
.
.
Zeno sudah pasrah dibawa oleh kakaknya Aslan menuju tempat pertemuan. Arvin menjelaskan apa yang sedang terjadi, dan pertolongan apa yang dia inginkan dari Aslan, yang sebenarnya adalah Zeno. Jadi, sepertinya Aslan itu jago meyakinkan orang lain. Zeno tidak heran juga sih, karena pada kenyataannya Aslan pandai bicara.
Namun, tidak dengan Zeno.
Zeno tidak pandai bicara pada orang lain, apalagi meyakinkan orang. Mengatakan jika dia bukan Aslan saja, dia sungkan.
“Jadi, kita memiliki calon investor, dia tidak percaya jika produk kita itu sangat indonesia, dia berpikir produk kita meniru produk negara luar. Padahal ice cream klepon dan ketan hitam itu Indonesia banget, kamu ngerti kan, dek? Kita juga punya ice cream kelapa kopyor dan lain-lain, investor kita sangat sulit untuk diyakinkan... menyebalkan sekali, aku benci dia!”
Zeno mengernyitkan dahinya, berusaha memahami apa yang terjadi, tapi dia tidak paham-pahan juga dengan apa yang Arvin ucapkan.
Sampai kemudian, mereka tiba di tempat pertemuan, ada tante-tante cantik, seksi dan terlihat mahal sedang disuguhi berbagai sample ice cream produk perusahaan terbaru.
Entah kenapa, ucapan Arvin sudah tidak terdengar, yang menjadi fokus Zeno adalah... sepertinya ice cream itu sangat enak.
Zeno ingin mencobanya.
(Jika Zeno berhasil membuat tante itu berinvestasi, Zeno akan mendapatkan saldo tambahan!)
Mata Zeno langsung terbangun, dia tidak boleh salah fokus!
Sadar Zeno! Ada uang yang sedang menunggumu!
“Aslan, kenalkan ini Jenni Jung, calon investor kita, dan kak Jeni, ini adikku, Aslan.”
Tante bernama Jenni tersebut menoleh pada Aslan sebentar, lalu dia tersenyum dan mengulurkan tangan mungilnya yang halus dan lentik.
“Saya Jeni, tante nya Sunghun, kamu mungkin lupa sama tante, Aslan... kamu makin ganteng aja ya? Sampai mana kita tadi – oh, aku tidak bisa berinvestasi, karena produk yang ini mirip sekali dengan mochi! Di Korea juga banyak yang seperti ini, tidak mungkin yang ini bisa menjadi ice cream varian Indonesia, orang-orang Korea akan tahu jika produk ini sama dengan makanan setempat!”
Untunglah kali ini Zeno bisa mengerti jika tante Jenni tersebut, sepertinya akan menjual ice cream varian Indonesia ke Seoul, karena ada cabang Royal grup disana juga. Lalu, tante Jenni mengira produk tersebut adalah mochi.
Astaga, memang tampilannya mirip.
“Maaf tante Jenni, boleh saya bicara?” tanya Zeno dengan sopan.
Arvin terkejut mendengarnya, sejak kapan adiknya yang kurang sopan itu tiba-tiba bertingkah manis?
“Iya, nak... katakan saja.”
“Apa tante belum pernah merasakan jajanan lokal kami? Namanya klepon, beberapa daerah memanggilnya onde-onde, itu sangat enak! Isinya adalah gula merah, memang mirip dengan mochi, tapi klepon adalah jajanan lokal disini. Anak-anak sangat menyukainya, mudah didapat dan murah, saya sendiri juga sangat suka! Biasanya ada yang menjual klepon di dalam wadah kotak mika kecil berisi empat, harganya seribu rupiah, apa tante ingin merasakannya juga?”
Arvin dan Jenni terbengong mendengar penjelasan sopan dan manis dari Zeno.
“Oh, bo-boleh nak... apa kamu tahu dimana aku bisa membelinya?” tanya Jenni.
“Jika kleponnya enak, apa tante akan berinvestasi?” Zeno bertanya balik.
“Mungkin?”
“Kalau begitu, akan saya bawakan klepon hangat untuk tante, tunggu disini sebentar!”
Zeno pun berdiri lalu berjalan cepat mencari tempat sepi, setelah ada tempat sepi, dia segera membeli satu kotak klepon baru di toko sistem. Itu adalah produk dari salah satu toko kue modern, jadi kleponnya juga dibungkus dengan modern.
Dengan diskon 70%, harga klepon itu menjadi sangat murah, hanya tiga ribu rupiah saja.
Zeno tidak masalah membelikan klepon asal si tante senang dan lebih mengenal makanan Indonesia kesukaan Zeno dan anak-anak panti di desa.
“Maaf lama, silahkan di makan, tante, makannya langsung dilahap semuanya, tidak perlu digigit, karena ada cairan gula merah di dalamnya, iya – seperti itu... kak Arvin juga boleh makan!”
Arvin yang heran karena tidak mengerti dapat dari mana satu wadah klepon hangat itu. Arvin tahu itu dari toko mana, tapi seingat dia, tokonya lumayan jauh.
Baru saja Arvin mengulurkan tangannya ingin merasakan klepon juga, tangannya sudah ditampik oleh tante Jenni.
“Maaf Vin, kamu beli lagi aja sana! Ini buat tante semua, enak banget!”
“Tante bisa beli lagi, alamatnya ada di wadah itu, bisa dilihat” ucap Zeno.
__ADS_1
“Tante akan investasi sekarang juga!”
Zeno tersenyum lebar mendengarnya, akhirnya!
(Selamat! Zeno berhasil meyakinkan si tante, Zeno mendapatkan tambahan saldo sebesar 150.000.000)
Saldo besar muncul lagi! 150 juta! Keren!
Setelah proses selesai, tante pun segera pergi ke toko asal kue tersebut.
“Wah, Aslan! Makasih banget ya dek, kamu emang paling jago menghasut orang, nanti kakak kasih 200 juta, gimana?”
“Du-du-dua ra-tus?” tanya Zeno dengan terbata.
Arvin tersenyum lalu mengusak gemas kepala Zeno, “iya, dua ratus juta! Tumben kamu gak bilang itu sedikit?”
“SEDIKIT?”
Zeno pun shock karena ternyata Aslan menganggap dua ratus juta itu sedikit.
Aslan sudah tidak waras.
Arvin mengernyitkan dahinya, “dek, kamu kenapa sih? Aneh banget, kamu sakit demam?” Arvin menyentuh kening Zeno, tidak panas sama sekali.
“Suhu kamu normal kok, tapi kok kamu aneh banget hari ini?”
“It-itu...”
“Kak Arvin!”
Mereka berdua pun menoleh pada asal suara, terlihat seorang gadis cantik berjalan mendekati mereka.
“Dania, kenapa?” tanya Arvin.
“Enggak, Aslan mana? Katanya ada disini?” tanya gadis cantik itu, Dania.
“Kak Arvin jangan bercanda deh, itu bukan Aslan!” ucap Dania.
Zeno yang mendengar itu pun kagum, di saat ayah dan kakak Aslan saja tidak bisa membedakan Zeno dan Aslan, ada orang yang bisa mengatakan dengan tegas jika Zeno itu bukan Aslan.
Luar biasa!
“Dania, jangan bercanda deh, ini Aslan!”
“Gak usah ribut, aku ada disini...”
Wajah muram Aslan pun muncul, dia menoleh kesal pada Zeno, membuat Zeno merasa bersalah, karena dia meninggalkan Aslan sendirian di kantin.
“Aslan!” gadis bernama Dania itu pun memeluk lengan Aslan dari samping.
Sedangkan Arvin kini melongo saking terkejutnya.
“Aslan ada dua?”
***
Meski sempat ada gonjang-ganjing, Zeno pada akhirnya mendapatkan 350 jutanya. 150 juta dari sistem, 200 juta dari kakaknya Aslan, yaitu Arvin.
Arvin sempat tidak percaya jika Zeno semirip itu dengan Aslan, ternyata setelah disandingkan, Aslan lebih tinggi sekitar tiga atau lima centi meter. Karena Zeno tidak mau lebih pendek, dia pun meminum ramuan peninggi badan ajaib sebelum tidur.
Pagi harinya, Zeno hampir menjerit karena dia tumbuh melebihi dari yang dia inginkan. Beberapa waktu lalu, sebelumnya tinggi Zeno adalah 175 cm, setelah meminum ramuan pertama kali, berubah menjadi 182 cm, itu artinya bertambah sekitar 7 cm.
Menurut penjelasan produk, tinggi akan bertambah sesuai dengan kondisi tubuh, jadi jika sudah bertambah banyak, untuk konsumsi selanjutnya tidak akan bertambah banyak bahkan bisa tidak bertambah sama sekali. Setiap orang memiliki batas tumbuh masing-masing.
Zeno hanya berharap sedikit saja lebih tinggi.
Aslan memiliki tinggi 185 cm, jadi harapan Zeno hanya sekitar itu saja. Namun, siapa sangka jika tumbuhnya jadi 186 cm.
Zeno maunya sedikit dibawah Aslan, bukan sedikit diatasnya.
__ADS_1
Ya sudahlah, Zeno pasrah saja.
(Zeno, kenapa tidak membeli informasi lagi?)
Zeno heran sekali melihat layar sistemnya, dia bisa mengajukan pertanyaan tidak berguna juga.
“Untuk apa aku membeli informasi lagi?”
(Kau sudah mendapat 350 juta semalam kan?)
“Iya, dan akan aku tabung demi masa depan yang cerah dengan investasi! Aku akan membeli saham Royal group!” ucap Zeno bersemangat, mumpung dia sendirian di rumah, karena Kevin belum pulang.
(Tidak, maksud sistem, apa kau tidak mau tahu siapa orangtua kandungmu?)
Zeno tersenyum tipis, “tidak untuk saat ini, aku sekarang ingin bersenang-senang dan berdiri dengan kaki ku sendiri, jika aku sudah siap, aku akan mencari tahu, jangan terlalu khawatir, selama ini aku baik-baik saja tanpa orangtua, iya kan?”
Begitulah alasan Zeno, dia sungguh berpikir seperti itu.
Sampai kemudian, disekolah mengadakan festival untuk memperingati hari ulangtahun sekolah, dan Zeno mendapat undangan untuk orangtua.
Teman-teman sekelas Zeno semuanya ribut membicarakan jika mereka akan mengundang orangtua dan saudara mereka. Semuanya terlihat senang.
Zeno juga pernah mengalami yang seperti itu, seperti misalnya saat hari pembagian raport. Guru-guru selalu berkata agar orangtua harus datang, saat itu pasti Zeno akan sedih.
Zeno pikir, dia sudah lebih dewasa, dia tidak akan sedih untuk hal-hal tidak berguna seperti itu.
Tapi, bagaimana pun juga, dia belum dewasa.
(Zeno sungguh tidak mau mencari orangtua Zeno?)
“Tidak!”
Saat itu, Zeno pergi ke atap gedung sekolah dan menyendiri, tenggelam dalam kesedihannya sendiri.
(Kenapa Zeno sangat keras kepala?)
“Diam!”
“Zeno!”
Zeno menoleh pada asal suara, dia melihat dua gadis yang sangat cantik berjalan menemuinya. Salah satu gadis itu adalah teman satu kelasnya, yang entah kenapa tumben sekali sangat baik, meski Zeno tidak terlalu mengenalnya, wajahnya terasa asing, tapi juga familiar di saat bersamaan.
Lalu, yang satunya lagi mirip Bella.
Mungkin hanya perasaan Zeno.
“Kalian siapa? Kenapa kemari?” tanya Zeno.
Kedua gadis itu terkejut mendengar pertanyaan aneh Zeno.
“Zen, ini aku Sellya, ini Bella, kok kamu gak ngenalin kita sih?”
“Kalian... kenapa berubah?”
“Kau yang memberi kami barang-barang ajaib, Zeno!” Bella yang tidak sabaran pun menjewer telinga Zeno agar bocah itu sadar.
“Adu-duh! Sakit, Bell!!”
“Udahlah, Zeno, kamu suka berbisnis kan? aku ada bisnis baru untukmu, terkait dengan festival ini, mau gak?” tanya Sellya.
Uang!
Zeno pun mengangguk dengan semangat, kesedihan yang tadi pun menghilang dengan cepat, “mau!”
(Dasar Zeno!)
.
.
__ADS_1