
Wajah Fransisca terkejut mendengar informasi dari Vino, dengan tangan yang cepat menarik Vino ke dalam kamar mandi.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Fransisca matanya menunjukkan ekspresi yang khawatir.
Alih-alih menjawab, telapak tangan Vino menampar roti Fransisca, kemudian menggerak-gerakkan tubuh wanita yang ramping ini untuk membelakanginya.
Pedang tajam milik Vino menyerang ganas, membuat Fransisca menjerit lagi.
"Vino! A–aku sedang seri ... us! Nghhh!" Fransisca tidak bisa menahan serangan kuat Vino.
Tubuhnya bergerak secara sendirinya, tak bisa Fransisca kendalikan.
Vino hanya tersenyum mendengar rintihan dan jeritan Fransisca, suara wanita memang candu.
Pada saat ini, beberapa orang berkumpul di depan apartemen, mereka bersabar menunggu seseorang untuk turun.
Jumlah seluruhnya ada 15 orang dengan beberapa orang membawa pistol tersembunyi di balik bajunya.
Mereka adalah kumpulan anak buah kartel yang mengejar Fransisca sampai apartemen.
"Lex, apakah benar mereka ada di sini?" tanya pria botak dengan tato tengkorak di lehernya.
Alex, anggota kartel berbadan biasa saja, tidak berotot atau kurus, selalu mengenakan kacamata hitam.
Kepala Alex mengangguk beberapa kali, kemudian ia menunjukkan sebuah video di ponselnya seraya menjawab, "Lihat video ini!"
Semua anggota kartel menoleh ke layar ponsel Alex untuk melihat video yang ditunjukkan.
Wajah mereka seketika berubah aneh begitu menonton video tersebut.
"Sungguh? Kamu menunjukkan kami video manusia kucing seksi berjoget tanpa busana?" Pria botak itu melotot ke Alex dengan ekspresi marah.
Anggota kartel mengubah kulitnya menjadi gelap, pandangan mereka ke Alex menajam.
Alex melihat layar ponselnya sendiri, dan benar apa yang mereka katakan, ponselnya tengah memutar video manusia kucing menari tanpa pakaian.
"Hehe, maaf, aku salah menekan video ...."
Menggaruk-garuk kepalanya, wajah Alex menjadi canggung.
Mata semua anggota kartel menjadi malas dengan mulut yang sedikit cemberut.
"Ayolah, Lex! Kamu jangan mengumbar fetish milikmu kepada kami semua .... Berikan video yang benar!"
"Oke-oke!"
Mendengar protes teman-temannya, jadi Alex bergerak cepat untuk mencari video sebenarnya yang ingin ditunjukkan.
__ADS_1
"Nah, ini dia!" Alex menemukan videonya dan memperlihatkan kepada teman-temannya. "Lihat dengan baik!"
Dalam video di layar ponsel Alex, sepeda motor keren terlihat berbelok ke suatu tempat.
Ketika mereka semua teliti, sepeda motor itu masuk ke tempat parkir di apartemen ini.
Dua orang turun dari sepeda motor tersebut, melepaskan helmnya, menampilkan dua wajah, wanita dan pria.
Wanita dan pria ini memiliki tampilan yang baik, terlebih pria yang bersama wanita itu, sangat tampan.
Akan tetapi, yang menjadi sorotan mereka semua ini adalah wanita yang ada di dalam video, wanita tersebut yang mereka cari.
"Dia benar-benar ke sini! Tunggu saja, mereka pasti akan turun," kata Alex dengan wajah yang bangga.
Teman-teman Alex menjadi senang dengan video tersebut. Di lain sisi, mereka juga penasaran bagaimana Alex memperoleh video tersebut.
Pria botak menepuk bahu kiri Alex dan bertanya lagi, "Dari mana kamu mendapat video itu? Kamu bukannya selalu bersama kita?"
Membenarkan kacamatanya, cahaya biru melintas di kacamatanya, senyum licik terukir di mulutnya, kemudian Alex membalas, "Aku memiliki seseorang yang tinggal di sekitar sini dan memiliki keterampilan mengakses CCTV atau kamera."
Semua teman Alex tercengang mendengar ucapannya.
Dengan hati yang jujur, pria botak itu berbicara, "Seharusnya, kami merekrut temanmu daripada kamu."
"Benar, kita salah pilih orang."
"Hahaha!"
Mereka semua tertawa mendengar ejekan candaan dari pria botak itu. Terhibur di situasi tegang.
Pada akhirnya, mereka menunggu Vino dan Fransisca turun selama lebih dari 15 menit.
Pria botak itu sudah beberapa kali bertanya pada petugas resepsionis, memastikan nama Fransisca ada di apartemen ini.
Di menit kedua puluh, mereka akhirnya bertemu dengan orang yang dicari.
Vino dan Fransisca berdiri di depan mereka semua tanpa memegang senjata.
Kedatangan mereka berdua membuat Alex dan temannya menjadi serius dengan ekspresi yang mengerikan.
"Akhirnya, wanita lacur ini datang pada kami," kata Alex memandang Fransisca di depannya.
Pria botak itu menjadi tidak sabar, ia meminta teman-temannya untuk bergerak mengelilingi Fransisca dan Vino.
Di Lobi apartemen, beberapa pemilik unit apartemen memandang mereka semua dengan rasa ingin tahu yang besar.
Namun, beberapa petugas meminta mereka untuk pergi ke apartemen masing-masing dan jangan berdiam di lobi untuk sementara waktu.
__ADS_1
Terlihat wajah semua petugas apartemen menunjukkan ekspresi khawatir dan cemas.
Mereka harusnya tahu siapa pria-pria yang berkumpul ini.
Vino menangkap gerakan para petugas apartemen, di dalam hatinya ia berterima kasih kepada dua petugas yang datang ke apartemennya untuk melaporkan kelompok kartel ini. Dengan demikian, orang-orang di apartemen ini menjadi aman.
"Bocah, lebih baik kamu pergi dari sini, jangan dekati wanita lacur ini selagi kita baik!" kata pria botak dengan intonasi suara yang tinggi.
Vino mengangkat alisnya, menatap pria botak di depan dengan heran.
Di dalam hatinya Vino berkata, "Bagaimana bisa kartel punya sifat baik? Bukankah mereka memiliki sifat yang bengis dan kejam?"
Memandang ke sekelilingnya, beberapa anggota kartel ini benar-benar mengurung mereka agar tak bisa kabur.
Membalas menatap pria botak, Vino membalas, "Anu, kalau tak salah aku melukai teman-temanmu, bagaimana kalau kalian membawaku bersama dengan wanita ini?"
Untuk beberapa saat, lobi apartemen menjadi sunyi begitu ucapan Vino keluar.
Para anggota kartel ini bingung dengan pola pikir Vino.
Seharusnya, Vino merasa senang karena dibebaskan, tetapi ini sebaliknya.
"Ya, baiklah. Kami juga tidak berniat untuk membebaskanmu setelah kamu pergi dari sini," ucap salah satu anggota kartel mengangkat bahunya.
Sudut mulut Vino berkedut mengetahui niat mereka, tetapi secara pribadi dirinya tak masalah dengan itu.
Setelah perbincangan di dalam apartemen yang terkesan damai, mereka berdua dibawa keluar dari apartemen dan dimasukkan ke dalam mobil secara bersamaan.
Di dalam mobil, Vino memeluk Fransisca, mereka berdua duduk di kursi belakang bersama tanpa ada penjagaan secara langsung di dalam.
Kursi depan ada Alex dan pria botak, mereka berdua menjadi supir dan juga menjaga Vino dan Fransisca agar tidak kabur.
"Kami akan dibawa ke mana?" tanya Vino yang merasa bosan melihat pemandangan di jalanan.
Fransisca memegang tangan Vino karena merasa takut. Ia terheran di dalam hatinya melihat Vino yang santai seolah tidak takut.
Alex melirik ke belakang untuk melihat Vino, kemudian menjawab dengan ekspresi yang geram, "Banyak tanya! Tentu kami akan membawa kalian ke markas untuk bertemu dengan bos!"
"Apakah kami berdua akan diberi hadiah?" Vino terlihat antusias dan kembali bertanya.
Alis mata Alex berdenyut dan tersentak, memandang Vino dengan wajah yang tak mengerti.
Bocah mudah satu ini terlihat tak memiliki rasa takut.
Dengan senyum licik khasnya, Alex menjawab, "Oh, tentu saja! Kalian berdua akan diberi hadiah beberapa peluru yang akan menusuk tubuh kalian!"
"Eh? Sungguh? Kamu pasti bercanda?"
__ADS_1
Merasa kesal dengan celotehan Vino yang terkesan meremehkan, Alex menodongkan pistolnya ke arah Vino seraya berkata, "Tutup mulutmu atau aku tembak?!"