
.
.
Keluarga Damian memiliki bisnis lain selain toko alat pancing, yaitu toko seafood market yang menjual hasil tangkapan laut entah itu masih fresh atau sudah diolah.
Seafood market sangat besar, terdapat di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar dan lain-lain. Meski sudah sebesar itu, ternyata seafood market baru didirikan sejak tujuh tahun lalu, oleh pamannya Damian yang masih sangat muda, seumuran dengan Arvin, namanya Reno.
Sepulang sekolah, Damian mengajak Zeno bertemu dengan Reno. Zeno sudah meminta izin pada Arvin dan Aslan, mereka mengijinkan, tapi setelahnya Arvin dan Aslan akan menjemput Zeno.
Reno adalah pria yang ramah, dia murah senyum dan sangat dihormati oleh karyawannya, dan ternyata dunia itu sempit. Reno adalah mantan pacar kakaknya Zeno, yaitu Aileen. Reno bercerita jika dia putus dengan Aileen saat keluarganya bangkrut, tapi justru Aileen yang membuat Reno ingin bangkit, kemudian mendirikan bisnis seperti itu.
Zeno kagum dengan cerita itu, Reno tidak menyerah dari keterpurukannya.
“Jadi kamu sungguh bisa memasok ikan segar untuk seafood market?” tanya Reno.
Zeno mengangguk yakin, “tentu saja, saya juga sudah menyiapkan apa saja yang bisa saya tawarkan, ada beberapa ikan yang impor juga, ada pula telur ikan yang mahal, sirip hiu juga, meski jumlahnya terbatas” ucap Zeno.
Reno terlihat lega, “syukurlah, kalau begitu, kita mulai saja kerjasama kita.”
Semuanya berjalan dengan lancar, Zeno tidak masalah meski harus memasok toko-toko di kota lain juga, karena Zeno bisa mengirimnya lewat jasa pengiriman sistem yang lebih aman dan cepat. Lagipula, uang muka sudah diberikan Reno, jadi Zeno tidak masalah dengan uangnya.
Bahkan, uang muka itu sisanya sangat banyak, karena ikan-ikan termasuk ke dalam daging yang Zeno sudah mendapatkan diskon 90% untuk membelinya.
Zeno sangat senang, dia sudah memasok buah untuk toko ayahnya Sellya, daging kualitas tinggi untuk restoran bintang tiga milik Royal food&drink, kemudian seafood market juga.
Hanya dengan begitu, uang ratusan juta akan masuk saldo dalam sebulan, dan itu sudah keuntungan bersihnya.
Belum lagi hasil dari penjualan online, itu beda lagi.
“Aku baru tahu Aileen punya adik lagi, ku pikir cuma Aslan adiknya” ucap Reno, setelah semua obrolan tentang kerjasama selesai.
Damian yang tadi keluar dari ruangan Reno, kini datang lagi, membawakan dua kotak yang satunya berisi martabak telur, satunya lagi berisi martabak manis. Setelah itu dia membuka lemari pendingin juga, mengeluarkan botol cola satu liter dan tiga gelas kertas.
“Sebenarnya, saya ini saudara kembar Aslan yang sempat hilang, memang ceritanya agak tidak masuk akal, tapi aku ditukar dengan bayi lain yang sudah meninggal di rumah sakit” ucap Zeno.
“Zeno suka cola?” tanya Damian.
“Ah, iya, tidak masalah” sahut Zeno.
“Tunggu, jadi kamu dan Aslan lahir kembar, ada ibu lain yang melahirkan dan anaknya meninggal, lalu diganti denganmu begitu? Karena ini selama ini yang aku tahu cuma Aslan?” kata Reno, mencoba menyimpulkan cerita Zeno.
“Syukurlah kamu datang ke Jakarta ya? Aku dengar kamu dari kampung yang jauh” sahut Damian, dia membukakan kotak berisi martabak.
Zeno mengambil gelas miliknya yang sudah dituang cola, lalu meminumnya sebentar, sebelum menjawab, “iya, aku juga tidak menyangka aku bagian dari keluarga itu, orangtua yang menukarku sudah meninggal, jadi kami tidak bisa melakukan apapun juga.”
“Apa sudah tes DNA?” tanya Reno.
__ADS_1
Zeno mengangguk, “sudah, hasilnya aku memang anak keluarga itu.”
“Apa kamu canggung dengan mereka?” tanya Damian.
Zeno tersenyum tipis, “tentu saja, aku juga masih belum terbiasa, tapi mereka sangat baik padaku, jadi aku merasa nyaman.”
“Apa baik-baik saja jika kita bekerjasama seperti ini? Bukankah harus minta persetujuan orangtua?” tanya Reno.
Zeno menggeleng pelan, “jangan khawatirkan itu, mereka membebaskanku untuk berbisnis, aku bahkan sudah meminta ijin kak Arvin, dia mengijinkanku kok.”
Setelah memakan dan mengobrol hingga langit berubah menjadi semakin gelap, akhirnya Arvin datang.
Arvin menyapa Reno dan mengobrol sebentar, kemudian Zeno dan Arvin pun pulang.
“Katanya Aslan mau datang menjemput?” tanya Zeno.
“Dia ada urusan dengan aplikasinya, katanya ada masalah kecil, jadi dia pergi ke kantor” jawab Arvin.
“Ah, begitu.”
Saat itu mereka sudah berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang ke rumah. Zeno kembali mengingat tentang HR Group, dia pun menoleh pada Arvin yang sedang serius mengemudi.
Zeno menunggu lampu merah, baru dia bicara.
“Kak, aku sudah mengetahui jika penculikanku berhubungan dengan HR Group, Tasya adalah putri dari pemilik perusahaan itu kan?” ucap Zeno.
Zeno mengernyitkan dahinya, “kok kak Arvin gak tahu?”
“Identitas Tasya itu tidak dipublish, sangat privat, aku sudah menduga dia ada hubungan dengan Harjuno, tapi tidak tahu jika Tasya adalah putrinya. Harjuno itu pria yang suka gonta-ganti wanita, bahkan dia pernah menikah atau tidak saja tidak ada yang tahu, tapi ternyata memiliki anak?”
Zeno mengedikkan bahunya, “aku tidak tahu, tapi bisa jadi anak di luar nikah kan?”
Arvin mengangguk-angguk, “itu sangat masuk akal, tapi kamu tahu dari mana?”
“Ak-aku tidak sengaja tahu, lalu, aku juga kepo kak... jadi aku cari tahu, sepertinya aku sengaja diculik karena perseteruan perusahaan ya kak?”
Arvin menghela nafas berat, “kamu bener, kita menang tender dari Harjuno, ku rasa dia mengincar kita sekarang, pasti kenalanmu itu, Udin, sudah tahu kamu anak Raynold dari Harjuno, atau memang Harjuno yang meminta Udin itu untuk menculikmu dan kebetulan dia kenal kamu.”
“Anu kak... sepertinya Harjuno itu memiliki bisnis gelap, dia memiliki anak buah seperti Udin, untuk mencari anak-anak dibawah umur, gadis cantik, atau pemuda tampan untuk menemani petinggi-petinggi, orang seperti Udin akan mencari korban sesuai keinginan kliennnya, dan aku sendiri kan sempat akan dijual oleh Udin” ucap Zeno.
“Kalau begitu, aku akan menyelidiki hal itu.”
“Aku akan membantu, kak!”
“Hey, tidak perlu... itu sangat berbahaya, lebih baik kamu diam saja, aku takut kamu diculik lagi.”
Zeno menggeleng, dia sangat keras kepala.
__ADS_1
“Kak Tasya menyukaiku, aku akan memanfaatkan hal itu untuk membantu kakak!”
Arvin menyeringai, “ini akan bahaya, kamu yakin?”
Zeno mengangguk yakin, “yakin, kak!”
“Kalau begitu, kita hancurkan Harjuno bersama-sama, okay?”
Zeno hanya mengangguk untuk menjawabnya, setelah itu Arvin harus fokus mengemudi.
Sebelum pulang, mereka pergi memesan burger dengan drive thru.
Sebenarnya Zeno sudah kenyang dengan martabak, namun setelah melihat burger, dua pun tergoda. Jika dia gendutan, dia bisa meminum ramuan pelangsing saja, itu sangat mudah.
Sambil menunggu pesanan, Zeno memeriksa ponselnya, dia pun menemukan sebuah nomor tidak dikenal memberinya pesan.
“Nomor siapa ini? Kenapa ingin bertemu?” gumam Zeno.
(Bertanya pada sistem?)
“Hmm” Zeno mengangguk pelan, membuat Arvin menoleh padanya dengan cepat, “dek, kamu ngomong sesuatu?” tanya Arvin.
(Itu adalah manager Tasya, suruhan Harjuno untuk menghubungimu)
Benar juga, setelah itu nomor tidak dikenal memberikan pesan gambar sebagai ancaman.
Itu adalah foto Zeno saat masih pingsan, Tasya memeluknya dengan mesra. Bagi Zeno itu terlihat seperti foto tidak senonoh padahal mereka semua memakai baju dengan benar, perasaan Zeno tidak nyaman.
Dia mulai berpikir yang tidak-tidak, bagaimana jika Tasya sudah melakukan sesuatu padanya saat dia tidak sadarkan diri di mobil? Memikirkan itu membuat Zeno merasa tidak tenang sama sekali. Tapi anehnya, Zeno tidak marah.
Entah apa yang Zeno inginkan sebenarnya.
SRET!
Zeno terkejut saat Arvin menyambar ponselnya dengan cepat, “Apa-apaan ini?” ucap Arvin.
“Ku rasa itu orang suruhan Harjuno yang ingin aku menemui mereka kak, gimana ini? Apa aku harus bertemu?”
Arvin mengangguk, “temui saja, aku akan ada dibelakang mengawasi, nanti aku akan menelfonmu, agar aku bisa mendengar apa yang kalian bicarakan, oke? Kamu pakai earphone saja.”
“Baiklah, ini alamat untuk bertemu.”
Pesanan mereka sudah selesai, jadi Arvin kembali mengemudi.
“Kita berangkat!”
.
__ADS_1
.