
.
.
Perut Zeno langsung keroncongan melihat semua makanan yang tersedia diatas meja makan, semuanya makanan khas sunda yang Zeno tidak tahu apa saja namanya. Yang pasti, banyak sekali makanan yang pedas, cabai-nya terlihat jelas, mengundang selera tapi juga cukup mengerikan jika mengingat lambung.
“Zeno suka makanan pedas gak?”
Zeno menoleh, kemudian tersenyum kecil dan mengangguk pada Felix, kakeknya Xeon. Menurut Jaden, Felix datang dari Sidney semalam, jadi karena itu mereka mampir dulu di Bandung. Felix kadang berada di Bandung, kadang di Jakarta, namun akhir-akhir ini sedang ada banyak pekerjaan di Sidney.
Zeno sangat heran, kenapa keluarga Raynold ini suka sekali bekerja. Kakek Felix dan akakek Chris sudah tua, tapi mereka masih saja kuat dan suka bekerja. Padahal meski mereka tidak bekerja, hartanya sudah sangat banyak. Di usia mereka, harusnya mereka berhenti bekerja dan menikmati hasil kerja mereka.
“Ayo makan, Aslan juga makan – kenapa cemberut gitu?” tanya Felix lagi, kali ini dia menyadari jika Aslan hanya diam dengan muka kusut.
Jangankan Felix, Zeno saja heran dengan kembarannya itu, jika ditanya, dia malah marah-marah tidak jelas, Zeno bingung harus bagaimana.
“Gak kenapa-napa kok kek...”
Tuh kan, Aslan tidak jujur.
Selesai makan, orangtua pun berbincang sebentar, sedangkan Zeno menyeret Aslan untuk jalan-jalan di sekitar mansion besar tersebut.
“Kamu kenapa sih? Kalo ada masalah itu bilang aja” ucap Zeno.
Aslan melepaskan tangan Zeno, lalu duduk di bangku taman. Zeno pun ikut duduk bersama Aslan.
“Maaf jika aku marah-marah gak jelas, aku hanya – eum, ada masalah sedikit” ucap Aslan.
“Coba katakan, mungkin saja aku bisa membantumu” sahut Zeno.
Aslan menghembuskan nafas berat.
“Aku tidak yakin kau bisa membantu masalahku.”
“Kalo kamu gak cerita, gimana kita bisa tahu, kan?”
“Iya sih... ya udah aku cerita. Jadi gini, kamu kan tahu hubunganku dengan Dania itu udah lama banget, dia yang awalnya maksa aku buat jadi pacarnya, itu saat aku umur 12 tahunan lah... dulu aku nolak tapi dia maksa, jadi aku pasrah aja, lama-lama aku udah terbiasa, terus baru beberapa hari lalu, dia minta putus, katanya aku selingkuh, padahal aku lagi capek aja banyak kerjaan, dia pikir jadi CEO itu gampang apa? Itulah kenapa aku tidak mau jadi CEO lagi, kak Arvin akan membantuku mencarikan CEO yang tepat untuk aplikasi kita, tapi aku masih kepikiran.”
Zeno mengangguk-angguk, berusaha memahami ucapan Aslan.
“Jadi... kamu sedih gini karena diputusin Dania? Terus gimana? Dia gitu pasti ada pemicunya dong?”
Aslan kembali menghembuskan nafas berat, “iya, ada emang... tapi itu udah setahun yang lalu, saat kak Aileen baru hamil Aila, kita ke Shizuoka, Jepang, ngunjungin tempat temennya kak Travis, nah, temennya kak Travis punya adek cewek yang cantik, umurnya sekarang masih 14 tahunan, kita emang deket, dia nempel mulu sama aku, tapi dia itu masih muda banget, aku gak mikir yang aneh-aneh cuma nganggep dia temen atau adek aja, tapi Dania tuh lebay banget. Udah ah, capek banget aku ngurusin pacar, makanya aku males banget punya pacar, kamu sih enak, pacarmu kak Tasya, dia gak cerewet kayak Dania” ucap Aslan.
“Kalo gitu, kita lupain itu aja dulu, jangan dipikirin terus biar kamu gak stress, kita kan lagi perjalanan, dibawa santai aja, ya?”
Aslan mengangguk pelan lalu mulai bisa tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Zeno mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, yaitu sebungkus coklat, dia memberikannya pada Aslan, “makan ini biar moodnya balik.”
Aslan menerimanya dan membukanya, tapi kemudian membaginya dua, dia beri potongan satunya pada Zeno, “kita makan bersama.”
(Zeno berhasil menghibur Aslan, sistem memberi hadiah 2 miliar rupiah ke dalam saldo!)
Zeno berusaha keras untuk tidak tersenyum terlalu lebar, jika terus seperti ini, Zeno takutnya dia akan berbuat baik hanya untuk mendapatkan saldo, padahal tidak boleh begitu.
***
Perjalanan kembali dimulai. Kali ini Aslan sudah tidak cemberut, Zeno juga sudah tidak mengantuk. Mereka bermain game di ponsel beberapa kali. Awalnya Zeno malas sekali bermain game karena tidak mengerti cara mainnya, namun setelah Aslan mengajarinya, dia mulai paham dan mencoba. Sekarang Zeno kesal sekali karena Aslan terus mengalahkannya.
“Udah ah, capek!” keluh Zeno.
“Cemen!”
“Kau udah pro mainnya, aku masih baru, jadi gak mungkin menang darimu!”
Aslan menyeringai, “itu artinya kamu mudah menyerah!”
“Aku hanya logis aja, mustahil anak TK bisa ngalahin anak kuliah kan? ngomong-ngomong, kamu gak kuliah?” tanya Zeno.
Aslan menggeleng, “enggak, nunggu kamu dan Xeon lulus aja, terus kita kuliah bareng deh!”
“Tau gini, kenapa kamu masih ngotot ikutan aksel? Tujuan kamu apa? Kalo kuliah sekarang kan enak tuh... pas lulus kamu masih umur 19 atau 20 an, terus kalo gak kuliah, mending terusin aja jadi CEO, kan udah putus dari Dania, nanti kamu jadi CEO muda yang sukses!”
Aslan menatap Zeno dengan tatapan serius, “iya juga ya? Aku mending tetep jadi CEO terus nunggu kalian kuliah bareng... aku bisa belajar perlahan-lahan” ucap Aslan.
“Mama udah baikan?” tanya Zeno, karena sebelum berangkat, Luna mengatakan tubuhnya sakit semua, lalu Luna meminta minuman yang sebelumnya Zeno kasih.
Karena Luna tidak kunjung baikan, maka Zeno meningkatkan ramuan penyembuh menjadi tingkat menengah, semoga saja bisa membantu.
Tapi, Luna belum menunjukkan tanda-tanda dia sudah lebih baik....
Zeno jadi khawatir, karena biasanya perempuan lebih rentan capek atau kelelahan, apalagi Luna itu suka sekali bekerja sampai lupa waktu dan mengurus anak. Aileen saja pernah bercerita jika dulu Luna itu lebih parah lagi bekerjanya, saat Aileen dan Arvin masih kecil, pernah Luna dan Jaden bertengkar karena Luna tidak mengurusi anak-anak dengan benar.
Mungkin itulah kenapa Luna memutuskan untuk hamil dua kali saja, karena sekali keluar langsung dua.
“Mama sudah lebih baik, sekarang ngantuk sekali rasanya” keluh Luna.
“Mau ku pijit?” tawar Jaden.
“Boleh deh.”
Zeno kembali menoleh pada Aslan, bocah itu sudah ngambek karena Zeno tidak memperhatikannya lagi, jadi dia menoleh keluar jendela.
Atau, mungkin Aslan sedang berpikir saja, apakah dia kuliah dulu atau tidak.
__ADS_1
“Aslan?” panggil Zeno.
“Menurutmu, aku harus kuliah dulu atau nanti saja? pengalamanku selama loncat kelas, itu tidak menyenangkan, karena teman-teman sekelasku lebih tua semua, kadang obrolan kita tidak nyambung, lalu... jika aku lebih pandai, mereka tidak akan suka karena merasa kalah dari anak kecil, padahal sudah jelas aku bisaloncat kelas karena aku pintar, dulu aku loncat kelas karena merasa tertekan. Pelajaran itu-itu saja, aku sudah menguasainya, lalu aku itu jauh lebih besar dari anak-anak lain, saat SD kelas lima aku sudah 165 cm, aku sering dikira sudah SMP, jadi sekalian aja aku masuk SMP.”
“Aku pikir kamu loncat kelas biar bisa cepet lulus abis itu rebahan aja di rumah” sahut Zeno.
“Itu gak salah Zeno, Aslan emang gitu tujuannya” timpal Jaden.
“Ya habisnya... aku tuh males mau belajar atau kerja, berinteraksi dengan banyak orang juga melelahkan.”
Aslan benar juga, berinteraksi dengan orang-orang itu capek banget, apalagi jika mereka menginginkan ini dan itu dari kita, mengharapkan berbagai hal yang membuat kita kelelahan.
Itu juga menjadi alasan kenapa Zeno tidak suka menjadi terkenal, karena orang-orang akan mulai melihat kita lebih dari sebelumnya, membuat kita tidak nyaman.
“Pa, nanti kita mampir-mampir gak?” tanya Zeno.
“Jelas mampir dong, karena perjalanannya jauh sekali, tapi diusahakan kita malam sudah sampai di Yogyakarta” ucap Jaden.
“Padahal naik pesawat lebih cepat, atau kereta lah paling tidak” sahut Aslan.
“Naik mobil juga cepet kok” ucap Jaden.
“Iya kalo gak macet sih cepet” timpal Luna.
Zeno mengeluarkan ponselnya, saat itu mereka sudah sampai di Tasikmalaya, sudah mau keluar dari kota.
Setelah itu Zeno memeriksa pesan-pesan di ponselnya, dia meringis melihat ada beberapa pesan dari Kaiden.
Dia kesal karena Zeno harus pergi selama beberapa hari, padahal ada pertandingan seminggu lagi. Tidakkah dia peka jika Zeno terpaksa bergabung?
Zeno pun membalas pesannya, mengatakan jika dia akan belajar selama perjalanan, jadi Kaiden tidak perlu khawatir.
Meski begitu, Zeno hanya janji manis saja, aslinya dia tidak yakin akan belajar basket di tempat tujuan.
Setelah membalas pesan Kaiden, Zeno melihat pesan lain dari Tasya, dia hanya mengatakan jika hari itu dia mulai pemotretan untuk majalah yang sempat ditunda karena kasus, setelah nama baik Tasya kembali, mereka menghubungi Tasya lagi. Zeno ikut senang mengetahuinya, setelah mengatakan jika Zeno sedang dalam perjalanan untuk kembali ke panti asuhan, dia kembali menyimpan ponselnya.
Zeno merasa sangat lelah, jadi dia mau tid – “Aslan?”
Tiba-tiba saja Aslan meletakkan bantal diatas paha Zeno, lalu tidur dengan nyaman.
“HEI!!”
“Zeno berisik! Aku ngantuk nih...”
“Ya aku juga ngantuk!”
“Anak-anak jangan berisik!”
__ADS_1
.
.