
Pengawal yang berdiri di tengah itu melompat dengan tongkat baton diangkat ke atas sebelum mengayun vertikal ke tubuh Vino.
Melihat gerakan serangan yang jelas ini, sudut mulut Vino terangkat, kemudian kaki kanannya terangkat sangat cepat membidik pergelangan tangan kanan bagian dalam pengawal tersebut.
Bugh!
Ujung sepatu santai Vino menghantam keras pergelangan tangan kanan pengawal, membuat cengkeraman kuat pada tongkat melemah seketika hingga tongkat baton jatuh ke jalan.
Perasaan sakit yang menusuk tangannya hingga bergetar, tak bisa menahan untuk tidak berteriak.
"Arghh!"
Berdiri dengan memegang tangan kanannya, pengawal itu menjerit penuh kesakitan.
Titik yang ditendang oleh Vino cukup berbahaya, tetapi Vino tidak menggunakan seluruh kekuatannya.
Pasalnya, dia tidak berniat untuk melukai pengawal Kim Lanly, melainkan melumpuhkannya.
Tongkat baton yang terjatuh itu diambil oleh Vino membelakangi salah satu pengawal yang kesakitan sambil menatap Kim Lanly dengan senyuman.
Tampak menunjukkan dirinya bisa mengalahkan satu pengawal dengan satu serangan saja.
Kim Lanly membalas dengan senyum gembira sambil bertepuk tangan.
Namun, wajahnya yang senang itu berubah ketika kedua pengawal yang berdiri di belakang pengawal bertingkat baton mulai bergerak menuju Vino.
"Awas, ada pengawal di belakangmu, Vino!"
Mendengar teriakan Kim Lanly, senyum Vino masih tidak berubah dan berdiri sambil menatap keindahan Kim Lanly di kejauhan.
Tepat ketika dua tinju yang terbang ke arah punggung dan tulang rusuk kiri Vino hendak mendarat.
Pecutan dari sebuah tongkat mendarat lebih dahulu, memukul keras kedua tangan tersebut dengan gerakan yang lincah.
Plak! Plak!
Suara benda tumpul yang dipukul oleh tongkat terdengar, orang yang mendengar suaranya ikut merasa sakit saking nyaringnya.
Sebelum kedua pengawal itu berteriak, dua tendangan beruntun menghempas kedua tubuh pengawal hingga terjungkal terbalik sejauh 3 meter.
"Keparat!
Pengawal yang pertama menyerang Vino mengabaikan rasa sakit yang dirasakan pada tangan kanannya, kemudian dia berlari seraya melebarkan tangannya.
Bruk!
Vino tidak bergerak dan membiarkan pengawal ini menangkap tubuhnya hingg terdorong ke belakang beberapa langkah.
Kaki Vino yang mengikuti dorongan pengawal tersebut tiba-tiba berhenti melangkah dan menahan tubuhnya dengan kuat.
Pengawal yang hendak melakukan bantingan terkejut dengan tubuh Vino yang mendadak berhenti, dan juga cukup berat untuk diangkat.
Belum sempat pengawal tersebut bisa mengangkat tubuh Vino, hantaman yang keras dari tongkat baton memukul kedua kaki pengawal dengan telak.
Kaki pengawal bergetar beberapa detik, kemudian melepaskan pelukannya dan berlutut di tanah.
__ADS_1
"Sakit! Arghh!!"
Perasaan perih dan nyeri memenuhi kedua paha juga betis pengawal tersebut. Sekarang ia sulit untuk bergerak untuk berdiri karena pukulan tongkat itu luar biasa sakit.
Dalam sekejap, kurang dari 5 menit berlangsung, ketiga pengawal menjadi lumpuh untuk sementara waktu dan mereka tidak bisa lagi mengejar.
Melihat semua gerakan Vino yang cekatan barusan, Kim Lanly membeku dengan ekspresi penuh ketidakpercayaan.
Kejutan yang diberikan Vino sampai Kim Lanly lupa untuk bersuara.
"Terima kasih tongkatnya, aku kembalikan sekarang."
Tongkat baton yang Vino pegang dilempar ke pengawal yang tengah berlutut kesakitan sambil melototi Vino di depannya.
Melihat tongkat batonnya sudah dikembalikan, pengawal ini makin marah dan menatap tajam Vino dengan niat membunuh.
Vino tidak memedulikan ekspresi mereka yang terlihat sangat marah seolah ingin mematahkan seluruh tubuhnya.
Menepuk-nepuk tangannya, Vino berjalan perlahan. menuju Kim Lanly yang diam berdiri tak bergerak di kejauhan dengan senyum simpul di bibirnya.
Di awal pertempuran, posisi Kim Lanly makin lama makin menjauh hingga 10 meter jauhnya dari tempat Vino melawan tiga pengawal.
Tiba di depan Kim Lanly, tangan Vino bergerak dan memeluk Kim Lanly dengan sentuhan yang nyaman dan hangat.
Berikutnya, Kim Lanly tersadar dan dia membalas pelukan dengan rasa cinta yang besar.
Wanita ini telah jatuh cinta kepada Vino secara asli, bukan rekayasa dan simulasi.
"Ayo kita pergi sebelum mereka bisa berdiri lagi!"
Vino menggendong tubuh Kim Lanly tanpa meminta izin terlebih dahulu, berlari cepat meninggalkan ketiga pengawal yang ambruk.
Mata ketiga pengawal itu benar-benar penuh dengan amukan yang besar. Baru kali ini mereka bisa dikalahkan oleh seorang pria yang jauh lebih muda dari umur mereka.
Pada saat pengawal itu memegang tongkat untuk menopang tubuhnya ketika berdiri, ponselnya berbunyi.
"Ha–halo?!"
Panggilan telepon yang datang berasal dari teman pengawal lainnya.
Wajah biru pengawal itu perlahan menghilang, digantikan dengan ekspresi menurut.
"Oke, aku mengerti!"
Setelah menutup telepon dan memasukkan kembali ponselnya di saku, pengawal tersebut membantu kedua temannya yang terbaring sambil memegang perut dan dadanya untuk berdiri kembali.
"Sudah cukup mengejar mereka, ketua sudah memberi perintah untuk melarang menangkap mereka selama satu hari ini sampai besok siang. Ayo kita pergi untuk mengobati luka-luka kita," kata pengawal yang memegang tongkat kepada kedua temannya.
Kedua pengawal tersebut mengangguk paham. Selanjutnya, mereka bertiga berjalan sembari menahan sakit pada beberapa bagian tubuhnya.
Beberapa orang yang kebetulan melihat mereka bertiga di perjalanan pulang melemparkan tatapan yang aneh dan juga heran.
"Apakah mereka habis bertarung dengan komplotan mafia?"
"Tampaknya, mereka sungguhan sakit, tetapi apa yang membuat mereka bisa seperti ini?"
__ADS_1
"Jas mereka kurasa mahal harganya, jangan bilang mereka hanya pemeran dari film yang sedang syuting?"
"..."
Di sisi lain, Vino dan Kim Lanly memesan taksi untuk pergi dari Kota Seoul menuju Kota Busan.
Butuh waktu lebih dari 4 jam untuk bisa sampai di Kota Busan dari Kota Seoul.
Kim Lanly meminta untuk supir pergi ke Lonne World yang baru dibuka beberapa satu tahun yang lalu.
Dengan waktu yang tersisa 3 jam lagi, mereka berdua menikmati waktu bersama layaknya pasangan sejati.
Di sana, mereka mencoba banyak sekali wahana meski memang kebanyakan wahananya lebih cocok ke anak-anak.
Namun, di sana ada beberapa wahana yang cocok untuk dirasakan oleh orang dewasa seperti mereka berdua, yaitu roller coaster, Gyro Swing, dan rumah hantu.
Ada satu wahana yang membuat Vino bahagia, yakni rumah hantu.
Kim Lanly yang takut dengan hantu kerap kali memeluk tubuh Vino dengan erat dan menjerit ketakutan.
Sementara Vino sendiri bereaksi dengan ekspresi muka datar dan sama sekali tidak takut. Kebanyakan kosan di Jakarta berhantu, ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Vino.
Dengan begitu, Vino sendiri merasa seperti seorang pahlawan yang menyelamatkan Kim Lanly di hari ini.
Vino juga sempat memamerkan sebuah sulap di depan Kim Lanly.
Ada beberapa trik sulap yang Vino tunjukkan kepada Kim Lanly, yaitu sulap koin, kartu, dan uang kertas.
Meski sederhana, penampilan Vino membuat pengunjung yang tak sengaja melewati keduanya berhenti dan menyaksikan pertunjukan sulap Vino dengan penasaran. Banyak anak kecil yang juga berhenti untuk melihat Vino yang melakukan sulap hebat.
Hal ini membuat Kim Lanly bahagia dan senang karena Vino benar-benar sesuai dengan tipe pria yang diinginkan.
Di malam hari, mereka berdua makan malam bersama di sebuah hotel.
Vino sudah memberi peringatan bahwa nanti malam saat tidur bisa saja mereka ditangkap oleh pengawal Kim Lanly. Oleh sebabnya, Vino meminta Kim Lanly untuk memesan kamar yang berbeda dan jangan satu kamar.
"Semoga saja kita tidak ditangkap oleh mereka. Jujur saja, aku sudah terlanjur nyaman denganmu, Vino," ucap Kim Lanly yang bersandar di tubuh Vino sembari memegang tangan besar Vino.
Suara Kim Lanly terdengar sedih saat mengatakan itu.
"Masih ada banyak sekali waktu. Di pagi hari, sebelum di jam tujuh pagi, kita harus bersenang-senang. Setelah jam tujuh terlewati, aku akan kembali."
Sentuhan nyaman dari ibu jari Vino yang mengelus punggung tangan Kim Lanly, berdampak hebat pada hati Kim Lanly saat ini.
Mereka berdua sedang duduk bersama di kursi taman, memandang langit yang gelap.
Kehangatan dan kenyamanan yang tak terucapkan telah membuat seluruh jiwa dan raga Kim Lanly terlena. Ingin perasaan dan peristiwa ini berlangsung selamanya.
"Apa kamu tidak merasa ingin berhubungan serius denganku?" tanya Kim Lanly tiba-tiba, menatap kedua mata Vino begitu dekat. "Aku sudah menganggapmu pacarku yang sebenarnya, bukan sewaan."
Melihat wajah cantik Kim Lanly yang tiba-tiba mendekat, tubuh Vino sedikit tersentak.
Pertanyaan Kim Lanly tidak terburu-buru dijawab oleh Vino, butuh dipikirkan dahulu selama beberapa menit.
Membuka mulutnya, Vino berkata, "Aku ...."
__ADS_1