
.
.
Orangtua Jaka sangat antusias dengan ide Zeno untuk membeli tanah mereka, kemudian tanah tersebut dijual dengan harga yang bagus. Dengan begitu mereka memiliki uang yang cukup untuk membeli toko, agar mereka bisa menjual buah-buahan di toko mereka sendiri, selain itu mereka juga bisa membuka lowongan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar sana yang sedang mencari pekerjaan, terutama anak-anak muda lulusan SMA tau SMK yang belum memiliki pekerjaan.
Memang pekerjaan itu sangat sulit bagi anak-anak muda, apalagi sekarang banyak orang yang memberi lowongan, tapi syarat-syaratnya tidak masuk akal. Harus dibawah umur tertentu, harus bisa bekerja dibawah tekanan, harus berpenampilan menarik bla bla bla, banyak sekali syaratnya, padahal gaji tidak seberapa.
Sebelum lulus SMP, Zeno sendiri sudah mencari informasi tentang bekerja itu, karena dia kemungkinan bisa masuk SMA waktu itu agak sulit, bisa jadi dulu dia akan langsung bekerja kan? saat mencari informasi dan melihat semua syarat-syarat itu, Zeno shock duluan.
Itulah kenapa Zeno semangat sekali berjualan, karena akhirnya dia bisa memiliki pekerjaan sendiri. Dan sekarang, melihat Jaka dan orangtuanya membuka toko, Zeno jadi ingin membeli toko juga di Jakarta.
Untuk memberikan lowongan pekerjaan bagi orang-orang, mereka bisa menjual barang-barang Zeno secara offline.
Rencana itu masih Zeno simpan dahulu sampai mereka kembali lagi.
Untuk saat ini, karena Zeno sudah membeli tanah tandus tersebut, Zeno pun membicarakannya dengan Jaden, Aslan dan Ibu-ibu panti.
“Jadi begini, karena tanah tersebut akan dipindah namakan atas panti asuhan ini, dan karena tempatnya juga dekat sekali dengan panti, saya ingin tanahnya dikelola oleh anak-anak juga, misalnya digunakan menjadi lahan hidroponik, karena tanahnya juga tandus, sulit tanami, atau mungkin dijadikan taman bermain. Pasti sangat menyenangkan, lalu sekeliling tanah bisa dibangun pagar, tidak takut dengan hutan di sebelahnya, bagaimana?” ucap Zeno.
“Aku sangat setuju!” sahut Aslan.
Luna dan Citra yang duduk di sekitar sana sambil memakan anggur merah hanya mengangguk-angguk saja, mereka tidak ikut berdiskusi, tapi tetap mau mendengarkan.
“Kami juga sangat setuju, itu ide yang bagus... tapi bagaimana dengan biaya nya?” tanya salah satu ibu panti, yaitu Bu Mina.
“Bu Mina jangan khawatir, ada yayasan yang bisa mengurusinya, kami akan mempekerjakan tenaga ahli untuk mengurusinya, lalu agar kalian bisa belajar hidroponik dan cara merawatnya juga akan kami utus ahli untuk mengajari kalian. Lalu, menurut ku lebih baik tempat itu dibagi dua, ada taman bermain di depan, lalu tanaman hidroponik di belakang, lagipula itu tanah yang sangat luas” ucap Jaden.
“Kami akan menyerahkannya pada kalian, kami tidak terlalu paham dengan hal itu” sahut Bu Sum.
“Oh iya, tentang Citra bagaimana?” tanya Luna, sepertinya dia senang sekali sejak Aslan dan Zeno mengatakan jika mereka akan membawa Citra saja ikut ke kota.
Luna juga sudah sangat dekat dengan Citra, seperti anak sendiri.
“Kita bisa menjadi walinya untuk sementara, apa Citra tidak keberatan? Jujur saja, dirumah sepi tidak ada anak perempuan karena sudah menikah, tapi aku takut Citra tidak nyaman tinggal dengan beberapa anak bujang” ucap Jaden, sambil melirik kedua putranya yang diam saja. sebenarnya Jaden agak terkejut karena pulang-pulang, Aslan dan Zeno mengusulkan hal itu. Jauh dari bayangan Jaden dan Luna, tapi mereka tidak membenci saran itu, malah Luna kelihatannya senang sekali.
“Jangan khawatir Pa, nanti mama ajak Citra ke butik atau ke salon, agar dia tidak kesepian, pasti Citra senang sekali kan? kita bisa jalan-jalan disana, pergi ke cafe...” sahut Luna.
Memang Luna memiliki salon sendiri, warisan dari neneknya. Luna berasal dari keluarga konglomerat juga, jadi semua saudara diberi bagian sendiri-sendiri, Luna mendapat salon, lalu butik itu milik keluarga Jaden, karena Luna merupakan seorang desainer fashion, jadi dia yang paling tepat untuk meneruskan butiknya.
Itulah kenapa Luna sibuk sekali bekerja, pekerjaannya banyak.
Bisa dibilang, sifat suka bekerja Zeno itu menurun dari ibunya, Luna sendiri punya sifat itu keturunan dari ayahnya.
__ADS_1
Sudah turun temurun.
“Kalian terlalu baik,” ucap Citra malu-malu.
“Tidak perlu sungkan, kamu bisa tinggal bersama kami selama yang kamu inginkan” sahut Aslan.
Pembicaraan itupun berakhir karena sudah waktunya makan malam.
Seperti biasa, Zeno membantu ibu-ibu panti di dapur, Jaden juga membantu mereka.
Sementara Luna dan Aslan membantu Citra untuk bekemas.
Mereka akan pulang esok hari, di pagi-pagi buta. Tidak mungkin mereka berlama-lama disana, karena Zeno juga harus sekolah, Citra juga harus sekolah atau home schooling saja, agar tidak terlalu banyak ketinggalan pelajaran.
***
“Kamu lagi ngapain sih?” tanya Aslan, dia melongok melewati bahu Zeno untuk melihat apa yang kembarannya sedang lakukan dengan ponselnya.
Saat itu mereka dalam perjalanan pulang yang panjang, yaitu menggunakan mobil van.
Jaden bilang, mereka tidak akan mempir di Yogyakarta seperti sebelumnya, tapi terus jalan, mereka baru berhenti di Tasikmalaya. Mereka berangkat pagi-pagi sekali, sekitar jam empat pagi, lewat jalan tol.
Karena perjalanan yang panjang itu, Jaden bergantian dengan pak supir untuk mengemudikan mobil. Sementara Luna dan Citra di tengah sudah ketiduran setelah mereka mengobrolkan banyak hal.
Jadi, Zeno memutuskan untuk melihat-lihat toko yang bisa dia beli di sekitar Jakarta Selatan.
“Aku jadi pengen buka toko sendiri, kayaknya lebih baik aku punya toko offline gitu, misalnya satu di Jakarta pusat, satu di Jakarta selatan, satu di Jakarta Utara, Bekasi... tapi kayaknya buka di sekitar rumah dulu, ini ada beberapa toko yang dijual, tapi aku kurang sreg ya” ucap Zeno, dia pun menunjukkan beberapa pilihan toko yang ingin dia beli lewat aplikasi toko sistem di ponselnya.
“Hmm, kamu pilih yang lokasinya sesuai aja, gak jauh-jauh amat, dekat dengan pusat perbelanjaan, tapi sebenernya lokasinya dimana aja gak masalah, kita bisa promosiin di medsos kan? tokomu sudah cukup terkenal di medsos, kalau mereka tahu bisa membeli di toko offline, mereka pasti dateng dimanapun itu” ujar Aslan, dia juga melihat-lihat toko.
“Iya sih, ada beberapa bangunan yang aku suka, tempatnya bagus dan luas, tapi kayaknya terlalu gede deh” ucap Zeno, lalu dia menunjukkan bangunan yang dia maksud.
Aslan pun melotot melihatnya, “bro, ini bukan toko lagi, ini gedung perkantoran! Satu gedung!”
“Ta-tapi lokasinya bagus... di pusat kota juga!”
“Uangnya nyampe gak? Aku tahu uangmu ada miliaran, tapi –”
“Uangku nyampe kok, jangan khawatir, aku bisa membeli satu gedung, ini deket juga kan sama kantor mu” ucap Zeno.
Aslan tahu, Zeno bahkan bisa membeli gedung kantor yang sedang Aslan gunakan, bahkan beberapa tempat disewa untuk kantor orang lain. Jelas Zeno mendapat pemasukan dari sewa, tapi gedung yang Zeno bilang itu jauh lebih besar dan lebih mewah dari gedung kantor Aslan.
Kadang Aslan pusing dengan kembarannya, dapat uang dari mana saja dia? Pemasukannya sebulan tidak masuk akal bagi anak SMA.
__ADS_1
Dalam tingkatan itu, sepertinya Zeno sudah tidak butuh sekolah, kan?
Tapi, Aslan bangga juga dengan Zeno, dia benar-benar pekerja keras.
“Gedungnya lebih bagus dari kantorku lho...” gumam Aslan.
“Kalo kamu mau bisa pindah kita, yang lama di sewain aja, ada banyak pengewa yang ngantri, aku bahkan harus menolak beberapa – ah, maksudku Raihan, dia ngurusin itu, aku gak ada waktu buat ngurusin penyewa” ucap Zeno. Memang dia mempekerjakan Raihan, temannya, jadi jika ada orang yang ingin menyewa kantor, bisa menghubungi Raihan, nanti Raihan yang mengatur, tapi Raihan bilang sudah tidak bisa menerima penyewa lagi, padahal peminatnya banyak.
“Iya, aku ngerti... tapi – kayaknya emang lebih baik pindah aja ke tempat yang lebih mewah ya? Ya udah beli aja.”
Zeno menatap Aslan dengan tatapan datar, memang kembarannya tidak mau ribet dan seenaknya sendiri.
“Tapi kali ini digedung baru, aku tidak akan menyewakannya” ucap Zeno, Aslan menoleh lagi padanya, “kenapa emangnya?”
“Ada beberapa lantai kan? nanti beberapa diantaranya bisa digunakan untuk tempat tinggal bagi karyawan, kau tahu kan? beberapa karyawan aplikasimu ngekos, dan harganya itu lumayan tinggi, jika ada tempat khusus untuk mereka, asrama di dalam gedung, mereka akan lebih nyaman, jadi uang gaji mereka tidak perlu habis untuk kos, aku kasihan melihat yang datang dari luar kota” ucap Zeno.
“Aku juga mikir gitu sih sebenernya, sebenernya mau ku bayarin aja kos mereka, atau ku beliin rumah untuk kos, tapi di dalam gedung boleh juga, apa itu gak masalah, Zen?”
“Nanti bisa diatur, gedungnya kan gede banget tuh, lebih baik asramanya di lantai yang paling tinggi aja, jadi nanti yang bisa masuk khusus karyawan aja gitu, kita bisa mempekerjakan petugas keamanan.”
“Kamu ini lagi pengen ngasih banyak pekerjaan ya?”
Zeno mengangguk, “iya, aku cuma khawatir dengan tingkat pengangguran yang tinggi, dan sulitnya mencari pekerjaan, banyak orang-orang berkualitas yang kalah dengan orang dalam, akhirnya tersingkirkan.”
“Kamu bahkan mikir jauh sampe sana, kamu bukan Zeno polos yang dulu pertama kali ku temui” ucap Aslan.
“Aku kan tumbuh dan berkembang, sekarang uangku banyak, jadi aku ingin mewujudkan keinginanku untuk membantu orang lain.”
Karena Zeno berbeda dari yang lain, dia memiliki sistem, sedangkan orang lain tidak, jadi sebisa mungkin, Zeno akan membuat orang-orang yang kurang beruntung untuk mendapatkan pekerjaan yang layak untuk mereka.
“Aku bangga banget sama kamu, makasih kamu udah dateng setelah sekian lama menghilang” ucap Aslan.
“Hahaha, apaan sih!”
Aslan menyandarkan kepalanya di bahu Zeno, dia sudah mengantuk sekali.
“Aku serius, dulu aku pengen banget punya kembaran kayak kak Arvin dan Kak Aileen, setelah papa bilang kembaranku udah meninggal, aku sedih banget, aku pikir, kenapa dia harus meninggal? Terus, aku juga gak punya adek kan? sedih banget rasanya, tapi abis itu kamu dateng, aku seneng banget, Zen...”
Zeno menunduk menatap Aslan, ternyata sudah tertidur.
“Oke, tapi bahuku pegal tauk.”
.
__ADS_1
.