilang, layar sistem akan tetap ada bersamamu kok, itu artinya, para peri ditahan oleh pasukan raja iblis, kamu mau menyelamatkan kami kan?)
“Jadi, kalian ini peri ya?”
Zeno menghela nafas berat, “itu adalah tugas yang sulit, tapi aku akan berusaha semampuku, tapi – jika kamu saja kalah oleh iblis, apa aku bisa membantumu?”
(Tentu saja, kamu pasti bisa, jika merasa kurang, kamu bisa bekerjasama dengan orang lain yang juga kuat)
Zeno tidak mengerti kenapa raja iblis itu sangat mengganggu, tapi pasti ada penjelasannya. Mungkin hanya sampai sini saja untuk hari ini, kepala Zeno bisa meledak jika banyak berpikir.
“Kita bahas nanti lagi, sekarang aku akan istirahat.”
(selamat tidur, Zeno!)
***
Hari ini Zeno harus berangkat sekolah seperti biasa, jadi bangun pagi-pagi sekali.
Namun, ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Seorang lelaki tinggi, kurus, berkulit pucat, berambut hitam legam dan cukup tampan sudah ada di dalam kamarnya. Lelaki itu duduk tegak, mengenakan setelan jas hitam yang formal.
“Kamu siapa?” tanya Zeno.
Lelaki itu berdiri lalu membungkuk hormat pada Zeno, “saya adalah asisten pribadi tuan.”
Saat itu Zeno baru sadar jika sistem menjanjikan seorang asisten pribadi untuknya. Zeno tentuya bisa memeriksa status dan kemampuan asisten itu.
__ADS_1
Namanya Carl, usianya 21 tahun.
Carl tertulis bisa mengerjakan pekerjaan apapun dengan baik, kecerdasannya juga luar biasa, dia memiliki keahlian dalam berbagai bidang. Lalu, yang terpenting, tertulis di statusnya, dia akan setia pada Zeno sampai kapanpun. Bahkan Carl juga kuat, bisa berpedang, bisa menggunakan sihir.
Sepertinya Carl bisa dimanfaatkan dengan baik.
Pagi itu, Zeno mengarahkan Carl pada pekerjaannya, yaitu membantu dalam bisnis toko online, Zeno juga memberi tugas pada Carl untuk mengawasi beberapa saham yang dia miliki, mengawasi beberapa tugas Zeno juga.
Zeno bisa lega jika meninggalkan dunia modern untuk menyelidiki dunia lain jika ada Carl.
“Zeno, selamat pagi! Aku memasakkan sarapan untukmu!” Citra menyapa saat Zeno turun untuk sarapan, kemudian Citra bingung melihat ada lelaki asing mengikuti Zeno.
“Itu siapa?” tanya Citra, sambil takut-takut melihat Carl.
“Oh iya, kenalkan ini asisten pribadiku, Carl, lalu Carl – ini Citra.”
Carl tidak banyak bicara, dia hanya menundukkan kepalanya sedikit, membuat Citra takut karena Carl terlihat dingin.
“Kau punya asisten? Sejak kapan?” Aslan yang baru bangun bertanya, penampilannya masih berantakan, jelas sekali dia bangun tidur, bahkan cuci muka saja tidak. Zeno heran sekali, kenapa kembaranya itu tidak memiliki rasa malu, padahal ada Citra.
“Iya, sejak hari ini tentunya, dengan begitu aku bisa bersekolah tanpa mengkhawatirkan bisnisku” sahut Zeno, kemudian dia duduk dan memperhatikan nasi goreng serta telur yang Citra masakkan.
Orangtua Zeno dan Aslan tidak ada karena pekerjaan, Arvin pun juga begitu, jadi tinggal Zeno, Aslan dan Citra saja, ditambah Carl dan beberapa pelayan.
Meski ada pelayan yang bisa memasakkan, Citra memaksa untuk membuat sarapan sendiri untuk mereka. Meski kelihatannya masih berantakan, Citra khawatir sekali Zeno dan Aslan tidak menyukai makanan buatannya. Tapi kekhawatiran itu sirna saat Zeno makan dengan tenang.
“Ini masakan Citra? Enak sih, tapi agak kurang garam, lain kali tambah sedikit garamnya ya, sedikit saja, kalau kebanyakan nanti asin” ucap Aslan yang tidak ragu untuk mengomentari masakan tersebut.
“Baiklah!” Citra sih malah senang, meski ada kesalahan, dia akan berusaha untuk memperbaikinya.
Selesai sarapan, Zeno baru sadar, jika Citra sendiri malah tidak makan.
“Kamu kenapa tidak makan?” tanya Zeno.
“Oh? Aku baik-baik saja...” sahut Citra malu-malu.
“Apa ada masalah?” tanya Aslan.
“Aku malu mengatakannya, jadi kalian tidak perlu khawatir” sahut Citra dengan cepat, dia malu untuk mengatakan apa masalahnya.
“Tidak apa, katakan saja, mungkin kami bisa membantu” timpal Aslan tidak sabaran.
“Ak-aku... aku sungguh malu untuk mengatakan ini, tapi aku rasa sudah makan buah-buahan, sayuran yang berserat, tapi pencernaanku tidak lancar” ucap Citra, wajahnya sudah memerah karena menahan malu.
Aslan pun tertawa, karena tidak menyangka masalahnya seperti itu, pantas saja Citra malu.
“Itu bukan masalah besar, Citra, kamu mungkin hanya kekurangan probiotik, seperti yoghurt, tempe, acar...” ucap Zeno.
Citra pun tersenyum lebar, “begitu ya? Aku akan meminum yoghurt, terimakasih!”
“Lain kali tidak perlu malu untuk hal-hal seperti itu, kita kan sekarang keluarga” ucap Aslan.
__ADS_1
.
.