
.
.
Hari festival sekolah akhirnya tiba, Zeno sudah sangat sibuk bersama teman-temannya mengurusi cafe yang mereka buka. Tentu Zeno sangat bersemangat, dia akan memasak dan belajar menjadi koki, selain itu, karena semua bahan diserahkan pada Zeno, jadi dia akan mendapat banyak untung. Anak-anak OSIS rata-rata berduit semua, anggaran dari OSIS juga banyak sekali diserahkan pada Zeno, mereka bilang, kalau kurang, Zeno bisa meninta lagi.
Tentu saja tidak ada yang kurang, karena Zeno membeli dengan diskon yang sangat besar, dia juga bisa mendapatkan bahan apapun yang terbaik dari bahan lokal maupun dari negara lain.
Mereka telah memutuskan untuk membuat cafe jepang, karena beberapa kelas lain juga membuka cafe untuk festival, jadi agar berbeda dari yang lain dan tidak tumpang tindih, diputuskan lah cafe Jepang tersebut.
Jadi yang akan disajikan adalah masakan Jepang yang terkenal, seperti Ramen, omurice, tempura, karaage. Mereka juga menjual kue-kue yang lucu, ada crepes, mont blanc, cheese cake. Tapi untuk kue-kue, Zeno beli sudah matang dari toko kue Jepang lewat toko sistem.
Semua kue dipajang di etalase, sudah diberi label harga, jadi yang mau beli tinggal ambil. Sudah ada Raihan yang bertugas menjadi kasir sekaligus mengawasi konter kue.
Untuk makanan, Zeno membuatnya sendiri dengan bahan-bahan campuran lokal dan dari Jepang asli, dia dibantu oleh Sellya. Sementara resepnya berasal dari Yoshi, karena bocah itu memiliki bisnis keluarga restoran Jepang yang cukup terkenal. Yoshi tidak bisa memasak, tapi dia mengerti cara keluarganya memasak.
Sebelum festival kan mereka sudah belajar. Zeno cepat mempelajarinya, jadi dia sudah hafal di luar kepala.
Sebenarnya, Zeno tidak tahu apakah festivalnya menyenangkan atau tidak, yang pasti dia banyak memasak dan memasak. Pelanggan yang datang banyak sekali, mulai dari guru-guru hingga murid.
Sellya sudah mengeluh capek, Yoshi dan Bella juga mengatakan capek melayani pelanggan.
Zeno tidak tega pada mereka, jadi saat keluarga Zeno datang, yaitu papa Jaden, mama Luna, Aileen, Travis, Arvin, Aslan, mama Angel, Elle, Om Lino, dan Xeon. Zeno langsung menarik Aslan, Elle, dan Xeon untuk membantunya di cafe.
Elle akan menggantikan Sellya, sedangkan Aslan dan Xeon menggantikan Bella dan Yoshi.
“Ku pikir akan ada menu sashimi, ini kan cafe Jepang” ucap Elle saat membantu Zeno memasak.
“Sashimi butuh ikan segar, dan gak semua orang Indonesia bisa makannya, kan mentah” sahut Zeno.
“Aku mau sashimi!” keluh Elle.
“Oke, nanti kalo udah selesai bantuin, aku buatin sashimi...”
“Ikannya ada? Kan kemarin ikannya habis kita makan rame-rame” ucap Elle.
Hasil pancingan yang kemarin sudah mereka makan semua, diolah menjadi berbagai makanan yang enak. Anggota keluarga Raynold yang pandai memasak, semuanya membantu mengolahnya, dan mereka juga yang makan semuanya. Mereka juga mengundang Travis, Kevin dan teman-temannya, Bella dan orangtuanya juga diundang.
Hari itu mereka makan ikan sampai muak.
Zeno agak heran mendengar Elle masih mau makan ikan, apalagi yang dia inginkan sashimi.
“Zeno, kamu pasti capek, biar aku yang gantiin di dapur, aku udah gak capek kok” ucap Sellya.
“Iya Zeno, biar aku sama dia, kamu temuin yang lain di luar ya?” sahut Elle.
“Oke deh, aku tinggal sebentar.”
Sebenarnya, Zeno sangat capek, tapi dia menahannya.
Zeno menemui orangtuanya yang masih makan ramen serta karaage.
“Kamu capek?” tanya Jaden, Zeno tersenyum tipis dan mengangguk kecil.
__ADS_1
“Sini nak, duduk sama mama!” Luna sudah menarik Zeno agar duduk di sebelahnya, kemudian dia memeluk putranya yang sudah lama hilang tersebut.
Sejak Zeno tinggal di rumah besar keluarganya, Luna tidak bisa lepas dari putranya, apalagi Zeno sangat manis dan penurut. Semalam saja Luna memaksa untuk tidur bersama dengan Zeno, tapi kemudian Aslan cemburu, jadi akhirnya mereka tidur bersama-sama dengan Jaden juga. Menggelar kasur lipat di ruang tengah sambil nonton film. Tapi karena Zeno besoknya harus pergi ke sekolah karena ada festival, jadi dia tidak menonton film sampai habis, sudah ketiduran.
Bukan hanya Luna, Aileen dan Arvin juga menyayanginya. Aileen betah sekali tinggal disana, tidak mau pulang ke rumah Travis, dia bilang bayi kecilnya lebih suka main dengan Zeno, dan itu memang benar, si kecil Aila lebih suka main dengan Zeno. Berhubung Travis sendiri juga sibuk, jadi dia tidak masalah.
Meski capek, akhirnya festival berjalan dengan mulus, semua hasil penjualan diberikan pada OSIS, kemudian mereka menggaji Zeno, Sellya, Bella, Yoshi dan Raihan masing-masing dua juta rupiah. Mereka bilang, terima saja meski tidak banyak.
Memang mereka anak orang kaya, bagi Zeno yang selama ini hidup di panti asuhan, dua juta biasanya gaji UMR di kota kecil, itupun bukan untuk sehari, tapi untuk satu bulan.
Dua juta sudah cukup banyak bagi Zeno, yang sebenarnya saat ini memiliki saldo satu setengah miliar.
(Zeno telah membantu anak-anak OSIS! Zeno mendapat tambahan saldo sebesar 500.000.000 rupiah!)
Zeno berkedip-kedip beberapa kali, apa dia tidak salah lihat? Nol-nya banyak sekali!
(Lima ratus juta, Zeno!)
“Ini serius?” gumam Zeno.
“Apanya yang serius?”
Zeno terkejut mendengar suara Bella, dia lupa jika saat itu dia masih bersama teman-temannya, di depan OSIS yang baru saja memberi mereka uang gaji dua juta.
“Ah, maaf karena sedikit sekali gajinya ya?” ucap salah satu anak OSIS, yang sungkan dengan Zeno.
Zeno menggeleng dengan cepat, “tidak, maksudku, gaji dua juta untuk satu hari saja itu banyak sekali, hehe.”
Itu adalah setengah miliar! Jadi, sekarang saldo Zeno sekitar dua miliar rupiah!
Sepertinya saldo bonus yang tidak terduga itu lama-kelamaan akan semakin besar setiap harinya.
“Ini benar, ini sudah lebih dari cukup, terimakasih...” ucap Raihan.
“Bagaimana dengan anak-anak yang membantu kalian saat kalian lelah?” tanya anak OSIS lagi. Maksudnya adalah Aslan, Xeon dan Elle yang membantu di cafe.
“Mereka anak konglomerat, mereka senang kok membantu” sahut Zeno dengan cepat, dia tidak merasa saudara-saudaranya butuh uang lagi, mereka hanya menagih masakan saja.
“Tapi gak enak dong, Zeno... yang membantu harus digaji juga.”
“Kalau begitu, setengahnya saja, tidak perlu banyak-banyak” ucap Zeno.
Akhirnya anak Osis memberi masing-masing satu juta untuk saudara-saudara Zeno, yang jelas itu hanya seperti jajan satu jam bagi mereka.
Namun, setelah Zeno pulang dan memberi mereka gaji satu juta tersebut, di luar dugaan, mereka senang sekali.
“Aku dapat gaji pertama!” ucap Xeon sambil mengangkat tinggi-tinggi amplopnya.
“Aku akan menyimpan ini” sahut Elle.
“Tidak seberapa, tapi aku senang kok” kata Aslan.
Zeno menggaruk kepalanya bingung, mereka ternyata senang hanya dengan uang yang kecil, Zeno pikir, mereka tidak akan peduli.
__ADS_1
“Karena kalian sudah membantuku, aku akan buatkan crepes ubi untuk kalian, ubi dari mamanya kak Kevin masih utuh kan? kita buat krepes saja” ucap Zeno.
“Aku juga mau!” sahut Aileen yang sedang menyusui bayinya di pojokan ruang tengah.
Baru kemarin Zeno tahu jika Aileen itu lulusan tata boga dan mempelajari pastry, Aileen suka membuat kue juga. Bahkan crepes ubi juga Zeno lihat dari resep-resep kue yang Aileen pamerkan padanya kemarin malam.
Aileen berharap dia bisa membuka bisnis seperti toko kue, tapi dia sudah memiliki anak, dia tidak mau mempercayakan anak pada baby sitter karena takut, setelah ada berita bayi meninggal karena baby sitter yang lalai.
***
“Aku sangat gugup” bisik Zeno pada Aslan.
“Tenang saja, ini akan menyenangkan!” sahut Aslan sambil menepuk bahu Zeno.
Saat itu mereka akan mulai mempromosikan aplikasi belanja online terbaru yang sudah jadi, yaitu Moline. Saat ini Moline sudah beroperasi, beberapa brand pakaian, kosmetik, sepatu, tas, barang-barang rumah tangga, elektronik, semuanya sudah lengkap.
Banyak investor lokal maupun asing yang datang untuk berinvestasi pada aplikasi tersebut, tapi pemegang saham terbesar adalah Zeno, Aslan dan Xeon. Aslan berperan menjadi CEO karena dia satu-satunya yang tidak sekolah. mereka juga mempekerjakan lulusan IT fresh graduate yang berpotensi tapi tidak diterima dimana-mana.
Karena meskipun berbakat, kadang fresh graduate kalah dari yang sudah memiliki pengalaman atau orang dalam. Aslan dan Xeon yang mencari mereka secara khusus, beberapa dari mereka terharu karena dipekerjakan meski tidak memiliki pengalaman.
Karena mereka butuh talenta yang nyata, selama mereka bisa menjalankannya, itu tidak masalah.
Ada juga pekerja yang datang sendiri karena iklan lowongan kerja yang disebar di internet.
Jadi, sampai saat ini, sudah ada sepuluh pekerja IT dan delapan pekerja lain-lainnya. Kantornya juga sudah disiapkan, yang menyiapkan adalah Zeno, karena kebetulan Zeno mendapatkan promo di toko sistem untuk kantor.
Kantor yang Zeno pilih berada di gedung perkantoran elit dan kebanyakan disana digunakan start up yang berduit.
Kembali pada saat ini, untuk membuat iklan aplikasi, Xeon mendatangkan pembuat iklan yang sudah profesional. Awalnya mereka juga mau mencari model, tapi setelah para produser pembuatnya melihat Aslan dan Zeno yang kembar dengan penampilan yang menarik, produser pikir, lebih baik modelnya ketiga pendiri aplikasi saja.
Jadilah mereka syuting iklan.
Agar lebih tenang dan rileks, Zeno memakan permen ajaib yang memiliki fungsi untuk menenangkan diri dan pikiran, rasa mint yang sejuk.
Zeno pun sudah lebih tenang dan mulai syuting sesuai arahan.
Selesai syuting, tenaganya langsung hilang.
“Zeno sadar! Kita harus buat konten tiktak juga!” seru Aslan heboh, Zeno melirik padanya, bisa-bisanya saudara kembarnya itu masih kuat dan semangat. Dia makan apa sih? Perasaan sama saja dengan makanan Zeno, tapi kenapa dia masih bisa heboh?
“Aku capek!”
“Masa gitu aja capek!”
Aslan pun menarik lengan Zeno agar kembali berdiri, “ayo bangun! Kita harus bekerja keras promosi, tidak ada promosi, tidak ada pelanggan di aplikasi, kalo udah gitu, gak ada cuan! Kita udah tekor banyak buat modal lho, ayo!”
“Iya iya...” Zeno pun terpaksa mengikuti Aslan.
Aslan benar, mereka harus rajin demi mendapatkan uang.
.
.
__ADS_1