
.
.
“Ini kebunku! Ayo masuk!”
Tidak disangka, dalam perjalanan, Zeno bertemu dengan kakak kelasnya yang sudah lulus SMA. Namanya Jaka, dia ini sering kali pergi ke panti asuhan setelah panen hasil kebunnya.
Bisa dibilang, Jaka ini anak orang kaya, tapi orangnya baik sekali. Keluarga Jaka memiliki banyak tanah, sawah dan perkebunan.
Sejak SMA, Jaka sudah mengambil alih kebun. sebenarnya, Jaka ini lulusan SMK pertanian, dia tidak meneruskan ke jenjang kuliah, langsung membantu orangtuanya mengurusi kebun.
Kadang Zeno dan anak panti lainnya membantu Jaka untuk menanam atau panen, setelah itu yang membantu akan diberi hasil panen.
Kebunnya juga luas sekali, ada kebun tomat, kebun jeruk, kebun sawi, kubis, cabai, terong dan lain-lain.
Saat itu Jaka membawa Zeno, Asla dan Citra ke kebun tomat. Di dalam kebun ada semacam gazebo, untuk tempat duduk setelah selesai berkebun. Gazebonya cukup tinggi, untuk naik saja harus naik tangga.
Akan tetapi, setelah sampai di gazebo, dari sana bisa terlihat kebun-kebun yang sebagian sudah siap panen, ada pula kebun lain yang baru mau ditanami.
“Itu yang mau ditanami adalah kebun wortel, paprika dan lobak” kata Jaka, menlejaskan beberapa kebunnya pada Zeno dan Aslan yang dengan setia mendengarkan.
Zeno sendiri tidak menyangka akan bertemu Jaka di perjalanan mereka. Karena rencananya Zeno akan berputar-putar di sekitar sana, lalu Aslan bilang mau melihat alun-alun atau pasar, jadilah Zeno mengajak mereka berputar hingga sampai alun-alun, disanalah mereka bertemu Jaka, yang baru saja membeli pupuk untuk kebunnya.
Mereka pun diajak ke tempat Jaka.
“Terus kalo udah panen, nanti dijual dimana kak?” tanya Aslan.
“Ada tengkulak yang akan mengambilnya, tapi akhir-akhir ini agak susah, karena mereka meminta harga yang lebih rendah dari biasanya, tapi setelah ku periksa di pasar harganya malah dua kali lipat lebih tinggi, kami merasa dirugikan, padahal kami sudah habis banyak sekali untuk menanam, itulah kenapa aku dan orangtuaku berencana untuk membuka toko sendiri untuk menjual hasil panen kami, tempatnya sudah dapat, sangat strategis, tapi pemilik toko sebelumnya tidak mau jika dicicil, maunya kontan, sementara kami hanya memiliki setengah uangnya, aku pusing sekali. Sebenarnya bisa saja menjual tanah, tapi tanah yang mau kami jual sulit dijual, tanah itu yang ada di dekat pantimu Zeno, kamu tahu kan? tanahnya tandus, susah ditanami” cerita Jaka.
Zeno mengingatnya, ada tanah kosong terbengkalai, milik keluarga Jaka, karena sulit ditanami, tidak ada yang mau membelinya, mana dekat dengan hutan, jadi orang yang mau membangun rumah disana juga takut.
Karena disana adalah desa, jadi cerita mistis masih kental sekali.
Zeno sendiri tidak takut dengan hantu, tidak pernah melihat juga. Berbagai cerita mistis dari masyarakat sering kali dia dengar, tapi dia biasa saja.
Tapi ya, kepercayaan masyarakat sulit diubah.
“Ya udah kalo gitu kita beli aja, kurangnya berapa kak?” tanya Aslan.
“Kurangnya 300 jutaan Zen, tokonya gede, ada halaman parkir juga, tingkat dua, jadi harganya 700 jutaan, udah ada yang 400 jutanya” ucap Jaka.
“Anu kak, aku Aslan...”
“Heh? Maaf, abisnya kalian mirip banget!”
“Aslan bener, biar ku beli aja tanahnya” sahut Zeno.
“Kalian ini, uangnya darimana coba? Ini 300 juta lho!” ujar Jaka.
__ADS_1
“Zeno banyak duitnya kak Jaka, biar dia aja yang beli, tapi tanahnya mau diapain?” tanya Aslan.
“Serius nih? Tapi tanahnya tandus lho, untuk bangunan juga sulit kayaknya” ucap Jaka.
Zeno hanya tersenyum kecil, “tenang aja, itu masalah nanti, sekarang aku beli dulu, biar kak Jaka bisa cepet beli tokonya, untuk surat-surat tanahnya pasti butuh waktu untuk alih nama kan? nanti atas nama panti aja, jangan aku, cepet kasih nomor rekening kakak atau orangtua kakak, biar ku kirim sekarang” ucap Zeno.
“I-ini serius kah?” tanya Jaka, masih tidak percaya dia.
“Serius kak, tanahnya ukuran berapa kak itu?” ujar Zeno, dia sedang serius, mengeluarkan ponselnya, siap mengirim uang.
“Ada satu hektar sih, seharusnya lebih dari 300 juta jika tanahnya subur,” ucap Jaka.
“Satu hektar tuh banyak banget kak!” sahut Aslan.
“Ini tanah desa, beda sama tanah kota yang sepetak aja udah mahal banget” jawab Jaka.
“Kak Jaka bener, tanah di desa itu murah” timpal Zeno.
“Tapi satu hektar lho...” sahut Aslan lagi.
“Aku mau anak-anak panti nanti menanam sesuatu disana, misalnya semangka, melon... aku punya bibit yang bagus, untuk keadaan tanah bisa diatur” ucap Zeno.
“Tanahnya kayak gitu Zen, mending dijadiin lahan buat hidroponik, misalnya nanem selada, strawberry, yang kayak gitu” sambar Aslan.
Jaka hanya tersenyum melihat anak kembar itu berdebat sendiri, dia merasa Zeno banyak berubah, tidak lagi bocah kampung yang polos seperti dulu. Bahkan penampilannya juga berubah, lebih tinggi dan berotot, juga lebih bersih dan tampan.
Kemudian Jaka menoleh pada si cantik Citra yang hanya diam menatapi kebun.
“Boleh!`” ucap Zeno dan Aslan kompak.
Mereka pun turun dari gazebo, kemudian kembali ke rumah Jaka, untuk mempersiapkan alat-alat memanen tomat. Setelahnya mereka pun pergi memanen, Jaka ada disisi kanan, sedangkan Aslan dan Citra disisi kiri.
Aslan tidak menyangka Citra semangat sekali membantu panen, dia bahkan tangannya cekatan sekali.
“Citra, kamu berbakat panen kayaknya, mau ikut ke Australia gak?” tanya Aslan iseng, dia ingin tau reaksi gadis pendiam itu.
Berhasil.
Citra pun berbalik pada Aslan dengan cepat, “memanen di Australia?” tanya gadis itu, lengkap dengan mata berbinar-binar.
Aslan mengangguk, “iya, aku gak bohong lho, keluargaku punya beberapa kebun buah yang luasnya berhektar-hektar, ada apel, peach, mangga dan lain-lain. Ada pekerja yang bertugas memanen setiap harinya, sebulan digaji sekitar 50 juta rupiah, gimana?” tanya Aslan.
Citra mengangguk dengan semangat, “mau mau!”
Aslan terkekeh melihatnya, ternyata Citra lucu juga.
“Tapi jangan sekarang, kamu harus sekolah dulu... gak perlu mikir kerjaan, kata bu Panti kamu belum mau masuk sekolah kan? kenapa?” tanya Aslan.
Kebetulan Jaka dan Zeno sampai disana, menghampiri Aslan dan Citra karena panen mereka cukup. Mereka tidak sengaja mendengar obrolan Aslan dan Citra.
__ADS_1
“Aku... hanya takut, asalku dari Semarang, aku dikirim disini oleh seseorang karena sudah tidak punya keluarga atau kerabat, yayasan yang membayar hutang orangtuaku yang mengirimku, aku takut bertemu orang baru, kalau kamu tidak keberatan, aku bisa bekerja aja...” ucap Citra.
“Jadi kamu lebih milih kerja dulu daripada sekolah?” tanya Zeno.
Citra mengangguk pelan.
Kemudian Zeno menoleh pada Aslan, “sebenarnya Aslan itu CEO di suatu perusahaan, dia bisa mengajarimu jika kamu mau bekerja padanya” ucap Zeno.
“Eh? Dia harus sekolah, Zen!” sahut Aslan.
Zeno tersenyum lalu menepuk bahu Aslan, “kan bisa home schooling dulu, kalo udah yakin bisa sekolah reguler, nanti sekolah sama aku” ucap Zeno.
“Aslan gak sekolah?” tanya Jaka.
Aslan menggeleng, “aku udah lulus SMA kak, loncat kelas gitu, mau kuliah tapi males banget, nunggu Zeno lulus SMA aja lah” ucap Aslan.
“Kalo gitu ya masih lama kuliahnya, kuliah duluan aja sih” timpal Jaka.
Aslan menggeleng, “gak mau! Gak enak gak ada temennya.”
Zeno hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, padahal Aslan itu supel anaknya, mudah saja baginya mendapat teman baru.
“Yang namanya temen kan bisa nyari lagi, pasti bisa lah” ujar Jaka.
“Udah kak, aku juga sering bujuk dia, tapi dia emang sukanya rebahan doang” ucap Zeno.
“Ayo kita ke rumah, orangtuaku mau dateng nih, bentar lagi juga udah jam makan siang” ucap Jaka.
Jaka dan Zeno pun jalan terlebih dahulu, sementara Aslan menoleh pada Citra yang sepertinya sibuk berpikir.
Aslan pun menarik lengan gadis itu, “Ayo, kita bahas lagi nanti, kalau kamu mau ikut aku boleh banget lho... kamu juga bisa sekolah sambil kerja, atau sekolah di rumah, bebas aja, mama kelihatannya suka banget sama kamu, pasti mama seneng kalo kamu ikut kita” ucap Aslan.
“Apa aku merepotkan?” tanya Citra.
“Enggak kok, aku malah seneng lho, anak mama yang cewe cuma satu, itupun udah nikah, jadi kayaknya mama kesepian, kalo kamu ikut kita mama jadi ada temennya.”
Citra tersenyum kecil, “tante Luna cantik dan baik banget, aku suka...”
“Syukurlah jika kamu suka, aku juga suka.”
Citra menoleh bingung pada Aslan, “maksudnya?”
“Hah? Apa? Aku gak inget.”
“Aslan, cepetan kalo jalan!” omel Zeno.
“Iya iya, bawel!”
.
__ADS_1
.