
.
.
Zeno tidak pernah merasa secapek ini, padahal dulu juga pergi ke Jakarta dengan Udin itu menggunakan truck. Mobil van yang Zeno dan keluarganya naiki juga mobil yang nyaman, bahkan lebih nyaman dari truck, tapi kenapa Zeno merasa jauh lebih capek?
Bukan hanya Zeno, yang lainnya juga merasa seperti itu.
Akhirnya Zeno membagikan ramuan penyembuh pada yang lain juga, setelahnya seharian dia tidur, barulah tubuhnya terasa sangat ringan.
Tidak seperti yang di duga, Arvin tidak menyukai Citra tinggal dengan mereka. Luna sudah memarahi Arvin, namun kakak sulung Zeno itu pada akhirnya mengalah dan dia pun memilih untuk tinggal dengan Aileen dan Travis. Itu tidak masalah, karena rumah Aileen ada di dekat sana juga.
Citra tidak menempati kamar Arvin, dia tidak enak hati, jadi dia memilih kamar tamu yang ada dilantai satu.
Saat Zeno bangun keesokan harinya, dia hanya melihat Aslan dan Jaden saja, mereka bilang Luna sudah mengajak Citra pergi berkeliling. Padahal itu masih sekitar jam tujuh pagi.
Jaden tidak langsung berangkat ke kantor, dia menemani Zeno dan Aslan untuk melihat-lihat gedung perkantoran mewah yang Zeno beli. Seperti biasa, Jaden tidak mengatakan apapun, seakan semuanya sudah alami.
Oh iya, karena itu hari libur, Xeon memilih untuk ikut, dia datang tepat setelah Zeno selesai mandi.
Sampai di tempat, ada orang yang menunggu mereka, utusan dari pemilik gedung, seorang lelaki yang terlihat menyebalkan. Entahlah, mungkin hanya perasaan Zeno, tapi baginya lelaki itu memiliki aura seperti Andi atau Udin, menyebalkan sekali.
Tapi, tidak boleh menilai orang dari penampilan luarnya.
Lelaki itu langsung mendatangi Jaden dan menjabat tangan Jaden sambil memaksakan senyumnya.
“Anda pasti yang membeli gedung ini kan? saya adalah utusan dari pemilik gedung, mari saya antar keliling gedungnya,” ucap lelaki itu.
Yah, tidak masalah sih bagi Zeno jika yang dikira membeli adalah ayahnya, dia tidak mempedulikan hal itu, karena dia juga tidak memiliki niat untuk menyombongkan hartanya atau pencapaiannya.
Mereka pun keliling gedung tersebut.
Ternyata itu adalah gedung yang baru dibangun, harusnya ditempati oleh salah satu perusahaan, namun sayangnya perusahaan tersebut sedang bangkrut, yaitu perusahaan pemilik gedung.
Zeno sudah tahu semua itu karena dia sudah mencari informasinya. Perusahaan yang bangkrut dijatuhkan oleh ayahnya Tasya, karena memiliki banyak hutang. Perusahaan itu punya gedung lama yang lebih kecil, tadinya sangat sukses, tapi kemudian berhutang banyak pada ayahnya Tasya untuk membuat gedung baru yang lebih mewah.
Entah bagaimana cerita aslinya, yang pasti Zeno senang sekali karena gedung itu telah menjadi miliknya.
Selesai berkeliling, mereka kembali ke lantai satu untuk menandatangani dokumen.
“Silahkan tandatangani dokumen ini, tuan... Zeno?”
Lelaki itu memberikan dokumen pada Jaden, lalu Jaden memberikannya pada Zeno. Lelaki itu sangat terkejut, tapi Zeno tidak peduli, dia hanya cepat-cepat menandatangi dokumen itu dan memberikannya kembali pada si lelaki yang masih saja shock.
“Terimakasih telah menemani kami keliling, sekarang gedung ini telah menjadi milik saya” ucap Zeno.
Lelaki itu hanya diam setelahnya, tidak berani mengatakan apapun lagi.
Zeno dan yang lain pun memilih pergi setelahnya, untuk urusan perpindahan kantor Aslan dan persiapan membuka toko atau pun membuat asrama karyawan di dalam gedung, Zeno sudah menyerahkannya pada Jaden, ayahnya itu akan meminta orang lain untuk melakukannya.
Jaden sangat senang membantu putranya yang ajaib itu.
Baru saja Zeno memasuki mobil ayahnya, dia sadar jika ada sesuatu yang tertinggal di depan gedung. Tadinya Zeno mengantongi sebuah brosur, dia letakkan di depan gedung karena refleks, sekarang dia sadar jika dia butuh brosur itu.
“Pa sebentar ya, aku meninggalkan sesuatu, aku akan mengambilnya cepat lalu kembali,” ucap Zeno.
“Oke, jangan lama-lama ya?”
__ADS_1
Zeno mengangguk kemudian keluar lagi dari mobil, untuk mencari brosurnya, tapi kemudian dia melihat brosurnya sudah terbang sampai di dekat mobil lain yang diparkir di depan gedung.
“Kau pasti tidak percaya ini, seorang anak SMA membeli gedung mewah! Iya, gedung milik perusahaan bangkrut itu, triliunan lah! Hahaha, iya sih, anaknya Raynold, pasti duitnya dari papanya, hah, anak konglomerat kan gitu, mau apapun bisa minta papa, haha lucu sekali.”
Kesal? Tentu saja.
Seenaknya dia bicara.
Tapi pendapat seperti itu sudah biasa Zeno dengar.
“Hei, jangan seenaknya sendiri ya! Zeno membeli gedung dengan uang hasil usahanya sendiri, tahu apa sih kamu? Iri karena kami memiliki penghasilan lebih banyak darimu?”
Bukan Zeno, yang marah malah Aslan, karena saudara kembar Zeno itu diam-diam mengikuti Zeno, jadi dia juga mendengar lelaki yang tadi mengantar mereka bertelfon dengan temannya.
Lelaki itu terlihat sangat malu, dia segera menutup telfonnya lalu memasuki mobilnya dan beranjak pergi.
Zeno pun mengambil brosurnya sebelum terbang lagi, angin cukup kencang saat itu, tapi anginnya panas. Cuaca sedang panas-panasnya, jadi Zeno malah sekali brdebat, beda dengan Aslan.
“Kamu kok diem aja sih? Nyebelin tau gak!” protes Aslan.
“Buat apa berdebat? Toh tidak akan merubah fakta, jika aku lebih kaya darinya.”
“Iya sih Zen, tapi kan...”
“Udah, aku udah dapet brosurnya, ayo balik ke mobil!”
“Buat apa brosur itu?” Aslan merebut brosur dari tangan Zeno.
“Ada semacam bazar makanan gitu, aku lupa tempatnya, mau dateng, hehe” sahut Zeno.
“Idih! Aku mau ngajak kak Tasya kok!”
Aslan pun melepas rangkulannya, “pengkhianat!”
“Ikut aja sih, bawa Citra tuh...”
Aslan kembali tersenyum, “bener juga ya... hehe, tapi Zeno, kalo di remehin orang, jangan diem aja, langsung hajar gitu harusnya!”
“Kita itu lumayan terkenal Aslan, banyak pengikuti kita di media sosial kan? anak-anak muda akan melihat kita sebagai panutan, karena sudah sukses di usia muda, berperilaku buruk seperti memukul orang lain akan merusak pandangan orang tentang kita, nanti berimbas pada jualanku gimana? Padahal aku mau membuka toko offline.”
Aslan berdecak malas mendengar alasan Zeno yang masuk akal itu, Zeno beda dengan anak muda lain yang tidak suka berpikir panjang dan langsung main otot, dia berpikir jauh ke depan.
“Oke deh, aku ngerti, tapi kalo udah keterlaluan, hajar aja.”
“Itu sih pasti ya, jangan khawatir...”
***
Setelah beberapa hari tidak sekolah, Zeno tidak menyangka dia akan merindukan sekolahnya. Seperti biasa, teman-teman sekelas ribut menanyakan oleh-oleh. Karena bingung harus memberikan apa, akhirnya Zeno memberikan oleh-oleh gantungan kunci candi prambanan atau borobudur yang dia beli di toko sistem.
Satu box gantungan berisi 100, harganya hanya seribu rupiah. Sangat murah bukan? Tentu saja karena mendapat diskon 70% dari sistem.
Zeno membeli beberapa kotak karena anak kelas lain ikutan datang dan meminta.
Zeno heran sekali, padahal hampir semua murid di sekolahnya itu anak-anak orang kaya.
(Selamat! Kamu berhasil menaikkan sistem menjadi level 12!)
__ADS_1
(Untuk hadiah adalah aplikasi ajaib gratis!)
(Selamat anda mendapatkan aplikasi dokter ahli, bisa membantu mendiagnosa penyakit dalam tubuh serta memberitahukan cara mengobatinya)
Zeno mengernyitkan dahinya, aplikasi itu terinstal dengan sendirinya di ponsel.
Menarik sekali, Zeno pun mencoba aplikasi tersebut.
Aplikasi meminta Zeno untuk berselfie saat masuk, setelah selesai berselfie, ada tulisan ‘sedang mendiaknosa tubuh... loading 60%’
Setelah loading 100% ada muncul tulisan lain.
‘Anda sedang sehat, hanya sedikit kelelahan saja.’
Yah, itu benar, Zeno hanya kelelahan, tapi entah kenapa dia masih penasaran. Dia ingin mengetahui apakah aplikasi itu memang akurat.
Tapi tidak mungkin ada orang yang sakit di sekitarnya kan?
Saat istirahat, seperti biasa Zeno istirahat dengan Sellya, Yoshi, Bella dan Raihan.
Iseng-iseng Zeno memotret Raihan.
Setelah loading selesai, aplikasi mengatakan ‘Anda sedang stress, sebaiknya jalan-jalan untuk merilekskan pikiran.’
Eh?
“Raihan, kamu sedang stress?” tanya Zeno dengan polosnya.
Raihan yang sudah berusaha untuk tersenyum hari itu pun menatap Zeno tidak percaya, dia tersenyum lemah lalu menggeleng, “enggak kok, kenapa emangnya?”
“Jangan bohong, kamu ada masalah?” tanya Sellya, gadis itu sudah menyadari Raihan yang biasanya tidak seperti itu, hari itu agak berbeda meski sedang tersenyum.
Raihan menundukkan kepalanya, “tidak, hanya saja... ayahku datang dan mengambil beberapa uang yang kuberi untuk ibuku. Aku tidak masalah dengan uangnya, tapi... yah – orangtuaku telah bercerai, tapi ayahku yang tahu aku bekerja datang dan mengambil uang itu, aku terpaksa membiarkannya karena ayah mengancam untuk memukul ibuku. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini, karena ini masalah keluargaku.”
“Tapi hutang ibumu sudah lunas kan?” tanya Yoshi.
Raihan mengangguk, “iya, itulah kenapa kami tidak peduli dengan uangnya, kami hanya – yah, melihat ayah datang dan bersikap seperti itu, aku takut ibuku kembali terluka.”
Zeno bingung harus bagaimana, karena dia juga tidak paham masalah rumah tangga.
“Ada kemungkinan ayahmu akan kembali?” tanya Sellya.
Raihan mengangguk, “sepertinya begitu.”
“Seandainya kalian pindah ke tempat yang lebih aman mungkin dia tidak akan kembali” ucap Bella.
Zeno pun tersentak mendengarnya, Bella benar, ada tempat aman yang bisa ditinggali.
“Raihan, aku sudah membeli gedung baru untuk kantor, aku akan membuka toko offline juga, disana akan ada asrama untuk karyawan, kamu adalah karyawan ku, jadi kamu bisa tinggal disana nanti untuk sementara sampai semuanya aman” ucap Zeno.
Setelah mendengar itu, Raihan pun tersenyum cerah, “beneran?”
“Iya, tapi masih dalam persiapan, jika sudah selesai kamu dan ibumu bisa tinggal disana.”
.
.
__ADS_1