
.
.
Harris melongo melihat semua berlian yang Zeno keluarkan, semuanya kualitasnya sangat bagus, sangat indah.
“Bagaimana, Om?” tanya Zeno.
Harris mengangguk-angguk senang, “aku dengan senang hati bekerjasama denganmu, aku juga akan memberikan harga yang bagus karena kualitas berlian milikmu juga tidak main-main, hanya ini yang kamu punya?” tanya Harris.
Zeno menggeleng pelan, “sebenarnya saya memiliki lebih banyak Om, saya juga bisa membawakannya sesuai permintaan, selain berlian juga ada emas dan perak, tapi semuanya belum diolah.”
“Tidak masalah Zeno, aku memiliki pabrik perhiasan sendiri, anakmu sangat menarik, Jaden... tidak ada yang gagal,” ucap Harris.
“Menurutku, tidak ada anak yang gagal, jika anak itu tumbuh menjadi orang brengsekpun, itu adalah kegagalan orangtuanya,” sudah tidak bisa diragukan betapa bijaknya kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya Zeno ini.
Pada akhirnya, kesepakatan yang bagus didapatkan, Zeno akan diberi harga sesuai kualitas. Tapi karena kualitas berlian miliki Zeno juga sangat tinggi, maka harganya juga tinggi.
Awalnya Zeno pikir dia akan mendapat harga sekitar 500 sampai 700 jutaan, tapi ternyata Harris memberi harga satu miliar tiap satu berlian. Melihat dari ekspresi Harris, sepertinya berlian itu bisa dijual lebih dari harga yang diberikan pada Zeno. Itu tidak masalah, karena Zeno juga menjual berlian yang belum diapa-apakan, jika Harris menjualnya lebih mahal itu bisa dimaklumi, karena dia yang akan mengolahnya.
Lagipula, 50 ribuan menjadi satu miliar itu kan sudah belebihan, Zeno bukan orang yang rakus.
Setelah mengobrol sebentar dengan Dominique Harris, Aslan dan Jaden pergi ke undangan makan malam di rumah Harjuno.
Entah mengapa, Zeno jadi gugup sendiri, rumah Harjuno itu besar sekali seperti istana, lebih besar dari rumah Jaden, tapi tidak lebih besar dari mansion keluarga Raynold.
Zeno dan Jaden disambut oleh maid dan butler yang berjejer, kemudian Tasya pun datang dengan dress warna lylac yang simple namun terlihat sangat cantik.
Awalnya Tasya agak takut dengan Jaden, mengingat dia ditolak oleh Luna dan Arvin. Namun, setelah tahu Jaden tidak menolaknya, Tasya mulai terlihat ceria lagi.
Mereka tiba di tempat makan duluan sebelum Harjuno, lalu Tasya mengatakan ayahnya sedang bersiap-siap.
Zeno heran, Tasya yang hidup di tempat sebesar itu, tidak pernah merasakan kebahagiaan. Tapi kemudian Zeno mengingat lagi burung milik salah satu tetangga di panti dulu, tetangga itu rumahnya cukup besar, bisa dibilang orang kaya disana. Tuan rumah memelihara beberapa burung sebagai koleksinya, tapi kemudian ada satu burung yang meninggal, padahal dia dimasukkan dalam kurungan paling mahal.
Bisa jadi, Tasya seperti itu.
Bagi Zeno yang tidak pernah mendapat kemewahan dari kecil, mendapatkan uang adalah kebahagiaannya. Tapi, bagi orang kaya yang sudah terbiasa hidup nyaman seperti itu, kesenangan mereka pasti beda lagi. Bisa jadi, pergi jalan-jalan ke sawah dan melihat pemandangan dari atas bukit itu jauh lebih membahagiakan bagi mereka.
Saat Harjuno datang, seperti sebelumnya, dia menjadi sangat ramah, berbanding terbalik dengan apa yang Zeno ketahui tentangnya. Zeno sangat mempercayai sistemnya, jika sistem bilang dia orang jahat, maka dia orang jahat.
Jika Tasya tidak pernah bahagia menjadi anaknya, itu artinya dia memang ayah yang buruk.
Zeno memang sengaja membawa Jaden dan bukan Arvin atau Luna. Itu karena Jaden itu orangnya ramah, baik dan postif vibes, dengan begitu Harjuno tidak akan waspada. Jika saja yang Zeno bawa itu Arvin atau Om Lino, itu akan sangat berbahaya.
Namun, Zeno tahu, meski Jaden kelihatan baik begitu, Jaden itu kuat.
Luna pernah bercerita tentang awal-awal pernikahannya dengan Jaden, Luna itu lebih tua dari Jaden sekitar tujuh tahun, tapi Jaden memaksa sekali untuk menikahi Luna. Perlahan-lahan, pikiran Luna tentang Jaden berubah drastis, karena Jaden tidak selemah kelihatannya.
Orang seperti Harjuno itu berbeda, dia jahat, pikirannya buruk, sifatnya buruk, tapi dia bisa membangun image yang baik di depan masyarakat, agar sifat buruknya tidak tercium.
Bagi Zeno, tidak ada kebaikan bagi orang laki-laki dewasa yang mengeksploitasi anak-anak dibawah umur demi kepuasan peribadi atau keuntungan.
Zeno akan berusaha membawa Tasya keluar dari ayah red flag seperti Harjuno.
“Jadi, kau ingin Tasya menjadi brand ambassador produkmu? Ku dengar produkmu sekarang sedang viral, itu akan bagus bagi reputasi Tasya, jika orang-orang tahu dia menjadi BA produkmu, ucapan orang tentangnya akan pudar dengan sendirinya” ucap Harjuno.
__ADS_1
“Benar, itulah yang saya inginkan, lagipula kepopuleran kak Tasya sedang saya butuhkan untuk meningkatkan penjualan, saya bisa membayar kak Tasya dengan bayaran tinggi, jadi anda tidak perlu khawatir” ucap Zeno.
Harjuno tersenyum miring menatap Zeno, kemudian pada Jaden yang terlihat sangat tenang.
“Bagaimana ini tuan Raynold, sepertinya kita akan menjadi besan di masa depan” ucap Harjuno pada Jaden.
Jaden tersenyum, lalu menoleh pada Tasya, “tidak masalah, Tasya juga sangat manis... pasti menyenangkan memiliki perempuan semanis Tasya menjadi menantu keluarga kami” ucap Jaden.
“Saya dengar, putra keluarga Averdo adalah menantu anda, yang seorang produser musik tersebut, pemilik saham terbesar di Gems ent” Harjuno berusaha membangun obrolan yang bagus diantara mereka, tapi yang Zeno lihat, Harjuno sedang mengorek informasi, pasti ada yang dia inginkan.
“Benar, Travis adalah menantuku, dia dan putriku menikah muda, dan aku juga berharap putraku yang lain juga menikah muda, karena pacaran dalam waktu lama itu tidak baik. Saya dengar anda juga sempat memiliki saham di Gems ent, tapi sepertinya anda jual kembali” sahut Jaden.
“Iya, ada beberapa pertimbangan – anak-anak, jika kalian selesai makan, kalian bisa pergi bersenang-senang sendiri, aku dan Raynold akan berbincang disini” ujar Harjuno, jelas dia mengusir Zeno dan Tasya agar tidak mendengarkan obrolan mereka.
Padahal Zeno tidak menganggu, dia ingin tahu apa yang Harjuno bicarakan dengan ayahnya.
Terpaksa Zeno mengajak Tasya pergi.
“Zeno mau lihat kamarku?” tanya Tasya saat mereka sudah pergi dari meja makan.
Zeno sudah kenyang, semua makanan yang disajikan kebetulan khas Turki dan Italy, semuanya enak jadi Zeno ingin mencicipi semuanya sampai kekenyangan.
“Boleh... aku ingin tahu kamar perempuan seperti apa” ucap Zeno.
“Kalo gitu, ayo!” Tasya pun menyeret Zeno untuk menaiki tangga.
Kamar Tasya pintunya warna putih dengan aksen pink, setelah dibuka, ternyata isinya luas sekali. Kamar itu bernuansa merah muda dan terlihat seperti apartemen dari pada kamar. Karena ada sofa dan televisi besar, belum lagi ada lemari pendingin, rak untuk menyimpan camilan, ranjang besar dengan kanopi, lemari berisi boneka-boneka lucu.
Zeno melihat boneka yang dia dapatkan di taman bermain ada di atas ranjang Tasya.
“Silahkan masuk... aku menatap sendiri kamarku, aku juga membersihkannya sendiri lho, tidak boleh ada orang lain yang masuk kamarku selain Zeno... jadi ini pertama kalinya ada orang lain masuk kamar, apa Zeno mau melihat walk in closetku?”
Tasya tidak menjelaskan, dia hanya menarik lengan Zeno untuk masuk ruangan lain yang ada di kamar Tasya.
Zeno melongo melihat ruangan yang sama luasnya tersebut. Isi ruangan itu adalah lemari-lemari besar yang didalamnya terdapat koleksi pakaian, tas, sepatu, aksesories, ada pula meja rias dengan rak kosmetik.
“Lihat itu! Aku juga beli produknya Zeno dan aku suka banget! Wajahku jadi lebih sehat dari sebelumnya... aku jadi gak perlu perawatan lagi” ucap Tasya, dia menunjuk krim wajah produk Zeno yang ada di rak kosmetiknya, ada sepuluh wadah krim wajah, sepuluh botol lotion, bahkan ramuan pelangsing pun ada disana, meski cuma lima botol.
“Padahal jika kak Tasya mau, aku akan memberikan gratis” ucap Zeno.
Tasya menggeleng, “tidak, aku membelinya karena aku ingin mendukung Zeno... hehe.”
“Kak Tasya, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Boleh, ayo kita duduk dulu!”
Tasya membawa Zeno keluar ruangan pakaian, kembali ke kamar dan duduk di sofa depan televisi.
“Zeno suka kopi, teh, atau susu?” tanya Tasya.
“Mungkin susu saja, tadi makanan terlalu pedas, jadi lebih baik susu” ucap Zeno.
Tasya mengeluarkan dua botol susu pisang, lalu memberikan salah satunya pada Zeno.
“Apa yang ingin Zeno tanyakan?”
__ADS_1
“Itu... aku ingin mengembalikan reputasi kak Tasya, jadi jika ada sesuatu yang terjadi dengan ayah kak Tasya, kakak hanya akan jadi korbannya, aku tahu kakak menderita dengan ayah kakak, dan ayah kakak memiliki bisnis gelap yang tidak bisa dimaafkan, apa kakak keberatan jika nanti ayah kakak ditangkap?” tanya Zeno.
Tasya menatap Zeno dengan tatapan serius dan bertanya-tanya, “Zeno tahu darimana bisnis gelap papa?”
“jadi kak Tasya sudah tahu itu?”
Tasya mengangguk, “iya... beberapa teman papa yang sama-sama orang dengan jabatan tinggi bahkan sering memintaku, tapi tentu saja papa tidak membolehkannya, meski papa jahat, dia masih melindungiku dan aku masih suci.”
Zeno mengernyitkan dahinya mendengar kata-kata ‘suci’ karena dia kurang paham.
“Maksudnya suci itu apa?”
Kemudian Tasya membisikkan sesuatu ke telinga Zeno, “maksudku perawan...”
Wajah Zeno seketika memerah karena malu, dia menyesal telah bertanya.
“Aku pikir, Zeno akan berpikiran yang tidak-tidak tentangku setelah penculikan itu, aku sebelumnya tidak tertarik dengan sesuatu yang sensual, tapi saat melihat Zeno aku berubah pikiran – maksudku, aku sangat menyukai Zeno. Saat papa tahu aku menyukai Zeno, papa senang sekali, lalu ingin memanfaatkanmu, maafkan aku karena ikut rencana busuk papa. Zeno jangan tertipu dengan tampilan papa yang baik di depan orang lain, papa itu dulu sering memukuliku tanpa sebab. Aku akhirnya tumbuh menjadi anak bodoh dan pengecut seperti ini.”
Pantas saja Tasya jadi aneh, dia tumbuh di lingkungan yang buruk untuk pertumbuhannya, apalagi dia sering dipukuli saat kecil.
Kemudian Tasya melanjutkan ucapannya, “Zeno, aku dulu berpikir, apakah semua keluarga seperti keluargaku? Karena setelah aku lihat, orang-orang terlihat bahagia diluar, mereka tertawa bersama, tapi aku juga begitu di depan orang lain, berusaha tertawa dan pura-pura bahagia. Tapi setelah lebih besar, aku mulai paham, jika kebanyakan dari mereka memang bahagia dengan keluarga mereka, Zeno beruntung memiliki keluarga yang baik.”
Zeno tersenyum tipis, kemudian meraih tangan Tasya dan menggenggamnya, “aku juga sempat menderita, kak Tasya ingat kan, jika aku dulu tahunya aku itu anak yatim piatu, tapi ternyata aku anak dari keluarga Raynold yang hilang... sejak saat itu aku mulai memiliki keluarga bahagia, kak Tasya juga bisa seperti itu.”
Tasya melepaskan tangan Zeno yang menggenggamnya lalu menggeleng, “kamu salah, aku hanya memiliki satu ayah, dan dia ayah kandungku!”
“Maksudku, kita bisa membuat keluarga bahagia sendiri, suatu saat kak Tasya akan menikah, dan ku harap kak Tasya bisa membuat keluarga bahagia kakak sendiri bersama suami kakak di masa depan.”
“Apa suami masa depanku itu Zeno?”
“Belum tentu –”
“Aku tidak mau jika bukan Zeno!”
Zeno hanya tersenyum melihat Tasya yang cemberut.
“Jangan begini, kita tidak tahu bagaimana masa depan, aku tidak akan mempermainkanmu, tapi apapun bisa terjadi di masa depan.”
Tasya tidak mengatakan apapun, dia mulai terlihat sedih, kemudian dia memeluk Zeno erat.
“Jika bukan Zeno, aku mungkin tidak bahagia.”
Zeno tidak tahu harus bagaimana, dia masih umur berapa juga, pengalaman tentang cinta juga nol besar. Jadi, dia hanya membalas pelukan Tasya.
“Kalau begitu, semoga kita berjodoh ya?”
Bukannya lebih tenang, Tasya malah menangis mendengarnya.
Astaga!
(Jangan mengatakan apapun, Zeno membuat Tasya semakin sedih)
‘Sistem sok tahu!’
(Sistem memang tahu!)
__ADS_1
.
.