
.
.
Ternyata toko dunia lain tidak hanya menjual permata, ada pula batu sihir dengan nama-nama aneh yang kegunaannya bermacam-macam. Misalnya batu sihir untuk mengeluarkan api, air, cahaya dan lain-lain. Ada juga batu sihir yang jika dipakai atau dipegang bisa meningkatkan kekuatan tubuh.
Tapi tentu saja Zeno tidak berpikir dia membutuhkan semua itu.
Selain itu, toko dunia lain juga menjual daging-daging dari sana, misalnya daging rockbird, daging orc, daging black mamba, DAGING NAGA?
Mata Zeno hampir keluar membaca nama-nama daging tersebut.
Daging naga itu mahal sekali, hampir sama harganya dengan daging wagyu tapi naga lebih mahal.
Ini gila!
Zeno jadi penasaran...
Aneh sekali nama-nama dagingnya, apa itu sungguhan daging bisa dimakan?
(Jelas bisa, makin mahal makin enak rasanya, coba kamu masak dahulu)
Zeno meringis mendengar penjelasan sistem, dia melihat ada daging black mamba tadi, itu ular kan? ular dunia lain dengan dunia ini sama atau berbeda? Apa tidak beracun? Apa halal dimakan? Zeno sangat khawatir.
(semuanya bisa dimakan, jangan samakan duniamu dengan dunia lain, jelas berbeda)
“Iya juga ya?”
Karena Zeno masih takut dengan daging mamba atau daging naga, jadi Zeno memilih daging burung saja. ada rockbird, ada phoenix blue, adapula griffin.
Namanya aneh-aneh, Zeno takut untuk bertanya pada sistem bagaimana bentuk semua hewan itu, takutnya itu menyeramkan dan Zeno semakin takut untuk memakannya.
(Mereka memiliki tampilan yang cantik kok, rockbird itu mirip burung unta tapi bulunya warna-warni, phoenix blue itu seperti yang digambarkan dibumi, dia sangat cantik dan bulunya biru, sedangkan griffin itu seperti gabungan elang dan singa)
Zeno berhenti lalu memelototi daging griffin, “yakin halal?”
(Griffin vegetarian dan cakarnya tidak tajam, jangan anggap mereka monster, mereka itu hewan biasa di dunia lain)
“Oh gitu... apa aku bisa pergi ke dunia lain?” tanya Zeno, sambil menyiapkan daging untuk diolah. Zeno akan membuat semacam karaage, yaitu daging yang dipotong kecil-kecil lalu dibumbui dan dibaluri tepung, digoreng renyah.
(Kenapa Zeno ingin pergi ke dunia lain?)
“Gak ada, penasaran aja kok.”
(Mungkin nanti setelah naik level tertentu Zeno bisa mendapat tiket pergi ke dunia lain)
“Oh, ternyata sungguhan bisa?”
(Ssstt! Seseorang datang, janga bicara sendiri atau kau akan dianggap gila)
Zeno menahan tawanya mendengar ucapan sistemnya, sampai kemudian dia mendengar suara sandal rumah mendekat.
“Zeno? Kamu bikin apa, nak?”
Zeno menghela nafas lega setelah mendengar suara Luna, ibunya.
“Mama, aku buat karaage, mama baru bangun?”
Luna mengangguk lalu duduk di kursi setelah mengambil segelas air, kemudian meneguknya perlahan.
“Nanti mama minta ya? Sebenarnya mama belum tidur sih, mama lembur ngerjain sesuatu, abis itu ketiduran bentar dan bangun arena haus” ucap Luna.
“Kalau gitu, mama tidur aja sekarang, apa badan mama gak pegel?” tanya Zeno.
Luna memijit bahunya sendiri, “pegel sih, Zeno bisa mijit?”
__ADS_1
“Tapi Zeno lagi masak, ma.”
“Iya juga ya? Kalo gitu mama ke kamar ya, kalo mateng kamu bangunin mama...”
Zeno mengeluarkan botol kecil dari saku celananya, “mama minum ini dulu ya? Itu obat biar fresh” ucap Zeno.
Luna memperhatikan botol bening berisi cairan bening tersebut, lalu meneguknya tanpa berpikir.
“Hmm, manis ternyata, makasih ya sayang, mama ke kamar dulu.”
Luna pun pergi lagi, sementara Zeno lanjut memasak.
Setelah beberapa lama memasak akhirnya selesai semuanya. Zeno membedakan tiga daging yang berbeda tersebut dalam tiga wadah.
Kemudian dia melihat nasi yang juga sudah matang.
Zeno belum selesai, dia lanjut membuat oseng sayur.
Akhirnya sarapan pun jadi di jam enam pagi.
“Wah...”
Zeno menoleh padaasal suara, lalu dia tersenyum melihat Aslan sudah bangun, kembarannya itu masih mengenakan piyama dan mukanya masih muka bantal.
“Apa kau sudah cuci muka?” tanya Zeno.
“Hehe, aku akan cuci muka disini, bau masakanmu tercium sampai depan kamar, jadi aku kelaperan deh.”
Zeno terkekeh mendengarnya.
Tidak lama kemudian Jaden, Luna dan Arvin pun datang ke tempat makan dan sarapan bersama.
“Kita besok akan pergi ke panti asuhan Zeno sekalian menemui pemilik pabrik, papa akan mengijinkan sekolah Zeno juga, sedangkan Arvin –”
“Aku gak ikut, soalnya ada banyak kerjaan” sahut Arvin.
“Memangnya ada perlu apa dengan pemilik pabrik?” tanya Zeno, dia sudah lupa sebenarnya dengan pembicaraan pergi ke pabrik tersebut, Zeno juga lupa mereka akan pergi ke pabrik yang mana.
“Perusahaan sudah biasa bekerjasama dengan mereka, seperti memesan seragam karyawan, memesan kain untuk butik... dan lain-lain, karena pekerjaan mereka sangat bagus” sahut Luna.
Zeno mengangguk-angguk mengerti.
“Lalu kita kesana berapa hari?” tanya Aslan.
“Mungkin agak lama, papa tahu Zeno pasti rindu dengan yang dipanti kan?” sahut Jaden.
Zeno tersenyum dan mengangguk pelan.
“Ini daging apa? Enak banget Zen! Wagyu ya?” tanya Arvin, setelah memakan gorengan daging griffin.
Zeno hanya tersenyum dan pura-pura makan saja, dia tidak bisa mengatakan itu daging apa pada kakaknya, takut kakaknya marah.
Tapi Arvin benar, semua daging sangat enak, seperti daging ayam atau bebek, mereka teksturnya juga empuk dan gurih.
***
Hooaahhmm.
Berkali-kali Zeno menguap, saat itu dia sudah berada di dalam mobil van, membunkus tubuhnya dan Aslan dengan selimut bulu yang tebal.
Zeno tidak menyangka dia dan keluarganya akan pergi naik mobil van, bersama seorang supir dan berangkat setelah subuh, sekitar jam lima pagi.
Bahkan Zeno belum mandi, dia hanya mencuci muka dan menggosok gigi, lalu mengganti pakaian dan berangkat. Sedangkan pakaian dan barang yang akan dia bawa sudah disiapkan sejak semalam.
Sebenarnya, semalam Zeno tidak bisa tidur karena mengirim semua pesanan, dia juga harus mengirim pesanan berlian pada Om Harris, hingga pada akhirnya dia masih mengantuk setelah berangkat. Aslan sih sudah ketiduran segera setelah masuk mobil.
__ADS_1
“Zeno tidur aja kalau masih mengantuk, nanti jam tujuh atau delapan kita sarapan” ucap Luna.
Setelah mendengar itu, Zeno pun mulai menutup matanya yang terasa berat.
“Zeno? Bangun, hey!”
Zeno terpaksa membuka mata saat pipinya ditepuk-tepuk oleh Aslan, dia menggerang kesal sambil menatap Aslan dengan mata ngantuknya.
“Kamu gak mau sarapan? Mama, papa dan pak Erik udah turun tuh” ucap Aslan.
Pak Erik adalah supir mereka.
“Aku gak laper, kamu makan aja sana...” gumam Zeno, kemudian kembali berusaha untuk tidur.
Namun, Aslan yang tidak menyerah menjewer telinga Zeno, “ayo turun! Mandi dulu biar seger! Kita sampe di rumah keluarga Verdinand ini” ucap Aslan.
“Hah? Siapa?”
“Keluarga nenek kita, istri kakek kita kandari keluarga Verdinand, mereka pindah ke Bandung.”
Zeno pun duduk dengan tegak, “kita sampai Bandung?”
“Ya kali kita muter-muter di Jakarta, udah sampe Bandung nih, ayo turun!”
Aslan memaksa kembarannya untuk turun dari mobil.
Zeno merenggangkan ototnya segera setelah turun dari mobil, kemudian dia mengelilingkan pandangan ke sekitar.
Mereka sampai di sebuah mansion besar yang asri dan banyak terdapat pepohonan rindang dan bunga-bunga.
“Ayo Zeno!” Aslan menarik lengan Zeno untuk masuk ke dalam mansion.
Sampai mansion ada banyak pelayan, mereka mengerjakan tugas masing-masing. Aslan terus menyeret Zeno sampai kamar tamu. Aslan langsung mandi, sementara Zeno menunggu sambil rebahan.
Dia melihat-lihat media sosial agar tidak bosan.
Perkembangan produk Zeno sangat bagus.
Ternyata pagi ini artikel tentang Tasya yang menjadi brand ambassador produk milik Zeno sudah keluar dan menghebohkan internet.
Bahkan penjualan krim wajah dan lotion semakin meningkat saja.
Setiap harinya, Zeno keluar uang ratusan juta untuk semua pesanan mereka, tapi jangan khawatir, saldo Zeno jauh lebih banyak dari itu.
Jika melihat seberapa banyak saldonya, Zeno senyum-senyum sendiri.
Siapa yang menyangka, jika Zeno yang dulunya memiliki uang sepuluh ribu saja sudah senang, sekarang telah memiliki kekayaan pribadi mencapai 10 miliar?
“Zeno, cepat mandi sana!” teriak Aslan, sambil melemparkan handuk baru yang kering pada Zeno.
“Kalem dong, kan kamu baru keluar!” protes Zeno, dia heran, kembarannya itu sepertinya sedang sensitif, dia marah-marah terus pada Zeno, padahal Zeno tidak salah.
“Kenapa malah ngliatin aku?” tanya Aslan, saat Zeno bukannya pergi mandi, malah diam menatap Aslan.
“Kamu ada masalah ya?” tanya Zeno.
Aslan menggeleng, “enggak, kenapa emang?”
“Habisnya marah-marah mulu.”
“Gak usah banyak bacot, mandi aja sana!”
“Tuh kan...”
“Mandi, Zeno!”
__ADS_1
.
.