
.
.
Kapal yang Xeon sewa adalah kapal pesiar, sudah jauh dari bayangan Zeno. Dia pikir yang akan disewa hanya perahu biasa yang sedikit besar, tapi ternyata yang disewa adalah kapal pesiar mewah yang memang tidak terlalu besar, tapi sebenarnya besar, sedanglah ukurannya.
Yang Zeno ketahui, ukuran kapal pesiar memengaruhi harganya juga, bisa sampai miliaran. Dengan desain semewah itu, Zeno tidak yakin meski hanya disewa akan menjadi murah.
Terserah saja, Zeno tidak peduli, Xeon memiliki banyak uang untuk menyewanya.
“Udah selesai alat pancing dan umpannya?” tanya Aslan, bocah itu sudah membawa barang-barang mereka dan juga camilan, Dania juga terlihat membeli minuman.
“Sudah selesai, box untuk tempat ikan juga sudah diangkut ke kapal yang disewa Xeon, tapi...”
“Tapi apa Zen?” tanya Dania.
Zeno tersenyum lemah, “tapi ada seseorang yang menantangku memancing, sebagai lelaki aku tidak bisa mengabaikannya, walau aku tidak yakin menang” ucap Zeno.
“Kau bilang kau memancing, kan?” sahut Aslan, dia mulai emosi, karena Zeno bodoh sekali sampai menantang orang segala.
“Dia yang menantangku duluan tauk, jadi aku ingin menyelamatkan harga diriku, tenang saja, aku gak bohong pas bilang bisa mancing kok... hehe.”
Tapi ucapan Zeno, terdengar tidak meyakinkan bagi Aslan. Namun setelah mengingat Zeno itu ajaib, Aslan akan berusaha untuk menerima.
“Oke deh, emang ada taruhannya?” tanya Aslan.
“Ada, dia mau yang menang jadi pacar Bella, yang kalah gak boleh deket sama Bella” jawab Zeno dengan polosnya.
“Aku pikir Zeno gak suka sama Bella” timpal Dania.
"Bukannya gak suka Bella, dia emang ga ngerti percintaan remaja," sahut Aslan.
“Aku melakukannya karena Bella temanku, tidak mungkin aku membiarkan Damian mendekati Bella, dia jahat sekali, dulu saat Bella sedikit gemuk, dia hanya menjadikan Bella alat untuk membelikan barang mewah, dia bahkan menghina Bella, tapi setelah Bella sudah kurus dan glowing, dia malah tidak tahu diri dan menginginkan Bella, itu keterlaluan kan?” ucap Zeno.
“Tapi, kamu gak mikirin perasaan Bella, Zen? Sebagai cewek, kalo aku jadi dia, aku udah mikirin yang engga-engga tau, mulai timbul perasaan suka dan lain-lain... tapi, karena aku sudah terbiasa dengan Aslan, aku mengerti kamu pasti juga kurang peka” ucap Dania, yang malah membuat Zeno makin bingung.
“Udahlah, jangan ngomongin cinta-cintaan sama Zeno, capek, dia ga ngerti” sahut Aslan, mulai emosi, karena pantai sangat panas, dia jadi sensitif.
Mereka pun pergi ke kapal, setelah semuanya sudah siap, termasuk Damian, kapal pun segera berlayar. Ada seorang pria yang disewa untuk mengemudikan kapal tersebut dan sudah berlisensi, jadi aman.
"Aku sering pergi memancing dengan ayahku, ke laut juga sering, aku pun pernah mendapat ikan sarden, makarel, salmon kecil juga pernah... Jadi siap-siap untuk kalah ya," ulkata Damian dengan sombongnya.
Bella yang mendengar itu pun menundukkan kepalanya, takut jika Damian ternyata memang Sejago itu dalam urusan memancing.
"Damian, apa kamu pikir aku menyetujui tantanganmu tanpa persiapan? Untuk apa aku menyetujuinya jika aku tidak yakin menang?" Balas Zeno.
Damian yang mendengar itu menjadi geram, dia berdecih malas, kemudian kembali mempersiapkan alat pancing dan umpannya.
Zeno juga kembali mempersiapkan semuanya, namun, dia tidak menggunakan umpan yang dia beli dari toko keluarga Damian.
di toko ajaib, ada banyak sekali barang yang tidak masuk akal, saking tidak masuk akalnya, Zeno jadi penasaran untuk mencoba.
__ADS_1
salah satu barang tidak masuk akal tersebut adalah umpan ikan apa saja. klaim dari barang yang satu plastik memiliki seratus umpan tersebut, bisa menarik ikan apapun yang ada di sekitar dengan mudah.
jadi intinya, itu memang alat curang.
Zeno merasa bersalah dengan Damian, tapi dia sudah sangat penasaran ingin mencoba.
Anggap saja Damian tidak beruntung saat itu, lagipula, Damian duluan yang menyebalkan.
Tidak ada hujan, tidak ada angin, dia menantang Zeno, memukuli Zeno dengan teman-temannya.
Damian sudah cukup beruntung karena Zeno itu bukanlah pendendam.
"Zeno, aku juga mau mencoba memancing!" Elle dan Bella datang dengan alat pancing yang digunakan untuk ikan-ikan kecil, jadi satu alat pancing, memiliki beberapa kail.
"Oh, kalian berdua memilih alat yang itu? tidak masalah, ku rasa jam segini ikan-ikan kecil datang, ita mungkin bisa mendapatkan ikan makarel..." ucap Zeno.
"Tapi kenapa ini banyak sekali? harusnya kan cuma satu" tanya Elle.
"Alat pancing ada beberapa macam, tergantung apa yang ingin kalian pancing, cara memancing juga ada beragam, ada yang memakai umpan, ada juga yang bermana fly fishing, menggunakan jaring, dan lain-lain... alat pancing untuk menangkap ikan besar atau kecil juga berbeda, umpan yang digunakan juga berbeda, ada yang memakan cacing, ikan kecil, telur ikan... dan untuk alat yang kalian bawa ini, ada wadah kecil disini kan, nah - kalian pakai umpan tabur seperti ini."
Zeno menunjukkan umpan yang terlihat seperti daging cincang tapi lebih menjijikkan, terutama bagi perempuan kaya seperti Elle, Bella, dan Dania.
Dania mulai datang saat Zeno menjelaskan, Aslan dan Xeon juga mendengarkan sambil duduk santai.
Zeno mulai membuka umpan tabur, kemudian mendemonstrasikan cara memasukkan umpan ke dalam wadah kecil di pancingan milik Bella. setelah selesai, dia kembali menjelaskan cara memancing ke lautan.
saat itu kapal berhenti, tidak terlalu jauh dari bibir pantai, jadi Zeno yakin dia akan mendapatkan banyak ikan kecil disana.
Zeno menggunakannya untuk mengintip ikan.
Setelah Zeno selesai mengajari mereka, bahkan Aslam dan Xeon pun mau mencoba.
"Tunggu dulu, kalau kalian, lebih baik memancing ikan yang lebih besar saja, jadi alat berbeda, hanya ada satu kail - bukan yang itu, tapi yang ada kumparannya, benar! nah, kita memakai umpan ini!" Zeno menunjukkan umpan ajaibnya, dia ingin tahu bagaimana jadinya jika orang yang tida bisa memancing menggunakannya.
Aslan melongo melihat umpan berbentuk cacing tersebut, dia agak ragu untuk menerimanya, tapi Xeon tidak memiliki masalah.
"Ini umpan tiruan, bukan cacing beneran!" ucap Xeon, yang mulai kesal karena Aslan ragu untuk menyentuh cacing.
"Ugh, kelihatan kayak beneran ini!" keluh Aslan, sambil memasangkan umpan.
"Gak usah manja, dasar!"
Zeno hanya terkekeh, kemudian mengajari mereka sebentar, setelah itu menghampiri Damian.
"Lama amat, ngapain aja sih!" sambar Damian yang kesal sekali melihat Zeno mengajari teman-temannya, karena Damian pikir, jika Zeno sudah bisa mengajari begitu, artinya dia memang sudh biasa memancing, dan itu gawat bagi hasil pertandingan.
"Aku udah siap kok, jadi gimana peraturannya?" tanya Zeno.
Damian menyeringai, "gampang kok, kita lihat siapa yang lebih banyak mendapatkan ikan, kemudian jika mendapatkan salmon yang dirumorkan, nilainya bertambah sepuluh, gimana?"
Zeno mengangguk setuju, "oke, gak masalah... ayo kita mulai!"
__ADS_1
Jika Damian memang sepandai itu untuk memancing, itu artinya Zeno tidak curang untuk memakai alat ajaib. Lagipula, dimakan atau tidaknya umpan itu adalah keberuntungan, jika ikannya mau makan.
"Zeno! Pancingannya jadi berat!" Teriak Elle, dia terlihat sangat panik.
"Jangan panik, pelan-pelan naikkan, jangan sampai ikannya lepas!" Teriak Zeno.
Diam-diam Damian menyeringai, Zeno tidak akan fokus karena mengajari teman-temannya, jadi peluang Damian lebih besar.
Tidak mungkin kan Damian yang anak kota dan keren itu kalah dengan anak kampung seperti Zeno? Dia hanya beruntung karena dipungut oleh selebriti seperti Kevin Choi.
"Zeno! Ikannya menarik pancingku!" Seru Aslan, dia tidak panik, malah sedang bersemangat, jelas saja, itu adalah ikan pertama yang dia pancing.
"Pelan-pelan dan gunakan tenagamu Aslan, ikannya akan sangat kuat!" Balas Zeno, dia juga ikut senang karena teman-temannya bisa mendapatkan ikan.
Setelah beberapa lama, mereka sudah terbiasa memancing. Beberapa dari mereka terus mendapatkan ikan, terutama yang memakai umpan ajaib. Sedangkan para gadis yang memancing ikan kecil, kadang dapat, kadang tidak.
Diam-diam Bella mendapatkan ikan yang banyak.
Zeno sendiri hanya diam dan tenang, baik dia dapat atau tidak, dia tidak mengatakan apapun. Dia melakukan itu agar tidak membuat Damian panik. Karena jika Zeno berteriak setelah mendapatkan ikan, bisa jadi Damian akan memutar otak untuk mencurangi dia.
"Aku sudah mendapatkan banyak! Sebentar lagi kita sudah pindah, jangan sampai kau kalah dariku!" Damian tiba-tiba saja datang pada Zeno.
Zeno hanya tersenyum dan menoleh padanya, "syukurlah jika kamu dapat banyak, nikmati saat ini sebaik mungkin ya?"
"Dih, apa sih! Sok asyik banget, apanya yang dinikmati coba?"
Damian pun pergi lagi.
Kapal kembali berlayar menuju tempat lain, agar mendapat banyak ikan lain, jika tetap di suatu tempat, ikannya akan hafal dengan jebakannya.
Zeno menikmati waktunya memancing, rasanya menyenangkan saat ada ikan yang dia dapatkan. Sudah agak lama juga Zeno tidak memancing. Biasanya dia memancing dan bersenang-senang, kemudian memakan ikannya. Kebahagiaannya sangat sederhana.
Sekarang sudah selesai dan waktunya untuk menghitung ikan yang didapatkan Zeno dan Damian.
"Ikanmu kurang satu dariku, Zeno! Kau kalah!" Ucap Damian, dia sangat senang kelihatannya.
"Maaf Damian, tapi ada satu ikan lagi yang belum dihitung, karena ukurannya besar sekali, jadi... Ini, lihat!" Zeno menyeret kotak ikan besar, kemudian membukanya.
Semua orang melongok untuk mellihat ikan besar apa yang Zeno dapatkan.
"Itu salmonnya! Gede banget!" Seru Xeon, dia pun menepuk bahu Zeno karena sangat bangga dengan sepupunya tersebut. Jika ayah Xeon, yaitu Lino mengetahui Zeno mendapatkan ikan salmon besar, pasti Lino langsung datang dan mengajakk Zeno mancing.
"Gakk mungkin! Kok kamu diem aja kalo dapatin ikan itu? Gak heboh?" Tanya Damian.
"Aku hanya tidak ingin membuat mu panik... Jadi, aku yang menang kan? Maaf ya, Damian," ucap Zeno.
"Cih! Terserah aja!"
Zeno hanya tersenyum melihat Damian marah-marah karena kalah.
.
__ADS_1
.