Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Kenapa semirip itu?


__ADS_3

.


.


Setelah meminum obat, Kevin kembali tertidur. Zeno yang bingung harus bagaimana lagi, akhirnya memutuskan untuk berselancar di internet untuk menemukan makanan apa yang bisa ia masak, yang kira-kira bisa dimakan oleh Kevin.


Karena, Kevin hanya bisa makan setengah dari bubur ayam yang Zeno siapkan, selebihnya Kevin akan muntah setelah memakannya.


Dulu, di panti anak-anak sering sakit, bahkan Zeno juga sering sakit.


Saat itu tidak banyak yang ibu panti lakukan, hanya membelikan anak-anak makanan yang mereka sukai, biasanya bakso atau mie ayam, setelah itu anak-anak sembuh dengan sendirinya.


Tapi untuk Zeno sendiri, dia sudah bosan dan muak dengan makanan itu, karena sudah sering dimakan. Bakso, sate ayam, rawon, soto... semua itu adalah makanan yang sudah muak untuk Zeno. Beda lagi dengan mie ayam atau pecel, seberapa sering dia makan itu, dia tetap suka.


Jadinya, jika Zeno sakit, ibu panti akan mengukus ubi manis.


Iya, ubi manis, bukan dibelikan nasi pecel atau dibuatkan.


Ubi manis sangat murah, rasanya enak dan mudah mengenyangkan. Zeno suka ubi manis, terutama saat baru matang.


Getaran ponsel mengagetkan Zeno yang sedang serius mencari menu makanan.


Ternyata telfon dari Aslan.


“Halo?”


[Zen! Kak Kevin sakit ya?]


“Iya, aku ijin sekolah untuk merawatnya.”


[Oke, aku kesana!]


Dan telfon pun diputuskan.


Zeno menghembuskan nafas berat, kemudian kembali mencari menu makanan, tapi dia tidak menemukan apapun yang cocok baginya.


Sampai kemudian Zeno tidak sengaja melihat cuplikan vidio orang Korea yang memakan ubi manis. Zeno terkejut karena ternyata negara lain juga memakan ubi seperti itu, dia merasa bodoh karena berpikir hanya ada di negaranya saja.


“Baiklah, aku mengukus ubi saja,” Zeno pun membeli ubi manis di toko sistem.


Dua ubi kuning besar dan dua ubi ungu besar.


Ubi bisa di kukus atau di bakar, tapi Zeno lebih suka mengukusnya, karena tidak ribet. Karena untuk membakar itu ubi harus dibungkus koran basah, lalu dilapisi aluminium foil, agar ubi di dalamnya tidak terbakar sampai gosong.


Mengukus lebih sederhana.


“ZENO!!”


Zeno mendengar derap kaki berlarian mendekat pada dapur, padahal baru sekitar sepuluh menit sejak telfon terputus. Bisa jadi Aslan sudah dekat saat dia menelfon Zeno.


“Ssshh! Kak Kevin sedang tidur tauk, jangan berisik!” ucap Zeno saat Aslan sudah sampai dapur.


“Ya maaf... kamu lagi ngapain? Aku bantu ya?” pinta Aslan.


Zeno menggeleng, “gak perlu, ini bentar lagi mateng kok, kamu mau minum apa?”


“Emang kamu lagi buat apa? Aku bisa minum susu pisang, susu coklat, atau –”


“Kalo kopi?”


“Kenapa aku harus minum yang pahit-pahit di pagi hari yang indah ini?”


Zeno mengernyitkan dahinya, dia pikir Aslan lebih ceria dari kemarin, seperti ada hal bagus yang menimpanya.

__ADS_1


“Kamu kelihatannya seneng ya? Kebetulan kak Kevin suka beli susu pisang, ini minum aja,” Zeno mengeluarkan susu pisang dari dalam lemari es, kemudian memberikannya pada Aslan.


Aslan sendiri sudah duduk tenang di kursi depan meja besar yang ada di dapur.


“Hehe, soalnya aku tahu kamu gak sekolah, jadi aku seneng! Di rumah sepi banget, yang seumuran ku sekolah semua, tinggal kamu aja, untung kak Kevin sakit.”


“Aslan, gak boleh gitu! Kamu malah seneng kak Kevin sakit!”


“Hehe, maaf ya, ngomong-ngomong, kamu masak apa?”


“Ubi manis.”


Setelah ubi manis masak, Zeno kembali memeriksa keadaan Kevin, karena sudah satu jam lebih dia tinggalkan Kevin yang tidur.


Zeno memeriksa kening Kevin yang ternyata sudah turun demamnya.


Perlahan Kevin membuka matanya, dia awalnya masih mencoba untuk membiasakan matanya dengan cahaya sekitarnya. Tapi setelah terbiasa dan dia mencoba untuk duduk, dia malah terkejut karena Zeno ada dua.


“Kak Kevin, udah baikan?”


Mendengar suara itu, Kevin sadar jika yang satunya adalah Aslan.


Untungnya suara Zeno dan Aslan berbeda, suara Aslan lebih cempreng, jika suara Zeno lebih berat.


“Oh, Aslan, kamu ngapain disini? Biasanya kan nempelin Travis” tanya Kevin.memang Aslan itu paling suka dengan kakak iparnya, Travis. Bahkan cerita kenapa Travis bisa menikah dengan kakak perempuan Aslan adalah karena Aslan ngotot ingin menjodohkan keduanya, untungnya mereka cocok lalu menikah.


“Hehe, di agensi lagi sibuk banget, aku sungkan untuk mengacau, apalagi kalo ketemu kak Aron, bawaannya dia mau rekrut aku jadi idol mulu, capek banget, aku gak mau sibuk kayak kalian tauk, maunya santai aja.”


Kevin hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Aslan, Aslan itu bocah genius tapi lebih suka rebahan. Meski begitu, Aslan cukup rajin membeli saham yang berpotensi, jadi pada intinya bocah itu diam saja tapi uang terus mengalir di rekeningnya.


“Oh gitu, Zeno, aku udah baikan, makasih ya udah ngrawat aku....”


Zeno mengangguk, kemudian memberikan Kevin ubi manis hangat yang kulitnya sudah dikupaskan.


“Aku juga suka, biasanya kalo sakit, aku dikasih itu, soalnya aku susah makan kalo udah sakit, bisanya makan ubi, roti pun aku ga bisa masuk,” yang mengucapkan ini bukan Zeno, tapi Aslan.


“Kamu makan ubi?” tanya Zeno.


Aslan mengernyitkan dahinya, “kenapa? Ubi manis kan enak!”


“Enggak, maksudku – gak apa-apa kok... lupain, kak Kevin mau susu hangat juga?” tanya Zeno.


Kevin menggeleng, “aku udah baikan, bentar lagi mandi air hangat aja.”


“Baiklah.”


“Kalian bisa main di luar,” ucap Kevin.


“Aku akan tetap disini kak” sahut Zeno.


“Tapi kan ada Aslan.”


“Kan Zeno gak sekolah karena ngrawat kak Kevin, kalo dia ketahuan keluar, bisa gawat kak” sahut Aslan.


Pada akhirnya, Aslan dan Zeno pergi ke balkon untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Jika Zeno, dia mengerjakan PR-nya, sedangkan Aslan meneruskan membuat aplikasi, menyempurnakan apa yang sudah dia dan Xeon kerjakan.


Saat Zeno ada soal yang tidak dia mengerti, ada Aslan yang akan menjelaskan dengan sabar. Semua penjelasan Aslan bahkan lebih jelas daripada guru di sekolah Zeno.


Padahal Aslan juga alumni sekolah Zeno.


“Akhirnya selesai!” seru Zeno bahagia, PR yang sulit pun telah selesai, dia merasa sangat lega.


Aslan melirik Zeno sebentar, kemudian kembali lagi pada laptopnya. Aslan datang membawa ransel berisikan laptop, ponsel, dan juga camilan. Aslan menyesal membawa camilan, karena ternyata Zeno memiliki lebih banyak camilan enak untuk dimakan, camilan yang tidak biasa.

__ADS_1


Karena Zeno memang membeli camilan di toko sistem, yang kebanyakan berasal dari Jepang atau negara lain. Zeno memilih cemilan yang enak dan sesuai dengan lidahnya.


“Ini kan camilan Jepang, Zen, kamu beli ini dimana? Ku rasa camilan ini belum ada yang menjual disini” tanya Aslan.


Zeno menoleh pada Aslan dengan cepat, akhirnya pertanyaan seperti itu lagi, bagaimana Zeno menjawabnya.


Aslan menatap Zeno dengan serius, “kamu... mendapatkan apa yang kamu jual itu darimana?”


“Aku mendapat ijin untuk menjual semuanya!”


Aslan menggelengkan kepalanya pelan, “tidak, aku tidak menanyakan itu – tapi aku lega mendengar kamu punya ijinnya... maksudku, dari mana –” Aslan menghentikan ucapannya saat melihat raut panik di wajah Zeno.


“A-aku tidak bisa mengatakannya, maaf kan aku!”


Aslan menghembuskan nafas berat, “baiklah, tidak masalah kamu tidak mau cerita, aku hanya takut kamu akan mendapat masalah nantinya. Bahkan temanmu Raihan saja tidak tahu apa-apa kan? bukankah lebih aman jika kamu berjualan sendiri?”


Zeno menggeleng, “kamu tahu sendiri aku tidak pandai dengan teknologi.”


“Ah, iya juga... tapi sekarang kamu punya aku, Zeno, aku akan mendukungmu, aku juga tidak memiliki pekerjaan, aku sudah lulus sekolah, jadi jangan pekerjakan Raihan lagi” ucap Aslan.


Zeno kembali menggeleng, “tidak bisa, dia butuh pekerjaan!”


Aslan berdecak kesal, “gini aja Zen, biar dia bekerja untukku dan Xeon, aku akan membayarnya dengan gaji yang lumayan, untuk sementara dia bisa bekerja denganmu, tapi setelah aplikasi selesai, lepaskan dia untuk aplikasi, ku lihat dia pintar juga, punya potensi, gimana?”


Zeno mengangguk pelan.


Aslan benar juga, Raihan bisa curiga padanya.


Sebenarnya bisa saja mengakalinya dengan menyetok banyak di gudang. Tapi, Zeno menggunakan sistem yang lebih cepat untuk pengiriman, Zeno tidak bisa menyetok barang.


Kecuali jika itu untuk barang di toko ajaib, Zeno harus menyetoknya dahulu.


“Tapi Aslan...”


“Iya?”


Zeno menatap Aslan dengan serius, “kenapa kamu baik sekali padaku?”


Aslan tersenyum mendengarnya, kemudian dia menoleh pada pemandangan di depan mereka, pemandangan kota dan langit mendung.


“Aku sebenarnya dulu pernah bertanya pada orangtuaku, kenapa aku tidak dilahirkan kembar seperti kedua kakakku, jawaban mereka membuatku sedih. Mereka bilang, aku sebenarnya kembar, tapi yang satunya meninggal setelah lahir. Jika saja kembaranku hidup, namanya adalah Asad.”


“Kenapa nama kalian aneh sekali, apa artinya Aslan?” tanya Zeno.


Aslan terkekeh mendengar pertanyaan itu, “Aslan artinya Singa, Asad artinya Harimau, aku tidak tahu kenapa ayahku punya ide seperti itu, tapi aku menyukai namaku, dan setelah bertemu denganmu yang mirip denganku, entah kenapa aku merasa senang, seperti kamu adalah saudaraku.”


Zeno tersenyum, “aku juga senang bertemu denganmu, hanya kamu yang benar-benar mirip denganku, aku juga jika sakit selalu dibuatkan ubi manis.”


“Jadi itu alasan kamu kaget tadi saat aku mengatakan itu pada kak Kevin ya?”


“Hehe, iya, aku gak nyangka aja kamu juga gitu.”


“Zeno, mau ketemu papa ku gak?”


“Eh? Gak ah, sungkan.”


“Papa ku baik banget kok, ayo ketemu dia!”


“Tapi kak Kevin gimana?”


“Dia udah sembuh kan.”


.

__ADS_1


.


__ADS_2