
.
.
“Zeno... hey!”
Suara lembut dan tepukan pipi yang Kevin lakukan mau tak mau membuat Zeno terbangun di pagi hari. Dia menguap sebentar, kemudian duduk dan mengusak matanya.
“Iya kak kenapa?” tanya Zeno sambil bergumam.
Kevin terkekeh melihat Zeno yang belum sadar sepenuhnya, jadi Kevin memutuskan untuk menarik pipi Zeno.
“Bagun Zen! Ada orang yang tidur di kamar ku!”
Mendengar itu mata Zeno membelalak terbuka, dia sudah sadar sepenuhnya, “Hah?”
“Ada laki-laki tidur di kamarku, dia juga memakan beberapa camilan di kulkas yang ada di kamar, aku gak masalah sih, cuman... dia siapa?” tanya Kevin.
“A-ayo kita lihat dulu kak!”
Zeno takut sekali jika itu adalah Andi, padahal Zeno sudah meminta Andi untuk tidur di kamar yang sudah disiapkan sebelumnya, yaitu kamar tamu. Memang kamarnya biasa saja, tapi ya bagus sekali, ada ranjang empuk, lemari besar, kamar mandi dalam ruangan, ada balkon kecil juga, bagus lah pokoknya.
Zeno juga melarang Andi untuk masuk ke kamar Kevin dan kamar dia, Andi bilang iya iya saja, jadi Zeno percaya dia tidak akan pergi ke kamar Kevin.
Memang sih, kamar Kevin tidak pernah dikunci, Kevin merasa aman karena memang tidak ada barang berharga yang Kevin simpan disana, palingan baju-baju dan sepatu atau aksesories, itu saja.
Zeno terus berdoa dan berharap itu bukan Andi, jika yang melakukannya adalah maling itu lebih baik bagi Zeno.
Karena jika itu Andi, Zeno malu dengan Kevin, karena Kevin itu orangnya baik sekali.
Zeno masuk duluan ke kamar Kevin, dia melongo tidak bisa berkata-kata lagi, tapi detik berikutnya dia sudah panik. Dia pun membangunkan Andi yang tidur seenaknya sendiri di kamar Kevin, memakai piyama Kevin segala.
Apa maksudnya semua itu?
“Kak Andi, bangun kak! Jangan tidur disini, ini kamar kak Kevin!” ucap Zeno.
“Kan orangnya gak ada Zen, biar aku tidur disini dulu, disini lebih nyaman” ucap Andi sambil masih meneruskan tidurnya.
“Aduh kak, jangan gini!”
Kevin menarik Zeno ke belakang, “udah gak apa-apa, biarin dia tidur disini, aku tidur di tempatmu aja ya?” ucap Kevin.
“Tapi kak...”
Kevin tersenyum manis, lalu menggeleng, “gak apa-apa, ayo keluar.”
Jujur saja, Zeno ingin menangis kencang saking malunya, dia tidak habis pikir. Kenapa pula Kevin baik sekali? Harusnya diusir saja tidak apa-apa!
“Mungkin temanmu capek, jadi pengen tidur di tempat yang lebih nyaman, aku gak masalah kok, Zen... oh iya, dia bisa mengendarai mobil kan? gimana kalo dia jadi supir pribadimu? Aku akan mengatakan pada pak Wahyu agar mengajarinya hari ini, lalu jika kamu tidak kemana-mana, dia bisa gantian dengan pak Eno menjaga rumah” ucap Kevin.
Pak Eno itu satpam di rumah Kevin, sedangkan pak Wahyu supir pribadi Kevin. Sebenarnya Kevin ingin mempekerjakan supir baru untuk mengantar Zeno, tapi Zeno beralasan dia bisa pergi dengan gojek atau taxi, jadi tidak butuh.
Kevin dan Zeno sudah ada di dapur, duduk di kursi sambil menunggu air masak, Zeno akan membuat teh untuk mereka.
Masih jam lima pagi, jadi Zeno sekalian mau memasak untuk sarapan.
__ADS_1
“Tapi aku ngrasa gak enak sama kak Kevin, kak Andi udah gak sopan gitu...”
“Gak apa-apa kok, aku gak marah, aku laper nih, kamu mau masak apa, Zen?”
Zeno mengedikkan bahunya, “gak tahu nih kak, enaknya makan apa buat sarapan?” tanya Zeno.
Kevin berpikir beberapa detik sampai kemudian dia sudah mendapatkan jawaban di kepalanya, “mau nasi pecel Zen, enak kayaknya!”
“Oke, aku buatin pecel, kak Kevin tunggu aja dulu ya, aku siapin sayurannya dulu.”
Nasi sudah matang di pagi hari, karena Zeno memasak nasi sebelum tidur. Jadi tinggal merebus sayuran, kemudian menyiapkan saus pecel yang sudah ada. Zeno membeli bumbu pecel instan yang sangat enak dari toko sistem, harganya pun murah dan berasal dari toko rumahan, jadi rasanya pun seperti masakan rumahan.
Untuk tambahan, Zeno juga menggoreng tempe tepung, dan juga perkedel jagung.
Kevin yang menunggu sambil minum teh sudah tidak sabar dan perutnya sudah keroncongan. Masakan Zeno sangat enak dan terasa seperti masakan rumahan, tidak kalah enak dari masakan Travis atau mama nya Kevin sendiri, yah, meski pengetahuan Zeno tidak terlalu banyak. Jika Zeno terus belajar berbagai masakan baru, dia pasti bisa masak lebih baik lagi.
“Oh iya kak Kevin, beberapa hari lagi sekolahku mengadakan festival, aku bertugas menjadi koki di cafe, kayak stand gitu... kak Kevin bakal dateng, kan?” tanya Zeno.
“Pasti dong! Aku akan mengosongkan jadwalku.”
“Hehe, Aslan juga mau dateng kak!”
“Aslan? Dia juga mau dateng?”
Zeno mengangguk pelan, “iya kak!”
Kevin terdiam setelahnya, makin lama, Zeno makin mirip dengan Aslan. Dulu saat memungut Zeno, dia juga berpikir Zeno mirip seseorang, sampai kemudian dia sadar jika seseorang itu adalah Aslan, adik iparnya Travis. Lalu, setelah tahu Zeno berteman baik dengan Aslan, membuat Kevin semakin merasa keduanya mirip.
“Zeno, apa aku boleh bertanya tentang orangtuamu?” tanya Kevin.
“Oh, foto yang kemarin itu... mereka bukan orangtua ku ternyata kak, jadi aku tidak tahu siapa orangtua kandungku yang sebenarnya” ucap Zeno dengan entengnya.
Zeno berbalik untuk menatap Kevin, “anak mereka meninggal saat lahir, lalu menukar anak mereka denganku.”
“Mereka jahat sekali...”
“Iya, tapi lupakan saja, aku sekarang baik-baik saja kok kak.”
“Kenapa kamu gak nyari orangtua kandungmu?”
Zeno menggeleng, “gak usah kak, mereka sudah terbiasa tanpa aku, aku takut jadi beban jika tiba-tiba datang.”
Kevin tercekat mendengarnya, dia mulai merasa iba, pasti Zeno memiliki pemikirannya sendiri, pasti ada alasan kenapa dia tidak mau mencari.
Atau, jangan-jangan dia sudah tahu siapa orangtuanya, makanya dia berbicara seperti itu?
“Oh iya kak, Aslan ngundang aku ke pesta, dia bilang disana dia bisa bantuin aku promosiin barangku” ucap Zeno.
“Kayak lotion dan krim wajah ya?” tanya Kevin.
“Iya, apa kak Kevin juga mau bantuin aku? Sekarang aku bisa jual bebas karena udah ada ijinnya.”
Kevin tersenyum dan mengangguk, “oke, aku bantuin!”
Setelah masakan selesai, Zeno menghidangkannya diatas meja, kemudian memanggil Andi untuk sarapan bersama.
__ADS_1
Andi terkejut karena Kevin ada disana, Kevin sudah selesai makan setelah Andi datang.
“Zeno, dia udah dateng kok kamu gak bilang-bilang? Dia marah gak aku tidur di kamarnya?” tanya Andi.
“Dia marah kak, tapi karena kak Andi masih baru jadinya gak apa-apa, lain kali jangan gitu ya kak.”
“Iya deh... makanan udah mateng – yah, kok kayak gini sih? Bukannya harusnya daging, steak gitu ya?”
Zeno menoleh kesal pada Andi, “kak, makanan yang gitu buat makan malem, kalo pagi ya kayak gini, dan kak Kevin suka makanan yang kayak gini.”
“Oh gitu... abis ini aku bisa kerja kan?”
“Iya, nanti kak Andi ikut pak Wahyu, dia bakal ngajarin kak Andi buat nyupir, nanti kak Andi nurut ya?”
“Iya iya, gak usah khawatir!”
Tapi, Zeno sangat khawatir, dia takut Andi tidak sesuai dengan ekspektasinya, tapi disisi lain dia juga harus berpikir positif.
***
Di kelas, Sellya benar-benar mempromosikan barang-barang dagangan Zeno. Beberapa gadis mulai membeli setelah Sellya mengatakan ‘siapapun yang beli bisa foto sama Zeno’.
Sontak beberapa gadis mendatangi Zeno dan minta foto, membuat Zeno kebingungan.
Kenapa mereka semangat ingin berfoto dengannya? Beberapa dari mereka menanyakan akun sosial media milik Zeno juga, karena Zeno pikir mereka tertarik dengan dagangannya, dia memberi akun sosmed dan juga nomornya pada mereka.
Zeno yang polos mengira itu karena mereka tertarik ingin membeli lagi.
Tapi tidak masalah, gadis-gadis itu akan segera membeli kembali setelah tahu jika efek barangnya bagus.
Untuk sementara, sudah terjual sekitar 20 barang.
Saat istirahat, Zeno pergi ke kelas Bella untuk menanyakan apakah Bella juga berhasil berjualan seperti Sellya.
Tapi, sampai sana ternyata sedang ada keributan.
Damian, yang dulu mencampakkan Bella serta ingin melaporkannya datang pada Bella, mengatakan dia selama ini mencintai Bella.
Zeno hanya bengong ditempatnya, bisa-bisanya ada orang yang menjilat ludahnya sendiri, hanya karena Bella sudah cantik dan langsing, dia kembali lagi pada Bella.
PLAK!
Suara tamparan renyah terdengar nyaring memenuhi ruang kelas yang diam tercekat.
Bella menampar Damian.
“Dulu kamu menjadikanku barang taruhan, mau melaporkanku ke polisi, menghina fisikku, lalu sekarang berharap aku memungut mu kembali? Aku tidak akan melakukannya! Kamu keterlaluan, Damian! Aku benci!”
Suara tepuk tangan dari anak-anak kelas Bella pun terdengar memeriahkan suasana, Bella pun berjalan cepat meninggalkan Damian, setelah melihat Zeno yang terbengong, dia menarik Zeno pergi juga.
“Ayo, Zeno!”
Zeno menoleh pada Damian, dia terlihat sangat marah dan malu, dia juga menatap tajam pada Zeno.
Padahal, Zeno kan tidak salah, kenapa dia marah-marah?
__ADS_1
.
.