
.
.
“Jadi, karena ada festival, jadi tiap kelas dan klub akan mengirimkan satu stand, seperti stand makanan, minuman, atau stand permainan, nah... anggota OSIS juga diharapkan menampilkan stand yang terbaik, sedangkan OSIS juga memiliki tugas menertibkan para siswa, jadi – kau mengerti kan? mereka akan membayar orang lain untuk mengurusi masalah tersebut. Jadi, rencananya mereka akan membuat semacam cafe. Karena aku memiliki toko buah, mereka berharap aku bisa memasok buah juga, sebagai konsumsi para tamu penting juga membutuhkan buah, karena aku tahu kamu bisa memasok buahnya dengan cepat dalam keadaan segar, maka aku ingin memberikan tugas itu padamu” Sellya menjelaskan sambil berjalan menuju ruang OSIS.
“Begitu ya, aku mengerti, aku bisa melakukannya!” ucap Zeno dengan semangat, Bella terkekeh melihat semangat Zeno yang membara.
“Oh iya Zeno, kayaknya kamu makin tinggi aja deh, apa cuma perasaan ku aja ya?” tanya Bella.
“Hah? Cuma perasaanmu aja itu Bel, hehe... yah, aku tumbuh tiga centi sih, kelihatan banget ya?” ucap Zeno.
“Kamu makin kayak tiang tau Zen! Udah kurus, tinggi pula, banyak makan dan olah raga ya?” sahut Sellya.
“Zeno, apa aku makin cantik? Sejak minum ramuan darimu, sedikit demi sedikit badanku semakin bagus! Sepupu-sepupuku iri dan ingin membeli ramuan itu juga” ucap Bella.
Zeno tersenyum senang, “bagus Bell! Sebentar lagi aku bisa menjualnya secara bebas, akan ku siapkan dulu, setelah itu sebarkan kecantikan mu pada sepupu-sepupu yang iri itu, lalu mereka akan memberi produk ku!”
Bella kembali terkekeh melihat Zeno yang semangat berjualan, “baiklah, akan ku buat mereka semakin iri dengan kecantikan ku! Krim wajah juga bagus sekali bagi wajahku... jadi makin mulus” ucap Bella.
“Aku juga make itu, dan semua jerawatku hilang! Kini wajahku jadi semakin sehat, pemutih gigi alami juga bagus, penghilang bulu juga bagus... aku suka produk-produk itu, harus segera di jual sih Zen, anak-anak di kelas juga pada nanyain apa skin care yang ku pake sampe wajahku bisa berubah... hehe, aku suka melihat wajah iri mereka” sahut Sellya.
“Aku juga senang jika kalian senang!”
“Ini ruang OSIS-nya, kita udah sampe, ayo masuk!”
Sellya membuka pintu ruang OSIS, kemudian memberi salam.
Setelah itu ketua OSIS, Dirga, memberi arahan apa saja rencana untuk stand OSIS, yang sebenarnya bergabung dengan stand gurunya.
“Jadi mereka melimpahkan tugas pada kita, sementara kita juga harus menertibkan siswa yang lain, intinya OSIS akan membayar kalian jika kalian bisa menyiapkan semuanya dengan baik, kami juga akan membayar koki untuk memasak di cafenya” ucap Dirga.
Tiba-tiba Zeno mengangkat tangannya, “boleh saya memberi usulan?” tanya Zeno.
“Iya, silahkan Zeno.”
“Kalian bisa menyerahkan semua yang harus dibeli padaku, membuat cafe pasti membutuhkan bahan-bahan beragam bukan? Jika kalian membeli padaku, mungkin anggarannya bisa lebih menghemat, tenang saja, semua bahan akan ku kirim dalam keadaan segar, untuk koki, jika membayar koki dari luar, itu sama saja seperti bukan festival sekolah, karena stand kan harus semuanya dari anak-anak, untuk memberikan wadah bagi kreatifitas anak, aku bisa memasak jika kalian butuh koki” ucap Zeno.
“Aku juga bisa masak! Maksudku – bantu Zeno masak!” sahut Bella.
“Baiklah, ku serahkan semuanya pada kelompok Sellya, sebagai anggota OSIS baru, aku ingin melihat kinerja mu juga” ucap Dirga.
Sontak Bella dan Zeno menoleh cepat pada Sellya.
Sejak kapan dia anggota OSIS?
“Hehe, aku baru aja masuk OSIS, jadi belum sempat ngasih tahu” ucap Sellya.
“Saya juga akan membantu Sellya, senior!” seorang bocah laki-laki pendek, kecil, imut datang dan terlihat sangat bersemangat.
“Oh, Yoshi, tentu kamu boleh membantu!”
Pada akhirnya, dengan diketuai Sellya, mereka akan mempersiapkan cafe untuk festival sekolah. yang disiapkan hanya menu, bahan, dan kostum pelayan saja, sedangkan tempat, dekorasi dan lain-lain akan diurusi oleh ketua OSIS, yaitu Dirga.
Oh iya, kelompok Sellya ada Zeno, Bella, Raihan yang dipaksa ikutan meski anaknya tidak mau, kemudian Yoshi.
Yoshi ini sama seperti Sellya, anggota OSIS baru, dia juga kelas satu SMA, tapi umurnya masih 13 tahun. Intinya, Yoshi loncat kelas karena katanya dia genius. Anaknya sangat lucu, ceria dan cerewet.
Tapi, Yoshi sangat penurut, jadi dia bisa disuruh-suruh.
__ADS_1
Sepulang sekolah, mereka nongkrong dulu di cafe yang sedang hits, yaitu dollz cafe. Di lantai dua meja lebih luas, lebih asri dan lebih nyaman, jadi mereka bisa berunding disana.
“Pertama-tama, menu apa yang harus dikeluarkan?” tanya Sellya, dia langsung menatap Zeno yang sepertinya punya ide cemerlang.
“Sesuatu yang mudah dibuat saja, misalnya chicken teriyaki, steak daging sapi, atau ayam goreng, ayam geprek – aku jago lho membuat sambel gepreknya! Selain makanan berat, harus mengeluarkan dessert yang manis, juga minuman yang enak, untuk minuman lebih baik yang mudah saja, jus buah” ucap Zeno.
“Gimana kalo kita jual salad buah juga?” usul Bella.
“Mau ramen!” timpal Yoshi.
“Tunggu, kita tidak boleh membuat terlalu banyak menu, karena itu akan membuat bingung pengunjung kita, selain itu karena kokinya cuma ada Zeno, jadi kita akan kekurangan orang” ucap Raihan.
“Aku bisa memasak, aku akan membantu memasak” ucap Sellya.
“Aku akan ada di bagian kasir” ucap Raihan.
“Untuk pelayannya?” tanya Yoshi.
“Kamu aja pelayannya sama Bella, kalian lucu dan terlihat menyenangkan, pasti banyak yang tertarik jika melihat kalian berdua” ucap Zeno.
“Baiklah, makanan kita sudah datang, setelah ini kita putuskan menunya, lalu Zeno akan menyetok bahan-bahannya ya?” putus Sellya.
“Oke, beres! Soal bahan serahkan saja padaku!”
***
BRUK
Zeno akhirnya lega bisa merebahkan dirinya diatas ranjang. Hari yang panjang sudah dia alami, banyak hal yang terjadi padanya dan dia sangat senang karena sangat sibuk.
Untuk bahan-bahan yang harus disiapkan itu sangat mudah, tadi Sellya sudah mencatat semuanya apa yang dibutuhkan, Zeno tinggal membelinya di toko sistem. Anggaran yang diberikan ternyata sangat besar, sampai ratusan juta. Zeno cukup terkejut, tapi kemudian dia sadar, jika sekolahnya adalah sekolah elit yang hampir semuanya berasal dari keluarga kya raya, jelas uang tidak masalah bagi mereka.
Zeno tahu dia akan sangat sibuk, tapi itu tidak masalah.
Oh iya! Hampir lupa!
Zeno pun kembali duduk, membuka toko sistemnya.
Dia harus membeli dokumen-dokumen surat ijin, BPOM dan lain-lainnya dari toko sistem. Memang sistem paling hebat, dia bisa membeli semuanya di sistem tanpa ribet.
“Hehe, akhirnya aku punya ijin! Tapi pertama-tama, aku akan menjualnya secara manual saja, oke... hubungi Aslan dulu!”
Zeno mengeluarkan ponselnya lalu menelfon Aslan.
[ZENO!!]
Zeno harus menjauhkan ponsel dari telinganya, karena teriakan Aslan hampir membuatnya tuli.
“Jangan keras-keras dong, aku bisa tuli nih!”
[Hehe, tumben nelfon... kamu kangen ya?]
“Idih! Aku cuma mau bilang, kalo sekarang aku udah punya ijin buat jual barang-barang original dariku, kayak ramuan tanpa mimpi yang kemarin itu, ada banyak barang lainnya lho.”
[Aku membagikan ramuan itu pada keluargaku yang susah tidur dan mereka menyukainya, aku menjual satu setengah juta pada mereka, hehe]
Wajah Zeno berubah menjadi datar, tidak menyangka jika Aslan akan menjualnya kembali.
“Ada barang-barang lainnya, kamu kan punya saudara atau sepupu perempuan...mungkin saja bisa membeli krim wajah untuk perawatan wajah juga” ucap Zeno.
__ADS_1
[Sebenarnya di Royal beauty ada semacam skin care gitu, mahal juga... gini aja deh, aku ambil beberapa barang lalu ku kenalkan pada mereka, oh iya, akan ada pesta besok, mungkin disana aku bisa mengenalkannya, mau ikut gak?]
“Pesta? Kalo malam mungkin bisa, kalo sore, aku ada latihan masak, sekolahku akan ngadain festival gitu, aku ada tugas menjadi koki di cafenya.”
[Serius? Aku mau dateng! Kapan festivalnya?]
“Masih seminggu lagi sih, tapi persiapan sudah dimulai.”
[Aku bakalan dateng!]
“Makasih, soal pesta tadi... aku akan datang juga.”
[Oke, besok jam tujuh malam ku jemput, oke?]
“Oke!”
Telfon pun terputus, Zeno tersenyum menatapi ponselnya.
Aslan, dia baik sekali dan Zeno suka berbicara dengannya.
“Oh iya, Bella juga...” Zeno pun menelfon Bella, mengatakan jika dia bisa menjual produknya dengan bebas karena sudah mendapat ijin. Kemudian juga menghubungi Sellya.
Bella dan Sellya akan membantu promosi.
Bisnis untuk saat ini lumayan lancar.
Tok tok tok
Zeno mendongak dari ponselnya, “iya?”
“Zeno, temanmu dari panti sudah datang!”
Zeno pun keluar, terlihat pelayan rumah Kevin yang memberitahunya, Kevin sendiri sedang sibuk, jangan ditanya, dia adalah selebriti.
“Dimana dia bibi?” tanya Zeno.
“Ada di ruang tamu, ayo!”
Yang datang adalah Andi, dia lebih tua dari Zeno, beruntung karena dulu bisa belajar di SMA dan lulus. Tapi setelahnya, dia bingung harus bekerja apa, karena pada kenyataannya mencari pekerjaan itu sulit. Jadinya Andi memilih untuk ikut seseorang belajar menyupir, lalu membantu supir truck.
Tapi setelah tahu keadaan Zeno, dia berharap mendapat pekerjaan bagus di kota.
Zeno tidak mungkin mematahkan harapan dia, takutnya dibilang sombong karena tidak mau membantu yang susah.
Sebenarnya, Zeno juga ada pikiran curiga, sama seperti apa yang Aslan bilang tempo hari. Tapi, dia berusaha untuk berpikiran baik saja.
“Halo kak Andi, mau makan malam dulu? Kakak pasti lapar dari perjalanan kan? aku akan masak untuk kakak” ucap Zeno.
“Iya Jen, laper banget, kalo ada ayam atau daging gitu ya? Jangan masakan desa, tahu tempe bosen banget” ucap Andi.
“I-iya kak, aku siapin dulu, kak Andi mau bantu?”
Andi menggeleng “aku gak cocok bantuin di dapur.”
Zeno menghela nafas berat, “oke deh...”
.
.
__ADS_1