Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Aplikasi pengukur ketulusan


__ADS_3

.


.


Selama ini, Zeno berpikir dia sudah lebih dewasa dalam menyikapi masalah, dia juga berpikir jika sudah menjadi manusia yang baik. Tapi ternyata dia hanya bocah naif yang berusaha menjadi baik. Kalian tau apa itu star syndrome?


Mungkin Zeno akan memilikinya segera jika saja dia tidak segera sadar.


Setelah ngos-ngosan bersepeda, akhirnya Zeno sampai juga di tempat tujuan. Zeno memakai hoodie dan menutupi kepalanya agar tidak dapat dilihat oleh orang lain, dia berpikir karena orang-orang mengetahui hubungannya dengan Tasya, mereka juga bisa mengenalinya dan itu tidak baik bagi dirinya.


Zeno hanya akan berkeliling mencari sesuatu yang mencurigakan, dia juga kemudian memeriksa map genius yang sudah upgrade lagi dengan fitur-fitur terbaru.


Zeno tinggal mengaktifkan mode aura untuk melihat apakah ada aura jahat di sekitar sana.


Hmm?


Kenapa ada aura jahat tapi dari artis lain yang ikut syuting dengan Tasya?


Artis itu adalah artis cantik yang lebih senior dari Tasya, namanya Vania, memang akhir-akhir ini namanya tidak terlalu dikenal, tapi beberapa tahun lalu dia sempat booming, sampai Zeno yang tidak pernah menonton TV di panti saja pernah mendengar namanya.


Tapi kenapa dia ingin mencelakai Tasya?


Kebetulan sekali syutingnya sudah selesai, Vania pergi pamit untuk ke toilet. Zeno diam-diam mengikutinya.


 Vania mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu menelfon seseorang. Zeno bergerak semakin dekat, untungnya Vania tidak sadar jika sedang diikuti.


“Aku akan melakukannya – aku udah gak peduli lagi! Si jal*ng itu manfaatin putra dari keluarga Raynold, makin kuat aja backingannya, gara-gara dia karirku makin redup – oke oke!”


Telfonpun selesai, meski tidak tahu percakapan keseluruhannya, Zeno bisa menyimpulkan jika Vania itu iri dengan popularitas Tasya, dia juga menganggap Zeno membantu Tasya semakin populer. Padahal Tasya sudah populer jauh sebelum kenal Zeno, Zeno hanya membantu membersihkan namanya saja.


Yang namanya manusia memang selalu mencari alasan untuk menyakiti orang lain, hanya karena iri dengki.


Setelah itu Vania mengeluarkan senjata dari tas kecilnya, berupa pistol kecil yang lucu, tapi tidak jadi lucu jika akan digunakan untuk mencelakai orang.


“Tasya harus lenyap dari muka bumi ini...” gumam Vania.


Setelahnya, wanita itu pergi mencari Tasya, lalu bersembunyi di tempat yang kira-kira tidak ada orang yang bisa menemukannya. Vania mencari celah untuk menembak Tasya dengan tepat dan akurat.


Saat wanita itu mulai mengeluarkan senjatanya, Zeno datang untuk menghentikannya dengan menahan dari belakang.


“Hei, lepaskan aku!”


“Tidak, kau ingin mencelakai Tasya kan?”


“Lalu apa masalahmu?”


“Kau akan dipanjera dan orang-orang akan semakin membencimu, bukankah sekarang karirmu sudah bagus, jangan gila!”


“Apa kau penggemarku?”


“Eh? Bukan...”


“Kalau begitu lepaskan aku!”


Dugh!


Ugh, curang! Si vania itu menendang sesuatu terlarang diantara kaki Zeno, membuat Zeno kesakitan dan melepas Vania begitu saja.


Zeno melihat Vania mulai mengarahkan pistolnya, tapi Zeno tidak menyerah, dia mendorong Vania ke samping.


DOR!


Teriakan kepanikan mulai terdengar kencang saat suara pistol tersebut keluar.


Zeno segera mengamankan Vania, mengikat kedua tangannya di belakang punggung, sementara pistolnya dia biarkan saja tergeletak. Jika Zeno pungut, takutnya ada sidik jari Zeno, nanti kacau.


Kemudian beberapa staff datang, Tasya juga ikut datang, mereka kelihatannya sangat shock.


“Apa yang terjadi?” tanya salah satu staff.


“Perempuan ini berusaha untuk menembak seseorang, aku yang kebetulan lewat hanya menghentikannya, kalian bisa memeriksa cctv, disana” ucap Zeno, kemudian menunjuk cctv yang tidak vania ketahui, Vania juga shock mengetahui ada cctv disana.


Vania tidak tahu saja, meski Harjuno melepas putrinya untuk ikut syuting dengan orang-orang, Harujo memiliki cara sendiri untuk menjaga putrinya, yaitu dengan memaksa orang-orang di sekitar lokasi yang memiliki gedung atau rumah atau toko untuk memasang cctv.


Semua biaya pemasangan juga ditanggung Harjuno, mereka malah senang sih.


“Zeno...” Tasya mendekat lalu mendekap lengan Zeno.

__ADS_1


“Kak Tasya ada syuting disini ya? Aku baru tahu lho, mau ku antar pulang?” tanya Zeno.


Tasya mengangguk senang.


“Tapi aku cuma memakai sepeda, kak Tasya gak masalah?”


“Aku gak masalah asal bareng sama Zeno.”


Saat itu Zeno lupa jika sepedanya tidak memiliki boncengan, dia baru sadar saat sudah sampai di tempat dia memarkirkan sepeda.


(Zeno berhasil menyelesaikan misi!)


(Hadiah kali ini sangat spesial, yaitu aplikasi pengukur ketulusan hati dan juga tiket menuju dunia lain)


Ini beda nih, biasanya uang hadiahnya. Tapi jujur saja, Zeno tertarik.


“Apa kak Tasya akan dijemput? Kita tunggu jemputan kak Tasya aja, hehe, sepedaku ga ada boncengannya.”


“Yah, kalo gitu kita tunggu disana yuk!” Tasya menunjuk taman yang sepi, karena memang sudah malam. Mereka duduk di bangku taman yang menghadap jalanan, biar tahu saat jemputan Tasya datang atau tidak.


Kemudian Tasya banyak bercerita tentang syutingnya hari itu, sementara Zeno mendengarkan sambil mengutak-atik ponselnya.


Ada aplikasi baru, wajib dicoba dong!


Tidak ada pilihan lain, hanya Tasya yang bisa diuji saat itu.


Aplikasi meminta Zeno memotret Tasya, jika sudah ada pilihan keluarga, teman, cinta dan bisnis.


Zeno memilih pilihan teman, hasilnya hanya 50% dan ada keterangan begini, ‘Tasya menganggap anda teman hanya 50%’


Kemudian Zeno pilih keluarga, hasilnya hanya 30%. Sementara itu untuk bisnis ada 70%.


Yang lebih mengejutkan, saat Zeno pilih cinta, hasilnya hanya 60%, lalu keterangannya lebih mengejutkan lagi.


‘Tasya memiliki lebih banyak nafsu daripada cinta, jadi harus hati-hati.’


Tiba-tiba Zeno memiliki perasaan yang aneh.


Apa dia terlalu percaya diri jika dia akan dicintai oleh Tasya, padahal Tasya itu anak dari Harjuno, dia tumbuh berada di lingkungan yang buruk.


Jika sifatnya ikutan buruk, itu sudah semestinya.


Jadi begini rasanya dikhanati ya?


“Zeno? Itu jemputannya udah sampai, kamu ikut ke rumahku ya?”


“Udah malem, aku harus kembali ke rumah,” Zeno berusaha untuk tersenyum dan bersikap biasa, dia harus bertahan dalam hubungan itu demi tujuannya.


Meski menggulingkan Harjuno itu sulit, paling tidak dia harus menghentikan bisnis untuk menculik anak-anak muda.


“Ya udah, tapi cium aku dulu ya?” Tasya mendekatkan wajahnya untuk mencium Zeno, tapi refeks Zeno mendorong bahu Tasya.


“Zeno?”


“Maaf, aku harus segera pulang, ayo ku antar sampai mobil.”


Tasya cemberut, Zeno agak lain hari ini.


***


Tidak adil jika hanya diuji pada Tasya, jadi Zeno menguji Aslan dan Citra juga keesokan harinya.


Citra, untuk keluarga 60%, teman 70%, cinta 10%, bisnis 0%.


Kemudian Aslan, keluarga 100%, teman 90%, cinta 0%, bisnis 78%.


Mereka berdua cukup mengagumkan.


Zeno juga mencoba orangtuanya, keduanya memiliki 100% untuk semuanya, itu agak aneh dan membingungkan. Tapi menurut sistem, itu karena mereka menyayangi Zeno dalam segala sisi, cinta mereka tidak dapat diukur, jadinya bisa semua 100%.


Zeno masih gelisah memikirkan hal itu. Padahal dia yakin dia tidak haus akan cinta seorang gadis, tapi kembali lagi, Zeno hanyalah seorang remaja yang masih labil.


Mungkin Zeno hanya membutuhkan semacam pembuktian.


Jadi selama pergi ke sekolah, Zeno memeriksa beberapa orang di sekitarnya. Ternyata beberapa gadis memiliki presentase cinta lebih banyak dari Tasya, itu sangat mengejutkan.


Lebih mengejutkannya saat dia menguji Bella, cinta 100%, teman 100% dan keluarga 80%.

__ADS_1


Dia memiliki presentase besar sekali, Zeno mulai menyesal karena selama ini dia hanya mempermainkan Bella dan tidak benar-benar serius dengannya.


Entahlah, Zeno mulai muak dengan cinta-cintaan sejak Tasya ternyata tidak terlalu melihatnya sebagai kekasih.


Itu cukup menyakitkan, meski tidak separah itu juga.


Zeno tidak bisa menjelaskannya.


BRUK!


Zeno melotot saat teman di depannya tiba-tiba pingsan, wajah siswi itu sangat pucat. Seingat Zeno, siswi itu sangat pendiam, dia cantik dan tidak banyak tingkah, dia juga siswi beasiswa, tapi dia bukan dari keluarga yang miskin.


Berhubung Zeno duduk di belakang siswi itu, tidak enak rasanya jika tidak menolong, lagipula tangan Zeno bergerak sendiri. Saat Zeno sadar, dia sudah menggendong gadis itu ke UKS ditemani Sellya.


“Zeno tunggu sini, aku panggilin petugas UKS-nya ya?” ucap Sellya.


Zeno mengangguk, lalu duduk di kursi.


Tangan Zeno gatal untuk menguji aplikasi dokternya.


Betapa terkejutnya Zeno saat memeriksa kesehatan si gadis cantik.


Gejala awal kangker darah.


Jelas Zeno tidak tega melihat gadis itu kesakitan.


Menurut aplikasi, Zeno bisa menyembuhkan dan menghindari tumbuhnya penyakit serupa hanya dengan ramuan penyembuh tingkat menengah atau midle.


“Anu, Bunga, kamu minum ini dulu ya, kali aja haus” ucap Zeno, sambil menyodorkan ramuan penyembuh. Untungnya ramuan itu menyerupai minuman biasanya yang menyegarkan.


Memang proses penyembuhan setelah meminum ramuan cukup lama, jadi Bunga harus menunggu. Tapi wajahnya sudah terlihat lebih baik.


(Kamu berhasil membantu penyembuhan Bunga, kamu mendapatkan hadiah khusus!)


(Hadiahnya adalah penukaran mata uang seluruh dunia dengan mudah!)


Zeno mengernyitkan dahinya, dia tidak paham apa spesialnya hadiah itu.


(Eits! Jangan salah ya, kamu mendapat tiket masuk dunia lain, jelas kamu butuh menukar uang bumi dengan uang mereka kan?)


Sistem benar juga, Zeno baru ingat ada tiket menuju dunia lain, tiketnya ada seratus.


‘Apa aku boleh membawa teman ya?’


(Boleh, asalkan tingkat presentase keluarga diatas 90%, itu artinya dia tidak akan mengkhianatimu.)


Berarti orangtuanya atau Aslan boleh, Bella belum boleh.


Tapi sepertinya jika dengan orangtua akan dimarahi, mungkin bisa dengan Aslan atau Xeon. Lihat dulu berapa milik Xeon. Memang tidak seru jika Zeno dan Xeon beda sekolah gini.


“Zeno, kamu boleh pergi, petugas udah dateng” ucap Sellya.


“Kamu?” tanya Zeno.


“Aku disini dulu nemenin Bunga, kamu masuk kelas dulu aja ya?”


Zeno pun kembali ke kelasnya, ternyata sudah guru yang mengajar, gurunya sudah tahu situasi yang ada, jadi dia membiarkan Zeno masuk.


“Ssst sstt!”


Zeno pun menoleh pada belakangnya, ada yang melempari Zeno dengan kertas yang diremat-remat.


“Apa?”


“Pulang sekolah nanti ikut tanding basket yuk...”


Zeno mengernyitkan dahinya, “gak mau ah, males.”


“Ayolah, kurang pemain nih, kita bakal nglawan anak-anak Harnus, kan gengsi banget kalo kalah.”


Harnus adalah SMA-nya Xeon.


“Hmm, ku pikir lagi deh.”


Setahu Zeno, Xeon ikut basket, itulah kenapa dia jarang sekali main dengan Zeno dan Aslan ke rumah, karena dia sangat sibuk.


Apa diterima saja ya? Mungkin bisa bertemu Xeon.

__ADS_1


.


.


__ADS_2