
.
.
Akhirnya sampai juga di panti asuhan.
Pembangunan panti sudah selesai, kini panti yang dulunya bobrok pun berubah menjadi besar. Ada banyak kamar untuk anak-anak, ada ruang tamu dan ruang tengah yang luas, ada pula tempat makan sendiri yang didesain seperti kantin. Dapur menjadi lebih baik dan lebih luas, kamar mandi ada lima, ada juga dua kamar tamu yang khusus, beberapa mesin cuci, sumur, tempat jemuran, bahkan ada taman bermain anak-anak juga.
Zeno sangat senang karena panti asuhannya menjadi lebih baik lagi. Sebelum sampai di panti, Jaden sudah menjelaskan, jika tim yayasan akan berkeliling panti-panti lain dan membantu mereka membangun kembali panti asuhan. Tim bergerak ke kota-kota di sekitar jawa, jika sudah nanti akan menyebar lagi ke pulau lain seperti Bali, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Nusa tenggara dan Papua.
Zeno sendiri juga masuk tim yayasan tersebut, karena mereka bergerak dengan baik dan jujur, serius membantu panti asuhan dan anak-anak jalanan. Mereka juga mencari anak-anak kurang mampu di kampung-kampung untuk diberi beasiswa. Mereka juga membantu orangtua yang kesulitan mencari pekerjaan.
Uang beberapa miliar Zeno sumbangkan untuk yayasan tersebut.
Tapi kemudian sistem menghadiahinya saldo dua kali lipat, lalu Zeno berikan tambahan saldo tersebut untuk yayasan lagi, setelahnya tidak ada tambahan saldo. Zeno tidak masalah, semakin banyak uang untuk yang kurang mampu akan semakin baik, karena sebenarnya Zeno bekerja keras demi membantu mereka juga, bukan hanya untuk diri sendiri.
Dan tentu saja Zeno bekerja untuk masa depannya sendiri.
Setelah ketahuan oleh Aslan jika Zeno ada sesuatu dengan Shaira, Aslan tidak mengatakan apapun. Tapi, wajah jahil Aslan mengatakan semuanya. Bocah itu siap menggunakan kejadian itu untuk hal lain. Zeno harus siap-siap untuk itu, karena Aslan itu sangat jahil anaknya.
Zeno mulai menyesal dia bermain api, bukan menyesal karea melakukannya, tapi karena ketahuan.
Yah, bagaimanapun juga Zeno itu anak muda yang mudah penasaran, dia juga seorang lelaki. Tidak selamanya Zeno akan menjadi lelaki yang polos.
Tapi Zeno takut....
Takut Aslan akan berubah lebih polos darinya, Zeno tidak akan membiarkan itu terjadi, karena image Zeno itu lebih polos dari Aslan.
“Kak Zeno!!”
Anak-anak panti berlarian menyambut Zeno dan keluarganya.
Karena Aslan jalan duluan, anak-anak itu malah memeluk kaki Aslan dengan tangan-tangan mungil mereka. Aslan sendiri hanya terkekeh senang.
“Aku Aslan, saudara kembar Zeno, itu Zeno disana” kata Aslan sambil menunjuk Zeno di belakangnnya.
Anak-anak panti pun bingung.
“Kak Zeno ada dua!”
Gelak tawa Aslan semakin keras saat anak-anak panti mengira Zeno jadi dua.
Kemudian ibu-ibu panti datang, mereka langsung mengenali Zeno dan memeluk Zeno erat.
“Kami merindukanmu, Zeno!”
“Maaf karena kami memaksa Andy untuk ikut ke kota, kami tidak tahu dia akan menyusahkanmu.”
“Kami juga gak tahu kalau Udin itu orangnya ga bener.”
Zeno tersenyum kecil lalu menggeleng, “tidak apa, semuanya udah terjadi, berkat semua itu aku bisa bertemu orangtua kandungku kan? semuanya sudah ditakdirkan seperti ini” ucap Zeno.
__ADS_1
“Selamat datang tuan dan nyonya – Ya ampun! Ini kembarannya Zeno!”
Ibu-ibu panti pun akhirnya heboh melihat Aslan, mereka pun berlaih dari Zeno ke Aslan.
Zeno sampai bingung, apa Aslan jauh lebih menggemaskan dari Zeno ya? Ibu-ibu panti kelihatannya gemas sekali dengan Aslan. Padahal kan penampilan mereka sama saja.
Lebih kesal lagi karena melihat Aslan sangat senang di keliling ibu panti dan anak-anak panti.
“Zeno jangan cemberut, bukan berarti mereka mengalihkan sayang untukmu pada Aslan kan? mereka hanya takjub karena Aslan mirip denganmu” ucap Luna, ibu Zeno itu memeluk Zeno dari samping untuk menenangkan Zeno.
“Tapi kesel aja lihatnya, ma...”
Setelah sesi sambutan, mereka pun masuk ke dalam panti.
Zeno takjub karena panti banyak berubah, ada pula kardus-kardus besar yang belum dibuka disana.
“Ini kenapa tidak dibuka?” tanya Zeno.
“Oh, itu kan paket yang Zeno kirimkan, baru datang kemarin, kami pikir akan membukanya saat ada Zeno saja” ucap bu Sum, salah satu ibu panti.
“Kalau begitu kita buka sekarang, isinya adalah untuk kalian semua.”
Bersama-sama mereka unboxing paket dari Zeno, Aslan meminta Luna untuk merekam proses unboxing itu, Aslan bilang akan diupload ke akun medsos karena pasti sangat seru.
Isi box itu adalah mainan anak-anak, pakaian-pakaian baik untuk anak dan ibu panti, selain itu ada pula paket berisi buku-buku cerita anak atau buku pelajaran. Ada pula paket berisi jajanan anak-anak. Semuanya Zeno dan Aslan yang membagikan untuk mereka. Untuk jajanan akan disimpan dan sebagian diberikan.
Karena waktu cepat berlalu, akhirnya waktunya makan malam pun tiba. Zeno sudah mewanti-wanti mereka untuk tidak memasak, karena Zeno akan memesankan dari luar, agar mereka sekali-kali bisa makan sesuatu yang enak dari restoran.
Ada sesuatu yang berbeda yang Zeno rasakan, jadi dia mendatangi Bu Sum.
“Bu Sum, kayaknya ada anak yang menyendiri deh” kata Zeno, kemudian Zeno menunjuk pada gadis suram di pojokan, yang kelihatannya seperti masih SMP.
Gadis itu memiliki rambut panjang yang menutupi rambutnya, dia tidak mau mendekat dan hanya menyendiri di kamar. Zeno tidak sengaja melihatnya. Awalnya Zeno pikir penampakan.
Tapi saat dia cek di map genius, ada namanya, yaitu Citra.
Kalau hantu tidak akan ada nama.
“Oh itu Citra, dia anak baru memang... anaknya suka menyendiri dan kurang terbuka, orangtuanya meninggal dalam kecelakaan dan dia tidak memiliki kerabat lain, anaknya sangat cantik dan katanya banyak yang memperebutkannya. Kami belum berani menyekolahkannya kembali, takut dilecehkan, anaknya cantik sekali lho Zen, kamu mau gak nikahin dia?”
“Bu Sum jangan ngomong gitu ah, masih kecil!”
“Dia kelas satu SMA sama sepertimu” bisik bu Sum.
Zeno kembali melirik pada sosok yang memeluk boneka kelinci putih itu, seorang bocah perempuan cilik memberikan satu boneka dari paket untuk si gadis penyendiri.
Jika tidak tahu gadis itu manusia biasa, pasti Zeno sudah merinding, karena wajahnya tidak terlihat, anaknya memakai gaun tidur putih berenda, rambutnya hitam panjang dan lurus, kulitnya pun putih pucat.
Zeno banyak-banyak mengelus dada, manusia biasa saja bisa membuatnya hampir takut.
Malam pun tiba, Zeno dan orangtuanya menginap di panti, mereka tidur di kamar untuk tamu, pak supir juga menginap, tidur di kamar lain lagi bersama pengurus panti laki-laki.
__ADS_1
Zeno jelas tidur dengan Aslan.
Ada satu bocah umur tiga tahun laki-laki yang merengek ingin tidur dengan Zeno, jadi ada bocah itu juga yang tidurdi sebelah Zeno. Sementara Zeno sendiri hanya duduk sambil memeriksa ponselnya, biasa lah, sedang mengirim barang-barang.
Kalau Aslan ada duduk sofa tunggal, juga bermain dengan ponsel.
“Zeno, Celia ngirim aku chat” ucap Aslan.
Zeno juga mendapat chat dari Shaira, tapi dia belum sempat membukanya, Zeno akan membuka setelah selesai mengirim produk pada pelanggan.
“Oh ya? Dia bilang apa?”
“Katanya hampir ada kecelakaan saat rombongan mereka, ku rasa ucapanmu tentang ramalan itu benar,” ucap Aslan.
“Aku gak bohong, tauk!”
“Iya, aku percaya kok... by the way, kamu ada apa sama Shaira, tau aja yang bening dirimu ini!”
Zeno hanya mencibir lalu berdecak malas, “bukan urusanmu!”
“Masalahnya yang jomblo disini itu aku, yang dapet cewek malah dirimu!”
“Siapa cepat dia yang dapat, emang kamu sama Celia gak ada apa-apa?”
“Kita berdua ngobrol biasa aja, aku kaget banget kamu sama Shaira itu malu-malu tapi ternyata... emang bener ya, air tenang menghanyutkan!”
“Diam, Aslan!”
Aslan pun beranjak dari tempatnya.
“Aslan, mau kemana?” tanya Zeno.
“Ke kamar mandi, kebelet nih, mau nitip kah?”
“Iya, titip ambilin air minum ya.”
Aslan menunjukkan jempolnya, “beres, bro!”
Aslan pun pergi, Zeno kembali sibuk dengan ponselnya, kali ini dia melihat chat dari Shaira, ternyata gadis itu membicarakan hal yang sama, Zeno pun membalasnya.
Beberapa menit berlalu.
Aslan belum kembali juga, Zeno sampai khawatir.
“HUWAAAAA!”
Zeno pun terkejut mendengar teriakan Aslan, dia buru-buru keluar setelah memastikan bocah yang tidur tidak terbangun.
.
.
__ADS_1