
.
.
Jemari lentik milik Tasya bergerak di atas dada bidang Zeno, membuat gerakan yang menggoda iman. Tangan itu terus turun semakin ke bawah, menuju sesuatu yang seharusnya tidak disentuh.
Zeno mengingit bibir dalam bagian bawahnya, menahan diri untuk tidak tergoda, dan tetap berpikiran jernih.
‘Aku harus bagaimana?’
(Zeno tidak ingin menikmatinya?)
Zeno melotot mendengar jawaban sistemnya yang entah kenapa semakin lama semakin membuatnya kesal.
Tasya menarik tangan Zeno untuk menyentuh dadanya yang besar itu, membuat Zeno membelalakkan matanya terkejut.
“Kak Tasya hentikan, kita tidak boleh melakukan ini!”
“Kenapa kamu menolak lagi? Bukankah kamu menyukaiku? Kita sudah menjadi pacar, jadi masa gak boleh sih?”
“Aku masih dibawah umur, jika kakak terus seperti ini, aku melaporkan kakak atas tuduhan –” Zeno berhenti bicara saat dengan cepat Tasya menyambar bibir Zeno, mencumbunya dengan agresif.
Zeno hanya laki-laki biasa, dia masih muda dan hormonnya sedang meledak-ledak, jika cipancing, dia bisa saja berbuat lebih dari itu.
Tapi dia tidak boleh terbuai saat ini.
Biarpun Zeno playboy, dia tidak akan meniduri wanita sembarangan, dia punya harga diri. Harus melakukan itu dengan wanita yang benar-benar dia cintai dan paling tepat untuknya.
Terlalu dini bagi mereka melakukan hal yang lebih.
Dengan kekuatannya, Dia mendorong Tasya dan membalikkan posisi mereka.
“Zeno...”
“Maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi hasratmu, aku terlalu muda untuk melakukannya, jika kakak terus seperti ini, aku bisa memutuskan hubungan ini kapan saja, kakak hanya menginginkan tubuhku, bukan aku, iya kan?”
Setelah itu Zeno pun beranjak dari sana, kemudian berjalan gontai, keluar dari kamar Tasya.
Namun kemudian Tasya ikut turun, lalu memeluk Zeno dari belakang.
“Jangan pergi!”
“Maaf aku harus pergi, kamu bisa menganggapku lelaki yang buruk karena meninggalkanmu disini, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu, dan aku tahu kamu tidak tulus denganku, hubungan ini toxic, jadi sepertinya kita akhiri saja.”
“Tidak mau! Kau bilang kau tidak akan meninggalkanku, kau bilang kau akan membantuku keluar dari masalahku, tapi apa? Kau malah meninggalkanku!”
Zeno melepaskan pelukan Tasya, lalu berbalik, dia mengangkat tangannya untuk mengusap air mata yang lolos keluar dari kedua mata yang indah itu.
“Jangan menangis, kamu akan segera keluar dari jeratan ayahmu, jadi tunggulah dengan sabar.”
“ZENO!”
Zeno tidak mau menoleh lagi, di buru-buru pergi sebelum orang-orang di rumah itu curiga dengannya.
Zeno sengaja mengatakan untuk meninggalkan Tasya, dia ingin menghindari Harjuno setelah itu, setelah mengambil semua bukti-bukti, agar mereka tidak curiga padanya. Begitu pikir Zeno.
Sementara itu Tasya tetap di kamarnya, duduk di atas ranjang dengan gelisah.
“Bagaimana ini? Jika Zeno pergi... sepertinya aku harus minta maaf, hanya Zeno yang bisa membuatku lepas dari papa, apa jangan-jangan ada perempuan yang menggoda Zeno? Aku harus cari tahu!” Tasya pun meraih ponselnya, kemudian menelfon seseorang.
“Hallo? Bisa kah kita bertemu? Iya, sekarang!”
***
(Selamat! Zeno naik ke level 14!)
__ADS_1
(Ada hadiah skill yang bisa dipilih, hanya boleh memilih dua skill)
Zeno baru saja bangun dari tidur panjangnya, dia sengaja meminum ramuan tanpa mimpi agar tidur nyenyak segera setelah makan malam dan mengerjakan PR. Zeno bahkan menolak Arvin atau Aslan untuk mengganggunya.
Semua bukti-bukti kejahatan Harjuno sudah Zeno serahkan pada Om-nya, yaitu Om Lino. Karena Zeno tidak ingin Harjuno atau Tasya tahu dia yang mengambil bukti-bukti itu, maka harus orang lain yang lebih dewasa dan mampu untuk mengerjakannya.
Zeno meminta tolong Om Lino, karena sudah kesepakatan dari awal, yang menanganinya adalah Lino. Sementara Zeno hanya boleh mencari bukti, dan yang membantu Zeno hanyalah Arvin.
Lino saja terkejut karena Zeno bisa mendapatkan barang bukti dengan cepat, semuanya sesuai dengan ucapan Zeno.
Lalu, Arvin juga sudah mendapat bukti di lapangan, dia pura-pura menjadi orang lain untuk memesan anak dibawah umur untuk menemaninya minum lewat Harjuno, dan ternyata itu benar adanya.
Arvin tidak menyentuh gadis umur 10 tahun yang dibawa, dia hanya melepas gadis itu dan membawanya ke panti Asuhan yang lebih bagus.
Berkat gadis itu, mereka juga mengetahui jika ada panti asuhan yang biasa menangkap anak-anak kecil yang cantik atau tampan, dirawat dengan baik, lalu jika ada permintaan, mereka akan dikirim.
Menurut si gadis kecil, beberapa anak yang telah dikirim, ada yang tidak kembali, ada pula yang kembali tinggal nama, ada yang kembali tapi menjadi stress, gila dan trauma.
Harusnya pagi ini Arvin dan Aslan pergi ke panti itu untuk menggrebeknya.
Zeno tidak ikut, dia harus sekolah, malah ada ulangan penting.
Itulah kenapa Zeno tidak mau diganggu semalam, dia berusaha untuk tidur lebih berkualitas, agar bisa menerima pelajaran dengan baik.
Zeno sudah tidak bodoh seperti dulu, dia akan malu pada Aslan dan Xeon yang pandai itu, dia ingin membuktikan jika dia sudah lebih pintar dan bisa mendapat nilai yang baik.
Semoga ada skill yang berguna untuknya di bidang pelajaran.
“Baiklah, skill apa saja yang bisa ku pilih, tunjukkan semuanya.”
Menguasai sihir elemen air, api, tanah dan es)
Menguasai senjata sihir)
Menguasai sihir mengendalikan binatang dan monster)
Menguasai sihir teleportasi)
Asisten serba bisa yang luar biasa)
(Ingat, Zeno hanya boleh memilih dua skill)
Zeno pun melongo dibuatnya.
Apa-apaan semua skill yang tidak berguna di dunia moderen itu?
“Apa gak ada skill pandai matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, begitu? Ayolah!”
(Itu semua skill yang bagus, bukankah Zeno ingin mendapatkan banyak uang? Zeno bisa pergi ke dunia lain, mencari uang emas yang banyak dan menukarkan uang itu lewat sistem dengan uang dunia Zeno, pasti akan dapat banyak!)
Jualan di dunia lain terdengar sangat menggiurkan bagi Zeno.
“Kalau begitu aku memilih tiga skill saja.”
(Kenapa malah ditawar sih?)
“Kau tidak suka? Harusnya hadiah itu gak nanggung dong...”
__ADS_1
(Baiklah sistem berikan tiga pilihan, tapi ajak Aslan ke dunia lain ya?)
Zeno mengernyitkan dahinya, “kalo Aslan tahu tentang itu –”
(Kau tidak percaya dengan saudaramu sendiri?)
“Kenapa kau mau Aslan datang? Itu sangat mencurigakan, kau menyukai Aslan! Ingat ya, kau itu sistem, Aslan bukan plankton yang mencintai komputer!”
(Zeno sangat berlebihan! Kami menyukai Aslan, tapi tidak dalam konteks cinta, apa-apaan itu!)
“Kalau kau menyukainya kok gak dia aja yang dikasih sistem?”
(Zeno ngambek ya?)
“Iya!”
Krieekkk!
Zeno buru-buru menutup mulutnya, lalu menoleh pada pintu, kemudian dia menghela nafas lega melihat Citra yang datang. Gadis itu mengenakan gaun tidur motid beruang dan apron putih berenda, rupanya habis membuat sarapan.
“Zeno, kamu bicara sendiri?” tanya Citra.
“Hahaha, enggak, aku tadi nelfon temen, kenapa?”
Citra menggeleng pelan, “enggak, Zeno harus cepet sarapan dan mandi, Zeno harus sekolah kan? ada kak Travis yang akan mengantarkan Zeno sekolah.”
Zeno mengangguk, “baiklah, aku akan mandi dulu lalu turun ke bawah ya?”
“Oke!”
Citra kelihatannya sudah lebih ceria, mungkin karena Arvin sudah sedikit menerimanya, Arvin sudah baik pada Citra, tidak seperti sebelumnya.
(Jadi pilih mana?)
Zeno diam berpikir, menatapi semua pilihan sulit itu, dia bingung, mana yang bagus bagi dirinya.
“Pertama-tama, yang asisten itu sangatbaik bagiku, dia bisa dipercaya untuk mengurusi bisnis online ku kan? aku membutuhkannya, kalau bisa laki-laki saja ya, biar gak ribet.”
(Baiklah, Asisten akan dikirimkan, tinggal dua lagi.)
“Apa ya? Aku bingung dengan sihir-sihir itu, cahaya itu untuk apa? Kegelapan apa? Lalu elemen yang lain itu gimana?”
(Tinggal pilih saja, nanti juga Zeno mengerti.)
Sistem tidak membantu sama sekali, padahal Zeno sungguhan tidak paham.
“Kalau begitu aku pilih cahaya dan kegelapan, lalu yang teleportasi itu bagus juga, lalu...”
(Sudah tiga! Tidak boleh serakah, nanti sisanya akan ku berikan pada Aslan saja)
“APA?”
(Kenapa?)
“Kok dia dikasih?”
(Suka-suka aku dong! Aslan kan bagian dari diri Zeno juga, kenapa Zeno pelit?)
“Gak gitu – ah, udahlah, aku mandi dulu, jangan ganggu aku.”
(Siapa juga yang ganggu Zeno? Cih!)
.
.
__ADS_1