Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Uang tak menjamin kebahagiaan


__ADS_3

.


.


Suasana canggung mulai Zeno rasakan, atau – itu hanya Zeno saja, karena kenyataannya Tasya malah senyum-senyum bahagia.


Sistem bilang, itu adalah pertama kalinya Tasya bahagia dalam hidupnya. Apakah itu sungguhan? Rasanya agak aneh jika dalam 21 tahun hidupnya, tidak pernah merasa bahagia sama sekali.


Apa jika Zeno cium dia lagi, akan dapat satu miliar lagi?


(Itu tidak mungkin, Zeno, karena ketulusannya juga sudah hilang)


(Jika kamu cium lagi, kamu melakukannya hanya karena uang)


Ugh, Zeno benci mengakuinya, tapi sistem benar. Lagipula, belum tentu euforianya akan sama, pasti sudah jauh berbeda.


Zeno dan Tasya sudah jalan-jalan mengelilingi taman hiburan, jika ada yang mereka ingin makan, maka Zeno akan membelikannya.


Arvin sudah memberi pesan pada Zeno, jika dia menunggu Zeno di mobil saja.


“Kak Tasya, apa aku boleh bertanya?” tanya Zeno.


“Tanya aja” sahut Tasya dengan cepat, moodnya sepertinya sudah jauh lebih baik.


“Anu – apa kamu bahagia menjadi putri tunggal Harjuno? Dia memiliki perusahaan besar bukan? Kelihatannya orang hebat” ucap Zeno.


“Ah, papa ya? Jangan tertipu dengan penampilan papa, dia tidak pernah menyayangiku, dia bilang dia melakukan semuanya demi aku, tapi tidak ada satupun yang aku suka, selain mendekatkanmu denganku, hehe, aku sangat menyukai Zeno! Sangat suka!” ucapan terakhir Tasya terdengar agak kencang, beberapa orang yang mengunjungi taman bermain menoleh pada mereka lalu bisik-bisik.


“Itu Tasya yang main drama badboy in love kan?”


“Wah, iya, sama siapa dia?”


“Bukannya dia terlibat kasus penculikannya? Kenapa beritanya udah gak heboh ya?”


“Katanya Tasya kan punya sponsor gitu, pasti udah dibersihin lah beritanya.”


Tasya tidak kelihatan memedulikan omongan orang-orang, dia tetap tersenyum dan memeluk lengan Zeno.


“Syukurlh kalau begitu” ucap Zeno.


Tasya mendongak menatap wajah Zeno, “syukur kenapa?” tanya Tasya.


“Karena akhirnya kamu bahagia juga, dengan bertemu denganku” ucap Zeno.


Tasya tersenyum lebar lalu mengangguk, “syukurlah, ya? Zeno beneran mau jadi pacarku kan? gak bohong kan?”


“Kalau bohong, gimana? Papa mu memintaku untuk menjadi pacarmu demi mengembalikan nama baikmu, aku meminta sahamnya, bukankah sudah jelas aku terpaksa?”


Mata Tasya berkaca-kaca mendengar ucapan Zeno, “jadi Zeno terpaksa?”


“Iya, tapi bukan berarti aku tidak tulus melakukannya, aku tidak menyukai papa mu, bukan kamu kok... aku melihat kamu tidak berbahaya dan lucu, jadi aku menyukaimu.”


Zeno mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Tasya, dia tidak mungkin mengatakan jika dia memanfaatkan Tasya. Tapi, ucapannya tentang menyukai Tasya itu tidak salah, dia menyukai Tasya, walaupun itu bukan suka yang serius seperti menjurus pada percintaan.


“Sungguh?”


“Iya, sungguh... jadi jangan khawatir, aku ingin mengenalmu lebih dalam, karena aku disuruh membawamu, kak Tasya mau main ke rumahku? Kakak udah makan malam?” tanya Zeno.


“Belum, aku disuruh diet, katanya aku makin gendutan” ucap Tasya.


Pantas saja dia senang sekali membeli beberapa jajanan di taman huburan.


“Memangnya, kak Tasya sering disuruh diet?” tanya Zeno.

__ADS_1


Tasya mengangguk lalu menghela nafas berat, “setiap hari makananku kalorinya dibatasi, beberapa diantara makanan itu tidak enak, adanya sayur, dada ayam, pokoknya bosen banget... setiap berat badanku naik, aku tidak boleh banyak makan” keluh Tasya.


Mereka sudah sampai di luar taman hiburan, Zeno dan Tasya menghampiri mobil Arvin.


“Kenapa kamu bawa dia?” tanya Arvin.


“Kak Arvin udah denger kan tadi? Aku yang disuruh nganter kak Tasya, tapi sebelumnya, kita makan malam bersama dulu, kak Tasya belum makan” ucap Zeno.


“Oke, kamu yang masak ya?”


“Beres!”


“Zeno bisa masak?” tanya Tasya.


“Bisa dong! Kak Tasya mau makan apa?”


“Daging wagyu!” sahut Tasya dengan semangat.


“Hei, jangan berlebihan, kau pikir daging Wagyu itu murah?” omel Arvin, sepertinya dia tidak menyukai Tasya.


“Papa ku bilang murah kok... meski aku gak boleh makan, tapi di rumahku banyak” ucap Tasya, dia memeluk lengan Zeno makin erat, takut dengan Arvin yang kelihatan galak.


“Kalo gitu makan di rumahmu sana.”


“Kak Arvin, jangan gitu dong... dia pacarku sekarang” sahut Zeno.


Arvin berdecih kesal, “Jika kau tidak menguntungkan, aku tidak akan membiarkanmu jadi pacar Zeno.”


Mendengar itu diam-diam Tasya menangis.


Zeno jadi bingung harus bagaimana.


“Kak Arvin... ku mohon, jangan kasar pada kak Tasya, meski papa nya jahat, Kak Tasya itu tidak bersalah sama sekali” ucap Zeno.


“Zeno, kamu hanya terlalu baik, bukankah dia yang menculikmu dan hampir melakukan yang tidak-tidak terhadapmu, jangan terlalu memercayai orang baru.”


Zeno pun mengusap kepala Tasya dengan lembut, “Kak Arvin emang gitu, kak Tasya yang sabar ya? Setelah makan malam nanti Zeno antar pulang kok.”


Tasya hanya mengangguk pelan, dia benar-benar takut dengan Arvin.


“Jangan menangis, aku jadi sedih...” bisik Zeno, sambil menghapus airmata Tasya dengan ibu jarinya.


Sampai di rumah, Zeno membawa Tasya ke dalam rumah. Tapi di rumah ada Aileen dan Luna yang tidak menyukai Tasya, hampir saja Tasya diusir jika saja Zeno tidak mengatakan.


“Kalau kak Tasya diusir, aku juga akan pergi” ucap Zeno.


“Sayang, kok kamu lebih belain dia daripada kita?” tanya Luna, dia terlihat sangat terluka.


“Zeno juga kecewa dengan mama, kak Arvin, kak Aileen juga... kalian gak tau apa-apa tentang kak Tasya kan? kalian belum tahu, jadi tidak baik membicarakan yang tidak-tidak tentang dia, ini bukan seperti aku akan menikahinya esok hari. Sudahlah, kak Tasya, kita makan di luar aja, aku anter naik sepeda juga ya?”


Tasya yang sangat shock hanya bisa mengikuti Zeno, yang masih mengenakan seragam sekolahnya.


Awalnya, Tasya pikir Zeno akan mengantarnya dengan motor matic paling tidak, karena jarak rumah Tasya dengan rumah Zeno lumayan.


Tapi ternyata itu sepeda kayuh, yang ada boncengan di belakangnya.


“Ayo ku antar pulang, kak! Aku tahu jalan pintas” ucap Zeno.


Tasya hanya pasrah dan naik di belakang.


“Zeno, apa aku berat?” tanya Tasya setelah Zeno sudah keluar dari rumahnya.


“Enggak kok... oh iya, kak Tasya mau makan wagyu ya? Ayo kita ke restoran temanku!”

__ADS_1


Dengan semangat Zeno mengayuh sepedanya, Tasya tidak berat sama sekali, malah seenteng kapas, seolah Zeno tidak membonceng apapun. Mungkin itu karena berat badan Tasya juga cuma 45 kg padahal tingginya mencapai 170 cm.


Restoran yang Zeno datangi adalah restoran Jepang milik keluarga Yoshi, restorannya cukup besar. Zeno sudah menghubungi Yoshi agar mendapatkan akses ke ruang VIP, takutnya saat dia datang sudah penuh.


Yoshi sendiri yang datang menyambut Zeno, bocah berkulit putih pucat itu terkejut bukan main melihat Zeno datang dengan aktris.


Tapi, Yoshi tidak mengatakan apapun, dia hanya mengantar Zeno ke ruangan VIP.


“Kalian mau pesan apa?” tanya Yoshi.


“Masa kamu yang melayani? Aku jadi gak enak” ucap Zeno.


Yoshi tersenyum kecil, “karena festival kemarin, aku jadi sering membantu menjadi pelayan, dan orangtuaku sangat senang, aku juga digaji... hehe, gak usah sungkan, kalian pesan apa?”


“Kita pesan daging wagyu” ucap Zeno.


“Heh? Serius gak nih? Mahal banget lho...”


Zeno tersenyum lalu menepuk bahu Yoshi, dia menatap Yoshi dengan tatapan yakin, “iya, serius... karena pacarku yang pengen, iya kan kak?”


“NANI?”


Yoshi kaget mendengar ada kata ‘pacar’ kemudian Tasya sendiri senyum-senyum salting.


“Gak usah kaget, pesankan aja makanan yang paling enak disini, jangan lupa minumannya juga, oh iya, wagyunya jangan lupa ya?”


“O-okey!”


Yoshi buru-buru pergi, mungkin dia ingin menenangkan jantungnya yang masih shock.


“Zeno, apa baik-baik aja Zeno langsung pergi? Keluarga Zeno terlihat tidak suka” ucap Tasya.


“Entahlah... aku sendiri kecewa karena mereka memandangmu sebelah mata, aku pikir mereka sangat baik, tapi tentu saja manusia memiliki sisi buruk, aku juga begitu” sahut Zeno.


Tasya menundukkan kepalanya, dia baru sadar, keputusannya untuk jatuh cinta pada Zeno sudah tepat. Awalnya Tasya hanya menyukai wajah tampan Zeno, dia tidak pernah berharap kepribadian Zeno juga setampan wajahnya.


Zeno melirik pada Tasya yang menundukkan kepala, saat dia menarik dagu Tasya agar mendongak, ternyata Tasya sudah menangis lagi tanpa suara.


“Kenapa menangis? Mau ku peluk?” tanya Zeno.


“Mau!” Tasya segera memeluk Zeno dan melanjutkan tangisnya.


“Tadi kak Tasya langsung berubah sedih setelah mendengar ucapan kak Arvin, itu kenapa?”


“Maaf, kakakmu bilang dia baik padaku karena aku menguntungkannya, jika tidak dia tidak akan merestui kita kan? aku – aku selalu mendapatkan ucapan itu... sejak kecil, papa tidak terlalu menyukaiku dan menganggapku gangguan. Papa ingin menjadikanku penerusnya, jadi dia membuatku belajar banyak, tapi aku tidak pandai belajar, aku bodoh... papa berhenti membuatku belajar setelah sadar aku bodoh. Jadi setelah lulus SD, papa meminta beberapa orang ahli untuk melatihku menjadi aktris. Papa bilang, aku harus menjaga kecantikanku karena itu satu-satunya yang bisa dimanfaatkan untuk mencari uang. Jadi sejak itu aku tidak pernah makan enak, aku home schooling, tidak ada teman, semua gerakanku diatur, aku selalu dikurung, tidak boleh kesana-kemari, aku –”


Tasya sudah tidak bisa meneruskan ucapannya, dia kembali menangis kencang.


Zeno pikir, menjadi anak orang kaya akan membuat anak manapun bahagia.


Tapi ternyata dia salah, malah dia bersyukur karena dibesarkan dengan sederhana di panti. Zeno selalu tertawa bahagia, bermain dengan teman-teman.


Pantas saja Tasya itu aneh sekali, dia dibesarkan dengan ayah yang tidak baik dan berhati dingin.


“Kak Tasya, aku akan membantu kakak keluar dari kekangan papanya kakak” ucap Zeno.


“Bagaimana caranya?” tanya Tasya disela-sela tangisannya.


“Entahlah, kita cari tahu nanti saja, sekarang kita makan dulu, kakak mau wagyu kan?”


Tasya mengangguk pelan, “iya...”


“Tersenyumlah, aku akan membuat kakak bahagia lebih dari sebelumnya, oke?”

__ADS_1


.


.


__ADS_2