Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Pergi ke dunia lain


__ADS_3

.


.


Zeno merasa sangat aneh, kenapa juga sistem memaksanya untuk memiliki kekuatan sihir? Apalagi dia diminta untuk pergi ke dunia lain bersama Aslan. Pasti ada alasannya, tapi karena permintaan sistem, jadi Zeno tidak bisa menolak.


Sistem sudah banyak membantunya juga.


Saat dia turun untuk sarapan, di meja makan sudah ada Aslan dan Travis. Seperti biasa, Aslan cari perhatian pada kakak ipar mereka. Aslan itu sangat menyukai Travis, karena Travis kan asalnya idol atau musisi, nah, Aslan itu penggemarnya. Lalu, Aileen, kakak perempuan mereka Aslan jodohkan pada Travis.


Sekarang Aslan bahagia karena idolanya telah menjadi kakak iparnya. Mungkin jika Zeno memiliki kakak perempuan lain, lebih baik dia jodohkan pada Kevin, karena Kevin sangat baik.


Zeno jadi rindu pada Kevin, tapi Kevinnya sedang ada di negara asalnya, Korea Selatan.


“Halo, Zeno! Kamu udah siap?” sapa Travis.


Zeno mengangguk, “kalau kak Travis udah sarapan, kita berangkat sekarang aja” ucap Zeno.


“Sarapan dulu! Hari ini Citra yang masak, dia bisa sakit hati kalo gak dimakan” tegur Aslan.


Kemudian Zeno melirik pada Citra yang mengintip dari dapur, Zeno pun menghela nafas berat, lalu duduk dan mengambil piring.


Aslan berdiri lalu menambahkan banyak nasi pada piring Zeno.


“Kebanyakan!”


“Kamu tuh makan yang banyak, biar gemukan dikit” ucap Aslan.


“Tinggi dan berat badan kita tuh sama!”


“Beda, aku udah lebih berat dua kilo!”


“Kau yang gendutan kenapa aku yang dipaksa?”


Travis hanya tersenyum melihat kedua adik iparnya bertengkar, pada akhirnya, Zeno mengembalikan setengah nasinya, lalu makan dengan cepat.


“Hari ini kamu pergi ke panti asuhan dengan kak Arvin kan?” tanya Zeno setelah selesai sarapan.


Aslan mengagguk, “iya, kita harus segera menyelesaikan semuaya, yang salah harus segera dihukum, kamu sekolah aja biar pinter.”


“Mentang-mentang lulus duluan terus aku bodoh, gitu?”


Aslan mengedikkan bahunya, “gak tau ya, kamu yang ngomong sendiri.”


“Ayo kak Travis, kita berangkat!”


Aslan menatap Zeno yang pergi bersama Travis, kemudian dia menatap ke depannya.


Ada sebuah layar transparan di depannya, tapi Aslan bingung harus bagaimana, dia takut untuk mengatakannya pada Zeno.


Layar transparan itu aneh sekali.


“Aku gak akan melawan monster kok, untuk apa semua ini?”


Perasaan Aslan menjadi sangat buruk.


***


Seharian mengurusi masalah bersama Arvin, lalu pergi ke kantor sebentar untuk melihat bagaimana karyawannya bekerja membuat Aslan kelelahan. Dia baru pulang jam enam sore, sedangkan Arvin masih ada di kantor.


Setelah sampai rumah, Aslan langsung pergi menemui Zeno di kamarnya, dia kan memiliki map genius ajaib juga, jadi dia tahu ada Zeno di kamarnya.


Dan benar saja, bocah itu sedang ketiduran.


Aslan duduk di tepi ranjang, lalu mengguncang tubuh Zeno.


“Zeno... hei!”


Perlahan Zeno membuka matanya, “apa sih?” dia pun duduk lalu menguap sebentar, setelah nyawanya terkumpul, dia mengusap matanya.


Apa ini? Kok layarnya jadi dua? Apa Zeno masih bermimpi?


(Ini bukan mimpi...)


(Kalian harus cepat pergi ke dunia lain untuk melawan Raja Iblis yang baru)


Zeno menoleh pada Aslan, yang sedang melotot menatap layar sistemnya.


“Apa maksudnya?” tanya Zeno.


(Aku mendengar recana Raja Iblis untuk menguasai dunia kalian)

__ADS_1


“Kamu kan sistem, masa gak bisa nglakuin sesuatu sih?”


(Tidak bisa)


(Itu masih sangat jauh, jadi aku ingin kalian berlatih sihir atau senjata dengan segera)


Setelah itu, Zeno dan Aslan hanya diam, mereka bingung harus bagaimana. Tapi karena mereka sudah lapar, jadi mereka pergi ke dapur.


Ternyata di dapur ada Citra, yang sedang memasak sesuatu.


“Kamu masak apa?” tanya Aslan.


Citra yang terkejut pun berbalik, “Oh? Eum... aku cuma belajar masak aja kok, sepertinya rasanya belum enak. Aku menggoreng ayam” Citra menunjukkan gorengan ayam yang sudah dia buat. Beberapa gosong, beberapa masih baik.


Aslan mendekat untuk mengambil yang bagus, lalu dia coba.


“Hmm, rasanya udah enak kok, mau ku ajari memasak?” tanya Aslan.


Citra mengangguk, “mau.”


Zeno pun duduk di kursi, memperhatikan kedua bocah itu sambil menunggu makanan selesai.


Aslan mengajari Citra untuk membuat sambal geprek, dia juga mengajari membuat oseng-oseng sayur.


Tanpa Zeno sadari, dia pun merenung.


Dia memikirkan tentang ucapan sistemnya.


Sepertinya ada hal buruk terjadi di masa depan, dia dan Aslan disuruh untuk bersiap-siap menghadapinya.


Tapi, apa yang akan terjadi?


Memangnya Raja Iblis itu siapa?


Kenapa juga dia mau menghancurkan bumi? Apa ada alasannya dia menghancukan bumi? Itu tidak masuk akal.


***


Keesokan harinya, Zeno dan Aslan akhirnya pergi ke dunia lain untuk menjelajahinya dan berlatih.


Mereka menggunakan tiket dan tiba di suatu wilayah bernama Whitebold.


Zeno menukarkan uang dari bumi agar menjadi uang setempat, dengan begitu mereka bisa jajan.


Dari uang satu juta, menjadi 100 keping emas. Zeno membaginya rata pada Aslan, jadi masing-masing 50 keping emas.


Zeno yang masih tidak berani bicara karena takut bahasa mereka berbeda dengan penduduk setempat, maka ada Aslan yang tidak berpikir panjang untuk bicara dengan mereka, bocah itu bahkan menawar buah persik yang sedang dijual.


Ternyata, mereka bisa memahami bahasa penduduk setempat.


Mungkin, alasan sistem memilih Aslan adalah karena Aslan berbeda dengan Zeno.


“Zeno, satu keping emas itu bisa membeli semua buah-buahan ini, satu keranjang! Murah sekali ya?” ucap Aslan.


“Kau akan membelinya?” tanya Zeno, Aslan mengangguk, “iya, kita bisa menyimpannya di itembox.”


Layar milik Aslan dan Zeno itu jauh berbeda.


Milik Zeno adalah sistem yang hidup, sedangkan milik Aslan itu semacam layar game yang diam.


Ada panel status, item box, panel skill, yang pasti jauh berbeda dengan milik Zeno.


Bisa jadi, itu hanya sebagian milik sistemnya Zeno yang diberikan pada Aslan.


Apa mereka harus melawan raja Iblis sungguhan?


Zeno tidak mau sebenarnya.


Mereka jalan-jalan di sekitar sana, kadang bertemu dengan petualang yang terlihat sangar, membawa berbagai macam senjata sihir.


Setelah capek, baru mereka duduk di pinggir hutan, sambil memakan apa saja yang tadi mereka beli di pasar.


“Zeno, ini sih, kita cuma jalan-jalan doang, gimana bisa latihan, coba? Terus, kalo misalnya kita nekat masuk ke hutan dan melawan monster, ada kemungkinan kita tidak selamat...”


Zeno pun berdiri dari duduknya, “ayo kita coba kekuatan sihir kita dulu, kalau disini, kita gak akan dipandang aneh.”


Mereka pun menciba sihir mereka satu persatu, mereka arahkan pada pohon di depan mereka.


Pertama-tama harus merasakan sihir yang mengalir ke tubuh mereka, baru setelahnya membayangkan sihirnya dan ditembakkan ke depan.


Awalnya susah, tapi setelah lima kali percobaan, mereka pun sudah terbiasa.

__ADS_1


“Zeno udah, capek!” keluh Aslan, dia merosot ke rerumputan, dia heran sekali, Zeno latihan dengan serius, padahal masih ada banyak waktu.


“Aku akan mencoba memburu binatang, ada banyak binatang yang enak dari dunia ini” ucap Zeno, dia memeriksa di map, apakah ada binatang enak yang bisa diburu.


Map menunjukkan jarak lima meter dari mereka, di dalam hutan, ada binatang bernama rock bird. Zeno ingat sekali rasa nya mirip dengan daging ayam, tapi lebih gurih. Memang Zeno bisa membelinya langsung di toko sistem, tapi dia ingin mencoba untuk memburunya sendiri.


Sepertinya akan seru.


“Aslan tunggu disini aja, aku akan memburunya, lima meter dari sini!”


Belum juga Aslan membuka mulutnya untuk memberi komentar, Zeno sudah pergi berlari dengan cepat masuk ke dalam hutan.


Tepat setelah itu, Aslan mendengar suara bocah berteriak, dia pun membiarkan Zeno dan pergi menuju si bocah.


Sampai di dekat burung batu, Zeno agak terkejut melihat ukuran burungnya yang jauh lebih besar dari burung unta, warna bulunya biru dan ungu, sangat cantik.


Burung besar itu melihat Zeno, kemudian dengan cepat berlari menuju ke arah Zeno.


Tidak ada waktu untuk mengagumi si burung, Zeno pun mengeluarkan bilah cahaya untuk memotong leher burung besar.


Dengan cepat burung itu pun tumbang di depan Zeno.


“Hmm, mudah juga. Masih ada di dalam hutan, tapi sepertinya aku memburu yang ini saja sudah cukup.”


Sementara itu, Aslan menemukan seorang bocah yang mungkin sekitar umur 12 atau 13 tahunan, bergetar saat seekor serigala berbulu perak mendekat padanya.


“Toloongg!!” teriak bocah itu.


Aslan menatap telapak tangannya, tadi dia berhasil membelah pohon dengan sihirnya, tapi Aslan juga kasihan dengan binatang itu. Kemudian Aslan menoleh pada panel sihirnya, ada skill untuk mengendalikan binatang dan monster, apa sebaiknya dicoba saja ya?


“Pergi, jangan ganggu anak itu!” teriak Aslan.


Serigala perak tersebut menoleh sebentar pada Aslan, membuat Aslan berdebar-debar karena takut.


Tapi, kemudian serigala itu pun berbalik dan pergi.


Si bocah mendekati Aslan, memeluk kaki Aslan sambil menangis.


“Huwaaa aku takut! Tadi itu sangat menyeramkan!”


“Tenangkan dirimu, semua sudah baik-baik saja.”


“Ada apa ini?” Zeno datang sambil menyeret burung batu yang dia kalahkan.


Si bocah kembali berteriak ketakutan.


“Tidak apa, itu kembaranku, Zeno...”


Setelah bocah itu tenang, baru Aslan menceritakan jika mereka orang baru disana. Bocah itu mengatakan sebaiknya Aslan dan Zeno mendaftarkan diri di guild petualang, dengan begitu buran mereka akan ada yang memotongnya, guild juga akan membeli cakar atau taring dengan harga tinggi.


Bocah itu juga sudah mendaftar disana.


“Kami sepertinya belum bisa mendaftar sekarang, jika cakarnya bisa dijual, kamu jual aja” ucap Zeno.


“Ta... tapi...”


“Bilang saja pada mereka kamu mendapatkannya karena burung itu tergeletak begitu saja, jangan katakan jika aku yang membunuhnya” tambah Zeno.


Zetelah berpikir keras, akhirnya bocah itu setuju, dia juga menawarkan diri untuk mengurusi burung itu. Bocah itu dengan cepat dan telaten membelah burung, memotongnya menjadi beberapa bagian.


“Kalian hanya akan membawa dagingnya kan?”


“Iya, selain itu kamu bisa jual” ucap Aslan.


“Daging burung batu ini sangat enak dan mahal, aku penasaran dengan rasanya” sahut si bocah, namanya Sonu, dia laki-laki.


“Kami juga penasaran, kamu mau mencoba?” tanya Zeno.


“Gimana masaknya kalo disini?” sahut Aslan.


“Aku membawa peralatannya kok.”


Zeno pun mengeluarkan kompor portable, wajan, pisau daging, dan berbagai bahan-bahan lain.


Aslan membantu memotong-motong bahan lain.


Zeno akan menjadikannya daging oseng yang sedikit pedas.


Sonu menunggu dengan sabar, sambil menatap takjub pada mereka.


Semua bahan dan peralatan tidak dia pahami, dia pikir, kedua remaja itu memang dari daerah lain yang lebih maju.

__ADS_1


__ADS_2