
.
.
PLAK!
Geplakan tangan mungil di wajah membuat Aslan mau tak mau terbangun dari tidur panjangnya.
Kekehan Zeno terdengar renyah sekali di telinganya, malah membuat Aslan kesal.
Dia pun terbangun, di depannya sudah ada Zeno dan bocah lucu yang kira-kira berusia tujuh atau delapan bulanan. Entahlah, Aslan tidak terlalu mengerti umur bayi, yang pasti bayinya sudah bisa duduk, belum bicara tapi sudah mengoceh, sudah boleh makan makanan selain ASI.
Karena tidak ada ASI, maka bayi itu meminum susu formula.
Bayinya sih lucu, gembul, pipinya chubby, tangan mungilnya juga chubby, rasanya lumayan saat dipukul dengan tangan gemoy tersebut.
“Zeno apaan sih!” keluh Aslan setelah duduk, dia mengacak rambutnya lalu menguap lebar, baru kemudian berusaha beradaptasi dengan sekitarnya.
Rupanya sudah pagi, Zeno kelihatannya belum mandi, dia bau bawang, membuat Aslan harus mengernyitkan hidungnya.
“Udah pagi nih pangeran, bangun dong!”
“Bau bawang!” Aslan memukulkan bantalnya pada Zeno, membuat si bayi terkekeh lucu.
Kalau si bayi sih, sudah mandi dan sudah wangi, memakai kostum beruang coklat yang lucu.
“Kamu bau iler!” balas Zeno kesal, dia yang bagun lebih pagi, memasak untuk semua orang di panti bersama ibu-ibu panti, lalu Aslan yang baru bangun seenaknya mengatai dia bau bawang.
Yah, walaupun itu semua benar sih.
Pagi-pagi Zeno bangun, membangunkan pak supir untuk mengantarkannya ke pasar, dia berbelanja beberapa bahan. Meski sudah dilarang oleh ibu panti, dia tetap saja belanja. Ada anak-anak kecil yang membantu Zeno, mereka hanya meminta jajanan pasar seperti onde-onde atau paste, jadi sekalian saja Zeno belikan mereka.
Selesai belanja, Zeno pun membantu memasak seperti dahulu.
Yang mereka masak adalah pecel, tempe penyet sambal cabe hijau dan sayur bening.
Meski sederhana tapi rasanya sangat nikmat, apalagi jika dimakan bersama.
Zeno sudah membangunkan ayah dan ibunya, tinggal Aslan saja.
“Makanannya udah mateng ya?” tanya Aslan, dia turun dari ranjang sambil menggendong si bayi.
“Udah kok, ayo makan bareng” ajak Zeno.
“Cuci muka dulu lah, kamu juga – kucel gitu, bau bawang, ya ampun Zeno... mana pake baju gembel gitu!”
“Ini baju buat masak, kan sayang banget kalo baju bagus dipake masak bau bawang, mikir dong!”
“Anak-anak ngapain ribut di depan kamar sih?” Jaden datang melerai anak-anak bujangnya.
“Zeno nih pa!”
“Aslan duluan!”
Jaden pun mengambil alih si bayi dan menggendongnya, “udah kalian ke kamar mandi dulu sana, habis itu makan bareng yang lain. Papa dan mama tadi makan duluan, abis ini pergi nemuin pemilik pabrik” ucap Jaden.
“Kita juga mau pergi pa, sepedaan di sekitar sini” sahut Zeno.
“Oke kalo gitu, Zeno tahu semua tempat di sekiat sini, jadi papa gak khawatir, kalian pergi berdua aja?” tanya Jaden.
“Rencananya ngajak Citra juga” sahut Zeno lagi.
Aslan melipat tangannya depan dada, ternyata Zeno sungguhan mau mengajak gadis menyeramkan itu.
“Oh gitu... ya udah kalo gitu, Zeno jaga Aslan dan Citra ya? Papa percaya dengan Zeno, kalian tidak boleh main sampe sore.”
“Beres pa!”
“Jadi papa gak percaya Aslan?” sahut Aslan kesal, karena hanya Zeno yang diminta untuk menjaga.
“Kamu kan gak tahu daerah sini, beda lagi kalo ada di Jakarta, kamu yang lebih tahu, kalian ini jangan berantem mulu dong, padahal dulu akur banget kan?” Jaden yang gemas mengacak rambut Aslan dan Zeno bergantian.
“Justru karena semakin dekat, jadi kita makin suka adu bacot” ujar Aslan.
“Kalian mandi dulu, papa dan mama berangkat duluan ya?”
__ADS_1
“Beres pa!”
Satu jam kemudian, setelah selesai mandi dan makan, Zeno, Aslan dan Citra pun berangkat naik sepeda.
Masalahnya, hanya ada sepeda listrik disana, sedangkan sepeda biasa sudah dipakai anak-anak untuk sekolah.
Ada dua sepeda listrik, yang satu merah, yang satu lagi toska.
“Sepedanya ada dua, Citra naik apa?” tanya Bu Sum, dia sangat senang karena Zeno mau mengajak Citra jalan-jalan.
Melihat Citra sudah mulai terbuka dengan orang lain membuatnya senang, karena selama ini Citra hanya diam dan menjauh dari yang lainnya, bicara pun sangat jarang.
Tapi pagi ini Citra bicara dengan Luna dan Jaden, walaupun tetap tidak banyak bicara tapi itu adalah kemajuan pesat.
“Biar aku bonceng aja, gak apa-apa kan Cit?” tanya Aslan.
“Aku gak nyaman sama sepeda ini, apa beli lagi aja ya?” ucap Zeno.
Aslan menoleh pada Zeno, “ribet banget, kelamaan kalo beli dulu tauk!”
“Gak lama, beberapa menit juga udah nyampe, bentar ya? Enaknya sepeda apa?” Zeno sudah mengeluarkan ponselnya, mencari-cari sepeda di toko sistem yang ada di aplikasi ponsel.
Aslan melongok untuk melihat ponsel Zeno.
“Wah, yang itu bagus tuh!”
“Gak ada boncengannya ini – Citra bisa naik sepeda sendiri kah?” tanya Zeno.
Citra hanya mengangguk pelan.
“Dia pake sepeda listrik aja, kita pake yang kayak gini, lebih aman cewe pake sepeda listrik ga sih?” usul Aslan.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Zeno menerima usulan Aslan.
Jadi Zeno membeli dua sepeda polygon xquarone ex9 yang harganya sekitar 102 jutaan, itu adalah salah satu sepeda gunung yang paling mahal di dunia. Bisa digunakan untuk bersepeda di gunung yang terjal, yang jalurnya lebih rumit dan kasar, meski begitu dalam deskrripsi dijelaskan sepeda itu ringan dan lincah. Sangat menarik, semoga memang benar seperti itu dan tidak kemakan deskripsi yang berlebihan.
Tapi, biasanya ada harga ada kualitas.
Setelah menekan tombol beli, mereka pun harus menunggu sampai sepeda diantarkan.
“Udah tunggu aja, bentar lagi nyampe kok, gak bakalan lama... Citra coba dulu aja sepeda listriknya” ucap Zeno.
Citra pun mengangguk pelan, lalu mencoba sepeda listrik, diajari oleh Bu Sum.
Saat itu Citra penampilannya sudah lebih baik, dia memakai dress sederhana warna pink pucat, rambut panjangnya dikuncir dua diberi hiasan pita pink.
Dia sudah tidak seram lagi.
“Ehem!” Zeno menyenggol Aslan yang serius sekali menonton Citra.
“Apa sih!”
“Gimana? Kalo gitu cantik gak?”
“Berisik! Kalo cewe ya pasti cantik lah...”
“Oh ya? Cantikan mana sama Dania?”
Aslan menoleh kesal pada Zeno, “bisa gak jangan ngomongin Dania? Kalo aku minta pendapatmu siapa yang lebih cantik dari Tasya dan Shaira kamu gimana jawabnya?”
“Semuanya cantik!”
“Heh! Kamu tuh ya, seneng banget jodoh-jodohin orang...”
“Ya lagian kamu takut banget sama Citra, kan seru kalo sampe jadian!”
Aslan pun memiting leher Zeno kemudian dia jitak kepala Zeno berkali-kali.
“Aduh! Sakit!”
Tin tin!
Sebuah pickup datang, membawa dua sepeda mahal pesanan Zeno.
Seorang pria berpakaian serba hitam memakai masker hitam turun dari kemudi, lalu menurunkan sepedanya sendirian. Dia kuat sekali.
__ADS_1
Kurirnya sistem.
Zeno sebenarnya ingin kenalan, penasaran dia dengan sosok kurirnya sistem.
Kelihatannya sangat besar, gagah dan misterius.
“wah bagus sepedanya, ini berapaan Zen?” tanya Bu Sum.
“Seratus jutaan” jawab Zeno dengan entengnya.
“Mahal banget Zen! Kamu jangan boros gitu...” Bu Sum mulai ceramahnya, yang tidak terlalu Zeno dengar, karena dia sibuk menyiapkan sepedanya.
“Gak apa-apa buk Sum, Zeno ini udah bisa menghasilkan uang sendiri, sebulan berapa Zen?” tanya Aslan.
“Tergantung, kadang sampe miliaran” sahut Zeno dengan entengnya, sampai Bu Sum dan Citra terkejut dibuatnya.
“Aku sendiri juga kerja lho, aku punya saham dan juga jadi CEO, gajiku ya kira-kira ratusan juta, sekarang aplikasi ku sudah sangat berkembang, kalau digabung dengan hasil saham juga kadang sampai miliaran, tergantung musim lah” ucap Aslan.
Makin kagetlah Bu Sum dan Citra.
“Udah yuk berangkat, keburu siang, kita pergi dulu Bu Sum!” teriak Zeno.
“Iya, hati-hati nak!”
Mereka pun bersepeda dengan santai, Zeno dan Aslan ada di belakang Citra, agar bisa menjaganya.
Zeno mengajak mereka bersepeda di jalanan sepi yang kanan dan kiri banyak persawahan. Suasananya cukup asri dan menyenangkan.
Setelah mereka capek, mereka pun berhenti di penjual es kelapa muda.
Kebetulan, penjual es itu dekat dengan salah satu SMA.
Saat Aslan berjalan untuk mendatangi penjual telur gulung, ada beberapa anak SMA laki-laki yang bolos mendekat juga.
Zeno yang duduk bersama Citra mengernyitkan dahi, dia seperti mengenal bocah-bocah SMA itu, tapi dia tidak terlalu yakin.
“Ini Zeno kan? si yatim piatu miskin itu?”
“Hahaha masih hidup ternyata.”
“Bagus juga bajumu, kerja apa nih? Makin glowing aja.”
“Sampe pangling lho kita.”
Aslan hanya menatap mereka datar, sepertinya anak-anak bolos itu kenalan Zeno.
“Aku bukan Zeno” ucap Aslan dengan enteng.
Salah satu dari mereka maju dan meraih kerah baju Aslan, “hah? Gak usah sombong! Mentang-mentang udah ganteng!”
Aslan menyunggingkan seringainya, “Aku emang ganteng dari lahir.”
Anak yang meraih kerang Aslan itu mengangkat tinjunya, tapi belum sempat tinju itu melayang mengenai wajah Aslan, Zeno sudah datang menghentikannya.
“Cukup!”
“Lho, Zeno ada dua?”
“Jangan-jangan penampakan!”
“Kabuurr!!!”
Zeno menggaruk kepalanya bingung, hanya karena ada dua mereka menganggapnya hantu.
Dasar bocah-bocah aneh.
“Zeno, teman-temanmu disini kok gak ada yang bener?” tanya Aslan.
“Enak aja! Bukan temenku, kamu jadi beli telur gulung gak?”
“Jadi! bentar dong, pak beli telur gulungnya sepuluh ribu ya!”
.
.
__ADS_1