Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Toko dunia lain


__ADS_3

.


.


Zeno sudah mengatakan pada Aslan jika dia tidak sedih dan ikut senang saat Kevin pergi ke Seoul untuk syuting drama. Tapi pada kenyataannya, Zeno malah murung jika memikirkan tentang itu. Zeno berpikir dia tidak terlalu memerhatikan Kevin, padahal Kevin sudah sangat baik selama ini pada Zeno.


Kevin yang baik itu memberikan tempat bernaung dan membuat Zeno merasa memiliki seseorang bersamanya.


Tapi mau bagaimana lagi, Kevin sendiri juga sibuk dengan karirnya. Zeno hanya bisa berharap jika karir Kevin semakin membaik setelah ini.


(Jangan sedih Zeno, sistem naik ke level 9, kau tidak mau melihat hadiahnya?)


Zeno mendongak menatap layar sistemnya, dia saja baru sadar jika sistemnya naik level, karena akhir-akhir ini Zeno tidak terlalu memerhatikan sistem, dia hanya sibuk mengirim semua pesanan sampai dia capek sendiri.


Karena dalam satu hari Zeno bisa mengeluarkan banyak sekali uang untuk mengirim barang, belum lagi jika ada permintaan dari toko ayahnya Sellya atau toko pamannya Damian.


Zeno merasa dia sangat sibuk, sampai dia lupa, apa dia sudah memiliki waktu bahkan untuk dirinya sendiri atau tidak.


“Level sembilan? Jadi aku belum level sembilan ya? Perasaan udah” gumam Zeno.


(Fokuslah, Zeno!)


Zeno pun memeriksa bagian hadiah, ternyata tidak ada hadiah yang spesial.


Eum...


Atau, apakah toko dunia lain itu spesial?


Zeno masih tidak mengerti dengan maksud toko dunia lain itu seperti apa.


“Aku akan memeriksa di aplikasi toko sistem di ponsel saja, takut ada yang melihatku aneh” ucap Zeno.


Memang, saat itu Zeno masih ada di dalam kelas. Anak-anak kelasnya sedang ribut sendiri karena tidak ada guru, mereka diberi tugas mengerjakan sesuatu. Zeno sendiri sudah selesai, jadi dia bergumam sendiri di pojokan dengan sistem.


Untungnya tidak ada larangan membawa ponsel, hanya tidak boleh dipakai saat pelajaran saja. Zeno termasuk anak nakal sepertinya, karena bermain ponsel saat pelajaran, tapi dia dipojokan. Memang ada manfaatnya duduk di pojokan.


Ternyata ada chat dari Tasya, dia bilang jika Zeno diundang makan malam di rumahnya, sekaligus membicarakan rencana Zeno untuk menjadikan Tasya sebagai brand ambassador produk kecantikan milik Zeno.


Zeno menyeringai, dia tahu itu artinya Harjuno sedang tertarik padanya, tidak – maksudnya rencananya.


Sepertinya Harjuno menganggap Zeno itu anak yang polos dan bisa dimanfaatkan, makanya dia tidak terlalu berhati-hati dengan Zeno.


Padahal, air yang tenang itu lebih menghanyutkan.


Tapi baguslah jika dia tidak waspada pada Zeno.


Oh iya, kembali pada aplikasi toko sistem.


Ada laman baru yang menarik, hampir sama seperti toko ajaib, tapi kali ini adalah toko dunia lain. Dalam deskripsi dijelaskan jika toko dunia lain itu menjual barang-barang dari dunia lain. Seperti daging, batu permata – tunggu, batu permata?


Zeno pun melihat-lihat bagian permata.


Ini gila!


Emas 24 karat satu gramnya hanya 100 ribu? Tunggu, ini harga asli apa sudah dipotong?


Tidak, 100 ribu adalah harga aslinya, Zeno mendapat diskon 70% jadi hanya membayar 30 ribu saja.


Okay, ini gila!


Harga di pasaran saja satu gramnya sekitar satu jutaan sekarang.


Tiga puluh ribu menjadi satu juta, jika Zeno jual dia mendapat banyak keuntungan.


(Sudah sistem duga Zeno akan semangat jika ada uang)


Zeno berdecak malas, sistem tahu betul tentang dirinya.


Zeno sendiri bingung, dia sudah menjadi bagian dari keluarga Raynold, harusnya dia merasa tenang karena kekayaan bersih ayahnya, Jaden itu saja sekitar 80 kuadriliun rupiah. Memang termasuk crazy rich Indonesia.


Tapi yah... karena itu bukan hasil jerih payahnya sendiri, dia jadi tidak puas.


Zeno pikir dia harus memiliki vallue dan kualitas untuk bisa setara dengan ayahnya.

__ADS_1


Dengan semangat, Zeno melihat permata, ada batu ruby, emerald, berlian... wow! Harga berlian saja hanya 50 ribu setelah dipotong 70%.


“Aku bisa kaya!”


“Bukannya kamu udah kaya ya?”


Zeno yang terkejut buru-buru menutup ponselnya, kemudian nyengir lebar melihat ketua kelasnya.


“Hehe, halo Kaiden...”


“Aku tidak akan menyita ponselmu, tapi kamu harus melakukan sesuatu untukku.”


Senyuman Zeno luntur seketika, “kau ingin memanfaatkan ku?”


Kaiden menggeleng, “tidak tidak... maksudnya, tidak salah lagi. Aku lihat posturmu bagus, kamu juga tinggi, tim basket kehabisan pemain karena ada yang cedera setelah jatuh dari motor –”


“Maaf aku tidak bisa.”


Zeno harus menolaknya, tidak mungkin orang sibuk sepertinya harus main basket juga.


“Ku mohon, Zeno!”


“Apa keuntungannya jika aku ikut main? Aku sendiri tidak pernah main basket, aku hanya akan jadi beban!”


Ketua kelas berwajah bule bernama Kaiden itu menatap Zeno dengan wajah memelasnya, membuat Zeno tidak tega.


(Jika Zeno memenangkan pertandingan basket, akan ada hadiah 2 milar rupiah.)


Tuh kan, sepertinya sistem kasihan dengan Kaiden, tapi tidak kasihan dengan Zeno, sampai diiming-imingi uang dua miliar segala.


‘Sistem, aku tidak bisa melakukan segalanya, aku bukan superboy!’


(Kau bisa belajar basket dari Arvin atau Aslan)


“Zeno, ku mohon... ikut ya? Jika kamu ikut, akan ada banyak yang mau menonton pertandingannya, saat ini kita melawan SMA Harnus.”


Seingat Zeno, SMA Harnus itu tempat Xeon sekolah.


Tidak lucu jika Zeno harus melawan Xeon, semoga Xeon bukan anak basket.


“Makasih Zeno, aku akan memberitahukan anak yang lain, untuk detailnya akan ku beritahukan nanti padamu, okay?”


Zeno menghela nafas berat saat Kaiden sudah pergi.


***


“Papa!”


Jaden mendongak dari tumpukan dokumennya, kemudian dia tersenyum melihat putranya datang.


“Zeno? Kebetulan sekali... papa mau bertemu seseorang, kamu mau ikut?”


Zeno mengernyitkan dahinya, tumben dia diajak pergi? Padahal Zeno datang sepulang sekolah langsung ke kantor perusahaan ayahnya untuk mengajak makan malam bersama Harjuno.


“Boleh, tapi ayahnya kak Tasya minta makan malam, aku ingin mengajak papa” ucap Zeno.


“Karena itu kamu kemari? Oke, tidak masalah, kita bisa pergi nanti, sekarang kamu masuk kamar itu dan ganti pakaianmu dengan yang ada disana, jangan pakai seragam ya?”


Zeno hanya mengangguk, lalu memasuki kamar yang ditunjuk ayahnya. Ternyata itu adalah kamar tersembunyi, ada lemari pakaian besar yang berisi pakaian lelaki, ada pakaian wanita juga.


Tapi... kenapa ada pakaian wanita?


Jaden tidak terlihat seperti pria yang akan berselingkuh, apalagi Luna sudah secantik dan seseksi itu.


Sudahlah, Zeno tidak mau terlalu banyak berpikir, dia pun memilih-milih pakaian yang bagus. Tapi, tidak ada yang sesuai dengan seleranya, kecuali celana panjang hitam.


Jadi, Zeno memilih membeli dari toko sistem saja, pakaian yang trendy untuk anak remaja seusia Zeno.


Setelah selesai, Zeno pun keluar lagi dengan pakaian mahalnya, Jaden sudah selesai membereskan dokumennya, “ayo ikut papa, bertemu dengan rekan bisnis papa, namanya Dominique Harris, dia masih pamannya Travis, memiliki bisnis perhiasan yang terkenal.”


“Tunggu, perhiasan?”


Kini Jaden yang heran, karena Zeno mendadak bersemangat.

__ADS_1


“Iya, kenapa kamu bersemangat gini? Ada apa?” tanya Jaden.


“Jika aku menjual permata yang belum diolah menjadi perhiasan, apakah bisa?” tanya Zeno.


“Tunggu! Kamu memiliki permata apa?”


Zeno pun mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya, semacam kantung kain kecil, lalu memberikannya pada Jaden.


“Itu contohnya, ada berlian putih, merah, merah muda, biru, ungu dan hitam.”


Jaden tidak percaya saat mengeluarkan berlian bulat yang masih belum dibentuk dari dalam kantung, yang Jaden keluarkan adalah berlian merah dan ungu.


“Kamu dapat dari mana semua ini, nak?”


“Aku tidak bisa mengatakannya pada papa.”


“Baiklah, papa akan menjaga rahasia Zeno, tapi Zeno harus hati-hati ya?”


Zeno mengangguk pelan, “Zeno yakin papa bisa dipercaya.”


Jaden tersenyum lalu mengembalikan kantung perhiasan milik Zeno, lalu dia mengusap lembut surai hitam kecoklatan milik putranya, “terimakasih karena sudah percaya pada papa ya?”


“Jadi, aku bisa menjualnya?”


Jaden mengangguk, “iya, Om Harris itu bisa dipercaya, orangnya baik kok, dia pasti senang jika kamu bisa menjual berlian itu padanya, dia akan memberikan harga yang bagus, jika tidak, papa akan membantumu mendapatkan harga yang bagus.”


“Memangnya harga berlian itu berapa, pa?”


“Ah, itu hampir sama dengan emas, tergantung spesifikasinya berapa gram, berapa carat” jawab Jaden.


“Paling mahal kira-kira berapa?”


Jaden terlihat berpikir, dia kurang tahu banyak tentang berlian.


“Setahu papa yang orang awam ini, berlian asli 1 gram 5 carat dengan spesifikasi G VVS1 adalah 500 sampai satu miliar lebih, itu tergantung juga, kurasa sekarang sudah lebih dari satu miliar.”


Zeno tidak bisa menahan senyumannya, tentu dia sangat bahagia jika membeli berlian harga 50 ribuan bisa mendapat keuntungan ratusan bahkan miliaran.


Saat ini Zeno beruntung dia memiliki sistem, dia tarik kata-katanya tentang hadiah naik level, ternyata meski hanya satu, itu sangatlah spesial.


“Itu dia Om Harris! Harris, apa kabar!”


Mereka menemui Harris di kantin perusahaan, di depan Harris sudah ada banyak macam hidangan.


Harris sendiri orangnya mengingatkan Zeno pada Travis atau Arthur, karena Arthur itu sepupu Travis, sepertinya Harris ini ayahnya Arthur, mengingat nama Arthur itu Arthur Harris.


Semoga saja Om Harris tidak random seperti Arthur.


“Oh, ini dia anakmu yang baru ditemukan ya? Mirip sekali dengan Aslan” ucap Harris.


“Haha, jelaslah kak, dia kan kembaran Aslan” sahut Jaden.


Zeno tersenyum ramah pada Harris, “Nama saya Zeno, Om...” tidak lupa Zeno menyalami Harris dengan sopan.


“Sopan banget, yang ini kayaknya mirip kamu ya Jaden, akhirnya ada anggota keluargamu yang mirip sifatnya denganmu” ucap Harris.


“Ku rasa itu benar, tapi Zeno gigih sekali bekerja, seperti ibunya.”


“Ah, benar, istrimu maniak kerja kan ya? Gimana sekolahmu, Zeno? Semuanya baik?” tanya Harris.


“Baik, Om...”


“Aku dengar Zeno berkencan dengan Anastasya ya? Apa kalian sudah tahu gadis itu anak siapa?” tanya Harris.


“Kami sudah tahu Om, dan kami tahu apa yang kami lakukan” ucap Zeno yakin.


Harris mengangguk-angguk senang menatap Zeno, “putramu sangat menarik, Jaden, andai saja putriku tidak memiliki kekasih, aku akan menjodohkannya dengan putriku” ucap Harris.


“Haha, kak Harris bisa aja, oh iya, ada yang ingin Zeno sampaikan padamu, ayo Zeno...”


Entah kenapa Zeno tiba-tiba gugup, tapi juga bersemangat disaat yang bersamaan.


Zeno pun mengeluarkan kantung perhiasannya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2