Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Membeli informasi pada sistem


__ADS_3

.


.


Zeno merasa tidak enak saat dia menjadi orang ketiga diantara perdebatan keluarga orang lain. Aslan dimarahi ayahnya karena pergi dari rumah tanpa pamit, tapi yah... Zeno tidak tahu apakah itu marah atau tidak.


Ayahnya Aslan itu marahnya sangat lembut, dia tipe ayah penyayang yang tidak tega memukul anaknya sama sekali.


Jujur saja, Zeno iri, dia merasa ingin kabur dari sana secepat mungkin, karena tidak mau mengganggu juga. Tadi saat ayahnya Aslan memeluknya, ada perasaan aneh yang tidak bisa dia jelaskan sama sekali.


“Maaf, Pa, aku gak bermaksud kabur, aku cuma seneng banget, soalnya aku denger Zeno gak sekolah, dia harus ngrawat kak Kevin yang sakit, jadinya aku cepet-cepet pergi, lagian kak Ailin gak merhatiin aku, dia sibuk sama bayinya, aku ga mau main sama bayi, aku ini juga udah gede, Pa!”


Jaden memijit keningnya yang berdenyut, putra bungsunya memang suka seenaknya sendiri. Dia memang cukup genius, loncat kelas dan lulus SMA dengan cepat, berpikiran lebih dewasa dari anak seumurannya. Tapi, Aslan tetaplah masih terlalu muda, jiwa remajanya juga masih ada. Percuma dia mengatakan dia sudah besar jika kelakuannya saja tidak mencerminkan ‘udah gede’. Intinya, yang dewasa hanya pemikiran Aslan, kelakuannya masih seperti anak-anak.


“Baiklah, papa gak nglarang kamu main sama temen, tapi ingat untuk selalu pamit, kami sangat khawatir –”


“Cuma papa yang khawatir! Yang lain nyantai aja tuh...”


“Aslan! Bisakah kau tidak menyela ucapan papa?”


“Maaf pa...”


Kemudian pandangan Jaden beralih, kini dia menoleh pada Zeno yang diam sambil memperhatikan mereka berdua.


“Dan kamu, kamu siapa, nak? Kenapa kamu mirip sekali dengan putraku?”


Aslan juga ikut menoleh pada Zeno.


“Ini Zeno, pa! Yang tinggal sama kak Kevin” sahut Aslan, Jaden mengangguk mengerti.


“Jadi kamu ini anak panti yang dibantu Travis dan teman-temannya itu ya? Aku juga salah satu anggota yayasan yang memberi bantuan, aku dengar pantimu akan direnovasi, semoga hal itu membantu ya? Perusahaan ku juga akan mengirimkan beberapa bantuan makanan pada panti dan masyarakat sekitar, kami juga akan membantu biaya sekolah.”


“Te-terimakasih, tuan!”


“Ah, jangan panggil aku tuan, aku jadi tidak enak, kamu kan teman dari putraku, panggil Om aja tidak masalah,” ucap Jaden.


“Papa! Apakah mungkin kalo Zeno itu saudara kembar ku?” tanya Aslan tiba-tiba.


“Aslan, itu gak mungkin, saudaramu sudah meninggal, kita bahkan pernah mengunjungi makamnya, bukan? Lagipula, orang yang benar-benar mirip itu bisa saja berasal dari dua orangtua yang berbeda, memang kemungkinannya tidak banyak, tapi kejadian seperti itu tidak langka kok” ucap Jaden.


Aslan langsung lemas mendengarnya, dia pikir, ayahnya akan setuju dengan pemikirannya. Sepertinya, hanya dia yang berpikir seperti itu, orang-orang selalu berpikiran itu hal yang lumrah.


Entah kenapa, Aslan jadi emosi memikirkannya, Zeno sendiri juga berpikir itu lumrah.


“Jadi, Zeno tinggal dengan Kevin, ya? Om dengar, kamu berjualan online juga” ucap Jaden.


Zeno terkejut mendengarnya, tidak menyangka hal itu sudah di dengar oleh ayahnya Aslan, padahal baru kemarin Zeno memberitahu Aslan dan Xeon.


“Om tau darimana?” tanya Zeno.


“Ah, Travis yang memberitahu Om, dia sepertinya senang sekali saat menceritakan mu, dia bilang kamu semangat untuk belajar masak, dia bilang kamu juga jualan online” ucap Jaden.


“Saya ingin membuka bisnis sendiri, karena tidak mau merepotkan kak Kevin, saya beruntung karena bisnis saya berjalan dengan baik.”


“Tentu saja, anak baik akan mendapat keberuntungan, Om akan selalu mendukungmu, jika kamu butuh bantuan, kamu boleh mengatakannya pada Om, ya? Jangan sungkan.”


Zeno mengangguk pelan, “baiklah, Om!”


Setelah dari kantor ayahnya Aslan, Zeno dan Aslan pergi lagi, tujuan mereka adalah Royalemart. Itu adalah tempat besar seperti toserba, yang di dalamnya menjual berbagai barang yang berasal dari Royal grup.


Zeno berpikir tempat itu sudah seperti surga, karena semua yang dijual terlihat menyenangkan. Banyak sekali yang mereka jual, karena produk royal grup juga sangat banyak.


Mulai dari produk makanan, minuman, camilan, make up, skin care, boneka, mainan, pakaian, sepatu, tas, semuanya ada.


Banyak sekali anak-anak gadis dan wanita yang datang ke Royalemart.


Saat berkeliling untuk mencari makanan, saat itu Zeno mulai sadar, jika perempuan memiliki kecenderungan konsumtif.


Bahkan, untuk produk baru ponsel yang dijual satu paket dengan koper pink hello kitty yang lucu itu, langsung mendapatkan banyak sekali pesanan.


Selama Aslan dimarahi ayahnya, sudah terhitung lima pesanan barang itu yang Zeno kirimkan.

__ADS_1


Sampai Zeno tidak percaya, dengan cepat pula 250 juta melayang untuk semua pesanan. Tapi saldonya masih tersisa 110 juta saat itu.


Layar sistem pun berubah, kini ada pemberitahuan jika sistem naik ke level tujuh.


Sepertinya pemberitahuan muncul di level tertentu saja.


Karena ternyata, untuk naik ke level tujuh, Zeno mendapat beberapa hadiah menarik.


Pertama, hadiahnya saldo tambahan 100 juta, jadi saldo Zeno menjadi 210 jutaan.


Hadiah kedua adalah Zeno bisa mendapatkan ijin penjualan barang-barang toko ajaib, yah meski dia harus menebusnya sebesar satu juta rupiah.


Hadiah terakhir adalah diskon 90% untuk produk daging-daging segar.


Zeno senang karena dia bisa membeli wagyu dengan harga miring semiring-miringnya.


Oh iya, kembali pada dunia nyata.


Zeno sudah berada di kantin perusahaan, di kantin cukup sepi. Dia dan Aslan menghabiskan semua makanan yang mereka beli dari royalemart.


Aslan menunjukkan aplikasi yang hampir selesai pada Zeno.


“Berkat kamu membeli saham, sekarang banyak perusahaan berinvestasi pada aplikasi ini lho, kita akan mendapatkan keuntungan banyak tenang saja... yang pasti, setelah aplikasi buka nanti, kami akan menjual semua produk Royal grup, hanya itu saja, pasti aplikasi kita mendapat banyak peminat. Karena produk perusahaan ini tidak mudah didapatkan, apa kamu mau mengurus toko untuk barang perusahaan kami?” tanya Aslan.


“Hah? Memangnya boleh?”


Aslan menyeringai, “jika kami bilang boleh, apakah kamu bisa menjualnya?”


Sebenarnya, Zeno bisa mendapatkan produk Royal grup di toko sistemnya dengan harga yang lebih murah, yaitu diskon 70%, untuk buah-buahan dan daging diskon 90%. Jelas dia bisa saja mengaturnya.


Tapi... dia juga membutuhkan modal untuk menjualnya.


“Jika kamu mau menjualkannya di tokomu, kami akan membantu, misalnya untuk menyetok persediannya...”


“Oke setuju!”


Sebenarnya, sejak level enam, Zeno bisa menyimpan barang ke dalam layar sistem.


Sekarang Zeno bisa menyetok barang di dalam layar sistem.


Penyimpanan itu juga tidak terbatas, tidak peduli jumlah atau sebesar apapun barang itu. Zeno bahkan bisa menyimpan mobil jika dia mau.


“Barang apa yang mau kamu jual?” tanya Aslan.


“Tentu saja barang-barang dari Royal food &drink!” sahut Zeno tanpa ragu.


Aslan terkekeh mendengarnya, dia sudah tahu jika Zeno sangat menyukai produk dari perusahaan makanan milik Royal grup, bahkan Aslan melihat di lemari es di rumah Kevin, banyak tersimpan barang-barang dari perusahaan tersebut.


“Oh iya, mungkin aku juga mau menjual make up dari Royal beauty juga! Aku lihat perempuan itu mudah sekali mengeluarkan uang untuk make up!”


“Wah, pilihan yang bagus... itulah kenapa ada lebih banyak barang bagi wanita, bahkan yang paling banyak menghabiskan uang untuk makanan juga wanita, dengan menargetkan wanita itu adalah pilihan yang bagus!”


Zeno senang karena Aslan terlihat sangat mendukungnya, Zeno merasa... seakan dia sudah tidak sendiri lagi.


Keheningan karena Aslan sudah larut dalam pekerjaannya, membuat Zeno termenung.


Dia kembali mengingat ucapan Aslan pada ayahnya tentang dia yang mengira jika mereka berdua adalah saudara kembar.


Tidak tidak!


Itu tidak mungkin, kan?


Zeno kemudian menoleh pada layar sistem, apakah sistem mengetahui sesuatu, ya?


“Aslan, aku mau toilet dulu ya? Dimana toilet laki-laki?”


Setelah Aslan menunjukkan letak toilet, yang ternyata sangat rumit, akhirnya Zeno pun mengandalkan map genius untuk mencari toilet.


Dia beruntung karena ternyata tidak banyak orang di dalam toilet, sepi.


Zeno masuk ke dalam salah satu bilik paling pojok.

__ADS_1


“Hei, sistem... kamu tahu pemikiran ku kan?”


(Padahal Zeno bisa bertanya lewat pikiran saja)


“Tapi aku tidak ingin terlihat aneh di depan Aslan! Anu – apa ada kemungkinan jika kami kembar? Aku tahu itu tidak mungkin, tapi –”


(Informasi itu mahal, Zeno, kamu bisa membeli informasi itu jika kamu mau)


“Me-membeli?”


Zeno tidak percaya dia harus mengeluarkan uang!


Tapi, sepertinya itu normal, karena tidak ada yang gratis di dunia ini.


“Baiklah, akan ku beli informasi itu!”


(Tergantung dari jenis informasinya, harganya akan menyesuaikan)


(Sekarang, katakan informasi apa yang ingin kamu ketahui)


“Oke, eum – apakah orangtuaku, maksudku, yang ada dalam foto yang diberikan ibu panti itu, memang orangtua kandungku?” tanya Zeno.


(Informasi di proses...)


(Kami menemukan informasinya, anda harus mengeluarkan 2 juta rupiah untuk informasi tersebut)


Dahi Zeno mengernyit melihat harganya yang mahal untuk sebuah informasi.


“Ugh, baiklah! Ambil saldo ku, cepat!”


(Pardi dan Mirna dalam foto itu adalah pasangan kurang beruntung yang bayi mereka meninggal segera setelah dilahirkan, kemudian Pardi menukar anak mereka dengan salah satu bayi kembar di rumah sakit yang sama agar istrinya tidak bersedih, kebetulan jenis kelaminnya sama.)


(Bayi itu adalah Zeno, mereka memberikan nama yang keren karena kamu bayi yang tampan)


(Apa ini membantumu?)


Zeno menepuk dahinya pelan.


“Lalu, mereka meninggal karena kecelakaan?”


(iya, mereka tidak beruntung, mereka kecelakaan saat kamu umur tiga tahun.)


Tidak mungkin Zeno tiba-tiba berkata seperti itu pada Aslan, kan? dia akan dikira gila.


(Ingin tahu apa lagi?)


“Sudah itu saja dulu, hatiku masih belum siap, aku masih shock.”


Setelah itu Zeno pun keluar dari bilik toilet, kebetulan, seseorang datang ke toilet.


Zeno bisa mengenali pria itu, karena fotonya ada di dalam foto keluarganya Aslan.


Kakak laki-lakinya Aslan, yaitu Arvin.


“Aslan? Kok kamu disini? Aku cariin juga, udah selesai kan? ayo ikut aku!”


“Eh? Tung-tunggu dulu!”


“Udah ayok! Kamu harus bertemu seseorang, dia sangat susah untuk diyakinkan, biasanya orang-orang seperti itu akan mudah luluh dengan keimutan anak-anak, jadi bantu aku!”


Arvin terus menyeret Zeno tanpa mau mendengarkan penjelasan Zeno terlebih dahulu, dia juga sangat kuat hingga Zeno tidak bisa melawan.


“Tunggu! Aku bukan anak-anak!”


“Enam belas tahun masih anak-anak di mataku! Sudah, kamu temui dia dulu!”


Sementara itu, Aslan yang sedang menunggu Zeno di kantin pun merasa Zeno terlalu lama.


.


.

__ADS_1


__ADS_2