Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Tes DNA


__ADS_3

.


.


“Zeno menceritakan kehidupannya di panti asuhan, dia juga menceritakan jika sebenarnya yang dia dan ibu panti pikir orangtuanya adalah orang lain. Ada pasangan suami istri yang sangat menginginkan seorang anak, istrinya hamil, saat melahirkan, anaknya tidak tertolong. Berhubung di rumah sakit yang sama ada wanita lain yang melahirkan dan anaknya kembar, suami menukar anaknya yang telah meninggal dengan salah satu anak kembar tanpa sepengetahuan suster dan istrinya, dan anak itu adalah Zeno. Sementara wanita yang malang itu, hanya tahu salah satu anak kembarnya meninggal, begitu yang Zeno ceritakan padaku” ucap Elle.


Saat itu, Zeno yang sudah kelelahan berpikir dan bercerita panjang lebar, ketiduran di pelukan Elle. Saat gadis itu sudah tidak kuat menahan beban Zeno, datanglah Aslan dan Xeon, keduanya mengangkat tubuh bongsor Zeno ke atas ranjang yang ada di rumah pohon. Kemudian, Elle menceritakan kenapa dia ada disana.


“Jadi begitu ya? Mungkin dia tidak mau mengatakannya padaku karena dia tidak punya bukti” ucap Aslan.


“Zeno memang bodoh, padahal bisa tes DNA dan lagipula wajahnya saja sudah menjadi bukti yang kuat, memangnya seberapa banyak orang memiliki kemiripan sampai 90% dan umurnya pun sama, terlalu banyak kemiripan sampai aku bingung sendiri membedakan kalian” sahut Xeon.


Elle mengangguk mengiyakan ucapan Xeon.


Kemudian Xeon menoleh pada Elle, “kau langsung berlari kemari untuk menemuinya?” tanya Xeon.


Elle mendadak menjadi gugup dan pucat, “me-memangnya kenapa sih? Apa aku salah?”


“Kamu suka sama Zeno ya?” tuduh Aslan, sambil menuding wajah Elle dengan telunjuknya, yang langsung ditepis oleh Xeon.


“Sepupu boleh menikah, Aslan.”


“HAH? Kata siapa?”


“Aku, baru saja aku yang mengatakannya.”


Sesungguhnya, Aslan ingin menjitak kepala Xeon, tapi dia ragu untuk melakukannya, karena tahu Xeon akan membalas dua kali lipat.


“Aku tidak menyukai Zeno seperti itu, kalian kenapa sih?” bantah Elle.


“Udah, bantuin Dania promosi aja sana” timpal Aslan.


“Iya, kalo kamu suka sama Zeno, harus menjual sebanyak-banyaknya, Zeno suka uang” ucap Xeon.


“Hentikan, Xeon! Aku gak suk –”


“Ssstt! Berisik, nanti Zeno bangun!”


Elle pun berdecak malas, kemudian turun dari tangga rumah pohon.


“Biar aku yang jagain Zeno, Xeon, kamu pergi aja ke pesta,” ucap Aslan.


“Padahal pesta baru dimulai, Zeno udah tidur aja” protes Xeon.


Padahal, dalam bayangan Xeon, mereka akan bersenang-senang dan makan banyak.


Setelah Xeon pergi, Aslan kembali menghampiri Zeno, menutup pintu rumah pohon, lalu ikut berbaring di sebelah Zeno. Ranjangnya luas, jadi muat mereka berdua, rumah pohonnya juga tidak kecil, masih ada lemari, karpet, televisi, dan meja kursi.


Aslan hanya diam menatap langit-langit, dengan diiringi dengkuran halus Zeno yang sedang tertidur pulas di sampingnya.


“Kita ini, kembar gak sih?” gumam Aslan.


“Kenapa juga kamu berusaha menghindari itu? Aku gak ngerti sama sekali, harusnya kamu semangat dong bisa ketemu keluargamu, iya kan? kalo aku jadi kamu – oh... apa kamu minder? Ngrasa gak pantes? Dasar Zeno, kamu tuh bikin gemes aja, begonya... hhh – aku juga bego banget ngomong sendiri.”


Setelah terjadi keheningan selama lima detik, tiba-tiba saja suara kekehan terdengar. Aslan menoleh dengan cepat, “sejak kapan kamu bangun?”


“Sejak ‘harusnya kamu semangat...’ yah, kamu benar, aku gak pede, aku ini cuma anak desa yang udik dan kampungan, jika aku bagian dari keluargamu, aku hanya akan membuat kalian malu, aku – masih belum siap menerimanya.”


“Gitu ya?”


“Lalu, aku juga gak punya bukti yang menguatkan jika aku saudara kembar mu.”


Aslan terdiam sejenak, kemudian dia mengangkat tangannya dan...


TAK!


Zeno mengusap dahinya yang barusan disentil oleh Aslan.


“Bodoh! Di dunia ini ada yang namanya tes DNA!”

__ADS_1


“Hah? Apa itu?”


Aslan berdecak malas, “tes DNA itu adalah tes yang bisa membuktikan, apakah kita memiliki DNA yang sama atau tidak, karena jika keluarga harusnya DNA-nya mirip, tapi jika tidak ya... tidak.”


“Ah, gitu...”


“Nanti kita tes DNA.”


“Gak mau!”


“Zeno...”


“Gak mau disuntik.”


“Kamu ini anak kecil ya?”


“Iya.”


“Anak kecil mana yang jualan online untung berjuta-juta?”


“Ada, aku.”


Aslan berdecak kesal, lama-lama Zeno jadi sama menyebalkannya dengan Xeon.


“Kau ini...”


“Kamu juga kan udah punya saham di umur yang masih muda, bahkan pacaran aja pas umur 11 tahun!”


Aslan melotot mendengarnya, “kan aku udah bilang, Dania yang maksa! Aku masih bocah jadi gak bisa nolak! Aku bahkan nangis-nangis tapi kak Aileen sama kak Arvin cuma ngetawain aja! Ngeselin emang.”


“Bukannya kamu sama Dania seumuran?”


“Dia lebih tua tiga tahun dari kita, Zeno. Aku kan lompat kelas, jadi pas umur 11 itu aku lompat dari kelas lima SD ke kelas satu SMP, disana Dania tiba-tiba datang dan memaksaku jadi pacarnya, aku juga gak tau kenapa kita belum putus.”


Zeno menoleh pada Aslan, yang sedang menatap lurus ke arah langit-langit.


“Emang, kamu gak suka sama dia?”


“Kok kayaknya gak yakin sih?”


“Zen, kamu ini suka ngepoin hubungan orang ya?”


“Emang kenapa?”


“Ngeselin tauk!”


***


Saat Zeno bangun tidur, dia sudah berada di kamar yang sangat asing baginya. Kamar itu seperti kamar milik seseorang, karena ada banyak pajangan seperti robot, lego, komputer yang terlihat canggih. Lebih seperti kamar anak gamers, atau hacker profesional, karena komputer canggih yang dimaksud memiliki tambahan tiga layar besar lain.


Zeno tidak begitu paham, tapi dia sepertinya tahu itu kamar siapa.


(Kamar Aslan)


“Iya, aku tahu, jadi... aku dibawa ke rumah Aslan?”


(Benar, kau tidak ingat apa yang terjadi?)


Zeno menggeleng pelan, yang dia ingat, dia mengobrol dengan Aslan di rumah pohon, lalu Dania dan Elle datang memberitahukan jika mereka mendapat beberapa pesanan. Setelah itu Zeno mengurusi pesanan itu, mengirimnya ke alamat pemesan masing-masing. Dia juga berjanji akan mengirimkan apa yang Dania inginkan, yaitu krim wajah, sunscreen gel, lotion dan lain-lain, ada banyak yang dia inginkan. Aslan yang tidak enak hati mengatakan akan membayar semuanya, tapi Zeno menolaknya.


Mungkin pikir Aslan Zeno mengeluarkan banyak uang untuk memberikan semua barang itu, padahal tidak sama sekali.


Oh iya, Elle belum meminta apapun.


Hanya itu yang Zeno ingat.


“Apa setelah itu aku ketiduran lagi ya? Kenapa aku terus ketiduran?” gumam Zeno.


Setelah itu dia mengelilingkan pandangannya pada sekitar, ternyata Aslan juga ada disana, tidur sambil menggelung tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Zeno mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi map genius, kemudian membuka peta lingkungan di sekitarnya.


Ternyata rumah Aslan tidak terlalu jauh dari rumah Kevin, tapi cukup jauh untuk ke sekolah Zeno.


Kenapa juga Zeno dibawa ke rumah Aslan? Dia harus sekolah hari ini.


Zeno mencubit layar agar layarnya memperbesar map, hingga map rumah Aslan terlihat jelas. Bahkan map itu bisa melihat siapa saja yang ada di dalam rumah.


Pantas saja Zeno ada disana, Kevin saja juga ada disana, bersama Travis. Karena map itu genius, jadi keadaan orang yang ada juga terlihat, misalnya orang yang tidur, akan ada emoticon tidur di atasnya, jika bangun akan normal.


Hampir semua yang ada di dalam rumah tidur, kecuali seseorang yang ada di dapur.


Namanya Jaden.


Zeno tidak tahu itu Jaden ayahnya Aslan, atau Jaden kakaknya Travis.


Karena bosan dan tidak bisa tidur lagi, Zeno pun turun dari ranjang dan pergi ke luar kamar, menemui Jaden yang sudah bangun, berada di dapur.


Padahal jam masih menunjukkan pukul lima pagi, Jaden sudah bangun saja.


“Se-selamat pagi” ucap Zeno dengan kaku setelah memasuki dapur.


Ayahnya Aslan, Jaden, berbalik lalu tersenyum pada Zeno.


“Oh, kamu sudah bangun? Mau bantu memasak?”


Zeno tersenyum kecil lalu menghampiri Jaden, “anda masak apa?”


“Menurutmu, enaknya masak apa? Aku diberi hadiah beberapa lobster berduri oleh teman.”


“Aku belum pernah makan itu.”


Jaden menoleh pada Zeno, “oh ya? Kalau begitu, kita makan ini saja pagi ini, ku ajari cara memasaknya.”


“Om bisa memasak ya?”


Jaden terdiam, menatap Zeno beberapa saat. Setelah kejadian semalam, dia mulai berpikir lagi, benarkah Zeno itu bukan anaknya? Sementara istrinya yakin sekali jika Zeno anak mereka, biasanya insting ibu sangat kuat.


“Om?” panggil Zeno saat Jaden malah melamun.


“Oh, iya, keluarga kita – maksudku, keluarga Raynold rata-rata semuanya bisa memasak, kami suka memasak, bahkan kadang mendapat menantu yang pandai memasak juga, haha, ayo kita mulai!”


Zeno dan Jaden pun mulai mengolah ikannya, dengan cara merebusnya dalam air yang sudah disiapkan Jaden sebelumnya. Sambil menunggu, mereka mempersiapkan bumbu.


“Om dengar, kamu membantu meyakinkan Jenni untuk berinvestasi di perusahaan kami, ya?” tanya Jaden.


“Iya, aku juga berniat untuk membeli saham di perusahaan anda juga” jawab Zeno.


“Oh begitu? Aku menantikannya, kamu sepertinya suka berbisnis ya? Padahal masih muda, beda dengan Aslan, dia genius dan menggunakan kejeniusannya untuk bermalas-malasan dan bermain, maksudnya, dia memiliki caranya sendiri bagaimana memperoleh banyak uang tanpa banyak bekerja.”


“Saya mengerti, saya pikir dia juga begitu, sedangkan saya sebaliknya, jujur saja, saya tidak pintar, saya bodoh dalam banyak bidang, tapi saya tidak masalah berusaha keras untuk mendapatkan apa yang sangat saya inginkan” ucap Zeno sambil tersenyum ceria.


Kegundahan hati yang semalam dia alami, kini menguap begitu saja, entah kenapa, berada disana bersama Jaden membuatnya nyaman, seolah dia telah terlindungi dan mendapatkan rumah.


Ah, rumah, ya?


“Zeno? Maaf sebelumnya tapi, masalah semalam... apa kamu bersedia melakukan tes DNA?” tanya Jaden.


Zeno terkejut mendengarnya, “DNA? Tapi... jika saya memang bukan bagian dari keluarga ini bagaimana? Kalian pasti kecewa kan?”


“Tidak ada salahnya untuk mencoba, jika kamu selalu takut gagal untuk mencoba sesuatu, kapan kamu akan maju?”


Jaden benar juga.


PUK!


Tangan besar Jaden sudah berada di kepala Zeno, mengusaknya pelan, “anak ku atau bukan, itu tidak masalah, kami akan mengadopsi mu jika bukan, Kevin juga sudah setuju.”


Jadi itu alasan Kevin dan Zeno ada di rumah itu...

__ADS_1


.


.


__ADS_2