Sistem Belanja Online Sepuasnya

Sistem Belanja Online Sepuasnya
Kelaparan tengah malam


__ADS_3

.


.


Selesai buang air kecil, Aslan segera ke dapur untuk mengambil minuman. Dia yang bodoh karena tidak menyalakan lampu terlebih dahulu, dia pikir karena sudah terkena lampu di lorong dan kelihatan sedikit, jadi Aslan tidak menyalakan lampu. Lagipula galon air ada di dekat pintu masuk.


Sebelum mengambil segelas air untuk Zeno, Aslan sempat minum dulu karena dia juga kehausan.


Saat itulah dia merasa ada orang yang menatapnya dari dalam dapur.


Aslan sudah berdebar-debar ketakutan tapi dia memberanikan diri, dia itu laki-laki, tidak boleh mudah ketakutan.


Namun, alangkah terkejutnya Aslan setelah menoleh pada kursi yang ada di dapur.


Tidak mungkin!


Pasti Aslan salah lihat!


Masa iya ada kuntilanak disana?


Seorang perempuan berambut panjang memakai gaun tidur warna putin duduk disana, menatap Aslan dengan wajahnya yang putih.


“HUWAAAA!!!!”


Aslan segera membuang gelas plastik yang dia pegang, lalu siap berlari menjauh dan membangunkan Zeno.


Tapi Zeno sudah ada di lorong, Aslan segera memeluk Zeno ketakutan.


“Ada apa?”


“Ada kuntilanak! Disana!”


Aslan sudah ingin menyeret Zeno pergi menjauhi dapur, tapi Zeno malah menarik Aslan kembali ke dapur.


“Zeno, aku udah bilang, ada hantunya!”


“Gak ada hantu, kamu tenang dulu!”


Zeno pun menyalakan lampu dapur, dia melihat ada anak perempuan yang Bu Sum ceritakan sebelumnya.


Citra.


“Lihat itu, dia bukan –”


“HUWAAA! Lihat itu kun –mmpp!”


Zeno segera membekap mulut Aslan sebelum dia mengatakan hal yang membuat Citra tersinggung.


“Aslan, diamlah... orang-orang sedang tidur, jangan cari ribut dong, dia ini salah satu anak panti, namanya Citra... Halo Citra, ini Aslan, saudara kembarku, ada apa kamu disini malam-malam?” tanya Zeno.


Citra hanya diam sambil menunjuk piring yang berisi nasi diatas mja dihadapannya.


Zeno menatap piring itu berusaha untuk memahami.


“Kamu laper?” tanya Aslan.


Citra menoleh pada Aslan, membuat Aslan kembali merinding, jadi dia kembali sembunyi di balik tubuh Zeno.


Zeno yang kesal pun menarik Aslan agar berdiri di sampingnya, “dia bukan hantu, dia manusia...” bisik Zeno.


“Kau yakin?” tanya Aslan, juga dengan berbisik. Zeno pun mencubit pinggang Aslan, kode agar saudara kembarnya itu diam saja.


Citra mengangguk-angguk, kemudian menunjuk pada meja. Diatas meja ada beberapa kotak pesanan makanan yang tadi dipesan untuk makan malam. Zeno melupakan Citra saat itu, tidak tahu apakah dia sudah makan atau belum.


“Kamu gak bisa ngomong ya?” tanya Aslan.


Citra hanya menundukkan kepalanya.


Tepat setelah itu suara bocah yang tadi tidur bersama Zeno terdengar, dia menangis, mungkin takut karena bangun sendirian di kamar.


“Citra, bisakah kamu tenangkan bocah di kamarku itu? Aku akan membuatkan lauk untukmu jika kamu lapar” ucap Zeno.


Citra kembali mendongakkan kepalanya, terlihat senyuman tipis di bibir merah alaminya yang sedikit pucat. Setelah itu tanpa banyak bicara, Citra pergi untuk menenangkan si bocah.


Aslan pun duduk di kursi lain.


“Aneh banget tuh cewek, kulitnya putih banget, kayak –”

__ADS_1


“Ssshh! Gak boleh gitu, dia kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan, bisa jadi dia trauma dan tidak bisa bicara karena traumanya itu” ucap Zeno.


Aslan hanya mengangguk-angguk.


Zeno mulai membuka lemari pendingin, mencari sesuatu untuk dimasak.


Tapi sayangnya tidak banyak bahan, Zeno pun menoleh pada Aslan.


“Apa?” tanya Aslan.


“Kamu laper gak?”


“Sedikit sih... kayaknya sisa makanan tadi juga udah abis kan, si cewek itu aja gak kebagian, aku gak lihat ada dia sama sekali tadi pas makan” ucap Aslan.


Zeno mengangguk-angguk mengerti, dia pun kembali pada lemari pendingin, dia membeli beberapa daging dan bahan-bahan untuk membuat steik di toko sistem.


Setelah semua telah terbeli, Zeno mengeluarkannya ke atas meja.


“Aslan, ayo bantu aku, buat steik...”


“Oke! Tapi aku mau sesuatu yang bisa dimakan sebagai camilan, gak terlalu laper soalnya.”


“Hmmm, sebentar – mau buat karaage?”


“Boleh, emang ada bahannya?”


Zeno kembali membuka lemari pendingin dan membeli bahan tepung dan bumbu untuk membuat gorengan daging ala Jepang.


“Ini bahannya, kamu bisa membuat sesuka hatimu” ucap Zeno, sambil menata bahan untuk karaage diatas meja.


“Enaknya buat karaage garam atau kecap?” tanya Aslan.


Zeno menatap Aslan dengan tatapan datarnya, padahal Zeno sudah bilang terserah dia, sekarang malah membuatnya ikutan bingung.


“Terserahmu lah!”


“Oke kalo gitu buat dua-duanya!”


Mereka pun setelah itu sibuk memasak.


Tapi, ibu-ibu panti tidak menanyakan harga sama sekali, karena tampilannya cantik dan berkelas, mereka sangat menyukainya dan memakainya dengan hati-hati.


Tidak lama kemudian Citra kembali lagi, lalu duduk menunggu dengan tenang, tatapannya terus tertuju pada Zeno dan Aslan yang sedang memasak.


Sampai Aslan merasa merinding ditatap seperti itu.


“Selesai! Ayo kita makan bersama...”


Wajah Citra sudah terlihat lebih baik setelah semua makanan siap diatas meja, dia tersenyum lebih lebar lagi.


Ternyata Citra cantik sekali saat tersenyum, Aslan merasa bersalah karena mengatakan dia hantu.


“Anak-anak, kalian ngapain?”


Mereka menoleh pada asal suara.


“Mama?”


Luna pun ikut duduk dengan mereka, “kalian yang masak? Tau aja mama lagi laper, tadinya mama mau bangunin kalian, tapi ternyata udah di dapur, papa kalian udah gak bisa dibangunin lagi, lemes katanya” ucap Luna.


Kemudian Luna menyadari ada Citra disana.


“Oh, ini yang anak baru itu ya? Halo, siapa namanya?” tanya Luna.


Citra menatap Luna malu-malu, Zeno baru saja membuka mulut untuk menjawab Luna, tapi Citra lebih dahulu menjawabnya.


“Nama saya Citra, tante...”


Zeno dan Aslan pun terkejut.


“Kamu bisa ngomong ternyata!”


Luna menginjak kaki Aslan, “jangan gitu... ayo Citra makan, anak-anak tante ini pinter masak semua, kalo tante sih... cuman bisa masak yang gampang-gampang aja.”


Zeno sebenarnya juga berpikir Citra itu tidak bisa bicara, ternyata hanya malu untuk bicara.


(Zeno mendapatkan saldo tambahan 100 juta rupiah karena memasak untuk teman yang kelaparan!)

__ADS_1


Zeno mengernyitkan dahinya, memangnya dia sudah berteman dengan Citra?


(Paling tidak dia mulai menyukaimu dan Aslan)


(Kamu mau misi baru gak?)


Semakin meningkat level sistem, lama-lama gaya bicara sistem semakin santai pada Zeno. Tapi Zeno lebih senang jika santai sih.


‘Misi apa dulu?’


(Membahagiakan Citra, dia sangat terpukul sejak kepergian orangtuanya, dia tidak punya apa-apa lagi, malah dia mendapat peninggalan hutang, sudah dilunasi yayasan. Namun, mentalnya masih belum pulih.)


Itu sangat sulit, tapi mustahil Zeno menolaknya. Karena meski itu bukan misi sekalipun, Zeno ingin sekali menolongnya.


Zeno tahu rasanya tidak memiliki orangtua, pasti sangat sedih.


Setelah makan malam selesai, Luna masih mengajak Cotra mengobrol, yah... walaupun lebih banyak Luna yang bicara dan Citra mendengarkan.


Sementara Zeno dan Aslan sudah kembali ke kamar.


“Aslan,” panggil Zeno.


Aslan menoleh pada Zeno, “apa?”


“Ayo besok jalan-jalan, kita ajak Citra juga.”


“Eh? Kenapa ngajak dia?”


“Mama dan papa kan mau pergi untuk bertemu temannya, aku ingin pergi sendiri ke tempat lain, kamu pasti belum pernah ke keraton Solo kan?”


Aslan kelihatannya mulai tertarik, “Ada apa aja disana? Alasanmu mengajak Citra kenapa? Dia serem banget tauk!”


Zeno menghela nafas lelah, “gini Aslan, dia itu baru kehilangan orangtuanya, bahkan dia tidak mendapat peninggalan apapun seperti warisan, yang orangtuanya tinggalkan hanyalah hutang keluarga, kasihan banget kan? aku ingin menghiburnya saja, dia kelihatannya belum bisa membuka diri pada orang lain.”


Aslan menggaruk kepalanya bingung, “ya udahlah, tapi kita naik apa?”


“Kamu maunya naik apa?”


“Lha, kamu yang ngajak, kok malah nanya aku!”


“Kalo gitu apa kata besok deh, bisa naik angkot juga kok... atau sewa mobil, pasti bisa.”


“Kenapa gak ngajak anak-anak panti lain juga?” tanya Aslan.


“Sekarang lagi hari-hari sekolah, kebanyakan yang lain kan sekolah, terus kalo yang kecil-kecil pasti bakal susah diajaknya, takut hilang.”


Aslan mengangguk-angguk mengerti, “iya juga ya? Hmm, tapi aku ingin keliling di sekitar sini aja sih, aku pengen tahu gitu, misalnya ke sawah... kita bisa naik sepeda.”


“Kalo Citra ga bisa naik sepeda gimana?”


“Aku bonceng deh! Elah ribet amat.”


Zeno pun tersenyum, “oke, kita bersepeda aja, kalo dia gak bisa kamu bonceng, deal?”


“Hmmm...”


“Deal gak!”


Aslan tidak menjawab, dia malah membungkus tubuh serta kepalanya dengan selimut.


“Aslan? Deal gak?”


“Gak tau!”


“Kamu gak suka sama Citra ya? Dia cantik kok...”


“Bukan masalah cantiknya – kamu gak ngerti!”


“Apa dia serem banget?”


Aslan kembali membuka selimut, memperlihatkan kepalanya saja, “iya...”


“Mungkin karena penampilannya kayak gitu, besok aku minta mama dandanin dia deh, biar gak serem lagi.”


.


.

__ADS_1


__ADS_2