Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Jalan-jalan di Yogyakarta


__ADS_3

.


.


Jaden membuka pintu kamar hotel putra kembarnya, dia pun menghela nafas lelah melihat keduanya bukannya tidur malah perang bantal.


Bugh bugh!


“Anak-anak!”


Zeno menoleh lebih dulu pada pintu masuk, Aslan pun sukses memukul kepala Zeno.


“Aduh!”


“Aslan... jangan gitu!”


“Zeno duluan pa!”


Jaden menghampiri keduanya lalu duduk di tepi ranjang, “mama ngantuk pengen tidur, jadi jangan berisik ya?”


Saat itu mereka sudah sampai Yogyakarta tengah malam, mereka menginap di salah satu hotel. Namun, karena selama perjalanan Zeno dan Aslan sudah banyak tidur, jadi mereka belum bisa tidur juga meski sudah hampir jam satu dini hari.


“Maaf Pa, tapi Zeno duluan yang mulai,” ucap Aslan, masih ingin menyalahkan Zeno.


“Enggak pa, Aslan duluan yang mukul, aku cuma bales kok” bantah Zeno.


Jaden kadang lupa jika putranya itu masih bocah, habisnya, keduanya memiliki tinggi badan sekitar 185 cm, salah satunya sudah lulus SMA dan menjadi CEO, satunya lagi sudah cocok jadi pebisnis handal... tapi ternyata mental keduanya masih sesuai dengan umur.


“Jadi, kenapa kalian bertengkar?” tanya Jaden, berusaha untuk tetap bersabar.


“Aku minta sama Zeno sesuatu yang menyegarkan, lalu dia ngasih permen kecut pa, permennya cepet habis tapi kecutnya masih berasa sampe sekarang!” cerita Aslan, dia benar-benar terlihat kesal, lebih kesal lagi karena Zeno hanya terkekeh dan terlihat tidak bersalah sama sekali.


Jaden pun menoleh pada Zeno, “kenapa kamu ngerjain Aslan?”


“Aku gak salah dong pa, dia minta sesuatu yang menyegarkan!”


“Udahlah, kalian tenang ya, jangan ribut... besok pagi katanya mau jalan-jalan ke candi? Kita sore udah pergi ke panti asuhan jadi kalian harus tidur sekarang” ucap Jaden, kemudian dia mengacak rambut Zeno, lalu setelahnya Aslan.


“Papa capek, jadi jangan ribut ya? Kasihan penghuni kamar sebelah juga, kalo mereka gak bisa tidur gimana?”


“Maaf pa” ucap Zeno dan Aslan kompak.


Setelah Jaden pergi, keduanya pun merebahkan tubuh mereka dan menatap langit-langit kamar.


“Zeno?” panggil Aslan, Zeno hanya bergumam untuk menyahutinya.


“Apa menurutmu, dunia lain itu ada? Aku sering berpikir kayak gitu, gak mungkin kan hanya bumi kita yang ada kehidupan, sedangkan ada beberapa galaksi di luar sana, tidak menutup kemungkinan ada planet lain yang memiliki kehidupan” ucap Aslan.


“Emangnya kalo ada, kamu mau kesana?” tanya Zeno.


“Heeey, emangnya kita bisa kesana?”


“Mungkin aja bisa, apapun bisa terjadi kan... aku aja bisa beli daging dari dunia lain.”


“Ha?”

__ADS_1


Zeno buru-buru menutup mulutnya, mungkin efek kelelahan, dia tidak bisa mengontrol ucapannya. Tapi memendam rahasia itu sangat berat bagi Zeno, rasanya dia ingin mendiskusikan berbagai hal pada Aslan. Ingin menceritakan banyak hal juga, tapi Zeno tidak bisa karena terbatas.


“Daging dari dunia lain itu kayak gimana? Hewannya beda sama disini ya?”


“Ta-tapi rasanya gak jauh beda dengan daging disini kok...”


“Kamu udah pernah makan?”


“Kamu sendiri juga udah kan?”


Aslan menoleh pada Zeno, yang masih pura-pura menatap pada langit-langit kamar.


“Maksudnya apa? Kamu beli darimana? Semua barang yang kamu beli itu asalnya darimana? Apa asalnya sama semua? Berasal dari satu sumber?”


Zeno yakin pertanyaan itu juga dipikirkan oleh anggota keluarga lain, mereka semua orang yanng cerdas, pasti tahu ada yang aneh. Tapi mereka memilih untuk membiarkan Zeno.


Mungkin hanya Aslan yang mempertanyakannya langsung seperti sekarang.


“Zeno?” bisik Aslan lagi saat Zeno malah melamun dan bukannya menjawab.


“Iya, semuanya dari satu sumber, aku bisa membeli apapun yang aku inginkan, aku juga bebas menjualnya karena memiliki ijinnya. Kamu tidak perlu tahu detailnya, karena aku tidak bisa mengatakannya.”


“Haah, baiklah... aku gak akan tanya lagi, aku tahu kamu harus merahasiakannya, tidak masalah, aku tetap percaya padamu.”


“Makasih.”


“Ayo kita tidur.”


Zeno tidak bisa tidur sama sekali setelahnya.


***


Setelah puas jalan-jalan di sekitar candi borobudur, mereka pun keluar sekitar jam sembilan pagi. Melanjutkan perjalanan, lalu turun di candi Prambanan.


Saat itu mentari sudah mulai terik, Aslan mengeluh capek setelah mereka baru masuk. Zeno pernah pergi ke Candi prambanan saat wisata lulusan SD. Saat itu biaya ditanggung oleh orang kaya teman sekelas Zeno, makanya Zeno bisa ikutan.


Saat itu sangat menyenangkan, karena Zeno tidak pernah pergi berwisata. Jauh berbeda dengan saat ini, memang ada perasaan senang, tapi... berbeda.


Tidak ada orang-orang yang memperhatikannya dulu saat masih kecil, jika sekarang, dia terlihat sangat mencolok.


"Bisakah kita duduk disana?" tanya Aslan, yang tidak membutuhkan pendapat Zeno sama sekali, dia langsung saja menyeret Zeno.


"Masa segitu aja capek sih? kita belum keliling," sahut Zeno.


Mereka pun duduk di tempat yang nyaman, walaupun panas terik matahari menerpa kulit putih mereka. Zeno merasa dia akan kembali menjadi kecoklatan seperti dulu, tapi tidak masalah selama ada lotion. Lagipula sebenarnya Zeno tidak masalah kulitnya jadi coklat, dulu dia memakai lotion karena penasaran.


"Santai aja dulu disini, kamu lihat bule bule disana?" tanya Aslan, dia mengisyaratkan pada rombongan bule yang masih muda, beberapa diantaranya masih remaja. Ada dua gadis berambut pirang yang terlihat berbisik satu sama lain, dan menatap Aslan dan Zeno. Pandangan mereka sempat bertemu dan dua gadis itu cekikikan.


"Emang kenapa sih?" tanya Zeno.


"Mungkin mereka kenal kita," sahut Aslan.


"Mungkin enggak, pasti mereka ngetawain kita karena kita udah duduk lemes disini," ucap Zeno.


"Ya enggak lah," Aslan menyenggol rusuk Zeno kesal.

__ADS_1


(Zeno mau menjalankan misi?)


'Kenapa aku menjalankan misi disaat sedang berlibur?'


(Zeno malas sekali!)


'Biarkan aku tenang untuk sekarang'


(Gerombolan bule yang kalian lihat tadi akan mengalami kecelakaan jika pulang jam 12 siang, katakan pada mereka untuk pulang jam satu atau sebelas saja)


Saat ini masih jam 10.45, tidak mungkin jika pulang jam sebelas.


Padahal Zeno sudah mengatakan untuk tidak menginginkan misi, tapi sistem masih memaksa. Jujur saja, Zeno tidak berpikir dia adalah pahlawan, dia tidak suka mencampuri urusan orang lain. Namun, karena dia memiliki kelebihan, yaitu sistem, rasanya tidak adil bagi orang lain jika Zeno tidak menolong mereka.


Zeno kemudian membisikkan pada Aslan jika mereka harus menolong gerombolan itu, tapi Zeno tidak mengatakan itu misi sistem, tapi ramalan.


Aslan mengernyitkan dahinya, "hubungannya dengan kita apa? memangnya boleh ya melakukan itu - maksudku, kita akan mengacaukan apa yang akan terjadi, mereka harusnya mati tapi kita selamat kan...."


"Aku ga tau itu boleh atau tidak, tapi bukankah kita egois jika tidak menyelamatkan mereka padahal kita tau mereka akan kecelakaan?" sahut Zeno.


"Excuse me," tiba-tiba dua gadis bule cantik yang tadi terus menatapi mereka sudah ada di dekat mereka.


"Halo gadis-gadis cantik!" sapa Aslan, dia sudah dalam mode playboy-nya.


"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Aslan.


"Namaku Celia, ini Shaira, sebenarnya kami berpikir kalian sangat menarik, apakah kalian kembar?" tanya gadis bernama Celia.


Zeno pikir, dia harus berbahasa Inggris, ternyata Celia bisa bahasa Indonesia, meski aksennya agak aneh seperti bule kebanyakan, tapi menurut Zeno itu sangat hebat.


"Bahasa Indonesia mu bagus juga, benar kami kembar... aku Aslan, ini Zeno, kami juga berpikir kalian menarik," ucap Aslan, Zeno hanya melirik Aslan malas.


Dengan cepat Aslan dan Celia mengobrol ini itu, ternyata mereka berasal dari Vancouver, Canada. Rombongan mereka adalah satu kelas di tempat les musik. Celia dan Shaira masih berumur 15 tahunan, padahal Zeno pikir mereka sudah sekitar 17 atau 18 tahunan.


"Kalian pulang jam berapa setelah ini?" tanya Zeno pada Shaira yang malu-malu untuk mengobrol seperti Celia.


"Jam dua belas nanti, setelah itu kami makan siang di sekitar Malioboro, maaf, Shaira tidak bisa berbahasa Indonesia" ucap Celia.


Zeno menatap Shaira yang menundukkan kepalanya malu.


"Tidak apa, aku bisa mengerti, tapi jika aku boleh memberi saran, aku dan keluargaku akan makan siang di warung Bakso dekat sini, katanya itu sangat enak, mungkin rombongan kalian mau ikut? akan kami traktir," sahut Zeno.


"Sungguh? sebentar, aku akan menanyakan nya pada guru les kami!" Celia yang senang pun berlari meninggalkan mereka bertiga untuk bertanya pada gurunya. Setelah itu guru les Celia menoleh pada Zeno dan Aslan kemudian mengangguk dan tersenyum.


Sepertinya guru itu setuju.


"Kamu hebat juga, dengan gini mereka akan berangkat lebih dari jam dua belas," bisik Aslan.


(Zeno berhasil menyelesaikan misi, sistem akan memberikan tambahan saldo untuk Zeno)


(Tambahan saldo sebesar satu miliar rupiah telah ditambahkan)


Zeno pun menoleh pada Shaira yang menundukkan kepalanya malu-malu.


Sepertinya Zeno harus membeli skill bahasa Inggris di aplikasi penerjemah. Zeno ingin berbicara dengan si cantik pemalu tersebut.

__ADS_1


.


.


__ADS_2