
.
.
Perasaan berdebar-debar yang aneh mengganggu Zeno, dia baru saja menginjakkan kakinya di rumah keluarganya Aslan lagi, yang kemungkinan besar juga keluarganya.
Zeno sengaja tidak membeli informasi yang lengkap pada sistem, karena dia tidak mau euforianya berkurang. Sesuatu yang mengejutkan terkadang lebih menyenangkan dan menegangkan, jadi jika tahu duluan tidak akan menarik lagi.
“Aslan! Pegang baby dulu ya, aku sibuk!” tiba-tiba kakak perempuannya Aslan, Aileen, memberikan bayinya pada Zeno, kemudian pergi begitu saja.
Zeno menunduk menatap si bayi, Zeno tidak ada masalah dengan bayi, karena sebelum pergi ke Jakarta, ada bayi berusia lima bulan yang datang ke panti dan Zeno sering mengurusinya sejak tidak ada yang mau. Anak-anak lain mungkin mau bermain dengan bayi, tapi tidak untuk mengurusinya, kecuali Zeno dan beberapa anak perempuan SMP.
Si bayi tertawa melihat wajah datar Zeno, jadi Zeno tersenyum padanya dan lanjut jalan mengikuti Aslan dan Xeon yang jalan duluan.
Semua orang berkumpul di ruang makan yang lebih luas. Beberapa makanan enak juga dihidangkan disana.
Ada Jaden, Luna, Arvin, ayahnya Xeon yaitu Lino, kemudian beberapa anggota keluarga lain yang Zeno ketahui semuanya, karena Zeno tidak begitu ingat. Andaikan Zeno tidak menggendong bayi, mungkin dia bisa mengetahuinya dari map genius.
“Nak, biar mama yang pegang baby” ucap Luna, dia berdiri dari kursinya untuk mengambil si bayi. Namun, Zeno segera menghentikannya, “tidak apa, aku sudah terbiasa dengan bayi, dia juga sudah nyaman denganku” ucap Zeno.
“Benarkah? Baiklah kalau begitu, lagian ini si Ailin mana sih kok anaknya dikasih-kasih orang gitu aja!”
Zeno terkekeh mendengar omelan Luna, ternyata Luna tipe ibu-ibu yang suka mengomel juga, tapi Zeno tidak keberatan sama sekali. Sepertinya Zeno tahu darimana Aslan bisa secerewet itu.
Setelah itu Zeno duduk.
Satu persatu dari keluarga memperkenalkan diri. Ada ayahnya Jaden, atau kakek Chris, ada pula adiknya Chris atau ayahnya Lino namanya Felix, kemudian ada pula saudara kembar Luna yaitu Leon, lalu sepupu Luna yang memaksa ikut bernama Dominik. Selain itu, ada pula istri mereka dan anak-anak yang berisik.
Zeno tidak bisa mengingat semuanya dengan benar, tapi dia yakin lama-lama dia juga akan mengenal mereka.
Setelah itu Jaden berdiri, membacakan hasil tes DNA yang sudah bisa ditebak, yaitu Zeno memang saudara kembar Aslan, atau anak dari Jaden dan Luna.
Selain itu, Jaden juga berkata jika dia telah mencari informasi tentang pasangan suami istri yang mengambil Zeno di rumah sakit, nama mereka persis seperti yang sistem sebutkan. Sayangnya, kerabat mereka tidak bisa ditemukan.
Meski seharusnya nama Zeno adalah Asad, Jaden memutuskan untuk tetap memakai nama Zeno tapi juga memakai nama Asad sebagai nama tengah.
Kemudian, tentu saja, nama keluarga juga disematkan pada nama Zeno.
Akta kelahiran akan dibuat ulang karena tidak sah.
Setelah mereka semua tenang, Zeno ikut berdiri, dia meminta satu hal.
“Saya meminta agar kalian tidak mengumumkan saya pada publik, karena kalian sangat terkenal, saya masih belum siap menjadi sorotan. Apakah itu bisa dilakukan?” ucap Zeno, berusaha sesopan mungkin.
“Tentu saja nak, kami mengerti kamu mungkin masih canggung dengan semua ini, kami juga tidak akan memaksamu untuk tinggal dengan kami secepatnya, kamu bisa pindah jika sudah siap,” balas Jaden.
Kemudian Aileen datang menginterupsi, untuk mengambil kembali bayinya, tapi si bayi malah menangis kencang tidak ingin lepas dari Zeno.
Pada akhirnya, bayi itu terus bersama Zeno sampai ketiduran.
Mereka makan-makan dan mengobrol, juga banyak menanyai Zeno sampai Zeno kewalahan sendiri untuk menjawab semua pertanyaan.
Pertemuan tersebut berakhir saat lagi-lagi, Zeno sudah merasakan kantuk.
Sebenarnya, Zeno merasa sangat aneh, dia mudah mengantuk akhir-akhir ini. Bahkan saat sekolah pun dia juga ketiduran jika ada kesempatan.
Padahal Zeno juga sudah meminum ramuan penyembuh mulai dari yang rendah sampai yang tinggi, tapi bahkan menurut sistem Zeno baik-baik saja.
Jadinya, Zeno pun tidur di kamar yang memang disiapkan mereka untuk Zeno, kamarnya tepat di sebelah kamar Aslan, itu dulunya kamar Aileen, tapi setelah menikah Aileen jelas sudah pindah ke tempat suaminya, Travis.
Jika Aileen menginap di rumah itu, Aileen akan tidur di kamar tamu saja.
“Kenapa aku ngantuk banget?” keluh Zeno setelah merebahkan dirinya di atas ranjang.
(Mau kami periksa sekali lagi?)
__ADS_1
“Apa sistem itu banyak orang? Jadinya menyebut kami?” tanya Zeno, masih berusaha terjaga di dalam kantuknya.
(Benar, kami tidak hanya satu, tapi memiliki satu kesadaran, sistem bisa membelah menjadi beberapa bagian lalu bekerja di masing-masing bidang)
(Misalnya untuk pengiriman, pemesanan barang, pemeriksaan, dan lain-lain)
(Namun, kesadaran kami hanya satu)
“Oke deh, anggap saja aku paham, bisa tolong periksakan keadaanku? Aku terus menerus merasa ngantuk, aku cari di internet malah mengatakan aku mungkin keracunan makanan, padahal jika cuma keracunan pasti sembuh setelah minum ramuan penyembuh.”
(Jangan khawatir, kami periksa Zeno dulu)
(Pemeriksaan... 10%)
(50%...)
Zeno berusaha menjaga kesadarannya, meski itu sangat sulit.
Padahal dia masih ingin mengobrol dengan yang lainnya, misalnya meminta nasihat tentang bisnis, karena keluarga tersebut orang yang pandai berbisnis.
Namun, Zeno merasa lega, karena akhirnya sudah terungkap jika dia adalah bagian dari keluarga tersebut, meski dia masih merasa canggung dan tidak enak hati. Berada di keluarga konglomerat seperti keluarga Raynold bisa jadi keuntungan, namun juga bisa menjadi rintangan terbesar.
Orang-orang akan mulai membandingkan Zeno dengan yang lainnya, kemudian mereka juga tidak akan mengakui pencapaian Zeno. Misalnya Zeno sukses nanti, mereka akan berkata jika itu wajar, karena keluarganya adalah keluarga Raynold.
Itulah yang Zeno khawatirkan jika dia sudah ketahuan merupakan saudara kembar Aslan.
Zeno senang bertemu keluarganya, bisa memeluk kedua orangtuanya, memiliki saudara yang baik dan perhatian... semoga tidak ada masalah kedepannya.
(Pemeriksaan selesai!)
(Zeno mengalami kondisi yang disebut dengan adaptasi)
(Sederhananya, karena Zeno menggunakan seluruh kemampuan Zeno dalam berpikir, juga kemampuan untuk tumbuh, menyesuaikan diri dengan sistem, jadi imun tubuh Zeno sedang menyesuaikannya dan itu menyebabkan Zeno mengantuk, karena butuh banyak istirahat)
Perlahan-lahan Zeno pun terlelap.
***
Pagi harinya, Zeno bangun dalam keadaan segar.
Tapi ada yang aneh.
Di ranjang Zeno ada si bayi juga, anaknya Travis, bayi perempuan yang lucu. Bayi itu memakai kostum kelinci yang menggemaskan warna putih, sedang duduk sambil tertawa dan menepuk-nepukkan tangan mungilnya.
Lucu sekali.
Bagaimana bisa si bayi ada bersamanya?
Zeno belum tahu siapa nama bayi itu, yang pasti bayinya lucu sekali, membuat Zeno gemas padanya.
Ngomong-ngomong hari itu tanggal merah, jadi libur, membuat Zeno masih betah berada di atas ranjang.
Si bayi merangkak lalu naik ke pangkuan Zeno.
“Mama mu dimana? Kenapa kamu ada disini, heum?”
Si bayi tentu hanya menjawab dengan ocehan tidak jelasnya.
“Apa bayi umur segini sudah bisa makan ya?”
(Sudah bisa, tapi makan bubur bayi atau biskuit khusus bayi)
“Oh gitu, ayo kita makan makanan ringan dulu sebelum memulai hari!”
Zeno pun membeli biskuit bayi di toko sistem, kemudian roti melon untuk dirinya sendiri. Sambil makan, Zeno membuka ponselnya.
__ADS_1
Sudah saatnya mengirim barang-barang lagi, karena setiap harinya memang selalu ada pesanan.
Oh! Toko ayahnya Sellya juga memesan buah-buahan impor dan lokal, jadi Zeno juga mengirimnya. Akhir-akhir ini Sellya bilang sangat susah mendapat buah lokal yang bagus, kadang juga ada perantara yang curang, membuat toko kesusahan.
Jadi toko itu memesan buah lokal juga pada Zeno.
“Buah lokal ini dapat darimana?” tanya Zeno.
(Sistem mendapatnya langsung dari petani, itulah kenapa buah-buah yang sistem juga sangat segar)
Zeno tersenyum mendengarnya, “syukurlah...”
“Bwaa bwaa!” si bayi menunjuk buah pisang yang ada di layar sistem.
Jelas saja Zeno kaget bukan main.
“B-b-bayinya!”
(Bayi itu adalah manusia yang polos, mereka cenderung bisa melihat sesuatu yang tidak kasat mata, namun tidak akan bisa melihatnya lagi setelah beranjak dewasa)
Zeno lega mendengarnya, bahkan di pantinya dulu juga begitu. Bayi bisa bicara sendiri atau menoleh dan menatap sesuatu yang tidak ada, katanya bayi bisa melihat hantu.
Zeno awalnya tidak percaya, tapi jika sistem yang mengatakannya, dia baru percaya.
“Kamu mau pisang, Om beliin satu ya? – eh? Apa aku udah Om om ya?” gumam Zeno risau.
(Bayi itu kan anak kakak perempuanmu, jadi kamu udah Om.)
Zeno merengut tidak suka, dia berasa sudah tua sekali.
“Zeno!!”
Zeno terlonjak saat tiba-tiba suara wanita mengejutkannya. Ternyata itu Luna, yang sekarang menjadi ibu kandung Zeno.
Ini gawat, Zeno merasa canggung, tapi juga bersemangat disaat yang sama.
“Kamu udah bangun? Ya ampun... Aileen kebiasaan nitipin anaknya, sini biar baby sama mama aja,” ucap Luna, dia mendekat lalu duduk di tepi ranjang, siap mengambil alih si bayi. Namun, si bayi malah merengek dan memeluk Zeno erat-erat, tidak ingin diambil.
Zeno hanya terkekeh, lalu mengusap kepala si bayi.
“Padahal bayi satu ini biasanya rewel lho, kok sama kamu anteng banget ya?” tanya Luna.
“Gak tau, ma.”
Luna diam mendengar Zeno memanggilnya ‘ma.’
“Zeno, panggil mama sekali lagi?”
Zeno menatap Luna bingung, “mama?”
Luna terlihat berkaca-kaca karena terharu, kemudian dia memeluk Zeno dari samping.
“Huhu, bayiku! Mama tau kalo Zeno belum meninggal, mama bisa merasakannya, bertahun-tahun mama dipaksa menerima kenyataan pahit tersebut, lalu kamu datang disaat mama sudah menyerah... terimakasih karena masih hidup, sayang.”
Zeno juga ikut terharu mendengarnya.
Dipeluk seorang ibu yang dia dambakan selama ini, dia tidak menyangka akan ada hari dimana itu benar-benar terjadi.
“Mama!”
“Iya, sayang, panggil mama... mulai sekarang, kamu tidak boleh pergi lagi ya?”
.
.
__ADS_1