
.
.
Zeno merasa seperti tersangka saat ini, dia juga tidak mengerti kenapa bisa seperti ini akhirnya.
Baiklah, kita kembali pada beberapa saat sebelumnya.
Bella mengajak Zeno ke rumahnya sepulang sekolah, katanya orangtuanya ingin bertemu dengan Zeno. Bella tidak bohong, ibunya Bella ada disana dan wanita itu memberikan beberapa anggur ruby roman yang orangtuanya Bella dapat dari keluarga di China.
Tapi setelahnya ibunya Bella pergi karena ada arisan.
Zeno tidak mengerti, padahal Bella bisa mengirimnya saja ke rumah Zeno, atau bisa membawa ke sekolah.
Setelah itu Bella membawa Zeno ke kamarnya.
Kamar Bella sangat luas, ada tempat belajar lesehan dengan alas karpet bulu yang tebal.
Awalnya sih, Bella dan Zeno sungguhan belajar. Zeno juga ketinggalan banyak pelajaran, jadi sekalian mempelajarinya, Bella ada PR, Zeno juga membantunya.
Sampai kemudian, mereka selesai belajar dan capek, karena itu Zeno minta ijin untuk rebahan di sofa yang ada di kamar itu.
Zeno tidak berpikir apa-apa karena otaknya sudah bekerja keras untuk belajar selama satu setengah jam, bisa jadi otaknya sedang berasap.
Tiba-tiba saja, Bella duduk di sofa juga, dekat kaki Zeno, sambil menunjukkan ponselnya.
“Dia siapa?” tanya Bella,
Foto yang ditunjukkan adalah foto Shaira, bule Canada yang Zeno temui di Yogyakarta.
Shaira sudah selamat sampai rumahnya, dia setuju mencoba produk-produk Zeno, memberikan review dan foto jujur secara berkala. Kemudian Zeno akan menggunakan foto itu untuk mempromosikan produknya.
Bukan hanya Shaira, Bella juga sampai saat ini masih melakukannya, Bella adalah model produk Zeno. Jadi Zeno pikir Bella yang penasaran itu wajar saja.
“Itu Shaira, aku bertemu di Yogya, dia berasal dari Canada, aku menjadikannya model karena ingin produkku semakin dikenal –”
“Oke Zeno, aku bisa mengerti itu, aku paham... tapi, aku sudah mengirim pesan pribadi padanya lewat DM, dia bilang dia adalah pacarmu, apa maksudnya itu, dia juga bilang kamu menciumnya dan menggodanya!”
Nah, itulah yang membuat Zeno saat ini merasa seperti tersangka, keringan dingin bercucuran lewat dahinya, dia merasa bersalah padahal sepertinya dia tidak salah.
“Ak-aku... anu – kenapa kamu marah?”
Mata Bella yang besar dan indah itu berkaca-kaca, membuat Zeno makin panik, tidak ada orangtua Bella saat ini, bagaimana jika Zeno membuat anak orang menangis?
“Kamu memang tidak peka atau pura-pura tidak peka?”
“Ap-apa maksudmu Bell?”
Bella menundukkan kepalanya, “jadi hubungan kita tidak lebih dari sekedar teman? Aku mulai berpikir postif, kamu berkencan dengan Anastasya, si selebriti itu karena kamu memiliki suatu tujuan, tapi kemudian kamu bertemu gadis secara random, dia sangat cantik dan kamu menciumnya. Apa aku tidak cantik dimatamu? Apa kamu jijik karena aku dulu gendut?”
“Bella, kamu ngomong apa?”
Isak tangis keluar dari bibir Bella, dia berusaha menghapus airmatanya dengan tisu. Saat Zeno berusaha menyentuhnya, Bella menepis tangan Zeno.
“Kamu jahat!”
“Bagian mana dariku yang jahat?”
“Jadi kamu masih pura-pura tidak sadar jika aku menyukaimu? Mungkin aku yang berlebihan dan terlalu pede, aku pikir kamu menyukaiku... karena kamu selalu membantuku selama ini, tapi ternyata kamu memang tidak menganggapku seperti itu, katakan saja jika kamu tidak menyukaiku Zeno, jadi aku bisa lega mendengarnya.”
Zeno hanya terdiam, dia bingung kenapa dia dan Bella bisa berada di situasi seperti itu? Dia mulai mempertanyakan perasaannya. Dia mau menjadi pacar Tasya karena tujuan, dan karena Tasya cantik, dia juga mencium Shaira karena dia cantik.
Astaga, Zeno ternyata sangat brengs*k, dia memandang perempuan karena kecantikannya saja. Dia akui itu, tapi apakah dia salah? Zeno tidak pernah mengejek perempuan berwajah kurang cantik, dia perlakukan semua orang sama rata.
Tapi bagaimana dengan Bella.
(Hayoloo Zeno membuat gadis menangis! Kurang gentle!)
__ADS_1
Zeno kaget melihat sistemnya sedang mengejek dia, malah membuat Zeno makin panik dan bingung.
(Jangan takut untuk menolak meski itu menyakitkan, katakan saja jika tidak suka)
Tidak suka ya? Memangnya Zeno tidak menyukai Bella? Suka kok.
Bella tidak sama dengan Elle.
Memang Elle sangat cantik, tapi karena dia adalah anak dari adik ayahnya sendiri, atau sepupu, rasanya aneh dan seperti berdosa untuk menyukainya.
Tapi Bella – berbeda.
Seperti Zeno tidak mau menyentuhnya atau menondainya.
Bukannya Zeno tidak menyukai Bella.
“Tidak apa Zeno, katakan jika kamu tidak menyukaiku, dengan begitu aku tidak akan mengejarmu lagi dan aku akan menganggap kita teman biasa.”
Zeno menggeleng pelan, membuat Bella semakin merasa sesak dan bingung.
“Maafkan aku Bella, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku juga tidak bisa menyentuhmu seperti aku menyentuh Shaira.”
“Kamu beneran jijik sama aku ya?”
“Bukan begitu!”
Tangisan Bella semakin kencang, dia meraung-raung, membuat Zeno kelabakan.
Zeno tidak tahu harus bagaimana, tahu-tahu dia sudah memeluk Bella, dan setelahnya Bella pun terdiam.
Zeno terus memeluk Bella sampai isak tangisnya mereda.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, sampai Bella bergerak karena tidak nyaman. Kemudian Zeno melonggarkan pelukan mereka, tapi Bella kembali memeluk Zeno dengan erat.
“Jika kamu tidak bisa menolakku, bagaimana aku setelah ini? Kamu tega membuatku terus mengharapkanmu? Kamu jahat...”
Selama ini, Zeno hanya berpikir untuk melindungi Bella, seperti Bella itu sebuah berlian berharga yang ingin dia simpan agar tidak tergores sedikitpun.
Tapi kenapa tiba-tiba bibir itu sangat menggoda dan terus menarik akal sehatnya?
“Zeno – mmmpp!”
Bella membelalakkan matanya, saat tiba-tiba saja Zeno menyambar bibirnya, menciumnya dengan lembut dan hati-hati.
Apa ini sungguhan?
Ciuman itu cukup lama, Bella sangat menikmatinya, sampai kemudian Zeno memutuskan tautan mereka, dia lalu tersenyum kecil.
“Aku bukannya tidak menyukaimu, aku hanya butuh waktu, aku bukan lelaki yang sangat baik, aku akui itu, aku pikir karena bagiku kamu sangat berharga, aku tidak akan menyentuhmu, tapi ternyata hal itu mlah menyakitimu, aku minta maaf.”
Bella hanya mengangguka-angguk dan tersenyum kecil, kemudian dia terkekeh.
“Kenapa ketawa?” tanya Zeno.
Bella menggeleng, “enggak, aku cukup lega, aku yang seharusnya minta maaf karena mendesakmu dan membuatmu tidak nyaman.”
“Aku bukannya tidak nyaman, jika kamu memiliki uneg-uneg, tinggal beritahu aku saja.”
***
“Hhhh”
Aslan yang duduk di meja makan melirik Zeno yang baru datang dengan raut lesu.
“Kenapa dirimu? Makan di luar yok! Mama papa ngajak Citra makan di luar, kita ga diajak” ucap Aslan.
“HAH?”
__ADS_1
“Kita gak diajak!”
Zeno saat itu merasa menjadi anak tiri di rumah sendiri.
“Gak lah, kita makan disini aja, aku masakin, mau makan apa?” tanya Zeno.
“Apa ya? Mau ayam geprek aja deh, yang pedes” sahut Aslan.
Zeno melirik Aslan malas, “kita pesen aja lah,” dia pun mengeluarkan ponselnya, untuk memesan ayam geprek dari luar. Mumpung ada diskon 90% untuk membeli dari restoran baru.
Ada beberapa pilihan, salah satunya restoran yang menjual ayam geprek dan olahan ayam lainnya, katanya sambalnya bervariasi, jadi Zeno memebeli semua variasi sambal juga.
“Kalo gitu pesen minuman dari luar juga ya? Mau cola...”
Zeno mengernyitkan dahinya, “emang di kulkas ga ada cola?”
Aslan menghela nafas berat, “kak Arvin barusan dateng, bawa semua cola ke rumah kak Aileen, kan Arvin sama kak Travis itu suka cola, mereka lagi kumpul-kumpul disana, ada kak Arthur, kak Sam dan lain-lain.”
“Kok kita gak ikut aja sih?”
Aslan mengedikkan bahunya, “ya udah, kita ikut, kamu mandi dulu aja sana, mukamu kusut banget, ada masalah ya?”
Zeno pun bangkit berdiri kembali, “iya ada, makhluk bernama perempuan itu sangat rumit dan sulit ditebak, aku bingung harus bagaimana.”
Aslan hanya melongo melihat Zeno yang sedang pergi ke kamarnya sendiri.
“Kenapa dia itu?” gumam Aslan, kemudian dia kembali nyemil anggur yang Zeno bawa dan diletakkan di atas meja.
Sementara itu, Zeno sudah ada di kamarnya, dia tidak mau memikirkan apapun lagi, dia hanya pergi mandi, merilekskan tubuh dan pikirannya yang ruwet.
Rasanya lega sekali setelah keluar dari kamar mandi, pikiran dan tubuhnya terasa enteng.
Sampai kemudian sistem mendadak memberinya misi.
(Misi darurat!)
(Selamatkan Tasya yang akan diserang di lokasi syuting)
(Berikut ini lokasi syutingnya, datanglah sebelum jam 8 malam)
“Diserang? Apa maksudnya?” gumam Zeno.
Jika seperti itu, hadiahnya pasti besar, masalahnya, Zeno sangat khawatir dengan Tasya. Apa maksudnya diserang? Apa itu serius? Menggunakan apa? Pistol? Pisau? Lemparan telur?
Diserang seperti apa?
Saat itu masih sekitar jam tujuh malam, tempat yang diberitahu sistem memiliki jarak sekitar 20 menit saja naik sepeda, karena cukup dekat.
Zeno harus berangkat sekarang!
Dia pun buru-buru memakai baju lalu turun, “Aslan!”
“Zeno, pesanan kita udah dateng nih!” teriak Aslan, yang baru saja menerima pesanan makanan mereka.
“Itu nanti aja, ada hal gawat, kamu mau ikut gak?”
“Ga-gawat apa?”
“Gak perlu, kamu disini aja – enggak, pergi aja ke rumah kak Travis, makan itu sama yang lain disana ya? Anggurnya kamu bawa juga boleh, tapi sisain buat mama papa dan Citra.”
Aslan belum juga sempat menyahuti, Zeno sudah pergi ke garasi untuk mengambil sepeda, kemudian melesat pergi begitu saja.
“Ada apa sih? Tuh anak misterius banget.”
.
.
__ADS_1