
.
.
Zeno memiliki tiga aplikasi ajaib, satu toko sistem yang bisa diakses di ponsel pintar, yang kedua adalah map genius, lalu yang ketiga adalah aplikasi semacam penerjemah.
Aplikasi itu tidak hanya bisa menerjemahkan dokumen ka dalam berbagai bahasa di bumi, disana juga terdapat semacam toko skill bahasa.
Jadi misalnya Zeno ingin berbahasa Inggris, ada pilihan skill bahasa yang bisa dipilih. Mulai dari bahasa Inggris Amerika, Canada, Australia, UK... kemudian setelah memilih, misalnya bahasa Inggris Canada, nanti ada pilihan lain lagi.
Ada level percakapan sehari-hari yang bisa dibeli dengan harga dua juta rupiah, level pelajaran sekolah sampai level master dengan harga menyesuaikan. Yang paling tinggi level master itu seharga sepuluh juta rupiah.
Berhubung Zeno tidak mau mencolok, dia hanya membeli Bahasa Inggris-Canada level percakapan sehari-hari.
Setelah selesai, Zeno menoleh lagi pada Aslan dan Celia, dua sejoli itu sudah jalan-jalan saja meninggalkan Zeno dan Shaira.
Kemana perginya keluhan Aslan yang capek tadi?
“Mereka pergi?” ucap Zeno.
Shaira menoleh pada Zeno, “Ku pikir kamu tidak bisa berbahasa Inggris” ucapnya. Ternyata ucapan Zeno langsung diterjemahkan secara otomatis, padahal dia merasa berbicara bahasa Indonesia.
“Yah, sedikit, aku tidak pandai, tapi ku rasa kita bisa berbicara, kamu sungguh masih berumur 15 tahun?” tanya Zeno.
Shaira tersenyum kecil lalu mengangguk malu-malu, “iya, tiga bulan lagi aku umur 16 tahun, aku sudah kelas satu SMA” ucap Shaira.
“Sama kalau begitu, aku juga kelas satu SMA, kalau saudara kembarku yang tadi, Aslan, dia loncat kelas dan sudah lulus.”
“Dia pintar ya? Ku rasa kamu juga pintar” ucap Shaira.
Zeno terkekeh pelan, “tidak juga sih, ku rasa aku lebih pintar berjualan.”
Shaira mulai tertarik dengan obrolan Zeno, “oh ya? Apa yang kamu jual?”
“Sebentar!” Zeno pun mengeluarkan ponselnya, kemudian menunjukkan akun media sosialnya.
“Ini toko online ku, kamu juga bisa membeli apapun yang kamu mau, saranku sih kamu bisa membeli produk unggulanku, yaitu krim wajah dan lotion untuk menjaga kesehatan kulit dan wajah... eum – ku rasa kau membutuhkannya.”
Shaira yang mendekatkan kepalanya untuk melihat ke dalam ponsel Zeno, membuat Zeno bisa melihat wajah gadis cantik itu dari dekat.
Shaira sangat cantik, dia memiliki hidung mancung, mata bulat besar, bibir merah alami yang bersinar karena lip balm. Akan tetapi... terlihat jelas, kulit wajah Shaira itu kering.
“Aku sepertinya pernah lihat produk ini, tapi bagiku ini terlalu mahal, barang dengan harga lebih dari 100USD itu mahal bagiku, jujur saja keluargaku miskin, aku tidak bisa membeli sesuatu seperti itu, aku bisa ikut liburan disini saja setelah menabung dari kerja paruh waktuku di mini market” ucap Shaira.
Zeno sangat mengerti, meski dari negara berbeda, pasti itu sama saja dengan Zeno dahulu, walau kenyataannya Zeno lebih menyedihkan.
“Kalau begitu, aku akan memberikan produk itu gratis asalkan kau mau melakukan apapun yang aku perintahkan, bagaimana?” tawar Zeno.
Shaira menatap Zeno dengan tatapan serius, beberapa detik setelah dia berpikir, dia pun mengangguk pelan, “baiklah.”
“Kalau begitu, ayo ikut aku!”
Zeno menarik lengan Shaira, terus berjalan dengan cepat untuk mencari orangtuanya yang asyik mesra-mesraan sendiri.
Shaira memiliki tinggi tubuh yang lumayan, yaitu sekitar 170 cm atau lebih, dia memiliki rambut panjang yang sedikit bergelombang warna pirang. Karena rambutnya digerai, jadi rambut itu tertiup angin saat Zeno menarik lengan gadis itu.
“Mama papa, Zeno ke mobil dulu ya? Ada yang mau diambil, Zeno tunggu disana!”
“Tu- Zeno!” Luna pun kesal karena putranya itu hanya lewat memberitahukan, tanpa mau berhenti sejenak untuk mendengarkan pendapat Luna.
“Zeno udah dapet gandengan aja... jangan bilang bocah itu mau jadi playboy” ucap Jaden.
“Omongan adalah do’a, jangan gitu dong, aku mau Zeno itu setia, kayak kamu, cukup aku aja” sahut Luna.
__ADS_1
“Kenapa emangnya? Gadis itu cantik kok...”
“Kamu pilih dia atau Tasya?” tanya Luna.
“Hmm – gak tau, aku pilih kamu deh.”
“Gombal!”
Sementara itu, Zeno terus menarik Shaira keliling tempat itu untuk menemukan pintu keluarnya.
“Nanti kalo kamu mau ke dalem lagi bilang ya?” ucap Zeno.
Shaira hanya mengangguk-angguk saja.
Setelah sampai di mobil van mewah, Zeno pun membuka pintu belakang mobil, mempersilahkan Shaira masuk duluan, kemudian baru dia masuk.
Zeno mencari tasnya, kemudian mengeluarkan produk krim wajah dan lotion yang baru.
“Aku akan memberikan ini padamu, tidak perlu dipikirkan harganya, aku hanya ingin kamu memotret setiap perubahan wajah dan kulitmu saat kamu menggunakannya” ucap Zeno.
Shaira menatap krim wajah yang Zeno berikan dengan wajah sumringah, “sungguh aku boleh memilikinya?”
“Iya, kamu boleh memilikinya –oh, mau mencoba memakai sekarang? biasanya sih dipakai sebelum tidur, tapi sekarang mencoba juga boleh kok.”
Shaira mengangguk setuju, kemudian Zeno membantu membukakan segel.
Shaira pikir dia akan mengoleskan krim itu sendiri, tapi teryata Zeno membantunya. Dada gadis itu berdebar-debar saat tiba-tiba saja Zeno menarik dagunya, mengoleskan krim dengan jari telunjuknya. Gerakan jari Zeno sangat lembut jadi Shaira merasa nyaman.
Sebenarnya Shaira malu jika jarak wajah mereka sedekat itu.
Shaira itu bukan tipe remaja yang suka pergaulan bebas, dia lebih suka belajar daripada menghabiskan waktu untuk memikirkan cowok. Karena Shaira tahu dia bukan berasal dari keluarga kaya raya. Shaira bisa les piano itu saja karena guru lesnya adalah tetangganya, Shaira memiliki bakat, jadi bisa les dengan gratis.
Baru kali ini Shaira tertarik dengan seseorang dan berdebar-debar karenanya.
Ternyata seperti itu rasanya jatuh cinta.
“Wajahku lebih lembut dan tidak kering lagi!”
“Krim dan lotion membantu menyehatkan kulitmu, jadi pakai setiap hari secara rutin, kemudian kirim fotomu setiap hari padaku ya? Nanti aku akan posting di akun ku sebagai testimoni, aku juga akan membayarmu jika penjualan meningkat, boleh aku minta nomormu atau akun mu?” tanya Zeno.
“Akun ku saja ya?”
“Oke...”
Mereka pun bertukar akun agar bisa saling menghubungi.
“Terimakasih, Shaira”
“Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih, Zeno... kamu baik sekali, aku ingin melakukan sesuatu untuk membalasmu, apa boleh?” ucap Shaira.
Zeno menatap Shaira bingung, “bo-boleh aja sih, tapi aku tidak ingin membebanimu, aku juga tidak mengharap imbalan” sahut Zeno.
Shaira menggeleng, “biarkan aku membayarnya dengan caraku.”
“Oke... tapi apa maksud –”
Belum juga ucapan Zeno selesai, Shaira sudah lebih dahulu memajukan kepalanya mendekati wajah Zeno, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Zeno.
Apa ini?
Kenapa Shaira mencium Zeno?
Haruskah Zeno balas atau lepaskan?
__ADS_1
Disaat otak Zeno masih kebingungan mencerna kejadian tersebut, Shaira sudah mengalungkan lengannya di leher Zeno, menggerakkan bibirnya perlahan dan hati-hati.
Itu adalah ciuman pertama Shaira, dengan lelaki pertama yang membuatnya tertarik.
Jika nanti dia ditolak oleh Zeno pun, Shaira tidak akan menyesal, dia yakin tidak akan ada lelaki seperti Zeno di kotanya.
Awalnya Shaira sangat sedih karena Zeno diam saja, tidak membalas ciumannya.
Namun, beberapa saat kemudian, Zeno pun memeluk pinggangnya, dia turut menggerakkan bibirnya seirama dengan gerakan Shaira. Mengecap bibir yang ranum dan manis tersebut.
Saat itu Zeno tidak mengingat apapun, orangtuanya, Aslan, Kevin bahkan Tasya pun dia tidak ingat, yang dia tahu hanya dia ingin melakukannya, itu saja.
Setelah beberapa saat, Zeno melepaskan tautan bibir mereka, menatap ke dalam mata Shaira yang begitu indah.
Warnanya biru.
Sangat cantik.
“Zeno, ini mungkin terlalu cepat, tapi... aku menyukaimu” ucap Shaira dengan pelan.
“Aku....” saat itulah Zeno baru ingat dia punya pacar, yaitu Tasya.
Apakah Zeno sudah menjadi lelaki yang buruk karena menduakan Tasya? Meski Zeno yakin Tasya tidak akan keberatan, tapi... kenapa Zeno tiba-tiba merasa bersalah?
Sepertinya ini tidak benar. Bahkan sistem saja tidak mendukung Zeno seperti saat bersama Tasya.
(Heh? Enggak kok, sistem tidak masalah, karena Zeno boleh punya beberapa pasangan, meski di dunia ini hal itu masih tabu)
Oh, begitu ternyata.
(Tidak semuanya Zeno bisa mendapatkan saldo tambahan ya!)
Sistem tahu saja pikiran Zeno.
“Zeno, baru kali ini aku menyukai seseorang, di Canada, teman-temanku sudah punya pacar semua bahkan ada beberapa yang sudah melakukan hubungan intim, mereka terlalu bebas, tapi aku tidak melakukannya, prinsipku adalah melakukan hal seperti itu hanya dengan orang yang aku sukai saja dan yang pantas mendapatkannya” ucap Shaira.
“Jadi karena itu kamu berani menciumku?” tanya Zeno.
Terlihat kekhawatiran di wajah Shaira, “Zeno tidak menyukaiku ya?”
Zeno menggeleng, “tidak, bukan begitu – lupakan saja, aku menyukaimu, tapi untuk mengikat hubungan bagi kita itu tidak mungkin, kita sangat jauh satu sama lain. Memang ada istilah long distance relationship, tapi aku tidak mau melakukannya.”
“Aku mengerti, maaf jika aku lancang mencium mu.”
Zeno menggeleng pelan, lalu mengulurkan tangannya untuk membelai pipi yang tadinya kasar tersebut, kini menjadi lebih lembut dan kenyal.
“Tidak apa, aku menyukainya...”
Oh tidak, jika Aslan tahu Zeno jadi playboy, pasti dia diledek habis-habisan.
Shaira yang senang dengan jawaban Zeno pun kembali menautkan bibir mereka, kali ini dia berani lebih agresif. Zeno menarik pinggang Shaira semakin dekat.
Ciuman itu berlangsung cukup lama, tidak ada dari keduanya yang berniat untuk melepaskannya, sampai kemudian suara pintu mobil dibuka membuat mereka terkejut.
Aslan yang menyaksikan saudara kembarnya yang biasanya sopan dan kalem itu melakukan hal yang tidak senonoh pun hampir saja teriak, jika saja Celia tidak segera menutup mulutnya.
“Hahaha, kalian bisa meneruskannya”
BRUK!
Pintu mobilpun kembali ditutup.
Tapi tidak mungkin Zeno bisa meneruskannya, mereka sudah canggung.
__ADS_1
.
.