
.
.
Sebenarnya membuat martabak, entah itu yang manis atau yang telur sangat mudah, karena salah satu alumni panti asuhan ada yang lulus SMP sudah mencari pekerjaan. Dia mendapat pekerjaan bersama penjual martabak, saat belajar, Zeno juga ikutan. Untuk urusan masak-memasak memang Zeno cepat sekali menangkapnya.
Tapi, tetap saja Zeno kembali mempelajari membuat martabak manis lewat yutup, siapa tahu ada trik-trik yang bagus. Kebetulan ada vidio yang membuat martabak menggunakan telfon atau wajan anti lengket.
Setelah membeli semua bahan-bahan untuk membuat martabak, barulah Zeno pergi menggunakan sepeda ke rumah Tasya.
Memang agak jauh, tapi sama sekali tidak masalah, Zeno sangat pandai menyelip-nyelip, dia juga bisa mengayuhnya secepat memakai motor.
Sampai rumah Tasya, ada security yang menahannya, dia diperiksa terlebih dahulu dengan pemeriksaan logam. Baru setelah lolos, Zeno dibukakan gerbang.
Rumah itu sangat besar, tidak aneh sih. Zeno hanya memiliki beberapa saham perusahaan Harjuno saja, dia bisa mengantongi banyak uang. Saham perusahaan itu nilainya juga selalu tinggi, reputasi Harjuno juga meningkat seiring dengan popularitas Tasya.
Tidak heran jika Harjuno sangat keras terhadap Tasya, karena perusahaan mendapatkan dampak baik dengan popularitas putrinya.
Zeno kepikiran lagi tentang pengukur ketulusan itu.
Kenapa Tasya tidak tulus padanya?
Tapi sebenarnya jika dipikir-pikir, dia bisa mengerti juga, karena Tasya hidup di dalam lingkungan toxic. Jika Tasya mulai menjadi buruk karena terpengaruh itu bisa dimaklumi.
“Silahkan masuk, saya panggilkan nona dulu,” seorang pelayan cantik menyambut Zeno, dia mempersilahkan Zeno duduk, kemudian pergi ke lantai dua.
Tidak lama kemudian Tasya datang, mengenakan pakaian rumahan yang tipis. Berupa kaos warna putih dan juga hotpants hitam, pakaian itu sangat pas di tubuhnya, membentuk tubuh yang indah dan seksi.
Zeno laki-laki, tentu dia senang melihatnya, tapi sejak dia tahu Tasya tidak tulus dengannya, semangatnya kini berkurang, gairah dan nafssu pun seakan tidak pernah ada.
Zeno tahu seharusnya dia tidak melihatnya, karena hal itu bisa membuatnya seperti ini. Entah dia harus lega atau merutukinya.
Tiba-tiba saja dunianya menjadi seperti itu.
Apa Zeno sudah sombong dan tinggi hati hanya karena sekarang dia sudah memiliki banyak uang, jadi semuanya bisa dia dapatkan dengan mudah?
Itu mungkin saja.
Tapi, Zeno tetap harus tersenyum seolah tidak ada apa-apa.
Jika ingin sukses, Zeno harus profesional, tidak boleh memperlihatkan emosi yang sebenarnya.
Perlahan, Zeno pun tersenyum lalu berdiri dan mendatangi Tasya.
“Akhirnya kamu datang juga! Aku sudah tidak sabar, Zeno... ayo kita masak di dapur ku sendiri, ada di lantai dua!” Tasya memeluk lengan Zeno dan membawanya ke lantai dua.
Ada ruangan tersendiri di sebelah kamar Tasya, yaitu dapur mini yang cantik, terlihat seperti dapur yang digunakan untuk syuting konten.
Nuansa dapur itu pink.
Kompornya, oven, microwave, airfry, panci, wajan, spatula, piring, sendok, garpu, gelas, pokoknya hampir semuanya warna pink, hanya saja dengan shades yang berbeda. Ada pink tua, ada pink fanta, ada pink pastel, ada pink pucat.
Dinding dapur sendiri warna putih, ada beberapa pajangan tanaman yang hijau.
Nuansanya lembut dan segar, tidak membosankan.
Jika Zeno perempuan mungkin menyukainya, tapi Zeno sendiri lebih menyukai warna natural, seperti hijau daun, warna kayu, putih, hitam, warna-warna bebatuan.
“Aku akan mengajari kak Tasya, pertama-tama, kita keluarkan dulu bahan-bahannya” ucap Zeno, kemudian dia mengeluarkan barang-barang yang dia bawa dari rumah.
“Zeno juga beli telur dan mentega? Padahal disini ada” ucap Tasya.
__ADS_1
Gadis itu membuka lemari pendingin yang berisi beberapa bahan seperti telur, mentega, sosis, paprika dan lain-lain. Tidak ada sayuran atau daging. Kebanyakan beberapa bungkusan untuk membuat masakan instan.
Sekarang zaman sudah canggih, jika tidak bisa memasak, sudah ada makanan yang tinggal di panaskan saja.
“Kak Tasya sering masak sendiri?” tanya Zeno.
“Iya, jika aku bosan, aku mencoba memasak, tapi aku tidak pandai, tapi sekarang aku bisa menggoreng tanpa gosong kok, jangan khawatir!”
Ah, dia masih dalam tahap belajar.
“Tidak masalah, kak Tasya bisa belajar sedikit demi sedikit” ucap Zeno.
“Kenapa aku harus belajar? Kan aku punya Zeno, Zeno bisa memasakkan setiap hari untukku nanti jika kita menikah.”
Zeno tersenyum kecil, “kak Tasya, mungkin kita sekarang berkencan, tapi tidak tahu untuk kedepannya kan? masa depan kita tidak tahu” ucap Zeno.
“Apa maksud Zeno? Kita akan menikah kan? aku tidak bisa membayangkan jika tidak menikah dengan Zeno –”
“Kak!” Zeno sengaja menyela ucapan Tasya, dia tidak ingin Tasya tahu jika sebenarnya dia mau menjadi pacar Tasya hanya untuk memanfaatkan dia.
Benar, padahal Zeno sendiri mendekati Tasya karena ingin memanfaatkannya, kenapa juga dia marah saat tahu Tasya tidak tulus padanya? Zeno aneh sekali.
Berhenti sombong dan lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan saja, Zeno!
“Semuanya sudah siap, ayo kita mulai membuatnya” ucap Zeno kemudian, untungnya Tasya bersemangat untuk membuat martabaknya.
Zeno memutuskan untuk membuat martabak telur dan manis, agar Tasya bisa merasakan keduanya.
Sambil membuat, Tasya bercerita jika sejak kecil, dia sangat menginginkan makanan jalanan bernama martabak tersebut. Tapi ayahnya selalu menolaknya, mengatakan itu hanya makanan orang miskin.
Tapi martabak terlihat sangat enak.
Sejak Tasya menjadi selebriti pun, dia semakin dilarang makan makanan enak dan manis, demi menjaga bentuk tubuhnya tetap bagus.
Zeno meletakkan martabak yang sudah dia potong-potong ke depan Tasya yang sudah duduk manis.
Tasya memang menggemaskan, padahal umurnya hanya satu tahun lebih muda dari Arvin. Tapi Tasya terlihat seperti lima tahun lebih muda dari Arvin.
Tapi yah... keluarga Zeno itu memiliki darah keturunan bule, baik itu dari keluarga ayah atau ibu. Kebetulan Arvin dan Aileen terlihat seperti bule, sedangkan Zeno dan Aslan terlihat hanya seperti campuran.
Zeno dan Aslan itu bisa terlihat seperti bule, bisa juga terlihat seperti orang Asia.
“Anu... kak Tasya, aku boleh pinjem toilet gak? Kebelet nih” ucap Zeno.
Tasya mengangguk, “kamu bisa ke pintu sebelah, itu adalah kamarku, disana ada kamar mandi kok, gak perlu sungkan, kamu bisa pakai” ucap Tasya.
Zeno mengangguk pelan, “oke, di sebelah ya? Kak Tasya makan aja, jangan khawatir, aku akan kembali setelah selesai.”
Setelah itu Zeno pun keluar dari dapur mini yang sebenarnya tidak mini tersebut. Mungkin dapur asli rumah itu jauh lebih besar.
Zeno mengeluarkan ponselnya dan membuka map genius.
Pertama-tama, dia melihat apakah ada orang lain di sekitar sana, untungnya sangat aman.
Setelahnya Zeno mencari keberadaan bukti kejahatan Harjuno, tinggal mengetik ‘bukti kejahatan Harjuno’ saja di pencarian yang ada di aplikasi map.
Setelah itu map pun menunjukkan letaknya.
Ternyata ada di gudang yang ada di lantai dua.
Kebetulan sekali.
__ADS_1
Namun, gudang itu memiliki password untuk membukanya.
‘Sistem, aku membeli informasi passwordnya, cepat!’
(Tunggu Zeno! Ada cctv tepat di depan gudang itu)
Zeno yang sudah berjalan mendekati gudang pun berhenti, kemudian memeriksa map lagi. Ternyata benar, ada cctv.
‘Apa kau bisa melakukan sesuatu? Apapun itu, ambil saja saldoku untuk membayarnya’
(Baiklah, Sistem menonaktifkan CCTV di depan gudang)
(Sistem menonaktifkan password)
‘Wah, hebat!’
(Karena jika kamu memencet password sendiri, sidik jarimu akan tertinggal disana)
Zeno pun memasuki gudang, memastikan Tasya masih makan dan tidak ada orang lain disana, setelahnya mencari bukti yang dimaksud. Setelah dapat, dia memasukkannya ke penyimpanan sistem.
‘Oke, semua selesai!’
(Sistem akan memindahkan Zeno ke kamar mandi di kamar Tasya)
EH?
“Tung – gu!”
Hanya dalam satu kedipan, sistem pun berhasil memindahkan Zeno ke dalam kamar mandi cantik bernuansa pink tersebut.
“Ke-kenapa?”
(Ssstt! Tasya curiga karena kamu lama, dia akan segera kemari!)
Zeno memeriksa mapnya lagi, benar saja, Tasya sudah ada di dalam kamarnya sendiri.
BRAK!
“Zeno!”
Zeno pun melotot karena Tasya membuka pintu kamar mandi tanpa permisi. Bagaimana jika Zeno sungguhan buang air kecil? Kan nanti kelihatan!
“Ke-kenapa? Aku sudah selesai kok...”
“Oh, kamu lama sih, aku khawatir, ayo keluar!”
“Tunggu! Aku cuci tanganku dulu...”
Astaga, itu berbahaya sekali. Untungnya Zeno tidak mau buang air.
Selesai cuci tangan, Tasya menarik lengan Zeno keluar dari kamar mandi. Zeno pikir Tasya akan membawanya kembali dapur mini. Tapi tiba-tiba saja dia mendorong Zeno ke atas ranjangnya.
“Aduh! Kak Tasya kenap –”
Kemudian Tasya naik ke atas tubuh Zeno.
“Zeno... tidak ada siapapun disini, ayahku juga pergi ke luar kota.”
“Lalu?” tanya Zeno bingung, dia menelan ludahnya susah payah.
Apa yang Tasya inginkan darinya?
__ADS_1
.
.