Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Mencari kebenaran


__ADS_3

.


.


Jujur saja Zeno sangat gugup. Hari itu dia tidak pergi ke sekolah dan pergi ke rumah sakit untuk tes DNA bersama Jaden dan Aslan. Zeno tidak melihat ibunya Aslan sama sekali di rumah, dia juga sungkan untuk bertanya pada Jaden atau Aslan.


Karena tes DNA butuh waktu, mereka pun pergi dari rumah sakit setelah semuanya selesai.


“Papa, kita mau kemana?” tanya Aslan.


“Pergi ke suatu tempat” jawab Jaden singkat.


“Tapi kita berada di jalur untuk ke luar kota kan?” sahut Zeno takut-takut – tidak, dia hanya sungkan untuk banyak bertanya, karena sebenarnya dia masih sungkan dengan Jaden, walau sudah merasa lebih akrab.


Zeno sendiri sedang memantau kemana mereka pergi dengan aplikasi ajaib map genius, dan mereka sudah hampir keluar dari Jakarta.


“Kita akan mengunjungi makam saudara kembar Aslan – maksudku, yang kami pikir saudara kembar Aslan di Bandung, kemudian mengunjungi rumah sakit tempat kalian dulu dilahirkan, pasti masih ada data orangtua yang juga melahirkan di waktu yang sama kan?” ujar Jaden.


“Jadi aku dilahirkan di Bandung, Pa?” tanya Aslan.


“Aslan, kamu gak pernah liat akte kelahiranmu ya?” Jaden malah balik bertanya, Aslan menggaruk tengkuknya lalu terkekeh pelan, “jarang pa.”


“Kamu emang selalu gitu, ga pedulian... oh iya, panti Asuhan Zeno itu ada di Jawa tengah ya? Kotanya apa?” tanya Jaden.


“Sukoharjo Om” jawab Zeno.


“Deket gak dari pabrik textile?” tanya Aslan.


“Pabrik?” Zeno malah bingung, karena sepertinya ada beberapa pabrik, namun dia tidak tahu tentang pabrik textile, yang dia tahu hanya satu pabrik besar.


Yaitu pabrik bernama Saritex Indonesia, hampir semua orang mau pergi bekerja disana, bahkan Zeno pikir dia akan bekerja disana jika tidak bisa pergi ke SMA, tapi itu akan sulit, mengingat minimal lulusan SMA.


“Ada pabrik kenalanku, itu pabrik textile yang bagus, dia mengajak bekerjasama dengan butik milik istriku, karena butuh kain yang berkualitas bagus, mereka memiliki kain yang bagus-bagus dan kami mempertimbangkan untuk bekerjasama dengan mereka, aku dan istriku akan pergi kesana, mungkin Zeno mau ikut sekaligus mengunjungi panti” tanya Jaden.


“Boleh?”


“Tentu saja boleh, aku juga akan ikut!” sahut Aslan.


“Lebih baik mencari waktu Zeno liburan saja.”


“Oh iya Om, tante Luna – maksudku... eum, dia tidak kelihatan di rumah” tanya Zeno.


“Mama sangat sibuk, Zeno, dia maniak kerja, suka sekali bekerja, makanya anaknya sedikit, cuma dua kali melahirkan saja” ucap Aslan.


“Kenapa setiap lahir kembar? Ku pikir mendapat anak kembar itu sulit” tanya Zeno lagi.


“Ah, itu... kedua keluarga baik dari keluarga papa, yaitu keluarga Raynold, maupun keluarga mama, yaitu keluarga Wijaya, sama-sama punya gen anak kembar di dalamnya, nenekku, atau mamanya papa itu kembar, sedangkan mama sendiri punya kembaran, Om Leon... jadi itu tidak aneh di keluarga kami” ucap Aslan.


Zeno mengangguk-angguk mengerti, “aku pikir, anak kembar itu keren sekali, karena mereka mirip satu sama lain, kadang mereka sengaja diberi pakaian yang mirip juga” sahut Zeno.


Aslan menoleh pada Zeno yang tersenyum sambil memperhatikan ponselnya. Karena penasaran, Aslan pun melongok melewati bahu Zeno untuk melihat apa yang Zeno lihat di ponselnya.


“Wih, aplikasi apaan tuh?” tanya Aslan.


“Kamu mau punya juga? Aku bisa menjualnya padamu tapi harus membayar dua juta” ucap Zeno.


Dahi Aslan mengerut mendengarnya, “yang bener aja!”


“Ini bukan aplikasi sembarangan soalnya, yang buat juga orang hebat, yang bisa menjual dan mengedarkannya hanya aku” ucap Zeno.


“Serius?”


Jaden yang mengemudi sambil mendengarkan obrolan kedua bocah itu hanya tersenyum senang. Kevin dan Travis sudah banyak bercerita tentang Zeno, mereka bilang Zeno itu suka berjualan dan dia bisa menjual apapun.

__ADS_1


Bahkan Jaden juga mendengar ada toko buah besar yang memasok buah impor dari Zeno. Sepertinya memiliki koneksi yang luar biasa, tapi agak aneh karena Aslan bilang Zeno itu tidak mengerti banyak tentang teknologi.


Agak aneh, tapi juga tidak aneh.


Berada dalam keluarga Raynold, Jaden sudah berkali-kali melihat anak ajaib, termasuk dirinya sendiri dan putra-putrinya. Jadi Zeno tidaklah terlalu mengejutkan baginya, apalagi menantu Jaden yang bernama Travis juga sama ajaibnya.


“Oke, aku mungkin mau beli, coba katakan apa saja keunggulan aplikasi itu” ucap Aslan.


“Apa ya? Ini lebih akurat, kamu juga bisa melihat peta di dalam gedung, eum – sebaiknya kamu coba sendiri” Zeno pun menyerahkan ponselnya, membiarkan Aslan mengutak-atik map genius.


Selama beberapa menit, Aslan mengutak-atik aplikasi, semakin dipahami, semakin dia tidak paham.


“Hebat banget, bahkan sampe nama orang di mobil belakang kita juga kelihatan, ini juga jauh lebih akurat dari gogsmap, oke deh aku beli map ini! Papa beli juga ya!”


TUK!


Aslan melirik pada Zeno yang sudah mengantuk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Aslan.


“Aku ngantuk...”


“Kenapa kamu sering ngantuk? Kemarin juga tidur terus selama pesta, kita jadi gak pesta” ucap Aslan.


Zeno menguap sambil menutup mulutnya, “aku juga gak tau.”


“Udahlah tidur aja dulu, nanti aku bangunin.”


“Hmm...”


Zeno pun ketiduran selama perjalanan, sementara ponselnya ada di tangan Aslan. Zeno sangat percaya pada Aslan, dia tidak akan berbuat buruk pada ponselnya. Dan Aslan juga memang tidak melakukan apapun selain melihat aplikasi map genius.


Ah, tidak juga.


Saat tiba-tiba ada pesan dari nomor tidak di kenal, diam-diam Aslan membukanya.


Isi pesannya adalah ‘Zeno, ini aku Elle, simpan nomorku ya?’


“Heh? Ini bocah ngapain nge-chat Zeno segala?” gumam Aslan, dia memasang wajah ilfil, tapi kemudian dia simpankan nomor Elle, lalu Aslan balas dengan ‘y’ saja. biar Zeno terkesan cuek. Aslan cekikikan sendiri saat membayangkan Elle yang marah-marah karena dibalas singkat.


Aslan sering melakukannya, dan akhirnya Elle kesal sampai mengadu pada ayahnya Aslan, membuat Aslan dinasehati panjang lebar setelahnya.


Elle kembali membalas, ‘Ku dengar Zeno menginap di rumah Aslan ya? Apa semua baik-baik aja?’


Kembali Aslan memasang wajah ilfilnya, “dia gak marah? Sok akrab banget!”


“Kenapa Aslan?” tanya Jaden.


“Enggak pa!”


***


(Zeno bangun!)


Suara robot dari sistem berhasil membangunkan Zeno.


“Ugh, aku dimana?” gumam Zeno, bahkan dia belum membuka matanya saat dia bertanya. Saat dia sudah mulai membuka mata, dia sendirian di dalam mobil, lalu dia merenggangkan ototnya yang kaku.


(Kamu berada di dalam mobil yang ada di parkiran SD, Jaden dan Aslan sudah pergi ke pemakaman tidak jauh dari sini)


Tumben sekali sistem mau memberi informasi cuma-cuma, itu hal yang luar biasa.


(Aku memberitahumu karena kasihan)


“Oh, sistem bisa kasihan juga ya? Jadi mereka meninggalkanku?”

__ADS_1


(Iya, dari pada kamu nganggur, lebih baik selesaikan misi saja)


“Misi?”


(Iya, kamu jualan mulu, gak pernah berbuat baik!)


“Maaf, aku sibuk” Zeno menggaruk kepalanya canggung. Habisnya, dia selalu sibuk, jadi tidak ada waktu membantu orang.


Zeno pun keluar dari mobil, dia benar-benar berada di parkiran SD setempat. Ada beberapa bocil yang terpana melihat Zeno, mungkin karena Zeno sangat tinggi dan baru keluar dari mobil mewah.


Sepertinya, anak-anak sedang istirahat, sebagian ada yang sudah pulang juga seperti anak kelas satu sampai tiga.


(Zeno bagikan kue-kue pada anak-anak SD setelah itu akan mendapat saldo!)


“Ah, gitu ya...” setelahnya Zeno melambai pada anak-anak yang memperhatikannya.


“Halo adek-adek... coba kumpulkan teman-teman kalian, kakak akan bagi-bagi makanan buat kalian” ucap Zeno.


Sontak para bocil bersorak senang, kemudian mereka pun memanggil semua teman mereka.


Zeno kembali ke dalam mobil, kemudian membeli banyak kue yang dibungkus dengan plastik agar mudah dibagikan.


Dia pun membaginya pada anak-anak, bahkan sampai guru-guru Zeno datangi untuk dibagikan kue.


Jaden dan Aslan yang baru selesai dari pemakaman jadi heran melihat Zeno yang sudah bagi-bagi kue.


“Aslan, dapat darimana dia kuenya?” tanya Jaden.


“Entahlah pa, mungkin membeli dari sekitar sini” jawab Aslan yang juga bingung.


Memang Zeno tidak bisa ditebak.


“Gak perlu dipikirin pa, nanti pusing sendiri kita.”


Zeno menoleh pada Jaden dan Aslan yang sudah kembali, “udah selesai?” tanya Zeno.


“Seharusnya kamu kalo udah bangun nyusul dong!” protes Aslan.


“Hehe, maaf... aku ingin bermain dengan anak-anak” ucap Zeno.


(Misi memberi kue pada anak-anak telah selesai, tambahan saldo sebesar 5.000.000 telah dikirimkan!)


“Kakaknya kembar!” seru salah satu anak perempuan kecil.


“Kak ayo main sama kita!” tangan Aslan juga ditarik untuk bermain bersama.


Zeno dan Aslan bermain beberapa menit saja, setelahnya mereka harus pergi lagi ke rumah sakit tempat Zeno dan Aslan dulu di lahirkan.


Bahkan Zeno sendiri baru tahu jika dia dia lahir di salah satu rumah sakit yang ada di Bandung. Karena akta kelahirannya buatan, jadi baru dibuat saat dia sudah di panti, nama orangtuanya saja juga memakai nama orang lain, hanya agar Zeno bisa sekolah saja, waktu itu akta kelahiran wajib untuk mendaftar. Bukan hanya Zeno, beberapa anak lain juga dibuat aktanya saat mau masuk sekolah.


Jaden menemui direktur rumah sakit, lalu meminta tolong untuk mencarikan data yang dia inginkan.


“Kami akan mencarinya segera tuan, tapi tidak bisa cepat, mungkin besok baru bisa kita dapatkan,” ucap direktur rumah sakit.


“Kalau begitu, hubungi saya jika sudah mendapatkannya,” Jaden mengulurkan kartu namanya pada direktur tersebut.


“Baiklah, tuan Raynold.”


“Ayo anak-anak kita kembali.”


.


.

__ADS_1


__ADS_2